
HAPPY READING GUYS😙
"Dokter tau darimana kalo Pak Wilson bukan pria baik-baik?" selidik Elena. Padahal ia yakin Bryan dan Wilson tidak saling mengenal satu sama lain, namun kenapa Bryan sudah menyimpulkan bahwa Wilson bukan orang baik?
Bryan mulai menyalakan mesin mobilnya dan siap untuk melaju. Ia menghiraukan pertanyaan dari Elena, membuat gadis itu menatapnya kesal.
"Dok?"
"Hm." Bryan berdekhem tanpa mengalihkan tatapan dari jalan didepannya.
Mobil mereka sudah mulai berjalan keluar dari parkiran Rumah sakit. Bryan terlihat fokus menyetir. Jalanan sore ini cukup padat membuat Bryan harus ekstra fokus menatap jalanan.
"Dokter tau darimana kalo Pak Wilson bukan orang baik?" tanya sekali lagi Elena. Ia penasaran dengan jawaban dari Bryan.
"Aku tau darimana itu bukan urusanmu. Aku hanya tidak suka jika kau bertemu dengan pria itu, apalagi berdekatan."
Elena makin dibuat binggung dengan jawaban yang dilontarkan Bryan. "Dokter juga tau darimana kalo saya mau bertemu sama Pak Wilson? lagian juga Pak Wilson orangnya baik kok Dok. Dia baik banget sama saya waktu saya masih kerja di restauran-nya."
Mendengar Elena memuji Wilson membuat Bryan mengeratkan tangannya pada stir mobil. Entah kenapa ucapan itu membuat dirinya sedikit emosi.
Elena lantas menyenderkan tubuhnya pada kursi mobil. Ia tersenyum diam. Dirinya jadi mengingat masa-masa dimana saat masih bekerja, dulu. Dirinya hampir setiap hari bertemu dengan Wilson. Atasannya itu sering mengantarkannya pulang saat restauran sudah tutup, walau tak setiap hari namun itu membuat hati Elena tesentuh.
Huh
Elena menghela nafasnya pelan. Saat ini semuanya sudah berbeda. Dirinya tidak boleh lagi menyimpan perasaan pada Wilson, bagaimana pun sekarang ia sudah memiliki suami jadi Elena tidak boleh berharap lebih pada Wilson.
Lagian juga Elena yakin Wilson tidak mungkin mau menikahinya. Status mereka berbeda. Elena dari kalangan bawah sedangkan Wilson dari kalangan atas. Ia sadar diri akan posisinya.
Ketika sudah tidak mendengar suara lagi, Bryan sedikit melirik gadisnya. Ia melihat Elena seperti sedang memikirkan sesuatu. Dirinya merasa yakin jika Elena menyukai pria itu, tapi kenapa ada rasa aneh dihatinya ketika yakin jika Elena menyukai pria lain? Bryan mengumpat kesal. Dirinya tidak boleh terjebak dalam permainannya sendiri. Ia tidak boleh menyimpan perasaan pada Elena, bagaimana pun Elena bukan tipe-nya.
Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kearah suatu tempat. Sedangkan Elena memilih menatap jalan disekitarnya.
Keadaan semakin hening. Mereka berdua terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Saat sedang asik melihat sekitar tiba-tiba saja Elena menyadari jika ini bukan arah jalan pulang kerumah Bryan. Ia lantas menatap Dokter disampingnya untuk bertanya.
"Kita mau kemana Dok?"
"Pulang." singkat Bryan.
"Tapi ini bukan jalan pulang Dok." apa Bryan salah jalan? tapi mana mungkin.
"Kita mampir dulu kerumah Bibiku."
Elena membulatkan bibirnya ber-oh. Mau apa Bryan kesana? ingin rasanya Elena menanyakan itu namun melihat raut wajah Bryan membuatnya enggan menanyakannya. Elena memilih kembali diam dengan menatap jalan disampingnya. Mungkin Bryan ada urusan.
Beberapa lama perjalanan akhirnya mobil mereka berhenti didepan sebuah rumah minimalis namun terkesan mewah. Bryan lantas mematikan mesin mobilnya lalu menatap Elena.
"Aku ada urusan didalam. Kau ingin ikut turun atau tidak?" tanya Bryan datar.
"Lama gak?" balik tanya Elena.
"Tidak tau," Bryan segera melepaskan seatbelt ditubuhnya. "Jika kau ingin ikut masuk, kau turun sekarang. Jika tidak kau tunggu saja disini," setelah mengucapkan itu Bryan lantas turun dari mobilnya.
Elena yang melihat itu dengan cepat ikut melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobil milik Bryan.
Bryan tersenyum kecil ketika gadisnya turun dari mobil. Ia lalu berjalan mendekati rumah yang sering dikunjunginya dulu. Rumah ini nampak sepi, seperti tak berpenghuni.
Tok!tok!tok!
__ADS_1
Ketika sudah sampai, Bryan segera mengetuk-ngetuk pintu dihadapannya.
Elena hanya diam disamping Bryan. Desain dirumah ini cukup membuat Elena terkagum. Rumahnya memang lebih kecil dari rumah milik suaminya, namun ia merasakan jika rumah ini lumayan nyaman dan sejuk untuk ditinggali beberapa keluarga.
Tak lama Bryan mengetuk, pintu pun mulai terbuka lebar menampilkan sosok wanita tua yang tersenyum menatap kearah mereka.
"Tuan Bryan." wanita itu menunduk sopan pada Bryan. Setelah itu tatapannya teralih pada Elena. "Nona." lanjutnya dengan tersenyum.
Bryan sedikit mengangguk dengan wajah dingin. Lain dengan Elena yang menunjukan senyuman hangat dibibirnya ketika mendapat sambutan ramah.
"Paman Arlan ada?" tanya Bryan.
"Ada Tuan, silahkan masuk. Tuan Arlan sudah menunggu sejak tadi." wanita itu memundurkan tubuhnya memberi jalan untuk Bryan dan juga Elena.
Bryan segera masuk kedalam tanpa mengatakan apapun lagi. Elena yang melihat itu menggelengkan kepalanya melihat perilaku suaminya yang kurang sopan terhadap orang yang lebih tua.
"Terimakasih ya Bu." sahut Elena tersenyum sembari menatap wanita tua itu. Dilihat-lihat mungkin umurnya melebihi usia Bapaknya.
"Panggil saya BiJum saja Nona."
"Em, yaudah sekali lagi makasih ya BiJum." lanjut Elena membenarkan panggilannya.
"Sama-sama Nona." jawab Bibi itu sambil ikut tersenyum. Perkiraannya salah, ternyata istri dari Tuan Bryan sangatlah murah senyum dan ramah membuatnya merasa lega dan sangat senang.
"Saya masuk dulu ya." pamit Elena dengan menunduk sopan. Bagaimana pun wanita ini adalah orang tua yang harus dihormati.
Elena bergegas menyusul Bryan yang sudah berjalan cukup jauh didepannya. Ia mempercepat langkahnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bryan.
__
Sampai ditujuan. Bryan melangkah mendekat kearah sofa, terlihat jika disana ada seorang pria dewasa yang sedang terduduk santai.
"Ekhem."
Bryan sedikit berdekhem membuat si pria dewasa yang memunggunginya itu mulai berbalik menatapnya.
Pria itu nampak mulai bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Bryan dengan wajah gembira. "Hey, anak muda! ckckck kau semakin besar saja ya sekarang." ucapnya.
"Aku memang sudah besar, paman." jawab Bryan dengan malas. Paman-nya ini memang kerap berbicara seperti itu seakan-akan dirinya baru menginjak umur dewasa. Padahal umurnya sudah 27 tahun loh?
"Hahaha iya-iya. Kau memang sudah besar, Paman tidak menyangka saja jika kau sudah sebesar ini. Padahal Paman merasa jika kau baru lahir bulan kemarin."
Arlan Atmaja atau yang biasa dipanggil Paman Arlan itu adalah Kakak kandung dari Abraham yang notabenya adalah Ayah Bryan. Arlan tipikal orang yang ceria dan juga bijaksana, lain dengan Abraham yang terkesan arogan dan juga posesif terutama pada sang istri-Meldi.
Tatapan Arlan teralih pada sesosok gadis yang baru bergabung ke tempat mereka berdiri. "Ini gadismu ya Yan?" tanyanya.
Bryan melirik Elena yang sudah berdiri disampingnya lalu mengangguk. "Iya, Dia istriku."
__
Elena yang baru sampai ditempat Bryan langsung tersenyum menatap pria asing didepannya. Ia tidak kenal dengan pria itu, namun sepertinya wajahnya cukup mirip dengan seseorang.
Bryan segera merapatkan tubuhnya pada Elena. "Dia paman Arlan, Pamanku." bisiknya membuat Elena mengerti.
Elena langsung berjalan kembali mendekat kearah Arlan dan menyalami tangan pria dewasa itu dengan wajah tersenyum. "Saya Elena Tu-"
"Panggil Paman saja seperti Bryan." potong Arlan sebelum Elena menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Elena pun mengangguk singkat. "Baik Paman," setelah itu Elena mundur, kembali pada posisinya tadi.
Arlan menatap tubuh Elena dari atas sampai bawah seperti menilai sesuatu.
Mendapat tatapan itu membuat Elena ikut menatap tubuhnya. Tidak ada yang salah pada tubuhnya, tapi kenapa pria itu menatap intens dirinya?
"Wah wah wah, kamu cantik juga ya. Tidak salah jika Bryan memilih-mu. Kalian berdua nampak cocok." Arlan tersenyum lembut menatap Elena. Kedua pasutri ini sangat cocok dimatanya
"Terimakasih paman." jawab Elena tanpa sedikit pun menurunkan senyumannya. Ya, Senyuman itu hanyalah sebuah topeng untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa Paman menyuruhku kesini?" to the poin Bryan. Memang tadi Arlan sempat menyuruhnya untuk mampir kesini. Entah apa yang diinginkan Pamannya itu.
"Kau ini tidak bisa santai sedikit?" Arlan menggeleng kepalanya ketika Bryan langsung bertanya maksud menyuruh ponakanya ini kesini. "Lebih baik kau ke-belakang dulu sana. Panggil Bibimu untuk kesini."
"Suruh Maid saja." dingin Bryan.
"Sudah kau saja sana. Dia merindukanmu katanya, buat suprise dengan kedatanganmu ini." lanjut Arlan.
Mau tak mau akhirnya Bryan men-iyakan ucapan Pamannya itu. Dia pun sangat merindukan Bibinya, dia sudah menganggap Arlan dan juga istrinya sebagai orang tua kedua baginya karna dulu Abraham memang pernah menitipkan dirinya tinggal disini dan diasuh oleh Paman dan juga Bibinya.
Bryan mengalihkan tatapannya pada Elena. "Kau tunggu disini. Aku akan ke belakang sebentar."
Sebelum Elena menjawab, Bryan sudah terlebih dahulu berjalan menjauhinya. Membuat Elena menatap kepergian suaminya dengan raut wajah tak tertebak.
"Anak itu memang seperti itu." Arlan terkekeh. "Silahkan Duduk. Biarkan pria itu pergi."
Elena menganggukan kepalanya sopan. "Iya Paman." ia pun melangkah untuk duduk disofa yang ada didepannya.
Sekarang keduanya sudah duduk saling berhadapan dengan meja yang berada ditengah-tengah mereka.
Elena mengedarkan tatapannya menatap sekeliling ruangan ini. Keadaan disini cukup lega karna tidak terlalu banyak peralatan yang ada. Entah kenapa ia terlalu terpukau jika melihat rumah-rumah besar seperti ini. Andai saja dirinya bisa memberikan rumah untuk Dimas, pasti Bapaknya itu akan senang.
"Bryan memang menuruni sifat Abraham. Anak itu sangat mirip dengan Papahnya saat masih muda." sahut Arlan memecahkan keheningan.
Elena mengangguk mendengar itu. "Memangnya Paman itu siapa nya Tuan Abraham?"
"Saya Kakak pertama dari Abraham. Mertuamu itu anak ketiga dikeluarga kami. Cuman anak kedua, adik saya yang pertama sudah meninggal dunia jadi Abraham menjadi adik saya satu-satunya." lanjutnya Arlan dengan membuang nafasnya kasar.
"Maaf Paman, saya jadi-"
"Gapapa kok Na." jawab Arlan tersenyum.
Elena jadi merasa tak enak pada pria dihadapannya. Dirinya benar-benar tidak tau tentang silsilah keluarga ini.
"Saat Abraham menikah dengan Meldi, pria itu juga sangat cuek pada istrinya. Mungkin karna faktor perjodohan, makannya Abraham bersikap seperti itu pada Meldi." Arlan menceritakan peristiwa disaat dimana Adiknya dinikahkan paksa oleh orang tuanya.
Elena sedikit kaget dengan fakta yang dilontarkan Paman Arlan. Ternyata kedua mertuanya itu dijodohkan. Ia tidak menyangka karna jika dilihat-lihat mereka nampak sangat romantis dan saling mencintai, namun ternyata awal mereka menikah itu karna perjodohan.
"Tapi sekarang? haha." lanjut Arlan tertawa renyah. "Pria itu sudah dijadikan budak cinta oleh Istrinya. Banyak perubahan pada adik-ku itu setelah menikah dengan Meldi, yang dulunya terlihat cuek menjadi sangat posesif sekarang."
Elena ikut terkekeh. Mertuanya memang sangat romantis dan juga cocok membuatnya sedikit iri dengan kebahagiaan mereka berdua.
"Nah, sekarang giliran kamu Na." serius Arlan dengan tersenyum penuh arti.
Elena menekuk dahinya binggung. "Maksud Paman?"
"Gak lama lagi pasti jejak Abraham akan turun pada Bryan." Arlan menarik senyum devilnya. "Kamu siapin mental aja kalo suami-mu itu udah jadi bucin."
Tbc..
__ADS_1