Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB57: Rencana bekerja


__ADS_3

HAPPY READING GUYS ❤️


Cahaya matahari terlihat masuk menembus kedalam sela-sela jendela di sebuah kamar yang nampak cukup sepi.


"Eunghh"


Seorang gadis terdengar mengerang pelan ketika merasakan ada cahaya yang sedikit mengenai wajahnya.


Elena dengan cepat menutup wajahnya dengan telapak tangan lalu bangkit dari tidurnya. Ia pun lantas duduk dengan punggung yang menyender pada sisi ranjang. Elena sesekali menguap sembari menyesuaikan matanya dengan cahaya di ruangan ini.


Jam berapa ini?


Mata Elena langsung menatap jam dinding yang berada tepat di hadapannya. Disana terlihat jam tertuju pada arah angka enam, yang artinya sekarang sudah pukul enam pagi.


Sesekali Elena menutup matanya lalu membuka perlahan matanya lagi. Keadaan kamar yang cukup terang membuat matanya sedikit terasa perih.


Dirasa matanya sudah normal, Elena pun segera mengedarkan pandangannya menatap seluruh penjuru kamar ini.


Sepi, itu yang dirasakan-nya sekarang.


"Dia kemana?" gumam pelan Elena masih dengan menatap segala sudut ruangan ini.


Biasanya jam segini Bryan masih tertidur di atas sofa, namun sekarang sofa yang biasa ditiduri pria itu terlihat kosong, tak ditempati.


Ya, memang dirinya dan Bryan belum tidur se-kasur alias tidur bareng.


Dengan cepat Elena turun dari ranjang dan berjalan mendekat kearah pintu kamar mandi. Pintu itu nampak tertutup. Apa pria itu ada disana?


Karna rasa penasaran, Elena memberanikan diri mendekat kearah pintu itu. Telinganya sama sekali tidak mendengar suara apapun. Semuanya terasa sunyi.


Sampai didepan pintu kamar mandi, Elena berdiri tepat di depannya. Ia sedikit mendekatkan telinganya pada pintu itu, mencoba mencari suara dari dalam sana.


Ceklek!


Mata Elena membulat, ketika merasakan pintu didepannya akan terbuka.


"Sedang apa kau disini?"


Elena segera memundurkan tubuhnya dan menatap sosok orang yang berbicara tadi.


Ia meneguk salivanya kasar. Antara merasa malu karena tertangkap basah dan gugup melihat pemandangan di depannya.


"Hey!"


"Eh iya."


Bryan menaikkan sebelah alisnya. Saat membuka pintu kamar mandi, ia sudah menemukan Elena berdiri didepannya. Dirinya binggung, sedang apa gadis ini disini?


"Kau sedang apa disini?" tanya sekali lagi Bryan, ketika ucapannya tadi belum terjawab.


"Anu-" Elena menunduk. Ia harus jawab apa?


"Kau sedang mengintip-ku ya?" selidik Bryan, dengan tatapan sedikit tajam.


Elena yang mendengar itu sontak menggeleng. Untuk apa dirinya mengintip pria ini? lagian juga tidak ada faedahnya dirinya mengintip seseorang.


"Ak-aku hanya memastikan ada orang atau ti-tidak di kamar mandi." jawab spontan Elena. Ia merasakan kembali jantungnya berdetak hebat sekarang.


Bryan menatap Elena tak percaya. Tak lama ia pun hanya menaikkan bahunya acuh lalu berjalan menuju lemari. Meninggalkan Elena yang masih diam mematung di depan pintu.


Elena menatap kepergian suaminya itu dengan diam. Ia menghela nafasnya pelan ketika Bryan sudah menjauh darinya.

__ADS_1


Karna merasa badannya lengket dan gatal, Elena pun segera masuk kedalam kamar mandi dan melakukan ritual mandi paginya.


____


Bryan tersenyum kecil sembari membuka lemari pakaiannya. Wajah terkejut yang ditunjukan Elena tadi menurutnya sangat lucu.


Tak lama helaan nafas terdengar dibibirnya. Bryan mengingat kembali perkataan sang Papah tadi malam, saat berada di taman belakang.


Papahnya itu benar. Dirinya mungkin memang mencintai gadisnya. Tapi ia tidak tau dengan perasaan gadis itu, apa Elena juga mencintainya?


Bryan mulai memakai pakaiannya. Kemeja berwarna biru, serta celana katun berwarna hitam tertempel ditubuhnya. Dirinya akan bekerja sekarang, ia sengaja bangun pagi karna memang ada jadwal operasi pagi ini.


Dengan langkah pelan, Bryan berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak diatas laci lalu membukanya, ia mulai fokus pada ponselnya itu ketika melihat banyak notifikasi muncur di layar depannya.


Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sesosok gadis dengan baju handuknya.


Elena berjalan dengan menggigit bibir bawahnya. Ia mengeratkan baju handuk ditubuhnya lalu berjalan menuju lemari.


Hari ini Elena memutuskan untuk keluar untuk mencari pekerjaan. Dirinya binggung, apa ia harus bilang pada Bryan? jika tidak diizinkan bagaimana? apalagi sekarang ia sudah tidak memegang duit sepersen pun. Jika ia tidak bekerja, dirinya bisa mendapatkan uang darimana?


Elena mendekat kearah lemari, untuk mengambil pakaiannya. Matanya jatuh pada dress bermotif biru langit. Cukup sederhana dan indah.


Dengan cepat, Elena mengambil pakaian itu dan segera berlarian menuju kamar mandi.


Bryan yang fokus pada ponselnya pun langsung mendongakkan kepalanya, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat prilakuan gadis itu. Tak lama ia pun kembali menatap layar ponselnya, pekerjaannya yang padat cukup membuatnya benar-benar kesal.


Setelah mengenakan pakaiannya, Elena pun kembali keluar dari kamar mandi. Ia memantapkan hatinya untuk berbicara soal mencari pekerjaan dengan Bryan, semoga saja suaminya mengizinkannya untuk bekerja.


Dengan langkah cepat, Elena menghampiri Bryan yang masih diam menatap ponselnya. Pria itu nampak fokus, mungkin sibuk?


"Dok." pelan Elena, ketika sampai didekat Bryan.


Merasa dipanggil, Bryan pun mengalihkan tatapannya dan menatap seseorang yang berbicara tadi.


Dengan mengeratkan tangannya. Elena mencoba menenangkan rasa gugunya. "Saya-"


Bryan menaikkan sebelah alisnya, dengan raut wajah penuh tanya.


Elena menatap Bryan, pria itu nampak mengodenya untuk duduk. Ia pun segera duduk di tepi ranjang, disamping suaminya itu.


"Saya mau minta izin."


"Aku tidak memerintahkan-mu untuk meminta izin." jawab Bryan, masih dengan ekspresi datar.


Mendengar nada jawaban dari Bryan membuat Elena bertambah gugup. Belum berbicara pun pria itu sudah seperti ini, bagaimana jika sudah berbicara?


"Tapi ini penting Dok." lanjut Elena, pandangannya seketika berubah menjadi memohon.


Bryan yang sedikit penasaran dengan apa yang akan dikatakan Elena pun berdekhem pelan. "Hm, memangnya kau mau apa?"


"Saya-" sebelum Elena berbicara, tiba-tiba Bryan memotongnya terlebih dahulu.


"Jika kau meminta cerai lagi, aku tidak mau. Kau masih memiliki hutang padaku, aku tidak mau jika nanti kita cerai kau malah kabur melarikan diri." timpal Bryan.


Wajah Elena berubah kembali menjadi masam. Untuk apa dirinya kabur? hutang tetap lah hutang, ia tau hutang itu harus dibayar. Dirinya mana berani untuk kabur.


"Bukan itu."


Bryan menaikkan sebelah alisnya. "Lalu apa?"


Elena menunduk. "Itu saya minta izin." entah kenapa kata itu lagi yang keluar dibibirnya. Ia jadi gugup sendiri sekarang.

__ADS_1


Melihat Elena yang sedari tadi seperti itu, membuat Bryan sedikit berdecak sebal.


"Ck! jika sedang berbicara itu tatap mata lawan bicaramu! jangan menunduk seperti itu!"


Nada kesal dari Bryan membuat Elena segera menatap pria didepannya. Ya, sekarang posisi mereka saling berhadapan satu sama lain.


"Kau mau apa? katakan saja!"


"Saya minta izin mau kerja Dok." ucap spontan Elena. "Sa-saya mau kerja Dok, jadi saja minta izin Dokter."


Bryan terdiam. Ia menatap intens gadis didepannya. Tatapannya menatap Elena dalam.


Elena merasa gugup ketika di pandang seperti itu oleh Bryan, ia tidak tau maksud dibalik tatapan itu.


Tiba-tiba saja wajah Bryan mendekat kearah Elena. Tatapan tajam serta wajah datar tercetak jelas di dirinya.


"Dok-dokter mau ngapain?" Elena sedikit membulatkan matanya. Makin lama wajah pria didepannya ini semakin mendekat.


Sekarang wajah mereka sudah saling berdekatan. Mata keduanya nampak mengunci satu sama lain.


Elena mencoba mengatur nafasnya. Mungkin jika wajahnya bergerak sedikit saja itu akan mengenai wajah Bryan. Ketika semakin mendekat, Elena dengan cepat memejamkan matanya takut. Mau apa pria ini? atau jangan-jangan?


Tangan Bryan terangkat, menyentuh pipi Elena pelan.


Elena merasakan ada tangan dingin yang mengusap area pipinya. Merinding, itu yang ia rasakan. Matanya semakin menutup erat, dengan tangan yang meremas sprai di sampingnya.


"Kalo mandi itu yang bersih! kau ini bagaimana sih, wajahmu masih banyak sabun," setelah mengusap pelan pipi Elena, Bryan segera menjauhkan wajahnya.


"Mengapa menutup mata seperti itu? kau berharap aku mencium-mu begitu heh?" lanjut Bryan dengan sedikit terkekeh.


Mendengar tuturan Bryan membuat Elena sontak membuka matanya kembali. Ia segera meraba kedua pipinya. Apa iya masih ada sabunnya?


Elena menekukkan wajahnya kesal. Ia tidak merasakan apapun dipipinya. Lagipula seiingatnya saat keluar dari kamar mandi dirinya sudah bersih.


"Saya serius Dok, saya mau kerja. Saya minta izin Dokter karna status Dokter masih suami saya." kesal Elena.


"Kau mau bekerja dimana? memangnya ada yang mau menerima-mu bekerja?" tanya Bryan seperti meremehkan.


Elena memainkan jarinya pelan untuk meringankan rasa gugupnya. "Kemarin saya liat artikel pencarian kerja di situs online Dok, ada lowongan pekerjaan jadi babysister. Sa-saya mau melamar di pekerjaan itu."


Bryan menatap layarnya sekilas lalu menutup ponselnya dan meletakkannya diatas laci.


"Kenapa kau ingin bekerja?" tanya Bryan.


Elena bimbang, akan jujur atau tidak. Jika dirinya jujur bekerja karna akan membayar hutang pasti Bryan tidak akan mengizinkannya. Saat mendapat tawaran pekerjaan dari Wilson saja Bryan tidak mengizinkannya.


"Saya suka anak kecil Dok, saya seneng rawat anak kecil gitu. Kayaknya babysister emang cocok buat saya. Jadi saya mau lamar pekerjaan disana." bohong Elena.


"Huh, kau sangat menyukai anak kecil?" tanya sekali lagi Bryan.


Elena lantas mengangguk, menjawab pertanyaan Bryan.


"Kau tidak usah bekerja diluar sana untuk merawat anak kecil. Kau tinggal bekerja saja padaku."


Alis Elena terangkat. "Jadi Babysister?"


"Hm."


"Anak siapa Dok?" sepengetahuan Elena, dikeluarga ini tidak ada yang memiliki anak kecil apalagi anak bayi. Lalu anak siapa yang akan ia asuh nanti?


Bryan nampak mengeluarkan smrik-nya singkat. "Anak kita nanti."

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2