Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB75: Pulang bareng Putri


__ADS_3

"Kak Putri mau langsung pulang?" ucap Chaca, menatap Putri di sampingnya.


Setelah keluar dari ruangan Elena dan menutu pintu ruangannya, mereka sampai sekarang masih berdiri di depan pintu ruang rawat Elena. Hanya ada Aiden, Chaca dan Putri, sedangkan Abraham dan Meldi sudah pergi karna mereka masih memiliki urusan lain.


"Iya. Kamu juga mau pulang Cha?" tanya Putri.


Chaca mengangguk dengan senyum mengembang. "Iya."


"Mau bareng aja?" tawar Putri. "Kalo mau bareng ayo, aku anterin."


Chaca terlihat menimbang-nimbang ajakan Putri. Tak lama tatapannya langsung teralihkan pada Aiden yang ada di ujung depannya.


"Kak Aiden pulang naik apa?"


Aiden yang sedari tadi diam menatap dua wanita di depannya pun langsung menatap Chaca, dengan raut wajah biasa. "Gojek."


Ya! Mereka tadinya berangkat ber-empat dengan mobil yang di kendarai Abraham, namun sekarang mereka tidak bisa ikut pulang bersama karna kedua orangtuanya itu memiliki urusan lain sehingga tidak pulang langung kerumah.


Sebenarnya bisa saja mereka menelpon supir rumah, namun mereka malas. Buang-buang pulsa.


Chaca kembali menatap Putri. "Em, yaudah deh Chaca pulang bareng Kak Putri." ia kembali menatap Aiden. "Gue balik bareng Kak Putri gapapa kan?"


Aiden menatap intens Putri. Sejak awal mereka bertemu, sebenarnya Aiden merasakan ada sesuatu pada wanita itu. Entah ini perkiraannya atau bukan, ia sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Putri.


"Kak Aiden?!"


"Eh." lamunan Aiden buyar seketika. "Yaudah sana. Kalo gitu gue balik duluan ya." Aiden menatap Putri dengan senyuman paksa. "Gue balik dulu ya Kak."


Putri mengangguk dengan tersenyum manis. "Hati-hati dijalannya ya."


"Hm." setelah menjawab itu, Aiden segera berlalu dari hadapan Chaca dan Putri. Ia akan pulang sekarang dengan gojek, ojek aplikasi yang biasa di pesan lewat internet.


Aiden terlihat menjauh dari kedua wanita itu.


Chaca dan Putri hanya diam melihat kepergiannya. Tak lama mereka pun kembali saling menatap.


"Ayo pulang Kak." ajak Chaca.


Putri mengangguk.


Mereka mulai melangkah beriringan melewati lorong sepi rumah sakit ini. Keadaan rumah sakit sudah nampak sepi karna memang hari sudah semakin sore.


Di sepanjang jalan, mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Chaca yang sedang memainkan ponselnya sembari berjalan, lain dengan Putri yang menatap kosong arah depannya.


Pikiran Putri sedari tadi terganggu dengan Elena. Ia masih berfikir siapa yang mendonorkan mata untuk Elena? siapa orang baik itu?


Chaca melirik sekilas Putri yang nampak diam sedari tadi. Dalam wajah datarnya, ia diam-diam tersenyum miring menatap wanita di sampingnya.


"Kak Putri!" Chaca menaruh ponselnya di saku celana lalu segera menatap Putri dengan kaki yang masih berjalan.


Mendapat panggilan, Putri pun segera menatap Chaca. "Iya? kenapa Cha?"


"Gapapa sih manggil doang hehe." kekeh Chaca, membuat Putri ikut terkekeh.

__ADS_1


"Kamu ini ada-ada aja." Putri tiba-tiba ingin membicarakan sesuatu pada Chaca, tentang apa yang menganjal di pikirannya. "Em, menurut kamu nih Cha-"


Mendapati wajah serius Putri, membuat Chaca penasaran. "Apa Kak?"


"Siapa ya orang baik yang donorin mata buat Elena?" lanjut Putri.


Chaca ikut memikirkan apa yang diucapkan Putri, tak lama ia menaikkan kedua bahunya. "Gatau." Chaca menatap curiga Putri. "Emangnya kenapa Kak? kok kayaknya Kakak ngebet banget pengen tau siapa yang donorin mata buat Kak Elena?"


Putri nampak gugup. "Em, bukan begitu. Aku cuma penasaran, terus ak-aku cu-cuma mau ber-berterimakasih aja gitu karna dia mau bantu Elena. Gimana pun kan Elena adik aku, gitu. Jadi pengin tau aja." jawabnya.


Chaca membulatkan mulutnya ber-oh. "Gak tau Kak. Lagian juga kayaknya gak perlu terlalu di pusingin, yang penting kak Elena kan sekarang udah bisa lihat."


"Iya juga sih." mau tak mau Putri pun mengangguk. "Yaudah lah ya, yang penting Elena udah sehat kayak dulu dan bisa lihat lagi."


Chaca mengangguk.


Tak terasa keduanya pun sampai di parkiran. Putri berjalan mendekat kearah salah satu mobil yang terparkir disana.


Chaca hanya mengikuti wanita itu dari belakang karna ia tidak tau yang mana mobil milik Putri.


Putri menekan sebuah remot di tangannya, membuat ada salah satu mobil yang menyala dan berbunyi.


Tin..Tin..


Sampai di samping mobil itu. Putri segera menatap Chaca. "Masuk Cha."


Chaca menatap mobil berbunyi tadi. Ternyata ini mobil milik Putri. Ia pun segera mengangguk dan masuk ke dalam mobil itu.


Putri masuk ke dalam mobil bagian pengemudi, sedangkan Chaca duduk di samping kursi Putri.


Putri memakai pengaman di tubuhnya dan memegang stir di depannya. "Makasih. Ya gitu deh, Alhamdulillah ini hasil kerja aku selama ini."


Chaca mengangguk dan tersenyum. "Udah cantik, pekerja keras lagi. Kak Putri itu emang mantu idaman deh kayaknya."


Putri terkekeh mendengar itu. "Kamu bisa aja." jawabnya pelan. "Pake pengaman kamu Cha. Kita berangkat sekarang ya."


"Oke Kak."


...****...


"Dokter mau ngapain?!"


"Sudah kau diam saja!" Bryan membaringkan tubuh Elena di atas ranjang. Membuat Elena membulatkan matanya, menatap Bryan dengan sedikit parno.


Ketika sudah memastikan Elena terbaring, Bryan segera mengambil peralatan dokter miliknya yang sudah ia letakan di dekat laci ruangan ini. Setelah mendapatkannya ia segera kembali mendekat kearah Elena.


"Aku akan memeriksa jantungmu. Kau tenang saja. Relax."


Bryan mulai memeriksa jantung Elena dengan stetoskop. Stestoskop itu sendiri berfungsi untuk mendengarkan suara dari dalam tubuh, salah satunya untuk mendengar suara detak jantung dan mendeteksi kelainannya.


Elena hanya diam dengan tubuh yang masih menegang.


Setelah selesai, Bryan pun menurunkan Stestoskop itu dari telinganya. "Huh! aku tidak menemukan kelainan apapun di tubuhmu. Sepertinya kita harus memeriksanya lebih lanjut."

__ADS_1


Elena segera bangkit dari tidurnya dengan perlahan. "Jangan Dok. Saya gak mau di operasi lagi."


"Ck! ini itu demi kesembuhanmu. Lagian juga jika tidak ada apa-apa kau tidak mungkin di operasi lagi. Memangnya apa yang di rasa jantungmu itu?" tanya kembali Bryan.


Elena menelan salivanya kasar. "Sesak. Sering berdetak kencang Dok, ka-kalo deket Dokter."


"Jika di dekatku?" Bryan mencoba memikirkan sesuatu. Memikirkan apa yang di tuturkan Elena. "Aku takut ini hal serius. Lebih baik nanti kita konsultasi lebih dalam ke Dokter jantung."


Elena dengan cepat mengeleng. "Saya gak mau Dok. Saya mau pulang sekarang."


"Kau itu baru sembuh! belum terlalu pulih, tidak boleh pulang dulu. Kau masih harus di rawat."


Elena menyenderkan punggungnya pada ujung ranjang. Ia menghela nafas pelan. "Saya mau pulang Dok. Saya gak suka disini." keluhnya. Mengingat rumah sakit membuatnya kepikiran kembali tentang sang Bapak.


"Tapi kau belum cukup kuat untuk pulang."


"Tapi saya mau pulang Dok. Apa gak bisa saya rawat jalan aja? lagian saya udah sembuh kan Dok? saya udah bisa lihat lagi, jadi udah gak seharusnya saya disini." tutur pelan Elena sendu. "Saya cuma gak suka sama tempat ini."


Bryan tau. Tatapan Elena seakan memperlihatkan akan sesuatu yang dulu pernah terjadi.


"Dengar aku." Bryan menatap Elena lekat. "Jika kau pulang, aku takut terjadi sesuatu padamu. Lebih baik kita tunggu sampai kau benar-benar pulih."


Elena menatap Bryan dalam.


"Aku akan disini menemanimu. Kau tenang saja."


...***...


"Makasih udah anterin aku ya Kak." Chaca melirik Putri senang.


Mobil Putri berhenti di depan gerbang besar berwarna hitam. Ya, sekarang mereka sudah sampai di depan rumah milik keluarga Atmaja.


"Sama-sama. Aku titip salam juga deh buat kedua orang tua kamu ya." jawab Putri.


Chaca segera mengangguk, lalu membuka pengaman di tubuhnya.


"Kalo gitu Chaca turun dulu. Sekali lagi makasih tumpangannya Kak."


Putri ikut mengangguk.


Chaca pun turun dari mobil Putri lalu berdiri disamping mobil itu. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya agar biar melihat Putri melewati jendela mobil di depannya.


"Hati-hati ya Kak," Chaca menaikkan tangannya, melambai-lambaikannya pada Putri


"Iya. Duluan ya Cha."


Chaca mengangguk.


Mobil pun mulai melaju pergi dari hadapan Chaca.


Melihat itu, Chaca pun segera mengambil ponselnya dari dalam saku celana lalu menyalakannya. Ia memutar layar ponselnya pada sebuah vidio yang ia simpan di galeri.


Ia menatap vidio itu dan mengalihkannya pada mobil yang melaju tak jauh darinya. Ia menatap keduanya secara bergantian.

__ADS_1


Setelah mobil putih itu sudah hilang dari pandangannya, Chaca pun langsung mematikan ponselnya dan mengenggam erat benda pipih itu. Bibirnya nampak mengulas senyum tipis.


__ADS_2