
Bonus untuk kaliann ( ◜‿◝ )♡
Happy reading!!
Setelah pulang dari liburan kemarin. Elena dan Bryan hari ini memutuskan untuk pergi ke makam. Tentunya karena permintaan dari Elena.
Keduanya kini menatap gundukan tanah. Di hadapannya. Dengan batu nisan yang terpampang jelas tertulis nama Sarah.
Menunduk lalu mengelus batu nisan itu pelan. Elena menatap sendu. Dengan mata yang sudah memerah. "Ibu?" terdengar suara isakan tangis dari bibirnya. "Belum Elena kenal deket sama Ibu kandung Elena sendiri. Ibu udah pergi ninggalin Elena. Kenapa selama ini Ibu nutupin semuanya? kenapa Ibu gak jujur. Kenapa Ibu sedari kecil malah ninggalin Elena. Apa Ibu emang gak sayang sama Elena? Apa Ibu ngerasa Elena aib buat Ibu? Kenapa Ibu malah nitipin Elena ke orang lain. Kenapa Ibu ngehancurin keluarga orang. Kenapa Ibu gak milih buat rawat Elena sendiri?!" Elena menghembuskan nafasnya kasar. Menghapus jejak air mata di pipinya, masih banyak pertanyaan yang di lontarkan dari bibir manisnya. Hanya saja percuma. Dirinya tidak mungkin mendengarkan jawaban dari orang yang ia tanyai. Tapi Elena hanya mencoba untuk mengeluarkan unek-unek. Semua segala pertanyaan dari dalam pikirannya. Agar tenang.
Bryan hanya berdiam diri di samping Elena. Menatap wanita itu sedih. Ia tau perasaan Elena saat ini, namun ia membiarkannya untuk mengeluarkan semua keluh kesahnya.
"Tapi sekarang Ibu Sarah pasti udah tenang kan disana? sama Bapak sama Ibu Reni?" setelah bersedih, Elena lantas tersenyum. "Elena titip salam ya Buat Bapak sama Ibu Reni. Walau masih banyak pertanyaan yang Elena gak paham, tapi Elena yakin. Ibu, orang baik. Ibu tenang-tenang disana ya?
"Elena selalu ngirim doa buat kalian. Makasih udah ngerawat Elena disini. Makasih buat semuanya. Makasih juga Ibu udah ngorbanin ma-mata Ibu buat Elena." Elena kembali terisak." Ma-maafin Elena, karena Elena penyebab kepergian Ibu."
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Sudah ku bilang ini bukan salahmu."
Ya, Elena sudah tau jika yang mendonorkan matanya adalah Sarah. Ibu kandungnya. Awalnya ia cukup kaget. Tidak percaya jika yang mendonorkan nya adalah Sarah. Apalagi mendengar jika Sarah sudah meninggal. Dirinya jadi merasa bersalah, karena kematian Ibu kandungnya pasti di sebabkan olehnya. Jika saja dari awal Elena tau, Sarah ibu kandungnya, Sarah yang mendonorkan matanya untuknya. Ia tidak mau menerimanya. Karena Elena ingin merasakan hidup bersama Sarah. Walau dirinya tidak bisa melihat setidaknya dirinya dapat merasakan kasih sayang Ibu kandungnya itu.
"Tapi emang bener-kan? karena aku, Ibu Sarah meninggal?"
Mengelus puncuk kepala Elena perlahan. "Ibu mertua ku sudah tenang. Jangan jadikan rasa bersalah mu siksaan untuknya disana. Oke? aku yakin semuanya memang sudah takdir. Jangan salahkan lagi dirimu." tersenyum Bryan, menenangkan Elena agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Elena terdiam. Lalu menatap makam lagi di hadapannya.
"Sudah ya? jangan nangis lagi."
Mengangguk perlahan. Elena tersenyum. Walau belum pernah kenal dekat sama Ibu kandungnya-Sarah. Setidaknya Elena sudah pernah berbicara panjang lebar dengan nya saat di rumah sakit. Orang yang ternyata berbicara dengannya saat di taman rumah sakit adalah Sarah. Bryan memberitahunya kemarin. Pantas saja Elena merasa nyaman dan dekat dengannya. Kata-kata yang ia ingat terakhir adalah tentang jika dia akan pergi jauh. Ternyata ini yang sebenarnya terjadi. Beliau memang pergi jauh, jauh dari bumi ini.
"Elena sayang sama Ibu. Jaga diri baik-baik disana. Sampai ketemu nanti." Menaburkan bunga yang di genggamnya, di bantu dengan Bryan. Keduanya mulai berdoa untuk ketenangan Sarah.
Setelahnya mereka pun bangkit dan melangkah pergi menjauh dari makam tersebut. Untuk pulang ke rumah.
Sebelum berdoa di makam Ibu Kandungnya-Sarah, Elena dan Bryan sebelumnya juga sudah berdoa di makam kedua orang tua angkat Elena. Bapak Dimas dan Ibu Reni. Yang makam mereka tidak terlalu jauh dari Sarah. Sehingga Elena tidak susah untuk menjangkau ketiga makam orang tuanya itu.
Sampai di mobil. Bryan segera masuk, di ikuti Elena. Keduanya duduk saling berdampingan dengan Bryan yang menyetir mobil.
"Sudah siap?" Bryan menatap Elena tanya. Sudah siap apa tidak untuk Bryan menjalankan mobil ini.
Elena mengangguk. Pasrah. Walau berat meninggalkan makam orang tuanya. Tapi ia mencoba untuk tetap tegar.
Mengangguk dan tersenyum. "Hm."
"Oke.." Bryan melanjutkan menyalakan mobilnya. Dan melaju. Keluar dari makam ini.
Elena menatap luar arah jendela. Tersenyum masam dengan menatap makam yang sudah tidak terlihat lagi olehnya.
Elena janji bakal jengukin Ibu disini terus. Tunggu Elena kesini lagi ya.
...---...
Elena menyenderkan kepalanya pada pintu mobil. Entah kenapa mood nya hancur seketika.
Bryan yang melihat itu hanya mencoba acuh. Karena fokus menjalankan mobil.
Sampai pada titik dimana Elena merasakan perjalanan mereka berbeda. Ia melihat arah jalan di depannya. Benar. Ini bukan jalan pulang ke rumahnya Bryan.
Menengok Bryan. Elena menatap pria itu penuh tanya.
"Ini kan bukan jalan mau ke rumah, Mas?" Elena menatap binggung Bryan. Apa pria ini mencari jalan alternatif? soal panggilan Elena ke Bryan, Elena memang sudah mengubahnya sepulang liburan. Pria itu mengatakan untuk jangan memanggilnya Dokter. Alhasil Elena memilih panggilan 'Mas' daripada dirinya memanggil Bryan dengan sebutan 'Om'. Bahaya.
"Yang bilang kita pulang sekarang, siapa?" jawab Bryan, masih menatap jalan di depannya.
"Terus kita mau kemana?"
"Kau akan tau nanti." Melirik Elena sekilas. Bryan tersenyum jahil, membuat Elena melebarkan pandangan. Berwaspada. Jangan-jangan ia akan di bawa ke hotel lagi?!
Perjalanan tak membutuhkan waktu lama. Mobil Bryan pun akhirnya sampai di tujuannya. Elena terdiam. Menatap mobil mereka yang masuk ke dalam rumah yang cukup besar. Mungkin bukan seperti rumah lagi, namun seperti mansion.
Menganga. Elena terpukau dengan pemandangan di hadapannya. Rumah siapa ini?
"Turun." Bryan menatap Elena. Mematikan mesin mobilnya lalu melepaskan seat belt dan turun.
Elena yang melihat itu segera mengikuti Bryan. Turun dan berdiri di samping Bryan yang berada di hadapan mobilnya.
Masih menatap rumah di depannya terpukau. Elena mengeluarkan suaranya. Dengan nada kagum. "Ini rumah siapa?"
Bryan tersenyum diam. Menatap Elena. "Untukmu." balasnya pelan.
Sontak ucapan itu membuat Elena mengalihkan tatapannya. Menatap Bryan. Terkejut. "Hah?"
Mengangguk. Lalu menatap rumah di hadapannya lagi. "Anggap saja rumah ini hadiah dariku untukmu. Kita akan tinggal disini nanti, saat kita sudah punya anak." menggenggam tangan Elena erat. "Ayo kita liat dalamnya. Aku yakin kau akan menyukainya." lanjut Bryan.
__ADS_1
Elena yang masih terkejut hanya pasrah. Mengikuti langkah Bryan. Masuk ke dalam rumah ini.
Sampai pada di dalam rumah. Elena lagi-lagi terpukau. Melihat interior mewah di depannya. Sungguh apa ini untuk dirinya?
"Bagaimana?" tanya Bryan menatap Elena.
Elena hanya terdiam. Masih dengan pandangan berbinar.
"Kalo kau kurang suka dengan interior nya, aku akan menyuruh bawahanku untuk menggantinya."
"Enggak." Elena menatap Bryan. Menggelengkan kan kepalanya pelan. "Ini udah ba-bagus kok."
"Syukurlah kalo kau suka." Manis Bryan. "Aku sudah lama mempersiapkan rumah ini untukmu." lanjut Bryan, menatap pemandangan di depannya.
Ya, Bryan memang sudah berencana membangun rumah untuk Elena. Jauh sebelum dirinya mengutarakan perasaannya pada Elena kemarin. Ingat saat Bryan menyuruh Elena untuk memilih rumah saat di rumah sakit? disaat itu lah muncul keinginan Bryan membangun rumah. Namun saat ini rumah ini belum bisa di tinggali. Ada beberapa masalah yang masih Bryan urus, alhasil Bryan berniat akan menempati rumah ini setelah mereka sudah punya anak nanti.
"Tapi masih ada beberapa masalah. Rumah ini masih belum bisa di tinggali. Kau harus sabar menunggu." melirik Elena sekilas. "Sembari menunggu kita bisa fokus terhadap program kehamilan. Saat kau sudah melahirkan, baru kita pindah ke rumah ini." lanjut Bryan tersenyum.
Lain dengan ekspresi Elena. Ia malah menunjukkan ekspresi kaget. Apa Bryan memang sudah ingin memiliki anak darinya? tapi sungguh. Elena takut sekali melahirkan. Apalagi di umurnya yang masih muda.
"Ingin melihat lebih dalam?" tanya Bryan.
Elena mengangguk singkat.
Bryan menarik tangan Elena pelan. Masuk lebih dalam ke rumah ini.
Di setiap perjalanan mereka berkeliling. Elena tak henti-hentinya terpukau. Melihat besarnya rumah ini. Apa ia sanggup membersihkan rumah ini setiap harinya nanti?
"Apa iya nanti kita tinggal disini Mas?" pertanyaan Elena itu sontak membuat Bryan menghentikan langkahnya. Lalu menatap Elena.
"Kenapa memangnya?"
"Rumahnya gede banget. Cape kalo aku harus tiap hari bersih-bersih disini nanti." cemberut Elena. Saat berkeliling sekarang saja sudah membuat dirinya cape. Apalagi nanti ia tinggal dan bersih-bersih tiap harinya?
Bryan terkekeh. "Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk bersih-bersih rumah ini nanti? aku akan mencari Maid nanti untuk mengurus rumah. Aku tidak mungkin membuat mu kelelahan sayang."
Pipi Elena memanas mendengar itu. Sepulang dari jalan-jalan kemarin, sikap Bryan berubah menjadi lebih manis. Membuat dirinya jadi tak nyaman karena jantungnya tidak mau berhenti berdetak sedari tadi!
"Mau liat lantai atas?" tanya lagi Bryan. Karena memang mereka masih berputar-putar di lantai 1.
Elena dengan cepat menggeleng. "Capek." keluh Elena. "Kita pulang aja yuk, Mas."
"Mau ku gendong?" salah satu alis Bryan terangkat.
Melotot. Elena menggeleng kan kepalanya keras. Membuat Bryan terkekeh.
...---...
Keduanya kini sudah dalam perjalanan pulang.
Elena menatap jalan di luar jendela. Entah kenapa dirinya merasa capek sekali. Saat sudah sampai rumah nanti Elena akan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dan Tidur.
Tak membutuhkan waktu lama. Akhirnya mereka pun sampai pada rumah Atmaja. Memarkirkan mobil. Keduanya lantas turun, dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Namun sebelum masuk. Tiba-tiba ponsel di tangan Bryan berdering. Membuat Bryan menghentikan langkahnya di ikuti Elena di sampingnya.
Mengangkat telpon itu, Bryan berdekhem pelan.
"Hallo?"
"...."
"Shit, kenapa kau baru bilang?!"
"...."
"Yasudah."
Bip.
Elena menatap Bryan dengan heran.
"Aku ada urusan di rumah sakit." Bryan menatap tak enak Elena. "Aku harus pergi. Kau tidak apa-apa kan?" sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Elena, namun ada urusan pekerjaan yang tidak bisa di tunda.
Mengangguk. "Gapapa Mas. Lagian juga udah sampe rumah." balas Elena.
"Yasudah. Aku pergi dulu. Kalo kau kangen, telpon saja aku." Menaikkan kedua alisnya. Bryan tersenyum goda membuat Elena terkekeh.
"Hm." Elena mengangguk.
Bryan masih terdiam di tempatnya. Menatap Elena. Belum berniat beranjak dan berjalan. Membuat Elena binggung.
"Katanya mau jalan? kenapa masih disini?" tanya Elena.
Menyentuh bibirnya. "Aku akan pergi. Kau tidak mau memberikan salam perpisahan untukku?" tanya Bryan.
__ADS_1
Hal itu membuat Elena mengigit bibir bawahnya. "Malu, Mas. Kalo ada orang gimana." pelan Elena. Menatap sekitaran.
"Tapi sekarang tidak ada orang." Bryan mengedarkan pandangannya. Menatap tempat ini yang cukup sepi.
Pasrah. Elena segera memajukan wajahnya. Mencium singkat Bryan. Membuat Bryan tersenyum.
"Ah! aku jadi malas untuk pergi."
"Udah Mas sana. Ditungguin ga enak." Elena tau Bryan akan berbuat apa jika pria ini jadi tidak pergi sekarang.
"Kau mengusirku?" kesal Bryan.
Menggeleng cepat. Elena tersenyum. Membuat Bryan menghembuskan nafasnya gusar.
"Yasudahlah. Kau baik-baik di rumah. Aku akan pulang secepatnya." Mencium kening Elena, Bryan segera berjalan menjauh. Menuju mobilnya kembali.
"Hati-hati Dokter!" Elena melambaikan tangannya pada Bryan yang mulai menjalankan mobilnya.
Setelah tidak melihat mobil Bryan lagi. Elena segera berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Ia berniat akan langsung ke kamarnya dan tertidur. Namun baru sampai di ruang tamu dirinya melihat Chaca yang sedang terduduk di sofa sembari memakan sesuatu.
Elena pun segera menghampiri adik iparnya itu.
"Kakak ipar!" Chaca menatap terkejut Elena yang sudah terduduk di sampingnya. Dengan tersenyum. Chaca melanjutkan ucapannya. "Kakak Ipar dari mana?" tanyanya.
"Makam." balas Elena ikut tersenyum.
Mengangguk. Lalu menatap piring di meja hadapannya. Chaca segera mengambil piring itu dan memberikannya pada Elena. "Kakak Ipar mau?"
Elena menatap piring yang berisikan sepotong buah di tangan Chaca. "Kamu dapet darimana?"
"Dari Kak Aiden. Kak Aiden barusan metik buah dari samping. Cobain deh Kak. Enak." tawar Chaca.
"Makasih ya Cha." Elena segera mengambil sepotong buah itu dan mulai memakannya.
"Gimana, enak?"
Elena mengunyah buah itu dan menelannya. Ia lantas mengangguk. Namun tak lama setelah itu, ia merasakan ada sesuatu.
"Huekk!!" Elena menutup mulutnya, ketika merasakan mual.
"Eh Kakak ipar kenapa?" meletakkan piring yang ia pegang ke tempatnya kembali. Chaca menatap khawatir Elena. Ada apa dengan Kakaknya ini?
"Huekkk!" Elena menggeleng kan kepalanya, lalu bangkit dan berlari ke kamar mandi. Chaca yang melihat itu menatap heran Kakak iparnya.
"Eh Kakak Ipar mau kemana?" Chaca ikut bangkit dari duduknya dan menyusul Elena.
•
•
"Huekkk!" Elena menatap wastafel yang sudah ada di hadapannya. Nihil, ia muntah namun tidak ada yang keluar sedikit pun dari mulutnya. "Huekk!"
"Kakak Ipar kenapa?" Chaca mendekati Elena yang sudah berada di kamar mandi. Ia menatap khawatir Elena. Padahal saat dirinya memakan buah itu, ia tidak merasakan apapun. Namun kenapa Kakak iparnya ini malah muntah?
Memijat leher Elena. Chaca masih menatap khawatir istri Kakaknya ini.
"Huekkk!" Menyalakan air di wastafel, Elena mengelap bibirnya dengan air. Dan berdesis pelan. "Huh."
Chaca menurunkan tangannya. Masih menatap Elena. "Kakak Ipar sakit?"
Elena menggeleng. "Gatau Cha. Badan aku tiba-tiba ga enak. Mual gitu." memegang perutnya. "Perut aku juga kram."
"Ayok aku anter ke kamar Kak." Chaca menuntun Elena keluar dari kamar mandi. Dan melangkah menuju lantai dua.
Di sepanjang jalan Chaca menatap khawatir Elena. "Apa ini gara-gara Chaca ya? maafin Chaca ya Kak." sedih Chaca yang membuat Elena menggeleng.
"Bukan salah kamu kok Cha."
Sampai pada kamar, Chaca segera membantu Elena duduk di tepi ranjang.
"Aku emang dari pulang liburan udah ngerasa gak enak." lanjut Elena. Menatap Chaca yang duduk di sebelahnya.
"Dari pulang liburan?" heran Chaca.
Mengangguk. "Kayaknya asam lambung aku sering naik akhir-akhir ini." Elena membuka laci di samping ranjang. Mengambil obat yang sudah di sediakan disana. Ya, memang dirinya sering mual dan kram di bagian perut setelah sepulang liburan, apalagi badannya sering merasa kelelahan. Namun ia tidak berbicara pada Bryan, takut membuat pria itu khawatir berlebihan padanya. Karena ia tau dirinya hanya mengalami asam lambung atau maag.
Chaca terdiam. Dengan pikiran yang mulai berpikir kemana-mana.
Tiba-tiba sesuatu melintas di pikiran Chaca. Dengan cepat ia mengubah wajahnya bahagia lalu bertepuk tangan sekali.
"Aaaa!" Chaca tersenyum bahagia. Menatap Elena. "Jangan-jangan Kakak Ipar.."
Elena menekukkan dahinya. "Apa?" dengan memasukkan obat ke dalam mulut dan meminum minumannya.
__ADS_1
"..Kakak ipar HAMIL!"
Byur!!