
"Enghh.."
Mengucek-ngucek matanya perlahan, Elena lantas bangkit dari tidurnya dan menatap sekeliling kamar ini.
Kosong. Elena mengalihkan tatapannya menatap jendela besar di sampingnya. Langit terlihat cerah. Membuat Elena menatap jam besar di hadapannya. Pukul delapan pagi.
Menguap lalu mengusap wajahnya kasar. Setelah pergulatan kemarin, Elena memilih tidur. Membuatnya tidak tau sekarang Bryan berada dimana. Bahkan ia tidak menyangka Bryan malah tetap meninggalkannya.
Huh! apa Dokter Bryan kesana?
Wajah Elena makin kusut. Ternyata rencananya gagal. Bryan sekarang malah pergi. Dan pastinya ke rumah wanita itu.
Apa sebegitu nya Bryan pada Mia? Jadi Bryan masih menyukai perempuan itu?
Kesal, marah, emosi! Elena lalu bangkit dari ranjang. Dengan selimut yang ia lingkarkan pada badannya, agar menutupi tubuh polosnya. Karena peristiwa tadi, Elena terpaksa harus kembali membersihkan dirinya.
...---...
Setelah membersihkan diri, Elena memakai pakaiannya dan terduduk di sofa. Ia melihat makanan sudah tersedia disana namun entah kenapa nafsu makannya berkurang. Ia tidak ingin makan sekarang, seperti ada yang kurang namun Elena tidak tau apa.
"Huh." Menghembuskan nafasnya lelah. Elena mengambil ponselnya di atas ranjang lalu membukanya.
Bosan. Dirinya tidak tau akan melakukan apa disaat Bryan pergi entah kemana. Dirinya harus apa sekarang? masa iya dirinya pergi sendiri ke luar? jika dirinya keluar pun, Bryan tidak memperbolehkan nya. Karena pria itu mengatakan jika ia tidak boleh pergi tanpa Bryan di sampingnya.
Mendengus sebal. Elena berjalan menuju balkon kamar ini. Melihat-lihat pemandangan bawah di sekitarnya.
Menunduk. Apa ini yang di namakan bulan madu?! hiks tidak ada bagus-bagusnya. Jika tau seperti ini Elena lebih memilih untuk berdiam saja di rumah! jika Bryan tidak ada kan setidaknya ada Chaca yang menemaninya di rumah.
Ting!
Ponsel yang di pegang Elena tiba-tiba berdering. Memunculkan sebuah pesan yang muncul.
Elena menatap layar ponselnya dan membaca pesan masuk itu.
Bryan to Elena.
Aku pulang agak malam sepertinya. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau tinggal telpon bawahan ku saja. Aku akan menyuruhnya menjaga mu hari ini.
Elena membaca kalimat itu dengan malas. Benar dugaannya. Bryan memang pergi. Sebenarnya kemana sih pria itu?
Elena mengetik sesuatu disana. Sebagai balasan dari pesan yang dikirim Bryan.
Elena to Bryan.
Dokter pergi kemana? kalo saya jalan-jalan sendirian keluar gapapa kan? saya bosen disini.
Elena mengirim pesan itu. Tak lama balasan pun terlihat.
Bryan to Elena.
Kau jalan-jalan sore saja. Aku akan menyuruh bawahanku untuk membantumu menyiapkan diri oke? jam tiga aku akan menyuruh mereka ke kamar.
Menutup ponselnya setelah membaca pesan dari Bryan. Elena menghela nafasnya kasar. Tidak adil menurutnya. Bryan bebas berjalan-jalam di luar sana dengan Mia sedangkan dirinya terkurung disini. Sebenarnya Elena itu manusia atau burung sih?! apa Bryan memang sengaja? menyuruhnya berdiam disini? agar dirinya tidak tau jika mereka berdua berjalan-jalan di luar sana? hah! Elena sudah menebak. Pasti Bryan takut ketauan dirinya.
__ADS_1
Berjalan masuk ke dalam kamar. Elena duduk di tepian ranjang. Dirinya harus apa sekarang? benar-benar tidak tau. Haruskah dirinya diam saja disini? menunggu sampai sore?
"Ck!" Elena mengumpat kesal.
Merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Elena memainkan ponselnya kembali. Sepertinya memainkan game tidaklah buruk. Atau menonton drama? sebaiknya Elena menonton drama saja. Setidaknya dirinya bisa tertawa dan baper menonton drama daripada bersedih seperti ini.
...---...
03:00 PM
Tisu basah nampak berserakan di lantai. Elena terisak sedih dengan air mata yang masih bercucuran di wajah cantiknya. Matanya nampak sembab, wajahnya memerah memberi tanda bahwa dirinya menangis.
"Jahat banget." Elena terseguk-seguk. Mengelap pipinya dengan tisu lalu melemparnya. Ia lakukan itu berulang kali namun pipinya terlihat tidak kering-kering.
Kalian pikir Elena sedih karena Bryan? tidak. Elena sedih karena menonton drama.
Menatap ponselnya kesal. Elena menutup wajahnya dengan bantal. Niatnya tertawa dan baper malah berujung nangis. Dirinya tadi sudah menemukan drama komedi yang lucu namun akhirnya tak sesuai ekspektasi. Si laki-laki beristri itu ternyata ketauan selingkuh dengan perempuan lain. Sedangkan istri dari laki-laki itu bunuh diri akibat perselingkuhan suaminya karena depresi saat sang suami ternyata lebih memilih selingkuhannya.
Ia jadi mengingat Bryan. Drama itu sama dengan kehidupan yang ia alami sekarang. Apa Bryan memilih Mia nanti? dan dirinya akan bunuh diri karena depresi? ah! Elena lebih baik mencari pria lain saja daripada bunuh diri. Lagian masih banyak yang mau dengannya. Walau ia tidak tau siapa. Hiks.
Ting..tong..
Menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara bell. Elena segera bangkit dari duduknya dan melihat arah jarum jam. Ternyata sudah sore. Ia tidak tau karena fokus menonton drama tadi.
Turun dari ranjang, Elena menghapus air matanya lalu berjalan menuju pintu. Untung Bryan meninggalkan kunci kartu itu di sini, jadi Elena bisa membuka pintunya sesuka hati.
Ceklek!
"Misi Nona. Kami di suruh Tuan Bryan untuk membantu anda bersiap diri sekarang." beberapa orang itu segera masuk, membuat Elena memundurkan tubuhnya.
"Mari Nona, kami akan menyiapkan segala sesuatunya. Nona tenang saja, serahkan semuanya pada kami." salah satu orang itu langsung menarik Elena. Masuk ke dalam kamar mandi. Berniat membantu Elena mandi.
"Loh loh ini ada apa?" Elena membulatkan matanya heran. Hey?! mungkin jika dihitung ada sepuluh orang wanita disini. Apa mereka semua akan membantunya gitu? tapi kok banyak banget?
Orang yang memegangi tangan Elena lantas tersenyum. "Nona tenang saja. Kami akan membuat Nona cantik hari ini dan Tuan Bryan akan terkesan melihat anda nanti." balasnya untuk pertanyaan yang di lontarkan Elena.
Elena menganga. Sebenarnya ada apa ini? dirinya kan hanya akan berjalan-jalan santai sore saja, tapi kenapa malah jadi seperti akan pergi ke pesta persiapannya?
Semua orang nampak mulai sibuk. Ada yang menata peralatan make-up, memilih-milih gaun dan sibuk membantu Elena bersiap diri. Semuanya terlihat mulus, seperti sudah diatur sebelumnya.
"Nona duduk saja. Kami akan merias Nona."
Setelah membersihkan tubuhnya, Elena langsung di dudukkan pada sebuah kursi. Di hadapannya terlihat meja yang sudah di penuhi dengan make-up.
"Tapi kita kan cuman-"
"Nona santai saja. Kita akan melakukan semuanya semaksimal mungkin. Serahkan semuanya. Nona hanya perlu diam, biarkan kami menjalankan ini." ujar salah satu orang yang kini memegangi bedak di tangannya.
Menelan salivanya kasar. Elena memang sedari tadi tidak bisa diam. Sibuk menanyakan maksud hal ini. Lagian juga dirinya perlu jawaban, namun tidak ada yang memberi tahunya untuk apa semua ini. Membuatnya kepo dan terus bertanya.
Semuanya kembali berjalan. Beberapa orang terlihat mulai merias wajah Elena. Elena yang merasakan itu hanya diam. Mencoba untuk tenang. Biarkan mereka melakukan apa saja. Karena ia tau sekeras apapun dirinya bertanya, sekeras mereka juga menghindari pertanyaannya. So, Elena hanya diam saja. Melihat pergerakan dari mereka.
"Selesai Nona." Elena membuka matanya setelah periasan selesai. Ia menatap kagum cermin yang berada tepat di depannya sekarang.
__ADS_1
Cantik.
Elena mengulas senyumnya. Menatap riasan di wajahnya. Tidak terlalu tebal namun tidak tipis. Seimbang lah. Membuatnya sangat menyukai riasan ini.
"Sekarang Nona tinggal memakai gaun ini." seseorang datang dari belakang. Menghampiri Elena dengan memegangi sebuah gaun di tangannya. "Ayo Nona."
Elena bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, sesuai perintah perempuan dewasa itu.
Tak menunggu lama. Setelah selesai memakai gaun tersebut. Elena keluar dari kamar mandi. Dan menunjukkan penampilannya pada orang-orang disini.
Elena menunduk. Menatap gaun yang ia pakai. "Gimana?"
Semua orang disini menatap Elena dengan terpukau.
Cantik Nona.
Cocok gaunnya. Pas.
Tuan pasti terpukau liat Nona sekarang.
Tak sedikit ucapan pujian yang di lontarkan bawahan Bryan ini untuk Elena. Mereka semua menatap kagum, melihat Elena yang sangat cantik hari ini.
Mendapati balasan positif membuat Elena tersenyum. "Makasih Bi."
"Sama-sama Nona." salah satu orang segera mendekati Elena kembali. "Sudah saatnya berangkat, mobil sudah menunggu Nona di lobi. Ayok Nona. Saya antar."
Melebarkan pandangannya. "Sebenernya kita mau kemana?" Elena masih heran. Dirinya berdandan seperti ini sebenarnya mau di bawa kemana?
"Nona akan tau saat sudah tiba nanti. Mari Nona."
Elena mulai mengikuti bawahan Bryan itu. Pasrah, ia mengikuti saja apa mau wanita dewasa itu.
Saat sudah turun. Elena merasa keadaan hotel ini cukup sepi. Namun ia senang, karena itu membuat dirinya bisa berjalan dengan leluasa sekarang.
Sampai pada lobi. Mobil terlihat sudah terparkir, bersiap untuk berangkat. Sebelum masuk, Elena terlebih dahulu menatap wanita yang membantunya bersiap tadi.
"Makasih ya Bi. Udah bantu tadi." ucap Elena. Berterimakasih karena wanita ini mau membantunya bersiap.
Wanita itu mengangguk. Ramah. "Sudah tugas saya, Nona."
Elena mengangguk, tersenyum manis. Lalu mulai masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi penumpang.
"Sudah siap Nona?"
Setelah duduk, Elena mendengar orang yang mengemudi berbicara. Membuat pandangannya teralihkan. Menatap supir itu.
"Udah Pak."
Mengangguk. "Baik. Kita berangkat sekarang, Tuan Bryan pasti sudah menunggu Nona disana." lanjut supir itu yang membuat Elena terdiam.
Jadi ini ulah Bryan? mau apa pria itu menyuruhnya seperti ini? apa jangan-jangan?
__ADS_1