
HAPPY READING❤️
"Tapi saya mau pulang Dok," Elena menatap Bryan dengan pandangan memohon. Ia ingin pulang, dirinya sudah tidak kuat ada di rumah sakit ini.
Bryan menatap datar gadis di depannya. Dengan membereskan peralatan tadi, ia menghela nafasnya pelan. "Yasudah. Kita pulang nanti malam."
Mendengar itu, Elena spontan tersenyum manis. Tumben Dokter Bryan langsung mensetujui ucapannya dengan secepat ini. "Makasih ya Dok."
Bryan menatap Elena dalam, tak lama ia pun memalingkan tatapannya dan berjalan menjauh dari ranjang. Ia melangkah, mendekat ke arah sebuah nakas di ujung ruangan lalu menaruh peralatan yang sudah ia bereskan tadi di atas nakas tersebut.
Setelah itu, Bryan pun berbalik, menatap Elena yang masih terduduk di ranjang sana.
"Tidak jadi. Lebih baik kita disini sampai kau benar-benar sembuh." Papar Bhintar datar. "Setelah kau pulih baru kita pulang."
Mendengar itu, Elena menganga tak percaya. Jadi dirinya tidak di perbolehkan pulang? tapi katanya tadi boleh? bagaimana sih pria itu?
"Ta-tapi kata Dokter tadi boleh pulang," cicit pelan Elena. Raut wajahnya nampak berubah menjadi suram.
Tak terasa, smrik di wajah Bryan muncul. Dengan sedikit merapihkan jasnya, Bryan menjawab.
"Aku hanya ingin melihatmu tersenyum."
Elena terdiam mendengar itu. Apa katanya?
"Sekarang kau lebih baik istirahat. Tidur. Kau harus banyak-banyak istirahat jika ingin cepat pulang," Bryan membenarkan jas putihnya. "Aku akan keluar sebentar. Kau tetap disini, jangan kemana-mana. Aku akan cepat kembali."
Setelah mengatakan itu, Bryan nampak melanjutkan langkahnya, pergi menuju pintu dan keluar dari ruangan ini.
Elena menatap diam kepergian Bryan. Tak lama helaan nafas terdengar di wajahnya. Dirinya benar-benar capek jika harus tertidur terus menerus disini, tanpa melakukan apapun.
Tapi di balik wajah suramnya, Elena tetap terlihat menguatkan senyum bahagia di bibirnya. Gadis itu terlihat bahagia karna masih di izinkan menatap alam semesta ini.
"Huft." gumam Elena pelan.
...***...
Bryan melangkah menjauh dari kamar rawat Elena dan berjalan menuju suatu tempat.
Di sepanjang jalan. Pikirannya hanya tertuju pada Elena, dan Elena. Di balik wajah dinginnya, tersimpan banyak ke bimbangan. Tak sedikit orang yang menatapnya disini, menatap kagum ataupun tersenyum cari perhatian, namun Bryan hanya acuh. Pikirannya sudah di penuhi tentang gadis itu sekarang, sehingga dirinya tidak ingin melihat keadaan sekitar di rumah sakit ini.
Saat masih berjalan, dari arah kejauhan, matanya menangkap sosok yang begitu familiar di matanya. Sosok itu terlihat berdiri dengan menyandarkan punggungnya di dinding lorong rumah sakit. Bryan pun mendekati sosok itu, dan berdiri tepat di hadapannya.
"Bagaimana?" tutur Bryan, menatap pria yang sekarang sudah ada di depannya.
Pria itu nampak menggeleng. "Tapi Kak Bryan tenang aja, gue bakal selesain ini secepatnya kok."
Pria itu tak lain adalah Aiden. Ya, Pria itu memang belum pulang sejak tadi karna mereka sebelumnya sudah merencanakan pertemuan ini disini, di depan pintu ruang milik Bryan. Alhasil, Aiden menunggu Bryan hingga keluar dari ruangan Elena dan menghampirinya kesini.
Bryan berdekhem. "Masuk." ajaknya, menyuruh Aiden ikut masuk ke dalam ruangannya.
Aiden pun mengangguk. Keduanya mulai masuk ke dalam ruangan Bryan, untuk membicarakan hal yang serius. Tak lupa juga Aiden menutup rapat pintu ruangan ini.
Bryan berjalan menuju meja kerjanya, disusul Aiden yang mengikutinya dari belakang.
Mereka duduk saling berhadapan, dengan meja sebagai pembatas dari keduanya. Tatapan Bryan menatap tajam Aiden.
"Jika kau tidak bisa, lebih baik kau menyerah saja." papar Bryan, dengan pandangan meremeh.
Aiden dengan cepat mengelengkan kepalanya. "Gue bisa Kak. Gak ada kata menyerah di kamus gue. Kak Bryan tenang aja, Kak Bryan cukup jaga Kakak ipar baik-baik, biar tugas ini gue yang selesain. Yang penting Kak Bryan harus tepatin perjanjiannya."
Bryan ikut mengangguk kecil. "Asal kau juga cepat selesaikan ini semua."
...***...
__ADS_1
Elena mengambil ponselnya yang berada di sampingnya. Dan dengan cepat menyalakan ponsel itu. Menatap layar yang penuh notifikasi baru disana.
Karna rasa bosan. Elena iseng membuka sosmed yang sudah jarang ia buka. Dirinya menatap setiap berita yang muncul disana, dengan wajah yang sesekali tersenyum simpul ketika mendapati postingan lucu.
"Ini rumah sakit namanya apa ya?" gumam Elena masih menatap layarnya. Berhubung Elena bosan disini, ia pun turun dari ranjang dan berjalan perlahan menuju pintu ruangan ini.
Saat sampai disana, ia sedikit membuka pintu ruangannya, menampakkan setengah kepalanya keluar, melihat keadaan di depannya.
Sepi. Tidak ada yang menunggu di depan ruanganya. Lorongnya nampak tidak terlalu ramai walau ada beberapa suster yang berlalu lalang.
Jalan-jalan sebentar gapapa kali ya?
Elena kembali menegakkan tubuhnya. Ia membuka pintu ruangannya dan berjalan keluar dari tempat ini. Tak lupa juga menutup kembali pintunya.
Dengan pakaian khas pasien rumah sakit, Elena berjalan santai di lorong rumah sakit. Entah akan kemana dirinya, yang penting dirinya ingin menghilangkan rasa bosan.
Kakinya melangkah pelan, menikmati keadaan sekitar. Elena merasa nyaman dengan mata barunya. Andai saja orang baik yang memberikan mata ini mau di sebutkan namanya, dan mau juga dipertemukan dengannya pasti Elena akan mengucapkan banyak-banyak terimakasih.
Beberapa menit berjalan sendirian, Elena merasa tubuhnya sudah sangat lelah dan merasa jika sudah cukup sekarang dirinya berada di luar. Mungkin sekarang sudah waktunya dirinya akan pulang kembali ke kamarnya.
"Elena."
Seketika kakinya terhenti. Mendengar namanya di panggil dari arah belakang. Jantungnya berdegup kencang. Apa itu Bryan? Dirinya takut jika yang memanggilnya itu adalah memang Bryan. Mana dirinya tadi tidak diperbolehkan keluar kemana-mana, namun sekarang dirinya malah berkeliaran disini.
"Itu kamu kan Elena?"
Mendengar ucapannya sekali lagi membuat Elena bergeming. Ini bukan suara Bryan. Ia hafal suara pria itu, dengan rasa yang penuh penasaran, ia pun berbalik, menatap asal suara yang memanggilnya.
"Pak Wilson?"
Elena menatap sosok pria tinggi di depannya.
"Huh! aku kira aku salah manggil, tapi ternyata ini benar kamu Na." Wilson tersenyum hangat. "Kabar kamu gimana? kok kamu bisa ada disini? kamu sakit?" lanjutnya ketika sadar dengan pakaian yang di kenakan gadis didepannya.
"Seperti yang Bapak lihat. Saya keadaannya seperti ini. Tapi saya sehat-sehat aja kok Pak." balas Elena, ternyum tak kalah hangat.
"Kamu sakit apa Na? kenapa kamu gak bilang ke saya kalo kamu sakit?" khawatir Wilson.
"Saya-" Elena terdiam, ketika ada suara yang memotong ucapannya.
"Tidak penting juga jika Elena membicarakan kondisi tubuhnya pada orang lain."
Keduanya bersamaan menatap asal suara itu. Suara yang berasal dari arah belakang Elena. Suara dingin yang membuat mereka terdiam. Siapa lagi jika bukan suara Bryan?
"Orang lain yang bukan keluarganya, bahkan bukan teman dekatnya juga," lanjut Bryan. Melangkah mendekat ke posisi kedua orang itu, dan berdiri di samping Elena.
Elena menatap Bryan dalam. Kenapa pria ini tiba-tiba ada di sini? apa Bryan tau dirinya keluar dari ruangnya tadi? jika memang tau, matilah dia.
Wilson menatap Bryan dengan tersenyum tipis. Wajah dan hatinya menunjukan perasaan yang berbeda dengan ke datangan pria ini.
"Ya, memang status saya dan Elena hanya sekedar atasan dan mantan pekerja. Tapi tidak ada salahnya bukan jika kita tetap berkomunikasi dengan baik? bagaimana pun saya dan Elena juga pernah dekat sebelum kalian menikah. Betul kan Elena?" jawab Wilson, menatap Elena dengan senyuman hangat.
Elena mengalihkan tatapannya menatap Bryan. Lalu kembali pada Wilson. "I-iya."
"Tapi itu dulu bukan? keadaan sudah berbeda sekarang. Untuk apa Elena mengabari kondisinya pada pria lain yang bukan suaminya?" tutur Bryan. Raut wajahnya nampak datar.
Wilson terdiam.
"Menurut ku memang lebih baik kalian tidak usah berdekatan lagi seperti dulu. Sekarang semuanya sudah berbeda. Itu juga bagus untuk mu bukan Wilson? dengan kau menjaga jarak dengan gadisku kau bisa menghapus perasaan mu padanya." Bryan menarik smrik-nya. "Walau kalian memang sekedar mantan atasan dan bawahan, tapi menurutku perasaan mu lebih dari sekedar itu Wilson."
Wilson menghela nafasnya pelan. "Saya memang mencintai Elena."
Deg!
__ADS_1
Elena terdiam sesaat. Pak Wilson mencintainya? Jadi perasaannya dulu terbalaskan? Entah mau senang atau sedih sekarang.
Bryan mengepalkan tangannya erat. Ia melirik Elena yang ternyata juga menatap Wilson. Hatinya tiba-tiba merasakan kesal.
"Saat Elena di pecat. Saya merasa marah pada orang kepercayaan saya. Padahal waktu itu saya berniat untuk melamar Elena, namun semuanya gagal karna pemecatan sepihak itu. Alhasil saya mencari Elena sejak saat itu, namun nihil. Saya tidak menemukan Elena di rumahnya, dan tanpa di duga saya menemuinya di rumah sakit. Dulu saya merasa senang, mungkin memang Tuhan menakdirkan Elena untuk saya. Namun saya salah besar." Wilson menampakan wajah kekecewaannya. "Saya malah mendapati gadis yang saya cintai menikah dengan mantan sepupu ipar saya sendiri." tatapannya teralih, menatap Elena.
Bryan mengenggam erat tangan Elena. Ia mendekatkan tubuhnya lebih dekat pada gadis itu.
"Menunduk." bisik Bryan.
Elena membuyarkan lamunannya lalu menatap Bryan. "Apa?"
"Ck! menunduk." lanjut Bryan. "Aku tidak mau kau menatap pria di depanmu ini, cepat menunduk atau pejamkan matamu."
Elena membulatkan matanya. Tapi saat bryan menatapnya tajam, ia pun segera menunduk.
Pandangan Bryan teralihkan lagi, menatap Wilson. Wilson pun ikut menatap Bryan.
"Tapi saya tau batasan. Elena sudah mempunyai suami, saya juga tidak bisa memaksa Elena harus bersama saya. Jadi jaga Elena baik-baik." lanjut Wilson.
"Tanpa kau suruh pun aku akan menjaganya dengan baik." dingin Bryan.
Wilson terkekeh pelan. Tatapan Bryan seakan-akan ingin menerkamnya. Ia tau pasti pria itu sedang cemburu padanya.
"Aku yakin kau bisa menjaganya. Dan untuk kamu Elena." Mendengar panggilan dari Wilson, membuat Elena mendongakkan kepalanya. "Semoga pilihan mu tepat."
Mata Bryan membulat.
"Aku memang belum bisa memiliki mu sekarang, tapi siapa tau saja nanti? jika suatu saat kalian bercerai, kamu bisa menghubungiku Elena." tutur Wilson, tak tahu malu. Yang langsung membuat ekspresi wajah Bryan berubah. "Aku siap menggantikan posisi pria ini." lanjutnya menatap Bryan.
Bryan mengepalkan tangannya erat. Ingin sekali dirinya menghajar pria di depannya, tapi dirinya masih mencoba menjaga sikap disini.
"Pamanku di rawat disini. Keliatannya juga kamu dirawat disini ya Na? nomor kamar kamu berapa? biar nanti aku sekalian jenguk kamu." papar kembali Wilson.
"Kita pulang." Bryan melirik Elena, lebih mengeratkan tangannya pada gadis itu. Membuat Elena sedikit meringis.
"Ta-tapi Dok-"
Tanpa berbicara lagi, Bryan segera menarik tangan Elena. Menjauh dari Wilson dan berjalan entah akan kemana.
Elena yang merasakan itu hanya mengikuti Bryan dari belakang. Ia sesekali menoleh ke belakang, menatap Wilson yang juga menatapnya dari tempatnya tadi.
Elena menatap tangannya lalu menatap Bryan di depannya. "Dok. Tadi kata Dokter saya gak dibolehin pulang-"
Bryan menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menatap Elena, yang juga kini menatapnya.
Mata mereka saling mengunci satu sama lain. Bryan maju. Lebih mendekati Elena. Menatap wajah gadisnya lebih dekat lagi. Menghiraukan tatapan dari orang-orang yang berlalu lalang disini.
"Kau ingin tau kenapa aku berubah pikiran?" ucap Bryan.
Elena mengangguk.
Bryan memajukan wajahnya. Elena yang melihat itu dengan sigap memejamkan matanya. Jantungnya berdebar kencang kembali.
Bibir Bryan mendekati telinga Elena. Lebih tepatnya akan membisikkan sesuatu disana.
"Aku hanya tidak ingin kau melihat ataupun berdekatan lagi dengan pria itu. Aku tidak suka milikku berdekatan dengan pria lain. Kau tau? aku tipikal pria pen cemburu. Kau sudah tau bukan jika pria cemburu itu pertanda apa?" bisik Bryan pelan, membuat Elena bergeming.
TBC
Next cepet?😂
__ADS_1