Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB27: Gengsi


__ADS_3

Jangan lupa dukungannya dengan like, vote dan komennya. Itu sangat berarti untuk author><


Langsung aja ya.


HAPPY READING GUYS🍁


↪↪↪


"Nah sekarang kamu duduk ya sayang. Bentar lagi perias nya kesini."


Sampai di dalam kamar miliknya, Meldi pun segera menyuruh Elena untuk duduk dikursi meja rias yang ada dikamarnya.


Sekarang Elena akan di-rias oleh perias yang sudah ia pesan untuk datang kesini. Sebenarnya perias itu sudah sampai disini sedari tadi namun di karnakan Elena yang belum tiba juga akhirnya Meldi memutuskan untuk si perias itu pergi ke taman belakang dimana pesta digelar. Ia menyuruh agar perias itu memakan makanan terlebih dahulu sembari menunggu.


Tak berselang lama akhirnya dari arah pintu kamar milik Meldi datang seorang wanita dewasa dengan beberapa maid dibelakangnya.


Elena segera bangkit terlebih dahulu dari duduknya untuk menyapa wanita yang baru masuk itu. Namun ketika ia baru akan berdiri tiba-tiba saja ada suara yang menghentikan niatnya.


"Udah Na, kamu duduk aja."


Mendengar ucapan Meldi membuat Elena mengangguk dan duduk kembali. Ia hanya menatap wanita cantik itu dengan tersenyum. Dilihatnya mungkin Perias itu memiliki umur sama dengan mertuanya.


"Mana Nyonya yang mau saya rias?"


Meldi tersenyum dan mengelus pelan puncuk kepala Elena. "Ini Madam, dia Elena menantu saya." Meldi menatap Elena sekilas seakan memperkenalkan menantunya ini.


Wanita dewasa itu langsung mengalihkan tatapannya pada gadis yang duduk dihadapannya. Ia seketika terdiam karna terkesima melihat wajah Elena.


Wanita yang dipanggil 'Madam' itu mendekat kearah Elena dengan wajah tanpa senyum. Saat sudah berada dekat dihadapan Elena, wanita itu pun mengenggam pelan dagu Elena dengan wajah serius namun tak lama ia pun segera menurunkan tangannya.


Elena hanya diam. Sebenarnya wanita ini mau apa?


Tatapan serius itu seketika berubah menjadi senyuman hangat. Elena masih diam menatap perubahan wajah dari orang dihadapannya.


"Cantik banget pengantin-nya." ucap wanita itu dengan menatap Meldi. "Ini kalo gak di dandan juga tetep cantik." lanjutnya kembali menatap Elena.


Elena ikut tersenyum ketika mendapat pujian itu. "Terimakasih-" Ia jadi binggung harus memanggil wanita dihadapannya ini apa.


"Madam. Panggil saya Madam." ucap wanita itu seakan tau apa yang ada dipikiran Elena.


Elena lantas mengangguk. "Terimakasih Madam."


"Yasudah kamu sama Madam ini dulu ya, Mamah mau ke luar dulu kalo kamu udah selesai baru Mamah nanti kesini lagi." Meldi menatap Madam yang bernama Lisa dihadapannya. "Tolong bantu Elena bersiap-siap juga Ya."


Madam itu langsung mengangguk meng-iyakan ucapan Meldi. "Baik Nyonya."


Meldi pun berjalan melangkah keluar dari kamarnya ini. Ia mempercayai Lisa selaku Madam rias itu karna memang dulu mereka adalah teman sewaktu SMA jadi Meldi sering mengundang Lisa jika ia memerlukan bantuan untuk berdandan. Nama Nyonya yang Lisa lontarkan untuknya itu adalah kemauan Lisa sendiri. Padahal Meldi sudah memberitahu agar Lisa memanggil namanya saja namun kata Lisa ini adalah pekerjaannya jadi ia harus sopan pada costumer dan akhirnya Meldi pun hanya membiarkan saja wanita itu memanggilnya apa karna Lisa tipikal orang keras kepala.


Setelah kepergian Meldi tersisa lah dua orang dikamar ini. Ya, kedua orang itu adalah Elena dan Madam-Lisa. Maid yang tadi kesini pun sudah pergi kembali karna tadi hanya mengantarkan Lisa kesini jadi mereka melanjutkan kembali tugasnya masing-masing.

__ADS_1


Elena sudah pada posisinya menghadap kearah kaca besar dihadapannya. Lisa juga sudah berada di belakang Elena, ia akan memulai dengan rambut dari gadis dihadapannya ini baru nanti akan ia lanjutkan ke wajah.


Saat sedang menata rambut Elena, Lisa sesekali beetanya pada Elena untuk sekedar basa-basi agar suasana tidak terlalu sepi.


"Madam gak nyangka Bryan akan menikah secepat ini." ucap Lisa dengan tersenyum menatap Elena melewati kaca dihadapannya. "Madam sudah menganggap Bryan sebagai anak Madam sendiri jadi ada rasa haru sekaligus bahagia mendengar kabar jika Bryan sudah menikah." lanjutnya.


Elena hanya tersenyum karna ia juga binggung akan menjawab apa.


"Tapi Madam juga heran kalian cepat sekali menikahnya atau memang kalian sudah berhubungan lama ya?" tanyanya kembali.


Elena terdiam. Ia harus menjawab apa? berkenalan saja baru beberapa hari yang lalu jadi mereka tidak mungkin berhubungan cukup lama. Pernikahan mereka memang mendadak tadi siang, entah kenapa Mertua laki-lakinya tiba-tiba saja memanggil penghulu saat dirumah sakit. Elena juga sempat kaget namun mau bagaimana lagi, semua ini menyangkut sang Bapak.


"Elena?"


"Eh iya." lamunan Elena tiba-tiba buyar ketika mendengar itu. Ia langsung mengubah wajahnya menjadi seperti biasa agar wanita dibelakangnya tidak curiga.


"Kok ngelamun? maaf ya Madam jadi kepo sama hubungan kalian." ucap Lisa menjadi tak enak karna menanyakan itu.


"Gapapa kok Madam, kami memang sudah berhubungan cukup lama dan baru hari ini aku dan Dokter Bryan meresmikan hubungan kami." jawab Elena terpaksa berbohong.


Ya tuhan maafkan aku karna aku berbohong lagi tapi ini karna keadaan jadi tolong maafkan aku


Madam itu lantas melebarkan senyumannya. Ia mengangguk singkat dengan tangan yang masih bergerak lihai di rambut Elena. "Syukur lah kalo memang seperti itu. Madam doakan semoga hubungan kalian langgeng sampai akhir hayat kalian ya."


Elena tersenyum diam. Didalam hatinya ia tidak mengaminkan doa dari Madam ini. Ia tidak bisa hidup selamanya dengan seseorang yang tidak ia cinta dan juga tidak mencintainya. Tapi entah untuk kedepannya, ia tidak tau bagaimana takdir yang tuhan berikan selanjutnya padanya.


___


Mendengar itu membuat Chaca mengalihkan tatapannya pada asal suara tadi. Ia menajamkan matanya melihat seorang pria yang berdiri dihadapannya sekarang. "Mau gue lempar sepatu hah?!" ucapnya dengan menaikkan sepatu hak-nya yang sedari tadi masih digenggamnya.


"Galak banget sih lo Cha, penampilan aja feminim tapi sikap kek preman pasar."


Yang berbicara tadi adalah Reno yang tak lain adalah salah satu sepupu Chaca. Pria tampan yang baru memasuki bangku kuliah itu memang senang menggoda saudaranya ini karna menurutnya menjaili Chaca adalah hal favoritnya ketika berada di rumah ini.


"Enak aja lo! gue disama-main sama preman pasar. Gak level kali ya." ucap Chaca dengan memutarkan bola matanya malas.


Reno terkekeh melihat wajah kesal dari Chaca, ia merasakan sedikit gelayar aneh dihatinya. Memang hal ini sering terjadi ketika ia berdekatan dengan Chaca.


"Muka lo biasain aja kali. Jangan di jelek-jelekin kayak gitu, bukannya cantik malah tambah jelek," Reno menoel pelan pipi gadis dihadapannya dengan terkekeh.


Chaca menjauhkan tangan Reno dari wajahnya. Ia memajukan bibirnya kesal dengan tingkah sepupunya ini yang umurnya hanya berbeda 4 tahun diatasnya.


Reno masih tersenyum menatap Chaca. Gadis ini memang membuatnya sedikit gemas dengan sikapnya. Jika saja saudara sedarah dibolehkan untuk berhubungan mungkin Reno akan segera menjadikan Chaca miliknya.


___


"Dimana gadisku?" tanya Bryan kepada salah satu maid disini. Bryan sedari tadi mencari dimana Elena yang dibawa Mamahnya tadi namun sayangnya ia belum menemukan Elena maupun sang Mamah.


Bryan sudah menunggu Elena sekitar setengah jam di ruang tamu namun sayangnya gadis itu tidak menampakan wujudnya.

__ADS_1


Maid itu menunduk. Ia tau siapa yang dimaksud oleh anak dari Tuannya. "Nyonya Meldi tadi membawanya kedalam kamarnya Tuan, mungkin Nona Elena akan dirias disana."


Kabar pernikahan Bryan sudah tersebar di penjuru rumah ini. Para maid dan beberapa pekerjaan lainnya sudah tau tentang hal ini.


Tanpa menjawab sepatah katapun Bryan melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjukan maid tadi. Beberapa langkah berjalan Bryan pun sampai didepan pintu kamar Mamahnya. Ia sudah rapih dengan mengenakan jas berwarna hitam dan celana katun berwarna senada.


Saat akan masuk tiba-tiba saja pintu dihadapannya terbuka menampilkan seorang gadis disana.


Bryan terdiam. Ia menatap gadis dihadapannya yang terlihat berbeda. Matanya seketika terhipnotis menatap wajah cantik didepannya.


Elena terdiam menatap Bryan yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia sudah selesai bersiap-siapnya jadi tadi dirinya memutuskan untuk kebawah terlebih dahulu namun sayangnya saat membuka pintu kamar ini sudah terlihat Bryan dihadapannya.


"Dok?" panggil Elena karna Bryan sedari tadi diam saja dengan pandangan yang menatap kearahnya.


Saat mendengar itu Bryan langsung tersadar dari tatapannya. Ia sedikit berdekhem untuk menetralkan suasana.


"Dokter kenapa?" lanjut Elena bertanya.


Bryan mencoba untuk tidak menatap Elena didepannya. "Wajahmu."


Elena mengerutkan dahinya binggung. Ada apa dengan wajahnya? padahal ia tadi sudah berkaca dan saat melihat wajahnya sendiri yang cukup biasa saja dan tidak ada yang salah. "Wajahku? kenapa?"


"Berwarna."


Mata Elena membulat. Berwarna? maksud pria ini apa? memangnya wajahnya pelangi apa dibilang berwarna segala.


Elena masih menganga mendengar jawaban yang membingungkan itu. "Hah?"


"Iya! wajahmu berwarna mencolok sekali. Mataku sampai sakit melihatnya." sahut Bryan masih menatap arah yang lain walau sesekali ia menatap gadis didepannya.


Elena meraba wajahnya, padahal ia hanya memakai liptin berwarna bibir dengan bedak dan blash-on yang memiliki warna tak mencolok namun kenapa pria dihadapannya ini malah berbicara jika make-upnya terlalu mencolok?


"Sudah tidak usah memegang wajahmu dengan tangamu itu entar make-up mu malah semakin acak-acakan." lanjut Bryan yang sekarang hanya menatap Elena.


Elena yang baru meraba wajahnya langsung menurunkan tangannya. Ia memajukan bibirnya kesal, padahal Madam yang meriasnya tadi mengatakan jika dirinya cantik tapi Bryan malah tidak memujinya sama sekali.


Mendapatkan wajah kesal dari orang dihadapannya membuat Bryan sedikit tersenyum tipis namun tak lama kembali dengan wajah dinginnya. "Tapi karna berhubung aku baik hati dan tidak ingin mengecewakan mu dengan make-up itu jadi aku memuji mu jika kau cantik sekali malam ini." ucap Bryan tanpa ekspresi.


Elena kembali menganga. Jadi sebenarnya dirinya ini menor atau cantik sih?


"Sudah tutup mulutmu itu. Kau seharusnya berterimakasih padaku karna aku masih mau memuji mu." lanjut Bryan dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya.


Elena sedikit mengumpat didalam hatinya prihal sikap pria dihadapannya. Entah harus senang atau kesal mendengar pujian itu. Ia tau Bryan memang terpesona padanya namun pria itu mungkin gengsi mengucapkannya.


↔↔↔


Bryan gengsi nih😂😂


Termakasih sudah membaca❤

__ADS_1


Salam manis semuanya:)


__ADS_2