
HAPPY READING 🤩🤩
Elena menghirup udaranya dalam-dalam. Ia sekarang berada di balkon kamarnya. Menatap langit-langit senja di atasnya.
Keadaan disini cukup hening, karena dirinya hanya sendirian. Bryan? pria itu sampai sekarang belum menemuinya entah kemana pria itu.
Elena lalu menatap arah bawahnya. Taman yang cukup luas terlihat disana. Ia hanya tersenyum. Ketika melihat ada beberapa pekerja yang tak sengaja menatap ke arah nya.
"Ekhem."
Elena tersentak kaget. Mendengar suara dekheman tiba-tiba dari arah sampingnya. Ia lantas mengalihkan pandangannya menatap asal suara itu.
Bryan. Sejak kapan pria ini sudah ada disini?
"Dok-dokter sejak kapan ada disini?" Elena menatap Bryan di sampingnya. Dirinya hanya terkejut karena tidak menyadari kedatangan pria ini.
Bryan yang sedari tadi menatap arah hadapannya, kini memalingkan wajahnya. Menatap Elena. "Kepo."
Membulatkan matanya. Hey! Elena baru mendengar Bryan mengatakan hal itu. Jujur ia kaget, ternyata pria ini tau juga bahasa gaul.
"Biasakan saja matamu. Aku takut matamu jatuh nanti." Bryan terkekeh pelan, menatap wajah terkejut dari Elena. Wajahnya sangat lucu di matanya. Membuatnya gemas.
Elena segera menggelengkan wajahnya. Membiasakan wajah nya lagi lalu mengalihkan wajahnya dari Bryan. Mengahindari tatapannya.
"Apa kau bosan?" setelah lama terdiam. Akhirnya Bryan kembali membuka suaranya.
Menatap Bryan lagi. "Memangnya kenapa?" tanya Elena. Tumben Bryan menanyakan hal itu.
Menaikkan kedua bahunya. "Jika kau bosan, aku akan mengajakmu pergi." balas Bryan, tersenyum.
Seketika mata Elena berbinar. "Jalan-jalan Dok?"
Bryan mengangguk.
Terlihat raut wajah Elena yang bahagia. "Kemana?!" Elena merasa bahagia. Mungkin karena faktor beberapa masalah hari lalu yang membuat dirinya banyak pikiran, dengan jalan-jalan mungkin akan meringankan pikirannya bukan?!
"Terserah kau mau kemana."
Elena melebarkan senyumannya.
"Jadi negara mana pilihanmu?" lanjut Bryan, menatap tanya Elena.
"Negara?" Elena mengerutkan dahinya. "Kita jalan-jalannya ke luar negri?"
Bryan mengangguk. "Ya iya. Terus mau kemana lagi?" dirinya heran. Memangnya apa yang di pikirkan Elena tentang jalan-jalan mereka?
"Beneran?" Elena menutup bibirnya, tak percaya.
Memutar bola matanya malas. "Ck! Iya! tinggal kau sebut saja nama negaranya apa." balas Bryan kesal.
__ADS_1
Elena menggelengkan kepalanya tak percaya. Seumur hidupnya dirinya tidak pernah ke luar negri. Keluar kota saja tidak pernah apalagi keluar negara nya? sungguh, Elena senang bukan main!
"Ah! saya mau kesini Dok." Elena segera berlari masuk ke dalam kamarnya. Berniat mencari ponselnya yang ia taruh di atas ranjang.
Bryan yang melihat itu langsung mengikuti wanita itu. Dari belakang.
Setelah menemukan ponselnya, Elena segera mengutak-atik ponsel tersebut. Mencari sebuah gambar disana. Setelah mendapatkannya, Elena segera memberikannya pada Bryan.
"Saya mau kesini." Elena tersenyum, sembari memberikan ponselnya.
Bryan lantas mengambil alih ponsel Elena. Lalu menatap gambar yang berada di layar tersebut. Setelah tau, Bryan mengembalikan ponsel itu lagi pada pemiliknya.
"Hm yasudah."
"Kapan kita pergi?" tanya Elena.
Bryan nampak berfikir. "Besok sore."
Membulatkan matanya, Elena lagi-lagi tidak percaya. "Beneran Dok?"
Bryan berdecak sebal. Sedari tadi wanita nya ini hanya berbicara itu saja, yang membuatnya kesal. "Apa wajahku terlihat berbohong?" balasnya menunjuk wajahnya sendiri.
Elena menggelengkan kepalanya. Wajah Bryan terlihat datar. Mana mungkin pria ini berbohong atau bercanda bukan?
Karena rasa bahagianya, Elena langsung memeluk tubuh Bryan yang ada di hadapannya. Memeluk erat pria itu.
"Makasih Dok!"
Mengelus puncuk kepala Elena. Bryan tersenyum dalam diam. "Sama-sama."
...---...
Malam akhirnya tiba. Sudah waktunya keluarga Abraham melakukan makan malam hari ini.
Seperti dilihat, semuanya sudah berkumpul di meja makan. Menikmati makan malam ini. Bersama.
"Jadi kapan kalian akan pergi?" Abraham menatap Bryan, setelah selesai memakan makanannya.
Uhuk!
Semua mata langsung menatap Chaca. Gadis itu tiba-tiba tersedak minumannya. Membuat keadaan seketika menjadi runyam.
"Minum Cha!" Aiden mengambilkan segelas air untuk adik nya ini. Ia nampak khawatir.
Chaca segera menegak air itu."Hah!" lega nya setelah menghabiskan air minumnya. "Papah ngusir Kak Bryan?" ia lantas menatap Abraham.
"Bukan!" balas Abraham. Mana ada seorang Ayah mengusir anak nya sendiri? ada-ada saja anak terakhirnya itu.
"Lo emangnya gak tau Cha? kan Kakak ipar sama Kak Bryan mau keluar negri." kini bukan Abraham yang menjawab, tapi Aiden. Ya, memang semuanya sudah tau kecuali Chaca. Karena gadis itu sering menghilang entah kemana.
__ADS_1
Membulatkan matanya takjub. "Beneran?!" tak percaya Chaca.
"Hm." sahut Bryan.
Chaca tersenyum manis. "Chaca mau ikut dong!"
"Jangan."
Elena menatap semua orang disini. Bukan hanya Chaca yang terkejut. Elena pun ikut terkejut dengan jawaban serentak dari Abraham, Meldi dan Aiden. Kecuali Bryan.
"Loh kenapa?!" Chaca tak terima.
"Inget besok sekolah." balas mereka bertiga kompak lagi.
"Kan bisa izin!" alasan Chaca.
"Tetep gak boleh." hanya Aiden yang menjawab itu.
Memajukan bibirnya kesal. Chaca mendengus sebal.
Elena yang melihat raut wajah Chaca hanya terkekeh. Wajah gadis itu terlihat lucu jika seperti itu.
"Besok sore." balas Bryan, menjawab pertanyaan Abraham sebelumnya.
Mendengar itu, Abraham lantas memangut-mangutkan kepalanya. Ber-oh.
Setelah selesai makan malam. Semuanya mulai kembali pada kesibukan dirinya sendiri. Terutama Elena dan Bryan.
Kini keduanya sudah ada di dalam kamar.
Elena nampak sibuk memainkan ponsel di sisi ranjang. Dengan Bryan yang ada di sebelahnya.
Bryan menatap Elena yang terlihat sibuk sendiri. Entah kenapa itu membuatnya kesal, karena diabaikan seperti ini. Ingin rasanya dirinya merampas dan membanting ponsel tersebut hingga rusak, namun ia hanya tidak mau Elena marah padanya.
Merasakan ada sesuatu, Elena segera mengalihkan tatapannya. "Dokter ngapain liatin saya?" tanya-nya menatap Bryan yang ternyata sedari tadi diam-diam melihatnya.
"Aku punya mata. Memangnya tidak boleh?!"
Mengerutkan dahinya. Elena menatap heran Bryan namun tak lama ia mematikan layar ponselnya lalu kembali menatap Bryan. Semarang keduanya saling berhadapan, menatap satu sama lain.
"Saya udah punya rencana buat jalan-jalan nanti, disana Dok." senang Elena. Ia sudah memikirkan tempat mana saja yang akan mereka kunjungi nanti. Dirinya jadi benar-benar tidak sabar!
"Kemana?" Bryan menaikkan sebelah alisnya.
"Nanti kita ke pantai-nya terus nanti kita ke kedai es-krim! saya denger-denger disana ada es-krim yang terkenal enak, Dok." seru Elena.
Bryan terkekeh singkat. Gemas melihat wanita di hadapannya ini.
"Saya jadi gak sabar." Elena tersenyum. Memikirkan susunan rencana yang akan ia lakukan disana nanti.
__ADS_1
Bryan pun sama. Pria itu juga memikirkan beberapa rencana yang akan ia lakukan bersama Elena nanti. Tapi dalam versi berbeda.
"Aku juga jadi tidak sabar." Bryan menyeringai, penuh maksud.