Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
Ekstra part 8


__ADS_3

HAPPY READING!


Masuk ke dalam rumah dengan wajah khas nya. Bryan melangkah sembari mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru rumahnya. Mencari satu wanita yang sedari tadi di pikirannya. Satu wanita yang terus menerus berlari di pikirannya.


Ya, siapa lagi jika bukan istrinya? Elena?


"Eh udah pulang kamu Yan?" Meldi yang baru saja turun dari tangga langsung melihat keberadaan anak sulungnya. Tengah berjalan mendekati nya.


"Hm. Dimana Elena?" tanya Bryan. Ketika sampai di depan Meldi.


Mendengar pertanyaan itu membuat Meldi terkekeh. Dulu saat belum ada Elena di rumah ini, Bryan akan selalu pulang dengan anggukan sebagai jawaban jika di tanya seperti tadi olehnya. Hanya anggukan saja. Tapi sekarang? bahkan Bryan malah balik bertanya. Memang benar, Elena membawa pengaruh besar pada Bryan. Dirinya lebih senang anaknya ini seperti ini. Membuatnya jadi ingat tentang suaminya dulu, ya sebelas dua belas seperti Bryan sekarang.


"Ada di kamar, katanya capek habis jalan-jalan tadi sama Chaca. Mungkin dia lagi istirahat," balas Meldi tersenyum.


Bryan mengangguk kecil. "Yasudah kalo gitu Bryan ke atas dulu," setelah mengatakan itu Bryan langsung berjalan cepat menuju kamarnya di atas.


Meldi yang melihat Bryan menggeleng kan kepalanya. Seperti sudah tidak ketemu berbulan-bulan saja, padahal sepengetahuan nya mereka baru berpisah tadi pagi, apa getaran hati rindu membuat anaknya menjadi seperti itu? haha.


"Ngapain disini Mah?"


Meldi tersentak kaget ketika mendengar suara di depannya. Mengalihkan tatapannya. Lalu mengelus dadanya pelan. "Ngagetin aja kamu, Cha."


Chaca yang sedang menikmati kue di tangannya membulatkan mata. "Ih orang Chaca nanya bukan ngagetin," padahal dirinya pun bertanya dengan suara pelan. Tidak terlalu mengagetkan, tapi kenapa Mamahnya ini malah bilang jika dirinya membuatnya kaget?


"Ya kamu muncul nya tiba-tiba gitu, kan Mamah jadi kaget kamu nanya," Meldi menatap Chaca heran, lalu melangkahkan kakinya lagi, berniat ke dapur. Tadi dirinya turun beniat akan mengambil minum, karena melihat Bryan tadi, dirinya jadi lupa.


"Mamah mau kemana?!" Chaca menatap kepergian Mamahnya itu.


"Dapur."


Memajukan bibirnya kesal. Chaca memakan kembali kue nya, masih dengan menatap sebal bayang-bayang kepergian Meldi. "Orang tadi di tanya malah pergi!" katanya dengan nada sedikit jengkel. Dirinya tadi kepo melihat Mamahnya sore-sore begini turun, eh malah mamahnya pergi meninggalkan nya. Nasib-nasib. Dirinya selalu saja di tinggalkan, hiks.


...---...


"Kau sedang apa?"


Elena terperanjat kaget. Mendengar suara dari arah belakangnya. Menutup cepat laci, pandangan nya langsung terarah pada asal suara.


"Eh, tidak sedang apa-apa." Elena membulatkan matanya. Bryan ternyata sudah pulang. Melirik sebentar jarum jam, disana menunjukkan pukul lima. Cepat sekali Bryan pulang hari ini. "Kamu udah pulang?"


Menghela nafas. "Kalo aku belum pulang, aku tidak mungkin ada disini." melangkahkan kaki nya mendekati Elena. "Kau sedang apa?"


Pasalnya Bryan tadi melihat Elena menutup laci dengan terburu-buru. Apa memang ada yang di sembunyikan Elena darinya?


Menggeleng pelan. "Tidak sedang apa-apa." Elena melirik laci sebentar lalu kembali menatap Bryan. Dengan cepat ia mengambil tas yang berada di tangan suaminya itu, dan tersenyum. "Mau langsung mandi? aku siapin air panas ya?"


Bryan menaikkan sebelah alisnya heran. Tapi ia menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Hm."


Masih menunjukkan senyum manisnya, Elena langsung berlalu dari hadapan. Menaruh tas kerja di lemari, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Berniat menyiapkan air panas untuk suaminya mandi.


Melihat Elena yang sudah tidak ada di pandangannya. Bryan melirik kembali laci yang sempat di tutup Elena tadi. Penasaran. Apa ia buka saja laci itu?

__ADS_1


Mendudukkan bokong nya di sisi ranjang. Bryan menggenggam tutup laci itu, siap untuk membukanya.


Srettttttt


"Aaaaaaaaa!"


Terkejut. Bryan segera menatap arah kamar mandi, asal teriakan itu terdengar. Bryan menutup kembali laci, lalu bangkit, bergegas melihat keadaan Elena.


"Hey, kau kenapa?!" Bryan masuk ke dalam kamar mandi.


Elena menatap Bryan yang berdiri di pintu. "Kecoa!" Menunjuk arah kloset menggunakan shower kecil yang ada di tangannya. "Kecoa Mas!"


Bryan segera melirik lantai kamar mandi. Lalu masuk ke dalam. "Mana?"


"Itu!!!!"


"Sejak kapan ada kecoa di kamar mandi ini?!"


"Ada! itu buktinya!" Elena memeluk shower dengan tatapan jijik menatap kecoa yang tadi muncul tiba-tiba disana.


"Ck kau ini!" Bryan masih mencari-cari keberadaan binatang yang di sebut Elena tadi. "Mana? buktinya tidak ada!"


"Tadi ada Mas!" Elena menatap sekeliling nya. Sumpah, hewan berwarna coklat itu adalah ketakutan besarnya. Bukan karena bentuknya tapi karena rasa trauma. Dulu saat kecil dirinya pernah hampir memakan kecoa kecil yang ia kira buah. Tapi syukurnya langsung di rampas oleh Bapaknya, sudah begitu malam nya kecoa itu membalaskan dendam. Saat tidur beberapa kecoa mengelayar di tubuhnya! Kejadian mengerikan yang tidak pernah ia lupakan.


"Mana?"


Elena membulatkan matanya ketika ada sebuah benda terbang mendekati nya.


Bryan menatap arah tunjuk Elena. "Ya sudah kau diam!" Bryan heran, kenapa Elena bisa se-histeris itu melihat kecoa. Lagi pula sejak kapan ada hewan jorok seperti itu disini? Bryan akan memarahi bawahannya nanti karena tidak bersih membersihkan kamar mandi ini.


"Ayo tangkep Mas!"


Kecoa itu terbang dan berhenti di atas kaca kloset. Bryan berdecak karena kaca itu cukup tinggi.


"Naik Mas!"


"Apa?!" Bryan menatap Elena tak percaya.


"Naik!" Elena menunjukkan wajah parno nya.


"Hey? kau tidak lihat itu tinggi sekali?!" Bryan menggeleng kan kepalanya. Kecoa itu berada di atas kaca wastafel, masa iya dirinya harus naik ke wastafel? seorang Bryan naik? hanya untuk menangkap kecoa? harga dirinya dimana?


Menatap melas Bryan. Dirinya sungguh takut. "Iya! masa harus aku yang naik?!"


Bryan melebarkan matanya, berani sekali Elena membentaknya. Tapi, melihat wajah ketakutan Elena membuat Bryan menghela nafas. Dirinya adalah suami siaga. Tidak mungkin membiarkan wanita nya ketakutan seperti itu. "Yasudah!"


Bryan mengalah, membuat Elena tersenyum walau masih dengan wajah takut.


"Yaudah tangkep."


Menatap malas Elena. Bryan mulai menaiki wastafel. Ia menegakkan tubuhnya, mencoba menggapai kecoa tersebut dengan tangan kosong. Bodo amat lah, ia tangkap saja kecoa itu tanpa peralatan. Demi wanitanya walau ia harus menurunkan harga diri hanya untuk menangkap kecoa. Padahal ia bisa menyuruh bawahannya, tapi jika Elena sudah menitahnya, ia harus apa?

__ADS_1


"Dikit lagi Mas!" Elena mendongakkan wajahnya, melihat Bryan di atas sana.


"Sudah kau diam! jangan banyak bicara, aku sedang fokus menangkap!" suara teriakan Elena membuat ia sedikit tidak fokus.


Elena cemberut. Padahal dirinya memberitahu Bryan. Mengarahkan nya. Kenapa pria itu malah marah?


Bryan sedikit menaikkan kakinya, agar sampai. Dan..


Hap!


Elena tersenyum puas melihat Bryan berhasil menangkap kecoa itu dengan tangannya. Walau sedikit jijik. Apa tangan Bryan tidak geli menangkap serangga coklat tersebut?


Setelah tertangkap. Bryan segera turun dari wastafel. Berdiri menghadap Elena. Ia menarik smrik, melihat wajah Elena. Sepertinya ia punya ide.


Ia membuka tangannya yang menangkap kecoa tersebut, lalu mengangkatnya dengan jari dan memberikannya pada Elena.


"Lihat."


Sontak perbuatan itu membuat Elena membulatkan mata dan teriak.


"AAAAAA!"


Elena segera mengangkat shower kecil yang ia pegang, menyalakan air nya, mengarahkan nya pada Bryan. Bryan yang mendapat guyuran air itu tidak sengaja melepaskan kecoa tersebut membuat kecoa itu terbang kembali.


"Ck! kau ini baju ku jadi basah!" Bryan mengelap pakaiannya yang terkena air. Sialan! basah sudah bajunya, memangnya dirinya tanaman apa di siram-siram?


Elena melihat kecoa yang terlepas dari Bryan itu terbang menuju ke arahnya, membuat Elena kembali berteriak.


"Aaaaa! Mas! kecoak nya!" Elena segera berlari menuju Bryan, namun, saat akan mendekat pada Bryan, ternyata lantai di hadapan Bryan licin, membuat Elena terpleset.


Elena memejamkan matanya, siap dengan resiko akan terjatuh ke atas lantai. Beberapa detik kemudian ia tidak merasakan dinginnya lantai, namun, ia malah merasakan pelukan hangat yang ia tau itu dari siapa.


Membuka matanya, Elena menatap manik mata yang ada di depannya. Dekat. Mata itu dekat menatapnya, membuat jantung Elena berdetak tak karuan lagi.


Ya, siapa lagi jika bukan Bryan? ketika melihat Elena akan terjatuh, Bryan dengan sigap menghampiri dan segera memeluk Elena. Agar perempuan itu tidak terjatuh.


Dan kini, posisi keduanya sedikit intim. Wajah mereka saling mendekat, tubuh mereka menyatu.


Bryan ikut menatap manik mata Elena. Lalu turun menatap bibirnya.


Bibir yang sangat ia sukai.


Karena suasana, Bryan mulai mendekatkan wajahnya perlahan pada Elena. Lalu memejamkan matanya, siap untuk menjemput kesukaannya.


Elena yang melihat Bryan mulai mendekat hanya diam, tidak memberontak. Namun saat bibir mereka akan menyatu, Elena merasakan ada sesuatu yang bergerak di dadanya.


"KECOAAAAA AAAA!"


GEDEBUG!


"ARGGGG SIALAN!"

__ADS_1


"MAS?!"


__ADS_2