Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
Ekstra part 12


__ADS_3

"Eh iya." Elena membuyarkan segala pikirannya. Ketika pria tua itu sudah ada di depannya.


"Maaf, apa ini mobil kamu?" tanya pria tua itu.


Mengangguk ragu. "Iy-iya Kek, eh pak, eh om, eh Tu-tuan." Elena mengigit bibir bawahnya. Ia takut salah bicara. Apalagi dirinya jadi gugup karena sepertinya pria di depannya ini bukan lah orang sembarangan.


"Nama saya Kenatth. Silahkan kamu memanggil saya dengan sebutan apa saja." balas pria tua itu tersenyum.


Elena ikut tersenyum. Sepertinya pria ini baik. Walau jika di lihat dari mukanya sedikit arogan. "Baik Tuan."


"Jangan panggil saya Tuan, saya bukan majikan kamu." balasnya lagi.


Dahi Elena mengkerut. Jika bukan Tuan lalu apa? kakek? menurutnya tidak terlalu sopan. Apalagi pria di depannya ini tidak terlalu tua, eh tapi emang sudah tua.


"Panggil saja Bro." katanya lagi dengan sedikit terkekeh.


"Br-bro?" menganga. "Tapi-- apa kurang so-"


Belum beres menjawab, pria bernama Kenatth itu memotong.


"Kurang sopan jika orang itu tidak ingin dipanggil seperti itu. Sedangkan kan aku yang menyuruh mu memanggil ku itu, lagian umur kita sepertinya tidak terlalu jauh."


Elena lagi-lagi menganga. Bukan apa-apa. Katanya umur mereka tidak terlalu jauh? bahkan jika dilihat dirinya malah seperti seumuran cucunya, jika pria ini sudah memiliki cucu.


Tapi mau tak mau Elena pun mengangguk. Yasudah lah. "Ba-baik Bro." balasnya terkekeh paksa.


Mengangguk. Kenatth lantas menaikkan tangannya. Seperti orang meminta jabatan tangan. "Nama mu?"


Elena menatap tangan itu, lalu menerimanya. Tak lupa menempelkan pada dahinya juga. "Elena." setelah itu ia melepaskan tangannya.


Kenatth melongo ketika tangannya di tempelkan pada dahi Elena. Seperti salam kepada orang tua ketika akan pergi sekolah. Tapi ia tidak memprotes hal itu, malah dirinya merasa cukup terkesima. Ternyata masih ada anak muda yang tau sopan santun.


"Elena, nama yang cukup bagus." Kenatth mengangguk, masih dengan di lapisi senyuman. "Dan cantik, seperti orangnya."


Di puji seperti itu membuat pipi Elena merona. "Terimakasih."


"Sama-sama." berdekhem singkat. "Dan namaku Kenatth."


Elena mengangguk heran. "Iya, udah tau, tadi kan di kasih tau-?" ia belum cukup pikun untuk melupakan perkenalan pria ini tadi.

__ADS_1


"Ya terus?" menaikkan sebelah alis seperti menunggu sesuatu.


"Te-terus?" binggung Elena. "Terus apa ya?" tak pahamnya.


"Ck." Kenatth berdecak. "Kau tidak ingin memuji ku balik begitu?"


Mata Elena membulat sempurna. "Hah?"


"Ah sudah lupakan saja, semua perempuan memang tidak peka." balas Kenatth dengan malas. Hal itu makin membuat mata Elena melongo. Tidak peka? what?


Pria tua itu kembali menatap mobil di depannya. Sebenarnya ia menyuruh supirnya untuk berhenti disini karena ada sesuatu hal. Ia sepertinya mengenal mobil di hadapannya ini. Tapi.. ada hubungan apa perempuan ini dengan mobil ini? maksudnya, ada hubungan apa dengan pemilik mobil ini?


Elena yang melihat mata Kenatth ikut menatap mobil. Ada yang salah? oh atau jangan jangan...


"Maaf Tuan eh bro, mobilnya ngalangin jalan ya? maaf banget, soalnya mobil nya mogok, bro bisa lewat sampingnya?" tapi kalo diliat liat juga jalanan masih lega, dirinya juga berhenti di pinggir jalan, ga ke tengah banget. Itu Elena binggung.


"Ah tidak, aku hanya familiar dengan mobil ini. Kau pemilik mobil ini?" tanya Kenatth dengan penasaran.


Mengangguk ragu. Elena tersenyum tipis. Ini sebenarnya mobil Bryan, tapi kan dirinya istrinya, jadi mobil dia juga kan? "Memangnya ada apa ya?"


"Tidak, bukan apa-apa." Kenatth menggeleng kan kepalanya pelan. Mobil seperti ini banyak, mungkin ia salah sangka. "Aku sebenernya berhenti ingin melihat keadaan nona, aku hanya kasian pada kandungan nona. Tidak baik memakan es-krim disaat hamil tua."


Menggeleng, menolak. "Melihat dirimu aku jadi teringat pada istri cucu ku."


"Menantu?" Alis Elena terangkat. "Bro memiliki menantu yang sedang hamil juga?" tanya Elena penasaran.


"Ya, seperti nya." balas Kenatth mengangguk.


"Sepertinya?"


"Ya, aku mendengar cucu ku sudah menikah dan sekarang menantu ku sedang hamil. Tapi sialnya mereka semua tidak ada yang memberitahuku! hah.. apa mereka sudah tidak menganggap ku?"


Elena tertekun tak mengerti. "Masa tidak ada yang memberitahu bro? maksudnya, memangnya bro tidak sering ke rumah cucu bro atau semacam menjenguk.. mana mungkin tidak ada yang memberitahu?"


"Aku sudah lama tinggal di luar negri, bahkan sudah lupa tanggal berapa aku menginjakkan kaki disini." Kenatth menghela nafas. "Bahkan sudah lama tidak ada yang menanyai kabarku ketika aku disana.."


"Aaaa.." Elena merasakan prihatin. Kasian sekali kakek ini. Seharusnya di umur segini, sudah saatnya beristirahat dengan di temani keluarga. Umur tidak ada yang tau kan?


"Maaf aku tidak tau.."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Saat aku bertemu mereka nanti, aku akan memarahi mereka semua, termasuk anak sial tak tau terima kasih itu." kesal Kenatth. Saat akan sampai kerumah, ia akan memarahi habis anak kandungnya. Dasar tidak tau di untung. Ada acara besar seperti pernikahan cucunya, dirinya sama sekali tidak di beritahu.


Mereka pikir dirinya tidak tau?


tidak.


Kenatth tau semuanya. Dirinya memiliki banyak mata-mata untuk memberi kabar apa saja yang terjadi di keluarga anaknya. Dirinya hanya menunggu sampai anaknya mengabarinya, tapi sampai saat ini, sampai dimana berita istri cucunya hamil, dirinya sama sekali tidak menerima pesan apapun dari anaknya.


Padahal ini tentang keturunan keluarganya. Tentang calon cicitnya.


Tersenyum tak enak. "Mungkin mereka punya alasan sampai tidak memberitahu mu? jangan mengambil kesimpulan sepihak br-ro.. takutnya memang mereka tidak ingin merepotkan mu sampai bro harus terbang kesini karena hal itu?" balas Elena hati-hati.


"Merepotkan huh?" Kenatth mengambil nafas panjang. "Ini tentang calon cicitku. Calon penerus keluarga. Tidak mungkin di repotkan." kesalnya.


Elena mengangguk. Iya juga sih. Kasian juga kakek ini, masa ada acara besar seperti itu tidak di beritahu? keluarga macam apa? tapi eh, mungkin mereka ada masalah sampai tidak saling mengabari? Elena tidak mau membela sepihak saja. Takut salah.


"Yasudah, kau mau pulang? Aku tidak tega meninggalkan perempuan hamil seperti mu disini sendirian. Mari aku antar? Dimana alamat mu.." Tanya Kenatth, berniat mengantar.


"Ah tidak perlu terimakasih.. Aku hanya tinggal nunggu supir ku datang, dia bilang lagi telpon sih, cuman sampe sekarang.. oh itu dia." Elena menghentikan ucapannya ketika melihat supirnya datang dari arah belakang.


"Saya sudah selesai nona, dalam lima menit montir akan kesini, nona silahkan nunggu di mobil."


"Ini supirmu?"


Sang supir yang sedari tadi menatap Elena kini menatap orang yang berbicara tadi. Seketika tubuhnya diam tak berkutik. Ekspresi wajah nya sedikit menegang, meliat sosok di depannya. Sosok yang sangat ia kenal..


Sontak sang supir itu langsung berdiri tegap dengan sedikit menunduk sopan seperti memberi hormat. Membuat Elena sedikit kebingungan melihatnya.


Ada apa supirnya berubah seperti ini?


"T-tuan besar! maafkan saya, saya ti-tidak tau jika ada tu-tuan besar disini. Maafkan saya sekali lagi Tuan.."


Elena menganga mendengar nya. "Tu-tuan besar?" Elena menatap kakek di depannya dengan sedikit tertekun. Tuan besar?


Ekspresi Kenatth pun sama, ia sedikit tersentak kaget melihat supir yang ia kenal berada di hadapannya. "Kau? jadi?"


"Maaf Tuan besar, saya hanya menemani Nona Elena, istri Tuan Bryan untuk membeli es krim di sekitar sini, dan saya tidak tau jika mobil ini akan mogok-"


"Jadi nona ini istri dari cucu ku?!" jawaban yang di lontarkan pak supir terpotong dengan pertanyaan Kenatth itu.

__ADS_1


__ADS_2