Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB28: Pesta


__ADS_3

Maap ya akhir-akhir ini emang lagi sedikit disibukkan dengan dunia nyata alhasil jarang up hhe.


Tapi aku akan usahakan untuk up agar cerita tidak mengantung, jadi langsung aja ya.


HAPPY READING GUYS🍁


↔↔↔


Setelah pembicaraan kecil didepan pintu mereka pun segera melangkahkan kakinya menuju tempat dimana acara resepsi digelar.


Acaranya memang tidak seperti resepsi-resepsi biasanya. Pesta ini hanya diadakan sebagai syukuran atas pernikahan anak pertama keluarga Atmaja yaitu Bryan.


Bryan berjalan dengan kedua tangan yang masih dimasukkan kedalam kedua saku-nya sedangkan Elena melangkah disamping Bryan dengan wajah menunduk melihat jalan di bawahnya. Ia merasakan gugup ketika mendengar banyaknya suara dari arah kejauhan.


"Angkat kepalamu itu, kau sudah jadi bagian Atmaja sekarang. Mulai sekarang jangan pernah menurunkan wajahmu didepan orang lain." dingin Bryan dengan tatapan yang masih menatap kearah depannya.


Mendengar hal itu Elena lantas mengangkat wajahnya. Pria disampingnya ini tidak tau saja bagaimana kondisi jantungnya sekarang.


Elena mengusap kedua lengannya dan sedikit dilipatkan kedada. Hawa disini sudah mulai terasa dingin ditubuhnya. Bagaimana tidak? prias itu menyiapkan gaun tanpa lengan untuknya dan menyuruh-nya untuk memakai gaun itu. Sebenarnya Elena ingin menolak namun karna tak mau mengecewakan prias itu alhasil Elena mau tak mau memakainya walau ia tau pasti dirinya tak lama lagi akan masuk angin.


Sampai di tempat tujuan Bryan pun berhenti. Elena yang melihat itu ikut berhenti dengan posisi yang masih berdiri disamping Bryan.


Elena menatap kearah dihadapannya. Ia sudah menduga pasti banyak sekali orang-orang yang hadir disini. Melihat dari pakaiannya saja Elena yakin pasti tamu-tamu disini bukan orang sembarangan.


Bryan sedikit memicingkan matanya kearah segala penjuru taman ini lalu menatap gadis disampingnya. Mata Bryan seketika terarah pada gaun yang dipakai Elena, ia sedikit mengumpat melihat bahu mulus dari gadis itu. Dengan cepat ia melepaskan jasnya dan memakai-kan nya pada gadis yang sudah sah menjadi istrinya.


Elena tersentak diam ketika merasakan bahu-nya tertutupi oleh sesuatu, ia lantas melirik bahu-nya dan melihat sebuah jas terpakai di area punggungnya. Elena pun segera melihat orang yang memakaikan jas itu untuknya.


"Aku tidak ingin kau masuk angin." ucap Bryan setelah memakai-kan jasnya pada Elena.


Mendapat perhatian itu membuat Elena tersenyum tipis. "Terimakasih." tumben sekali pria disampingnya ini perhatian padanya, Elena jadi merasa tersanjung.


"Hm, aku hanya tidak mau kau merepotkan-ku jika kau sakit nanti."


Senyuman dibibir Elena memudar seketika, baru saja merasa senang namun pria itu sudah membuatnya kesal kembali. Lagian juga siapa yang akan merepotkannya? jika dirinya sakit Elena juga tidak mau membuat Bryan repot.


Tak lama seorang wanita dewasa menghampiri Elena dan juga Bryan dengan senyum lebar diwajahnya. Elena ikut tersenyum manis menatap sang mertua yang sedang berjalan kearahnya.

__ADS_1


"Maaf ya sayang, Mamah gak jemput kamu ke atas tadi soalnya banyak banget temen Mamah disini, maklum Ibu-Ibu," kekeh Meldi dengan menganggam kedua telapak tangan Elena.


Elena mengangguk dengan bibir yang masih tersenyum. Ya, ia tau bagaimana jika Ibu-Ibu sudah berkumpul dalam satu tempat.


"Oh iya, Yuk Mamah kenalin kamu sama keluarga Atmaja yang lain," Meldi menarik pelan tangan Elena dan berjalan kearah hadapannya.


Elena yang merasakan tangannya di tarik pelan pun langsung mengikuti Meldi. Ia melirik sekilas Bryan lalu fokus pada jalan dihadapannya.


Bryan yang melihat itu ikut melangkah dibelakang Elena. Ia berjalan mengikuti kedua wanita dihadapannya yang entah akan pergi kemana.


Saat Bryan sedang berjalan tiba-tiba saja ada seseorang yang menghalanginya membuat langkah Bryan terhenti seketika. Ia menatap dingin pria dihadapannya yang berani-beraninya memotong perjalannya.


"Selamat ya Bro! gue gak nyangka lo bisa naklukin hati cewek secepat ini." ucap seorang pria tampan yang tingginya hampir setara dengan Bryan.


"Hm." jawab Bryan tak minat.


Pria dihadapannya itu nampak seperti mencari seseorang membuat Bryan menaikkan kedua alisnya.


"Kau cari siapa?" lanjut Bryan penasaran.


Ziko Xiano atau yang kerap disapa Ziko itu adalah sepupu Bryan dari keluarga sang Mamah yaitu Meldi. Pria tampan itu memiliki umur diatasnya, jarak mereka hanya berbeda satu tahun.


"Dimana wanita-mu itu?" lanjut Ziko dengan pandangan menatap Bryan.


Terlihat Bryan menghela nafasnya pelan. "Kau yang membuatku kehilangan jejaknya." Bryan menajamkan tatapannya pada Ziko.


Mendapat tatapan itu membuat Ziko menggaruk kepala belakangnya dengan sedikit terkekeh. Ia tadi memang melihat Bryan berjalan dibelakang seorang wanita namun ia tidak tau jika wanita itu adalah istri dari sepupunya ini.


"Hehe gue gak tau kalo gue ngehalangi lo tadi. Yasudah silahkan dilanjut, gue juga mau cari Siska." Ziko menaikkan kedua alisnya lalu melangkahkan kakinya berjalan menjauh dari Bryan. Siska itu tak lain adalah istri dari Ziko, memang pria itu sudah terlebih dahulu menikah.


Bryan menatap kepergian Ziko masih dengan pandangan dinginnya. Ia sudah tidak tau kemana Mamahnya itu membawa Elena pergi jadi ia memutuskan untuk mencari Papahnya-Abraham terlebih dahulu.


___


"Duh menantu-nya cantik ya."


"Anak Bu Meldi pinter banget cari pendamping hehe."

__ADS_1


"Jadi pengin punya mantu perempuan kalo gini."


Pujian demi pujian terlontar dari mulut beberapa wanita dihadapannya. Elena hanya tersenyum menanggapi itu semua. Mertuanya-Meldi mengajaknya bertemu dengan teman-temannya, Elena yakin pasti orang-orang ini adalah wanita sosialita karna dilihat dari pakaian dan penampilannya yang terkesan mewah.


"Kamu kerja apa kuliah?" tanya salah satu Ibu-Ibu pada Elena.


Mendengar itu membuat Elena kembali gugup. Ia harus jawab apa? dirinya sudah dipecat di pekerjaannya, kuliah juga ia tidak jadi dirinya harus berbicara apa? dirinya tidak mau mempermalukan Meldi dihadapan teman-temannya ini.


Meldi yang melihat wajah kusam dari Elena langsung tersenyum. Ia sudah tau bagaimana latar anaknya ini jadi dirinya tau Elena pasti binggung menjawab ucapan temannya.


"Menantu saya ini dulunya kerja tapi sudah tidak lagi karna anak saya nyuruh dia dirumah aja, cuma boleh ngurus rumah tangga katanya." timpal Meldi dengan melirik sekilas Elena masih dengan bibir penuh senyum di wajahnya.


"Soswith banget ya Bryan."


"Namanya juga pengantin baru, pasti penginnya berdua dirumah mulu."


Elena bernafas lega karna mertuanya membantu dirinya menjawab pertanyaan Ibu-Ibu ini. Ia sangat berterimakasih pada Meldi namun ia juga sedikit binggung. Apa wanita dewasa disampingnya ini tau kehidupan sebenarnya darinya? jika memang tau, tau darimana? Elena yakin dirinya belum memberi tahu Meldi ataupun keluarga Atmaja yang lain tentang latar belakang kehidupannya selain Bryan.


"Rencana mau punya anak berapa nih?" tanya sekali lagi Ibu-Ibu itu.


Semua menatap Elena sekarang. Yang ditatap pun tersenyum masam, baru saja mereka menikah namun sudah ditanya soal anak, memangnya tidak ada yang lain begitu? lagian juga Elena merasa dirinya tidak pantas melahirkan penerus keluarga ini.


"Soal anak segimana dikasihnya aja sama yang di atas." jawab Elena. Ia hanya menjawab seadanya saja, semoga saja ucapannya ini tidak dicatat oleh yang diatas. Ia tidak mau memiliki anak dengan Bryan, ya itu semua karna pernikahan ini. Pernikahan yang sama sekali tidak diharapkannya.


"Mom?"


Tiba-Tiba ada suara dari arah belakang salah satu Ibu-Ibu yang memakai dress hijau. Dengan segera mereka semua menatap asal suara tersebut termasuk Elena.


Mata Elena membulat ketika melihat sesosok pria yang sangat familiar dipikirannya.


Pak Wilson? kenapa dia ada disini?


↔↔↔


Terimakash sudah membaca❤


Jangan lupa juga dukungannya ya❤

__ADS_1


__ADS_2