Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB69: Rencana Pertemuan


__ADS_3

HAPPY READING😍


Bryan menaikkan salah satu alisnya. Ia masih diam menatap perempuan didepannya yang ternyata adalah 'Mertuanya' sendiri.


"Saya juga tau kamu suami dari anak saya-kan?" tanya Sarah, masih dengan menatap Bryan dalam.


Bryan menganguk singkat.


"Jaga dia baik-baik. Saya yakin kamu bisa menjaga anak saya dengan baik, jangan kecewakan dia juga, saya titip dia sama kamu." lanjut Sarah dengan sendu.


"Apa Elena tau soal ini?"


Sarah mengeleng pelan, "Saya mohon sama kamu jangan kasih tau dia soal ini."


Bryan mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja. Dia tak habis pikir, kenapa Elena tidak boleh tau soal ini?


"Kenapa gadisku tidak boleh tau? ini menyangkut hidupnya, tidak adil bukan jika dia tidak tau soal ini," ucapnya sembari mengangkat berkas yang ada dihadapan Sarah.


"Saya mohon jangan kasih tau dia, saya gak mau dia tanya lebih dalam bagaimana orang tuanya kandungnya. saya malu, saya takut dia tidak menginginkan orang tua seperti saya." Sarah tetap bersikeras agar Elena tidak tau tentang soal ini.


"Dia harus tau." Bryan menatap Sarah penuh arti. "Dan Ibu harus kasih tau tentang ini, tentang semuanya. Elena orang baik, dia tidak mungkin tidak menerima masa lalu orang tuanya, bagaimana pun Ibu orang tua kandungnya, tidak mungkin jika ada seorang anak yang tega tidak mengakui Ibu kandungnya sendiri? apalagi Elena gadis baik, saya yakin Elena bisa menerima semuanya." sahut panjang lebar Bryan.


Sarah menunduk. Tak lama hembusan nafas terdengar di wajahnya. "Yasudah, kasih saya waktu untuk mengobrol dengan dia," Sarah mendongakkan wajahnya. "Saya janji akan bicara dengannya, sebelum saya meninggalkannya."


Bryan mengangguk dan bangkit dari duduknya. "Saya akan bawa dia ke taman sekarang, Saya harap Ibu menjelaskan semuanya, dan tidak mengingkari janji. Setelah itu operasi akan dilakukan."


___


FLASBCK ON


"Nona?"


"Eh," Chaca membenarkan ekspresi wajahnya menjadi tersenyum. "Maaf Mas, saya gak sengaja nabrak tadi."


Pria itu pun mengangguk dan sedikit terkekeh. Wajah gadis didepannya ini menurutnya sangat lucu, menggemaskan.


Chaca menaikkan tangannya, seperti memberi jabatan salam perkenalan. "Saya Frischa, bisa dipanggil Chaca juga, tapi kalo Mas-nya mau manggil sayang juga boleh." ucap Chaca tanpa sadar, membuat pria didepannya melongo. Saat sadar apa yang dibicarakannya tadi, Chaca pun langsung berdekhem. "Em maaf Mas, kelepasan," lanjutnya sembari memukul pelan bibirnya.


"Gapapa." jawab Pria tampan itu, ia pun segera mengangkat tangannya menerima jabatan tangan dari Chaca. "Saya Evan."


Setelah perkenalan, Mereka pun melepaskan jabatannya.


Chaca masih menatap pria didepannya. Entah kenapa perasannya sedikit berbeda. "Masnya juga Dokter disini?" tanya Chaca basa basi.


Pria bernama Evan itu menggeleng pelan. "Saya masih mahasiswa, kebetulan dapet tugas magang dari kampus jadi saya ikut magang di rumah sakit ini."

__ADS_1


Chaca ber-oh. "Masih Mahasiswa toh." sebenarnya Chaca paling tidak suka berbicara panjang lebar dengan orang asing, dan berkenalan duluan seperti tadi, namun entah kenapa dengan pria ini dirinya menjadi sedikit berubah, apa jangan-jangan?


"Maaf Nona, saya sedang terburu-buru, saya tinggal duluan gapapa-kan?" ucap Evan tak enak.


Chaca mengangguk pelan.


"Yasudah kalo bergitu permisi," Evan pun berlalu dari hadapan Chaca, pergi menjauh dari gadis itu karna ia masih mempunyai tugas lainnya.


Chaca berbalik menatap kepergian pria itu. "Yah lupa minta Instagram nya lagi." gumam Chaca cemberut.


FLASBACK OFF


Chaca mengingat-ngingat kejadian tadi, saat dimana dia bertemu sosok pria tampan itu.


"Duh, kenapa gue kepikiran dia terus sih!" celetuk Chaca kesal.


Sekarang dirinya sudah berada di mobilnya yang mengarah pada jalan pulang. Ia menyenderkan punggungnya pada kursi penumpang. Wajah tampan serta hidung mancung masih terngiang-ngiang di pikirannya.


"Ya Tuhan, kalo dia jodoh ku dekatkan lah, tapi kalo bukan, coba jadikan lah dia jodohku." gumam Chaca sembari menutup matanya rapat.


Aaaaa! kenapa mikirin dia terus sih!


____


Bryan melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit, ia akan pergi ke kamar Elena sekarang. Gadis itu harus tau cerita sesungguhnya. Bryan heran, kenapa bisa mereka menutupi semuanya dalam beberapa tahun lamanya? menurutnya, ini tidak adil bagi Elena.


Bryan menatap kedua Bodyguard yang ia suruh menjaga ruang rawat Elena. Ia hanya tidak mau terjadi sesuatu jadi dirinya meminta bawahannya ini untuk menjaga gadisnya.


"Bagaimana?" tutur Bryan.


Salah satu Bodyguard itu menggeleng pelan. "Tidak terjadi sesuatu apa-apa Tuan, semua aman terkendali." ucapnya.


Bryan pun mengangguk. Ia pun melanjutkan langkahnya.


Ceklek!


Bryan segera membuka pintu ruang rawat Elena dan masuk kedalamnya, tak lupa ia menutup kembali pintu itu.


Kaki Bryan berjalan mendekat pada sosok gadis yang terlihat sedang duduk di atas kursi, sembari menyenderkan tubuhnya pada ujung kasur.


Sekarang Bryan sudah berada disamping ranjang Elena. Ia menatap gadis itu dalam.


"Kenapa kau menangis?"


Elena yang sedang terdiam itu tiba-tiba dikejutkan dengan suara dari arah sampingnya. Tangannya terlihat langsung mengusap pelan pipinya yang basah.

__ADS_1


"Dokter Bryan?"ucap Elena menatap asal suara itu, walau tidak bisa melihat ia tetap bisa merasakan ada orang disamping kanannya.


"Jawab aku, kenapa kau menangis?" tanya sekali lagi Bryan. Ia melihat jika mata Elena sembab pertanda habis menangis. Entah kenapa hatinya sakit melihat wajah sedih dari gadisnya.


Elena terlihat mengulas senyumnya. "Saya gapapa kok Dok."


Bryan menghembuskan nafasnya kasar. Ia kesal karna Elena tidak mau jujur padanya.


"Aku tidak percaya."


"Saya beneran gapapa kok Dok, cuma mata saya perih aja jadi ngeluarin air mata." lanjut Elena mengelak, ia tetap pada pendiriannya jika dirinya tidak apa-apa.


Bryan berdecak. "Yasudah, ikut aku," ucapnya sembari memegang telapak tangan Elena, ia mengenggam lembut gadisnya.


Dahi Elena mengerut. "Ki-kita mau kemana?"


"Taman." singkat Bryan.


"Ngapain?"


"Ada yang ingin bertemu denganmu."


Elena terdiam. Siapa yang ingin bertemu dengannya? kenapa harus di taman? kenapa gak disini saja?"


"Kenapa harus di taman? kenapa gak disini?" tanya Elena.


"Aku tau pasti kau bosan di kamar terus seperti ini." Walau Bryan bukan psikolog tapi ia cukup tau arti dibalik wajah dan gelagat seseorang.


Elena tersenyum kecil. "Saya gak bosen kok Dok, saya kan gak bisa ngeliat. Mau di taman atau di kamar semuanya sama aja, sama-sama gelap. Saya tetap aja gak bisa liat apa-apa. Jadi gak ada alasan buat saya bosan. Lagian kalo ke taman, saya gimana? gak mungkin jalan Dok, saya kan gak bisa liat, nanti kalo lagi jalan ketabrak orang lain gimana?"


Hati Bryan tiba-tiba terenyuh. Ia tak tega melihat Elena yang seperti ini, seperti tidak ada gairah untuk hidup.


Setelah mengatakan itu Elena merasakan jika genggaman Bryan semakin erat ditangannya. Apa ia salah bicara? memang benar bukan? dirinya tidak bisa liat apapun, jadi ia tidak mungkin akan bosan karna memang hanya kegelapan yang ada di mata dan sekelilingnya.


"Eh! Dokter mau ngapain!" Elena tiba-tiba merasakan tubuhnya melayang keatas.


"Aku tau kau pasti mengode-ku untuk minta digendong-kan?" Bryan mengangkat tubuh Elena dan menggendongnya di depan.


Elena segera mengalungkan tangannya pada leher Bryan, agar tidak terjatuh. "Saya gak minta di gendong Dok, turunin saya!" lagian juga siapa yang meminta digendong oleh Bryan?!


Bryan mulai berjalan melangkah menuju pintu. "Sut! Aku itu tipe pria peka, kau pasti ingin minta digendong pergi ke tamannya bukan? ya aku tau itu. Jadi kau diam saja, walau tubuhmu berat aku tetap kuat menggendongmu."


Elena makin mengeratkan tangannya pada leher Bryan. Ia kesal. Pasti nanti akan banyak yang melihatnya dan juga Bryan, walau ia tidak bisa melihat tetap saja dirinya merasa malu! memangnya seperti Bryan, Dokter datar ini mana mungkin punya malu?


TBC

__ADS_1


Untuk yang kemarin ngirim permintaan masuk grup, maaf banget ya aku tolak, kemarin tangan aku keseleo jadi malah ke pencet tolak, tadinya mau nerima. So, yang udah ngajuin permintaan masuk grup tapi belum masuk juga, kirim lagi aja ya bakal aku terima kok, maaf sekali lagi❤️ Yang kena PHP kemarin juga, aku minta maaf, janji kemrin up tapi baru up sekarang, maaf jdi nunggu, hihi berdosanya aku.😂


__ADS_2