Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB47: Maaf


__ADS_3

HAPPY READING GUYS🖤


Elena seketika terdiam. Lagi-lagi hatinya menghangat mendengar tuturan dari Bryan. Ada apa dengan pria ini? tumben sekali perhatian padanya?


"Jika kau sakit, kau akan merepotkanku. Aku tidak mau direpotkan olehmu. Jadi jangan sampai kau sakit lagi." lanjut Bryan dengan dingin.


Senyuman diwajah Elena turun. Baru saja hatinya senang mendapat perhatian dari seseorang taunya ada maksud dibalik itu semua. Padahal menurutnya dirinya tidak merepotkan siapapun. Lagian juga jika dirinya sakit, kan dirinya yang merasakan. Bukan Dokter ini?


"Iya." jawab Elena dengan nada yang sedikit kesal.


Bryan menyunggingkan bibirnya, ia tersenyum kecil nyaris tak terlihat. Dirinya terkekeh melihat raut wajah Elena yang kesal. Menurutnya itu sangat lucu.


"Yasudah kau mau makan disini atau diruanganku?" tanya Bryan.


"Disini saja."


Bryan pun mengangguk.


Elena mulai membuka kresek yang berada di atas paha-nya lalu membuka kotak makanan yang ada didalamnya. Setelah itu dirinya pun mulai memakan Bubur itu.


Sedangkan Bryan fokus menatap gadisnya yang sedang Makan dengan pandangan seperti biasa, tak berekspresi. Melihat wajah sedih dari Elena membuatnya sedikit sakit. Entah rasa apa itu, namun Bryan berjanji akan memaksimalkan kemampuannya untuk kesehatan mertuanya agar Pak Dimas kembali sehat seperti sedia kala walau perbandingannya minim.


Elena yang merasa di tatap dari arah samping seketika mengalihkan tatapannya pada Bryan. Benar saja jika pria itu sedang menatapnya intens membuat dirinya sedikit tidak nyaman.


"Dok-dokter gak ada kerjaan lain?" tanya Elena gugup.


Bryan membuyarkan pikirannya. "Memangnya kenapa? kau mengusirku dari sini?"


Dengan cepat Elena menggeleng. "Bu-bukan begitu." sebenarnya ia risih jika Bryan selalu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Lalu apa?"


"Tidak jadi." Elena binggung harus berbicara apa, jadi lebih baik dirinya mengatakan itu.


Bryan menaikkan sebelah alisnya heran. Tak lama tiba-tiba saja ia merasakan ada sebuah getaran ponsel di saku jasnya membuat pandangannya teralihkan. Ia dengan cepat mengambil ponsel tersebut dan menatap siapa yang menelpon.


Bryan mengumpat kesal menatap nama yang si penelpon. Tugasnya yang banyak membuatnya sulit sekali untuk berada disamping gadisnya dalam waktu yang lama. Dengan cepat ia mematikan sambungan telpon itu lalu menatap Elena.


"Aku masih ada kerjaan. Kau tetap diam disini, jika kau menginginkan sesuatu kau ke-ruanganku saja." tutur Bryan. Setelah ia berbicara itu, dirinya pun bangkit dari duduknya dan berjalan berlalu dari hadapan Elena.


Elena yang melihatnya hanya diam. Pria itu suka sekali berbicara tanpa mendengar jawabannya. Apa Bryan seperti itu juga pada yang lain? atau hanya padanya? Elena hanya menaikkan kedua bahunya acuh, lebih baik ia fokus memakan makanannya daripada memikirkan Bryan.


Menit demi menit berlalu, Elena yang sudah selesai pun segera membersihkan sisa makanannya dan membuangnya ke tempat sampah yang berada tak jauh darinya. Dirinya sekilas menatap arah samping kiri dan kanan lorong rumah sakit ini. Ia heran karna Merlin sampai saat ini belum tiba juga. Ada apa dengan wanita itu?


Elena mendudukkan tubuhnya lagi di kursi tunggu. Helaan nafas terdengar di bibirnya, dirinya kembali bangkit dari duduknya dan mendekat kearah pintu di depannya. Tangannya meraba sebuah jendela kecil yang menampilkan keadaan didalam. Ia melihat ada sesosok pria yang terbaring lemah diatas ranjang dengan beberapa selang yang melekat di tubuhnya. Sakit, itu yang Elena rasakan. Dirinya tidak tega melihat Bapaknya yang seperti itu. Jika saja dirinya bisa memilih, lebih baik ia yang terbaring lemah di atas ranjang dan bukannya Dimas.


"Shhh." Elena memegang perutnya dengan kedua tangan. Tiba-tiba saja perutnya mendadak sakit. Ia lantas melirik sekilas Dimas lalu berbalik berjalan menjauh dari sana. Dirinya harus pergi ke kamar mandi sekarang karena perutnya merasa sakit.


Sampai di depan kamar mandi perempuan, Elena segera masuk kedalam toilet. Untungnya keadaan kamar mandi ini sepi jadi Elena cukup leluasa berada disini.


Tak berselang lama, setelah menuntaskan kegiatannya, Elena segera keluar dari toliet dan berjalan mendekat kearah wastafel untuk mencuci tangan serta mencuci mukanya.


"Huh." Elena menghembuskan nafas kasar, ia menatap sebuah kaca yang tertempel di dinding di depannya. Matanya terlihat sembab, wajahnya nampak kusam. Elena tersenyum naas melihat wajahnya sendiri, tadi ia tak sempat mempoleskan bedak atau semacamnya saat dirumah tadi karena ia sangat terkejut mendengar telpon dari Merlin prihal kondisi sang Bapak yang kembali memburuk.


Saat dirasa sudah rapih, Elena pun berjalan keluar dari kamar mandi dan melangkah kembali menuju ruangan dimana Bapaknya dirawat. Sampai disana ia melihat Merlin yang sudah berdiri dengan wajah menunduk.


Merlin melirik Elena dengan pandangan sendu. Elena yang masih berdiri berjauhan dengannya pun dengan segera mendekat dan berdiri tepat disampingnya.


"Na." panggilnya lirih, Merlin lantas menggeser tubuhnya menghadap Elena.

__ADS_1


"Mbak kenapa?" tanya Elena, entah kenapa dirinya merasakan rasa takut yang mendalam dihatinya.


"Pak Dimas-"


"Ba-bapak? Bapak kenapa?" tanya sekali lagi Elena dengan khawatir.


Merlin menutup matanya erat, terlihat air mata wanita itu mulai berlinang turun dari kelopak matanya.


Elena yang melihat itu menggelengkan kepalanya. Ia segera menatap pintu ruangan ICU yang terlihat terbuka sedikit lalu dengan cepat berjalan dan masuk kedalamnya.


Ia menatap Bryan dan beberapa dokter yang ada di ruangan ini. Salah satu Dokter nampak terlihat sedang membuka alat bantu pernapasan Dimas.


"Kok alat pernapasan Bapak saya dilepas Dok? kalo dilepas bagaimana Bapak saya bisa bernapas?" lirih pelan Elena, matanya seketika memerah menatap arah depannya. Air matanya mulai turun begitu saja membasahi pipinya.


Bryan menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


"Dokter ko diam?" Elena melangkah pelan mendekat kearah ranjang Dimas. "Jangan dilepas Dok! kalo di lepas Bapak saya gimana napas nya? Dokter mau bunuh Bapak saya?!" Elena menatap tajam Dokter yang masih melepaskan alat yang menempel pada tubuh Dimas.


Bryan mendekat kearah Elena dan langsung memeluk gadis itu erat.


Elena yang merasakan itu tersentak kaget, ada apa dengan Bryan? kenapa memeluknya?


"Maaf." pelan Bryan. Ini kali pertama Bryan mengucapkan kata 'maaf' pada seseorang, ia tak sanggup mengatakannya, hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.


Elena segera melepaskan pelukan Bryan. Ia menatap Bryan dengan pandangan bertanya.


"Maaf? maaf untuk apa?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2