Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB74: Berdetak kencang


__ADS_3

Seketika semuanya langsung menatap Bryan. Mereka semua ikut mempertanyakan siapa orang baik yang mau mendonorkan matanya untuk Elena.


Yang di tatap pun hanya terdiam. Bryan tidak mungkin membicarakan ini disini. Dirinya juga sudah berjanji untuk tidak memberitahukan ini sampai Elena benar-benar sembuh.


"Dia tidak mau disebutkan namanya." singkat Bryan, berbohong.


Elena menghembuskan nafasnya pelan. Padahal dirinya ingin tau siapa orang baik itu. Dirinya ingin berterimakasih pada dia.


Lain hal nya dengan Putri. Perempuan itu terlihat menatap Bryan dalam. Sepertinya Bryan menyembunyikan sesuatu. Ia harus tau siapa yang mendonorkan mata untuk Elena. Ia harus tau siapa orang baik itu, karna orang itu lah Elena bisa kembali melihat.


"Mamah seneng banget kamu udah bisa lihat lagi Na," Meldi mendekat kearah Elena, memeluk erat menantunya.


Elena membalas pelukan hangat Meldi. "Elena juga seneng."


Meldi melepaskan pelukannya lalu menatap menantunya lekat. Ia bahagia karna Elena bisa melihat kembali. "Sekarang kamu harus jaga diri baik-baik." Meldi menatap Bryan lalu kembali menatap Elena. "Jangan sampai ini terjadi lagi, oke? Mamah khawatir banget sama kamu."


Elena tersenyum haru. "Makasih Ma-mah, udah khawatir sama saya." setelah kedua orang tuanya meningal, Elena merasa sudah tidak akan ada lagi yang perduli padanya, menghawatirkannya. Namun ternyata keluarga Bryan-suaminya sangat perhatian pada kondisi dirinya, membuatnya sangat terharu dan bahagia karna masih ada orang uang peduli akan kehidupannya.


"Ekhem." Abraham berdekhem singkat, membuat semua orang menatap ke arahnya. "Berhubung semuanya sudah selesai dan Elena sudah kembali seperti sedia kala, lebih baik kita keluar sekarang." Abraham melirik Bryan. "Karna Elena harus beristirahat dan sepertinya ada orang yang ingin melepas rindu berdua saja dengan pasangannya."


Semuanya mengalihkan tatapan mereka pada Bryan.


Bryan hanya menampakan wajah biasa. "Mengapa kalian menatapi ku seperti itu?" ucapnya menatap semua orang yang menatapnya. Papahnya itu sok tau sekali dengan perasannya. Walau sebenarnya ia memg-iyakan didalam hati.


Elena yang mendengarnya hanya menunduk. Maksud ucapan terakhir Tuan Abraham itu apa? dirinya sungguh tidak mengerti.


"Ah iya!" Meldi menatap penuh arti Elena. "Sepertinya kita emang harus pulang sekarang, udah mulai sore juga."


Elena mendongakkan kepalanya, menatap Meldi.


"Kalo begitu kita semua pulang dulu ya Na, biar Bryan yang jaga kamu disini," Meldi mengelus puncuk kepala Elena. "Mamah tinggal ya."


"Hati-hati ya Mah, makasih udah nyempetin waktu buat Elena disini, maaf ngerepotin." jawab Elena dengan wajah tak enak.


"Kamu gak ngerepotin kok Na, kamu juga kan anak Mamah. Udah kewajiban Mamah nemenin kamu disaat kayak gini. Yaudah ya, kami pamit dulu." lanjut Meldi tersenyum.


Elena mengangguk.


Setelah itu Meldi pun mengalihkan tatapannya pada Bryan. "Jagain menantu Mamah ya, jangan di apa-apain dulu, dia masih sakit." tuturnya dengan wajah seakan-akan menyiratkan sesuatu.


Bryan memutarkan bola matanya malas. Kenapa Mamah dan Papahnya malah berbicara ambigu seperti itu?


"Hm. Kalian hati-hati. Maaf aku tidak bisa anter kalian ke depan." sahut Bryan dingin.


"Gapapa, Mamah ngerti kok." Meldi kembali menatap Elena. "Kalo gitu kami pamit ya."


Meldi berbalik, menatap Abraham lalu segera melangkah keluar dari ruangan Elena. Disusul Abraham, ia sebentar mengelus puncuk kepala Elena lalu berpamitan dengan menantunya itu. Setelahnya ia pun mengikuti istrinya keluar dari tempat ini.


"Gue pulang dulu ya Kakak Ipar." timpal Aiden, tersenyum menatap Elena, sebelum benar-benar keluar dari ruangan ini.


Dilanjut Chaca dibelakang Aiden. Ia menatap sekilas Putri yang nampak masih menatap Elena erat.


"Kak Putri!" panggilnya membuat sang empu nama terkejut.

__ADS_1


"Eh?" Putri menatap Chaca.


"Ayo pulang." lanjut Chaca, ia pun lantas mengalihkan tatapannya pada Elena. "Gue pamit ya Kakak Ipar."


Elena mengangguk mendengar pamitan kedua adik iparnya.


"Yaudah gue pulang dulu ya Na. Kamu jaga diri baik-baik." ucap Putri sedikit ketus, dengan mata menatap Elena dalam.


Mendengar itu Elena pun mengalihkan tatapannya menatap Putri. "Iya Kak. Makasih udah jenguk Elena disini."


Putri tersenyum. "Hm. Kalo begitu gue keluar ya. Next time kita ketemu lagi," Putri mengelus singkat puncuk kepala Elena lalu berlalu dari hadapan adiknya itu.


Elena hanya diam menatap kepergian Putri. Ternyata itu benar Kakaknya. Kakaknya menjenguknya kesini. Kakaknya menangis meminta maaf padanya kemarin. Dirinya menjadi yakin jika Putri benar-benar sudah berubah sekarang.


Terimakasih ya Tuhan, terimakasih Bu, Pak. Pasti ini juga berkat kalian disana. Elena seneng banget Kak Putri berubah. Semoga Kak Putri emang bener-bener berubah. Aamiin.


Keadaan ruangan mendadak hening, setelah kepergian mereka. Sekarang disini hanya tersisa Elena dan Bryan yang masih diam satu sama lain.


Tak lama Bryan melangkah dari tempatnya. Mendekat ke ranjang Elena, dan duduk di sisi ranjang tersebut dengan tatapan menatap gadisnya itu.


Merasakan ranjangnya berdecit, Elena pun menatap asal suara itu dan mendapati Bryan ada di hadapannya.


Bryan menatap lekat Elena. Mata itu mengingatkannya pada seseorang yang sekarang ia rasa sudah tenang di alam sana.


Ditatap Bryan seperti itu membuat Elena gugup. "Ma-maafin saya Dok," cicitnya pelan, dengan meremas kedua tangannya.


Satu alis Bryan terangkat. Heran. "Maaf untuk apa?"


Helaan nafas terdengar di bibir Bryan. "Lupakan soal itu. Kau harus pikirkan kondisi tubuh mu dulu sekarang. Jangan pikirkan hal lain." lagian juga Bryan sudah melupakan hal itu, dirinya ingin memarahi Elena karna tidak menuruti ucapannya namun ia lebih khawatir pada kondisi tubuh gadisnya ketimbang amarahnya.


Senyuman mengembang di bibir Elena. "Terimakasih ya Dok, atas bantuan Dokter saya bisa liat lagi. Terimakasih untuk semuanya."


Tak terasa smrik-kan kecil muncul di bibir Bryan. "Hm."


Mereka terdiam dengan mata saling memandang. Bryan merasakan jantungnya berdengup kencang. Wajah serta mata Elena membuat gelayar aneh di hatinya. Lagi-lagi tatapannya jatuh menatap bibir mungil Elena. Sial. Melihat bibir itu membuat tubuhnya sedikit bereaksi.


Tak lama, tatapan mereka terputus sepihak oleh Elena.


Elena nampak mengalihkan tatapan menatap sekelilingnya. Seperti mencari sesuatu.


"Kau sedang cari apa?" tanya Bryan.


"Handphone." jawab Elena, tak lama ia kembali menatap Bryan. "Handphone saya dimana ya Dok?"


"Kau itu baru saja sembuh. Apa sepenting itu handphone bagimu?" tanya Bryan sedikit kesal. Kenapa Elena malah menanyakan handphone?


Elena mengangguk singkat. "Saya takut ada sms atau telpon penting."


Bryan berdecih. "Cih, seperti orang penting saja. Lagian aku juga tidak melihat notifikasi apapun di ponselmu, jadi lebih baik kau jangan mencari benda itu. Tidak ada hal penting apapun disana."


Elena mengubah wajahnya kesal. "Memangnya orang penting saja yang berhak punya sms atau telpon penting." ia mengerucutkan bibirnya. Namun Elena termenung, ketika sadar dengan apa yang diucapkan Bryan tadi. Ia pun kembali mengubah wajahnya menjadi penuh kecurigaan. "Dokter bilang dokter gak liat notifikasi apapun? berarti ponsel saya ada di dokter?"


"Hm."

__ADS_1


Elena mengangkat tangannya. Seperti meminta sesuatu. "Mana Dok? ponsel saya?"


Bryan mengubah wajahnya malas. Ia segera mengambil sesuatu di saku jas putihnya lalu mengeluarkan sebuah benda pipih berbentuk persegi panjang dari sana.


Ia membolak balikkan benda itu lalu memberikannya pada Elena, membuat Elena segera mengambil benda itu.


Elena tersenyum melihat ponselnya yang ternyata baik-baik saja. Ia lantas membuka ponselnya dengan senang lalu melihat ada apa saja yang masuk di ponselnya selama ia tidak bisa melihat.


Pesan, panggilan ataupun notifikasi lainnya nampak kosong disana. Tidak ada berita terbaru di ponselnya itu. Biasanya ponselnya selalu ramai oleh notifikasi, namun kenapa sekarang ia tidak melihat apapun?


"Benar bukan? tidak ada yang menarik di ponselmu." tutur Bryan.


Elena menghela nafasnya pelan. "Biasanya ramai, tapi kok sepi." gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Bryan.


Bryan yang melihat itu, tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Dokter buka ponsel saya ya?!" Elena lagi-lagi menatap curiga Bryan.


"Tidak punya bukti, jangan asal nuduh." dingin Bryan.


"Tapi-" Elena menatap ponselnya lalu kembali menatap Bryan. "Dokter ngaku aja. Ya kan Dok? Dokter pasti buka ponsel saya?" Elena yakin pasti Bryan lah yang menyebabkan ponselnya menjadi sepi seperti ini.


"Tidak."


"Jangan bohong."


Bryan berdecak. "Aku hanya mengintipnya sedikit."


"Tuh kan." Elena menutup ponselnya lalu menaruhnya di samping tubuhnya. Lalu tatapannya hanya fokus pada Bryan sekarang. "Sama aja Dokter buka ponsel saya. Gak sopan tau, buka ponsel orang lain."


"Kau bukan orang lain bagiku."


Elena terdiam. Apa katanya?


"Kau itu istriku." Bryan mendekatkan wajahnya pada Elena. "Jadi tidak salah bukan jika aku mengecek ponsel istriku sendiri?" lanjutnya ketika Elena sudah ada tepat di hadapan matanya.


Wajah keduanya sudah saling berdekatan sekarang. Deru nafas terdengar satu sama lain. Mereka berdua nampak mengunci pandangan mereka masing-masing.


"Mata mu cantik." Bryan menurunkan tatapannya, menatap bibir Elena.


Elena meremas tangannya di atas sprai ranjang. Gugup! pipinya memanas sekarang!


Saat wajah mereka semakin mendekat. Tiba-tiba saja Elena menjauhkan tubuh Bryan dengan mendorong bahu pria itu sedikit keras, membuat Bryan sedikit terjungkal kebelakang.


"Sial! kenapa kau mendorongku?!"


Elena memegang dadanya sendiri. Lebih tepatnya memegang jantungnya. "Dada saya sesek Dok." jawab Elena sembari menormalkan nafasnya.


Wajah Bryan berubah menjadi panik. "Kau kenapa?! dadamu kenapa?"


Saat Bryan hendak mendekat, Elena segera memundurkan tubuhnya sedikit.


"Jantung saya berdetak kencang kalo Dokter deket-deket saya." Elena sekarang tau, jika Bryan berdekatan dengannya pasti jantungnya secara tiba-tiba berdetak tidak normal. "Jangan deketin saya Dok. Saya gak mau jantung saya kenapa-napa."

__ADS_1


__ADS_2