Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB78: Bertemu Putri


__ADS_3

HAPPY READING🄰


Elena menatap Bryan tak percaya. Apa katanya? apa semua ini nyata? apa ucapan yang dilontarkan Bryan benar-benar nyata? apa benar pria ini mengatakan jika dirinya?


Ya Tuhan. Jantungku.


Elena merasakan jantungnya berdengup kencang. Ada gelayar aneh yang muncul di hatinya. Melihat Bryan yang menatapnya hangat, membuat pipinya memanas. Ia yakin pasti wajahnya sudah memerah sekarang.


Bryan yang tersadar akan ucapannya tadi langsung menurunkan tangannya. Mengubah wajahnya menjadi datar. Entah kenapa dirinya jadi gugup, melihat tatapan Elena.


"Kakak-kakaknya soswith banget. Maaf ya Kak, saya foto tadi. Tapi hasilnya bagus loh Kak. Kakak mau lihat?" sosok pria yang memegang kamera di tangannya langsung berjalan mendekat kearah kedua pasangan di depannya.


Bryan dan Elena pun lantas menatap pria itu, yang kini sekarang ada di dekat mereka.


"Bagus banget. Saya juga jadi iri lihatnya loh Kak,' pria itu segera menunjukan kamera yang di genggamnya. Memperlihatkan hasil foto yang ia ambil.


Bryan dan Elena menatap hasil foto itu. Keduanya memperlihatkan wajah yang berbeda. Elena yang terkejut karna ternyata ada yang mengabadikan momen mereka tadi, sedangkan Bryan terlihat tersenyum tipis.


"Cuci foto itu," ucap Bryan.


Pria yang entah diketahui namanya itu langsung menegakkan tubuhnya kembali. Menjauhkan kameranya ketika sudah memperlihatkan hasilnya. Ia pun sedikit terkejut dengan ucapan pria tampan di depannya.


"Apa Kak?"


Bryan berdecak. Ia mengeluarkan kartu nama dari balik saku kemejanya," Cetak foto itu dan kirimkan juga fotonya pada ku," Bryan memberikan kartu nama pada pria yang mem-fotonya. "Setelah selesai di cetak, antarkan pada alamat yang tertera disini. Kirimkan juga fotonya ke e-mail ku. Kau akan mendapatkan bayarannya setelah semuanya selesai. "


Pria itu menerima kartu yang diberikan Bryan. Ia menatap tulisan yang tertulis disana.


"Kita pulang," Bryan menatap Elena, mengenggam tangan gadis itu dan berjalan menjauh dari sana.


Elena yang terkejut dengan perilaku mendadak Bryan mau tak mau mengikuti langkah pria itu dari belakang. Elena heran. Kenapa pria ini selalu melakukan sesuatu dengan mendadak? tidak tau apa jika jantungnya seperti akan berhenti jika Bryan melakukan sesuatu seperti ini padanya.


Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Sampai pada mobil yang Bryan parkirkan tak jauh dari pintu masuk area festival ini.


Bryan nampak menghentikan langkahnya. Disamping mobil miliknya. Ia terlihat melepaskan tangannya dari Elena dan berbalik, menatap gadisnya.


Posisi mereka saling berhadapan sekarang.


"Maaf," Bryan mengeluarkan terlebih dahulu suaranya. Memulai percakapan di antara mereka.


Elena yang mendengar itu heran. "Maaf? untuk apa?" setahunya, Bryan tidak melakukan kesalahan apapun.


"Menyentuh kepalanya mu tadi. Tiba-tiba," singkat Bryan, yang membuat Elena ber-oh.


"Gapapa Kok Dok," Elena mengulas senyumnya tipis. "Em, ucapan Dokter tadi itu-" lanjut Elena gugup. "Beneran?"


"Wajahku memang terlihat bercanda?" datar Bryan, wajahnya nampak dingin tak berekspresi di mata Elena.


"Jadi ucapan Dokter itu beneran?" Elena terkejut bukan main. Bryan sekarang terlihat berubah. Menjadi aneh, menurutnya.

__ADS_1


"Ucapan yang mana?" tanya Bryan, entah beneran lupa atau pura-pura lupa.


"Yang ta-tadi," Elena mengigit bibir bawahnya. "Yang Dokter bilang kalo dokter sayang sama saya," to the point Elena. Persetanan dengan rasa malu, yang penting dirinya tau apa benar Bryan sayang padanya?


Bryan mendekatkan wajahnya pada Elena, "Kalo aku memang menyayangimu bagaimana? hm?"


Elena yang melihat wajah Bryan tepat di hadapannya pun langsung menahan napasnya. Ia merasakan pipinya memanas.


Ketika melihat wajah Elena yang nampak memerah barulah Bryan menjauhkan wajahnya lalu menatap Elena dengan sedikit terkekeh.


"Percaya diri sekali kau ini jika aku menyayangimu. Kau salah dengar tadi. Sudah, masuk mobil. Kita pulang sekarang," jawab Bryan, berbalik dan menjauh dari Elena. Ia akan masuk terlebih dahulu ke mobilnya.


Elena yang mendengar itu terdiam mematung. Apa dirinya salah dengar? tapi mana mungkin. Ucapan tadi terdengar nyata di otaknya. Masa iya, dirinya salah dengar. Elena memajukan bibirnya kesal. Jika saja ucapan tadi di rekam oleh pria yang mem-fotonya tadi, mungkin ia akan meminta rekaman itu dan menunjukannya di hadapan Bryan, agar Pria itu mengaku jika tadi dia berbicara seperti itu padanya. Mungkin saja pria itu gengsi mengatakan nya lagi?


Tak lama, Elena membuka pintu mobil disamping. Dan duduk di dalamnya.


...***...


Bryan yang sudah berada di dalam mobil hanya menatap datar Elena yang masuk ke dalam mobil, dan duduk disampingnya.


Setelah dirasa sudah siap, Bryan pun menyalakan mesin mobil dan melajukannya menjauh dari tempat ini.


Hari sudah nampak gelap. Jalanan pun mulai terlihat senggang, memudahkan Bryan untuk cepat sampai ke rumahnya.


Keadaan mobil nampak hening. Keduanya memutuskan untuk berdiam dengan pikiran masing-masing. Bryan dengan fokus menyetir, sedangkan Elena hanya menatap jalanan melewati kaca mobil di sampingnya.


Elena menajamkan matanya, melihat orang itu. Setelah sadar itu siapa, ia pun langsung menatap Bryan.


"Berhenti Dok," titah Elena.


Bryan yang mendengar itu lantas melirik sekilas gadisnya. "Ada apa?" tanyanya.


"Berhenti dulu," titah sekali lagi Elena, menyuruh Bryan menghentikan mobilnya.


Helaan nafas terdengar di wajah Bryan. Pria itu pun lantas segera menepikan mobilnya di sisi jalan yang cukup sepi.


Setelah mobil mereka berhenti, Elena nampak langsung membuka pintu mobilnya dan keluar.


Bryan yang melihat itu langsung ikut turun dari mobilnya. Berjalan mengikuti langkah Elena dari belakang. Entah mau apa gadisnya ini.


...***...


"Kak," Elena berlari, mendekat ke arah sosok wanita yang sedang berjalan di sisi trotoar dengan wajah yang menunduk.


"Kak, Ini Elena," ucap sekali lagi Elena, membuat wanita yang ada di depannya langsung berbalik, menatapnya.


"Loh Na? ngapain kamu disini?"


Putri. Sosok wanita yang ada di hadapan Elena itu tak lain adalah Putri, Kakak dari Elena. Kondisi tubuh wanita itu nampak terlihat sedikit urak-urakan. Tidak rapih seperti biasanya.

__ADS_1


Elena mendekati Putri, berdiri tepat di depannya lalu ia menatap atas sampai bawah Kakaknya itu. "Kak Putri ngapain disini?"


Bryan yang melihat Elena sedang berbicara dengan seseorang pun segera mendekati gadisnya dan berdiri disisi Elena. Ia sedikit terkejut dengan kehadiran Putri namun dirinya memilih diam, lebih baik dirinya menyimak saja obrolan dari keduanya.


Putri menatap Bryan dan juga Elena di hadapannya. "Anu- Kakak-" Putri nampak mengeluarkan air matanya, membuat Elena binggung seketika.


"Kak Putri kenapa?" tanya khawatir Elena, ketika melihat wajah sedih Kakaknya.


"Aku gapapa kok Na," jawab Putri dengan menghapus air mata di pipinya.


"Kak Putri jangan bohong sama Elena. Kak Putri kenapa?" Elena tidak yakin dengan jawaban sang Kakak sebelumnya. Wajah dan bibir Putri nampak mengucapkan hal yang berbeda. Membuatnya semakin khawatir.


Putri seketika mengeluarkan air matanya. Mengubah wajahnya menjadi sedih. "Aku gapapa, beneran." jawab sekali lagi Putri, meyakinkan Elena bahwa dirinya baik-baik saja.


Pandangan Elena turun. Menatap tangan Putri yang mengenggam sebuah koper. "Kak Putri mau kemana?" lanjutnya kembali menatap penuh tanya Putri.


Putri menatap arah pandang Elena, lalu menatap Elena lagi. "Hiks," Putri mengeluarkan kesedihannya. "Kakak diusir dari rumah Kakak, Na. Kakak kena PHK sama kantor."


Elena menganga tak percaya. "Kakak di usir? bukannya rumah itu?" setau Elena, rumah itu adalah rumah milik sang Kakak. Tapi kenapa Putri malah di usir di rumah miliknya sendiri?


Putri menggeleng lemah. "Sebenarnya, itu bukan rumah Kakak, Na. Itu rumah fasilitas dari kantor," Putri kembali menghapus air matanya yang turun. "Kakak bisa tinggal disana selama Kakak kerja, dan sekarang Kakak udah gak kerja lagi. Jadi terpaksa harus keluar dari sana."


Elena terkejut mendengar tuturan dari Putri. Jadi selama ini Kakaknya? tapi semua itu tidak penting. Sekarang yang terpenting adalah langkah selanjutnya yang di lakukan oleh Putri. Mau tinggal dimana Kakaknya ini?


"Terus Kak Putri sekarang gimana? Kak Putri mau kemana?"


Lagi-lagi Putri mengelengkan kepalanya pelan. "Kakak gatau Na. Uang tabungan Kakak juga udah habis, Kakak gak punya uang lagi. Kakak gak tau harus kemana sekarang."


Elena menatap langit di atasnya. Sudah gelap, dan Elena yakin sebentar lagi akan turun hujan. Dirinya jadi kasian pada Putri.


"Kak Putri tinggal dulu aja di rumah Bapak sementara waktu," jawab Elena, mencoba memberikan apa yang ada di pikirannya.


Wajah Putri berubah. "Gak Na," tolak Putri. "Kakak punya banyak salah sama Bapak. Kakak gak kuat kalo tinggal disana. Kakak pasti bakal ke inget terus sama Bapak." sedih Putri, menolak untuk menerima saran dari Elena.


"Kakak takut kenangan buruk Kakak pas tinggal sama Bapak, keinget lagi," Putri mengusap matanya yang berair. "Kakak malu, Kakak malu kalo harus nginjek tanah rumah Bapak. Kakak malu sama perilakuan Kakak dulu sama Bapak di rumah sana." lanjut Putri, membuat Elena kembali mengenang masa lalunya.


"Tapi ini udah malam," mata Elena nampak memerah, ingin menangis. "Kakak mau tidur dimana?"


Putri menaikkan bahunya. Tersenyum tipis. "Gak tau Na. Mungkin tidur di depan toko atau dimana gitu. Sampai nunggu besok pagi."


Elena menatap kasihan Putri. Ia menunduk, dan lantas melihat Bryan. Ia menatap suaminya itu dengan pandangan seakan memohon.


"Em, Kak Putri pu-pulang bareng kita aja gimana Dok?" cicit Elena, dengan suara pelan di akhir kalimatnya.


Bryan menaikkan salah satu alisnya. "Maksud mu?"


"Izi-izinin Kak Putri tinggal di rumah bu-buat malam ini ya Dok? Kasian Kak Putri," ucap Elena memohon. Ia hanya tidak tega dengan Putri jika harus tidur di depan toko ataupun semacamnya.


Mendengar itu membuat Bryan membelakkan matanya tak percaya. Apa-apaan gadisnya ini?

__ADS_1


__ADS_2