
Semua keluarga Atmaja berkumpul di ruang tengah, kecuali Bryan.
Mereka semua terdiam kikuk, sembari menatap pada satu titik yang sama. Ya, siapa lagi jika bukan menatap pria paruh baya yang memiliki garis wajah persis 11-12 dengan Abraham.
"Ada yang perlu di jelaskan sekarang?" raut wajah pria itu sulit untuk di artikan, membuat aura ruangan seketika dingin, merinding.
Abraham yang tau permasalahan ini mulai mengeluarkan suara. "Kenapa Ayah tidak memberitahu jika akan kesini? kalo begitu kan aku-"
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Kenatth memotong dengan nada sinis. "Kau saja tidak memberitahu kan ku jika cucu ku sudah menikah dan sebentar lagi keluarga kita akan menambah personil, jadi untuk apa aku memberitahu jika aku akan kesini?"
Jleb.
Abraham, Meldi, Chaca, Aiden, dan Elena menelan saliva tak enak. Tenggorokan mereka seketika mengering, menebak sepertinya akan ada keributan disini.
"Kau pikir aku tidak tau semua yang terjadi di keluarga ku ketika aku berada di luar negri Abraham? aku sudah tau ini sejak lama sebenarnya, hanya saja aku menunggu mu untuk berbicara langsung padaku, tapi apa? sampai calon cicit ku akan lahir, kau malah tidak sama sekali memberitahu ku. Bagaimana jika aku tidak mau anak yang lahir itu mendapatkan nama marga keluarga ini? dan tidak merestui pernikahan cucu ku dan perempuan itu?" Kenatth menatap Elena dengan wajah yang sulit di artikan. Membuat Elena menunduk takut.
Mata ini, berbeda dengan penglihatan Elena saat pertama kali bertemu Kenatth. Mata pria itu sekarang terlihat seperti mengintimidasi.
"Aku sebenarnya sudah mempersiapkan calon menantu untuk Bryan, Latar belakang keluarganya pun sangat jelas dan yang utama dia cucu dari teman ku juga-"
"Aku sudah mempunyai istri yang ku cintai dan anak kita sebentar lagi akan lahir. Kau tidak perlu repot-repot mencarikan ku istri, Kakek. Aku tidak membutuhkan itu."
Ucapan Kenatth terhenti ketika suara dingin itu menggema seiring suara ketukan sepatu masuk dari arah pintu masuk. Semua orang menatap yang masuk itu dengan sedikit terpukau. Terutama Abraham, ia bernafas lega. Anaknya datang yang artinya dirinya tidak perlu lagi menjelaskan semuanya. Cukup anak nya saja yang berbicara, Abraham tidak sanggup membalas ucapan ayahnya itu. Dirinya sudah kehilangan kata-kata.
"Aku sangat menyayangi istriku ini Kakek," Bryan berjalan mendekati Elena dan duduk di sebelahnya. Tak lupa merangkul pundak Elena. "Dan sangat menanti anak pertama kami." lanjutnya sembari mengelus perut buncit Elena.
__ADS_1
Kenatth melihat kepulangan Bryan sedikit termenung. Cepat juga anak ini pulang, dilihat jam nya yang sepertinya bukan jam pulang kerja biasanya. Apa pria ini tau keberadaannya sampai akhirnya pulang kerumah dengan cepat?
"Bukannya kau hanya menjadikan istrimu itu sebagai tameng agar kau tidak disuruh menikah lagi oleh ayah mu Bryan?" Kenatth tersenyum menatap Elena "Dan perempuan itu hanya memanfaatkan mu agar ayahnya bisa mendapatkan fasilitas gratis di rumah sakit?"
Elena mengerjapkan matanya. Pria ini? tau darimana semuanya? ah ia lupa, pria itu kan Kenatth. Tuan besar keluarga Atmaja. Mudah sekali bukan mendapatkan semua informasi ini? dengan kekuasaannya, semua nya dapat terbaca.
"Awalnya memang seperti itu, aku juga yang memaksanya untuk mau menikah dengan ku, tapi lama kelamaan aku merasakan kan jatuh cinta juga dengannya," Bryan menatap Elena penuh cinta, membuat Elena menunduk malu. kenapa Bryan jadi soswith seperti ini?!
"Dan ya, dia juga mencintaiku, dan kami saling mencintai. Jika kakek tidak merestui kita, anak ku juga akan tetap lahir dan memiliki nama marga ku, bagaimana pun dia tetap keturunan keluarga ini, dan restu kakek tidak akan mengubah semuanya." lanjut Bryan tetap tenang.
Abraham yang mendengarnya tersenyum haru diikuti Meldi. Dia bertepuk tangan di dalam hati. Gentle sekali anaknya ini, dia tak menyangka Bryan akan berbicara seperti itu.
Kenatth berdecih pelan. "Kau sama saja seperti anak tidak tau diri itu," ia melirik Abraham. Abraham yang menerima tatapan itu memutar bola mata malas. "so' puitis, keras kepala." lanjutnya.
"Yang mau memisahkan mereka juga siapa?"
Mendengar tuturan Kenatth, semua orang disini terdiam. Lah, bukannya katanya Kenatth sudah menemukan calon istri untuk Bryan? dan Kenatth tidak merestui Elena dan Bryan?
"Aku hanya bilang bagaimana jika aku tidak merestui kalian? bukan maksud aku memang tidak merestui. Kau ini, menuduhku saja." Kesal Kenatth. "Aku hanya kesal kalian tidak memberitahu ku tentang semua ini. bagiamana pun ini adalah hal besar, bagaimana jika ada wartawan menanyai ku tentang cicit ku? kakek macam apa aku ini yang tidak tau tentang keturunan ku."
"Jadi kau merestui Bryan dan Elena?" tanya Abraham.
"Mau bagaimana lagi? mereka sudah menikah, cicit ku akan lahir, aku tidak mungkin tidak menerima. Lagian Elena juga sepertinya anak baik, cantik pula. Sesuai dengan tipe ku, jika saja dia tidak menjadi istri Bryan, sudah ku pastikan dia jadi istriku."
Chaca yang yang mendengar nya menganga. Dasar lelaki buaya tidak tau umur! dumel batinnya.
__ADS_1
Semua bernafas lega, Elena pun tersenyum. Ia pikir dirinya tidak akan diterima oleh Kenatth, tapi ternyata sebaliknya, ya ia pun tau Kenatth juga bukan tipekal orang yang gila status. Keliatan jika dia tidak mengharuskan anak atau cucunya memiliki derajat yang sama dengan calon pasangan mereka, seperti orang kaya di televisi kebanyakan.
Menatap Elena yang tersenyum, Bryan mengusap kepala Elena pelan, dan menatap Elena penuh cinta. Ketika tau Kenatth ada di rumahnya, ia bergegas pulang, ia tau pasti masalah ini akan terjadi, makannya ia meminta untuk bawahannya meng-handle pekerjaannya. Ia tidak mau kakek nya ini memojokkan Elena. Dirinya tidak mau pikiran Elena terganggu dan mengakibatkan calon anaknya kenapa-napa.
"Hah, aku lelah, perjalanan panjang membuatku pusing, ditambah memikirkan masalah ini, aku akan beristirahat sekarang." Kenatth menutup topik pembicaraan dan bangkit dari duduknya.
Abraham dan Meldi yang melihat ikut bangkit untuk mengantarkan.
Tersisa lah empat orang disini.
"Kakek berbicara apa ketika kalian bertemu di jalan?" tanya Bryan menghadap Elena. Ia tau ini dari supir yang mengantarkan Elena keluar tadi.
Menggeleng. "Hanya menanyakan kenapa aku berdiri di sisi jalan, tadi mobilnya mogok." Elena berfikir, ia tidak perlu menceritakan curhatan kekesalan Kenatth tadi saat tidak di beritahu pasal pernikahan mereka, toh saat disini pun mereka membahas hal yang sama.
"Tidak ada yang lain?" tanya kembali Bryan. Ia hanya takut ada perkataan Kenatth yang menyakiti Elena.
"Kakek juga bilang kalo eskrim yang aku makan tadi ga baik buat kandungan aku." Elena menunduk, mengusap perutnya pelan. "Cuman itu aja ko, kamu ga usah khawatir, sayang. Aku gapapa." Elena kembali menatap Bryan tersenyum.
Bryan ikut tersenyum manis lalu mengangguk dan dengan cepat menyambar bibir Elena, mengecup dengan tempo pelan membuat dua orang yang masih duduk di hadapan mereka tersentak kaget.
Aiden menatap Chaca di sebelahnya yang melongo, lalu menutup mata anak gadis itu. "Woi, tolong liat sikon dong, ada anak dibawah umur nih."
Mendengar itu, Elena menjauhkan wajah Bryan dari hadapannya lalu menunduk malu. Dirinya pun kaget dengan tindakan tiba-tiba Bryan. Kenapa dia jadi terang-terangan begini?!
"Chaca ga liat ko, ga liat. Suer." balas Chaca yang masih diam dengan mata yang ditutup tangan oleh Aiden. "Lanjutin aja ciumannya, Chaca galiat hihi."
__ADS_1