
HAPPY READING GUYS❤
"Huekk huek." Elena sesekali mengusap bibirnya dengan air kran yang mengalir pelan dihadapannya.
"Ck! kau ini sebenarnya kenapa?" ucap Bryan seraya membantu Elena untuk mengeluarkan isi perutnya dengan memijat-mijat leher gadis itu.
Pagi hari tadi, Elena terbangun dengan rasa mual di perutnya. Gadis itu pun segera berlarian menuju kamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi perutnya. Bryan yang baru saja selesai mandi pagi dan sedang memakai pakaiannya melihat jika Elena berlarian menuju kamar mandi sembari memegang mulutnya. Ia pun segera menyusuli gadisnya itu dan mendapati jika Elena sedang mual-mual.
"Huh," Elena membasuh bibirnya kembali dan menatap kaca besar yang ada dihadapannya lalu beralih pada pria disampingnya.
Bryan melepaskan tangannya dari leher Elena ketika gadisnya sudah tidak mual-mual lagi. Bryan memasang kembali wajah datarnya, namun dibalik dinginnya wajahnya sebenarnya ia sangat khawatir dan panik pendapati Elena seperti ini.
"Saya pusing sama mual Dok." keluh Elena sembari memegang kepala dan perutnya.
Bryan menyipitkan matanya. "Kau hamil?"
Mata Elena membulat. "Ha-hamil?" apa iya? tapi mana mungkin dirinya hamil?
Apa karna susu kemarin? aku kan minumnya hanya sedikit, tapi mana mungkin! berhubungan saja belum pernah mana mungkin aku hamil!
Elena menggelengkan kepalanya. Ia kembali menatap Bryan. "Masa saya hamil Dok?" lanjutnya.
Bryan menaikkan bahunya acuh. "Siapa tau saja kau sudah berhubungan dengan pria lain dibelakang-ku."
Mendengar itu membuat Elena beristigfar didalam hati. Bagaimana pun Elena masih menjaga kesucian di tubuh-nya karna itu adalah satu-satunya harta berharga yang ia miliki.
"Yasudah ayo ku periksa. Kau masih kuat jalan tidak?" tanya Bryan menaikkan salah satu alisnya.
Elena sedikit mengangguk. "Saya masih kuat ko," ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi ini, namun baru saja beberapa langkah tiba-tiba tubuhnya mulai terasa lunglai.
Bryan yang melihatnya dengan sigap memegangi tubuh Elena agar gadis itu tidak terjatuh kebawah lantai. "Jika tidak kuat kau bilang saja! jangan so'soan kuat."
"Saya kuat ko Dok, beneran." sebenarnya Elena merasakan tubuh-nya lemas sekali tapi ia tidak ingin membicarakannya karna tak mau merepotkan Bryan.
"Eh Dokter mau ngapain?!" lanjut Elena ketika merasakan jika tubuhnya melayang di udara, siapa lagi pelakunya jika bukan Bryan? ia dengan cepat melingkarkan tangannya pada leher pria itu agar tidak terjatuh.
"Kau diam saja, tidak usah banyak bicara." Bryan menggendong Elena ala bridal style. Ia membopong gadis itu karna tau jika tubuhnya pasti sangat lemas.
__ADS_1
Bryan mulai berjalan menuju keluar dari kamar mandi dan mendekat kearah ranjang. Elena hanya diam digendongan suaminya sembari mengeratkan tangannya di leher pria itu agar tidak terjatuh.
Ketika sampai, Bryan pun segera membaringkan tubuh Elena diatas ranjang dengan menjatuhkannya perlahan.
"Huh! badan mu itu kurus tapi berat ya." keluh Bryan selesai membaringkan tubuh Elena.
Dengan tubuh berbaring, Elena menatap Bryan sedikit kesal. Ia tidak meminta digendong, pria itu lah yang langsung menggendongnya tanpa meminta persetujuan dirinya. Tapi sekarang? dia malah mengeluhkan tubuhnya yang berat.
Bryan mulai berjalan menjauh dari Elena. Ia seperti akan mencari sesuatu di dekat lemari.
Elena yang melihatnya penasaran dengan apa yang akan dilakukan suaminya. "Dokter mau cari apa?" tanyanya.
"Kau diam saja. Jangan banyak bertanya."
Elena yang mendengarnya langsung terdiam. Padahal ia hanya bertanya baik-baik tapi Bryan malah menjawabnya seperti itu. Apa pria itu sedang kesal?
Tak lama Bryan pun kembali mendekat kearah Elena dan duduk ditepi ranjang disana. Ia nampak membawa sebuah tas kerja yang diletakan di samping Elena.
Elena menatap tas itu. Saat tasnya dibuka oleh Bryan, ia membulatkan mulutnya ber-oh. Didalam tas itu terlihat ada peralatan yang biasa dibawa oleh para dokter untuk memeriksa pasiennya.
"Lemaskan tubuhmu." titah Bryan.
"Dadamu bagaimana?"
"Sedikit sesak Dok." gugup Elena. Entah kenapa ia merasakan gugup ketika Bryan dekat dengan tubuhnya.
Bryan mengeluarkan stetoskop dan memakainya di leher. Stetoskop itu sendiri adalah alat yang digunakan untuk mendengar suara dari dalam tubuh, salah satunya untuk mendengar suara detak jantung dan mendeteksi kelainannya. Berhubungan Elena mengatakan dadanya sedikit sesak, Bryan akan mencoba memeriksa jantungnya terlebih dahulu.
Melihat tangan Bryan yang mulai mendekat ke arahnya membuat jantung Elena mulai berdetak tak karuan.
Elena memejamkan matanya erat. Jantungnya berdetak kencang di waktu yang tidak tepat.
Ya tuhan, jantungku
Ia hanya takut Bryan mendengarnya melewati alat yang dipakainya itu. Pastinya detak jantungnya akan terdengar begitu kencang bukan?
Drrtt! drtt!...
__ADS_1
"Shit!" Bryan mengumpat kasar ketika mendengar suara telpon-nya berdering kencang. Tanpa berbicara apapun Bryan melepaskan alat dilehernya lalu berjalan menuju ponselnya yang terletak di atas sofa.
Elena yang merasakan tidak ada pergerakan apapun langsung matanya perlahan. Helaan nafas terdengar di bibir Elena.
"Syukurlah." gumamnya. Elena tersenyum lega melihat Bryan berjalan menjauh. Itu artinya pria itu tak akan mendengar suara jantungnya yang berdetak hebat.
Elena mulai mencoba menenangkan jantungnya agar tidak berdetak kencang. Dirinya heran akhir-akhir ini jantungnya selalu begitu. Apa jantungnya memang bermasalah?
___
Sampai disofa, Bryan langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi buta begini.
Ketika sudah membaca nama yang tertera disana, Bryan pun lantas mengangkatnya.
"Ck! ada apa menelpon? kau tidak melihat ini jam berapa?!" gerutu Bryan dengan nada tak bersahabat. Ia hanya kesal jika mendapat telpon dari rumah sakit sebelum jam masuk kerjanya.
Ya, yang menelpon adalah salah satu dokter yang ia minta mengawasi mertuanya setiap hari.
"...."
Wajah Bryan berubah. Mendengar jawaban yang dilontarkan dari ujung telpon sana membuatnya menjadi khawatir.
"Yasudah, aku akan pergi sekarang. Kau Pantau terus, jangan sampai terjadi sesuatu."
Bip.
Bryan mematikan sambungan telponnya sepihak. Ia berbalik menatap diam Elena yang sedang berbaring di atas ranjang. Dirinya tidak tega jika memberikan informasi yang disampaikan penelpon tadi, apalagi gadis itu terlihat sedang kurang sehat.
Bryan berjalan kembali mendekati Elena. "Aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku akan menelpon dokter untuk memeriksa tubuhmu." ucapnya ketika sampai di samping ranjang.
Elena mendongakkan wajahnya keatas untuk menatap Bryan yang berdiri. "Gak usah Dok. Gak usah panggil Dokter lagi, aku baik-baik aja ko. Kalo Dokter mau ke rumah sakit, kesana aja. Aku titip salam buat Bapak sekaligus titip ucapan minta maaf, hari ini gak bisa jenguk ke rumah sakit." tuturnya. Ingin sekali Elena pergi kerumah sakit namun tubuhnya tidak kuat jika harus pergi kesana.
Tanpa berfikir panjang Bryan pun mengangguk. "Aku akan menyuruh maid membawa sarapan kesini. Kau istirahat saja. Jangan sampai turun dari ranjang. Jika kau ketauan turun, aku akan menghukum mu." setelah mengucapkan itu Bryan segera membereskan peralatannya dan berjalan keluar dari kamar ini. "Di ruangan ini ada cctv, jadi aku bisa melihat setiap pergerakan-mu." lanjutnya dengan menutup pintu kamarnya dari luar.
Elena menganga. Ia menatap Bryan yang mulai berjalan keluar dari ruangan ini. Padahal ia ingin sekali menjawab ucapan pria itu namun Bryan terlihat seperti sedang terburu-buru.
Bibir Elena mengkerut kesal. Ia tidak boleh turun dari ranjang? jika dirinya ingin pergi ke kamar mandi bagaimana coba?
__ADS_1
Tbc..