Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB80: Taman Belakang


__ADS_3

HAPPY READING😚


"Ga-gapapa kok." kikuk Putri. Menatap Aiden.


Aiden tersenyum singkat lalu mengalihkan tatapannya pada Maid yang masih berdiri di sampingnya. "Yaudah Bi, tolong anterin ya." titahnya kembali.


Maid itu terlihat mengangguk. "Mari Nona." ucapnya menatap Putri.


Putri menganguk singkat mendengarnya. "Kalo gitu saya duluan ya Aiden."


Setelah mengatakan itu, Putri pun langsung berjalan menjauh dari Aiden. Mengikuti Maid yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.


Dengan kaki berjalan mengikuti Maid Dibelakang, Putri nampak menekukkan wajahnya. Entah apa yang dia rasakan sekarang sehingga wajahnya ditekuk seperti itu, namun yang jelas semua ini pasti ada hubungannya dengan sang adik-Elena.


"Huh," tak lama Putri menghembuskan nafasnya pelan. Dengan tangan yang memegangi kopernya, ia terlihat mulai menaiki tangga satu persatu menuju lantai atas.


...***...


Tak lama, sesosok gadis cantik nampak muncul dari arah ruangan dapur. Gadis itu terlihat berjalan sembari menatap tangga yang berada tak jauh darinya. Ia nampak berdiam diri sebentar, menatap seseorang yang sedang berjalan ke lantai atas.


Dengan segelas air di tangannya. Gadis cantik itu pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang tamu. Disana terlihat jelas ada sosok pria yang sedang berdiri disisi sofa yang ada disana. Ia pun lantas segera mendekati pria itu.


"Woy!" ucap sang gadis, mengagetkan laki-laki di ruang tamu itu.


Ketika mendapati sosok laki-laki itu terkaget, gadis cantik tadi sontak tertawa terbahak-bahak. Ya, sosok gadis cantik itu tak lain adalah Chaca.


"Lo ngapain disini?" tanya Chaca, menatap Aiden yang berdiri sendirian di ruang tamu ini.


Aiden mengelus dadanya pelan. Karna tadi sempat kaget dengan suara tiba-tiba dari Chaca.


"Berdiri." singkat Aiden, malas.


Chaca berdecak, sebal. "Gue tau Lo berdiri! maksud gue itu Lo ngapain disini! sendirian lagi," lanjut Chaca.


"Tadi gue itu sambut kedatangan Kakak Ipar sama Kak Bryan," jawab Aiden yang langsung di angguki Chaca.


"Oh, Kak Bryan sama Kakak ipar udah pulang toh," cicit pelan Chaca dengan meminum minumannya.


"Iya," Aiden mengangguk. "Sama Kak Putri juga."


Byur!!!


"Sialan Lo Cha!" Aiden mengusap pakaiannya yang basah akibat ulah adiknya ini. Bagaimana tidak? Chaca menumpahkan semua air yang berada di mulutnya itu, membuat pakaiannya terkena imbasnya.


Chaca mengusap bibirnya yang basah. Lalu menganga dengan mata membulat. "Apa Lo bilang?!" teriaknya kaget.


"Lo gak denger gue tadi bilang apa?" kesal Aiden dengan sesekali menunduk, masih mengusap-ngusap pakaiannya yang basah, siapa tau saja bisa kering hanya karna usapannya.


"Gue denger, cuman gue kaget aja." Chaca kembali mengusap bibirnya yang basah. Lalu menatap pakaian Aiden. "Maaf ya Kak, gak sengaja gue." lanjutnya meminta maaf.


"Iya." Aiden menatap Chaca kembali. Dengan serius. "Kenapa Lo kaget? bukannya Lo harusnya seneng ya?"


"Seneng?" bingung Chaca.


Aiden mengangguk. "Iya, seharusnya kan Lo seneng dengan adanya Kak Putri disini, artinya Lo bisa deketin Kak Bryan sama Kak Putri tuh. Kan Lo bilang, yang lebih pantes sama Kak Bryan itu Kak Putri, bukan Kak Elena?" tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya heran, mengingat-ngingat ucapan Chaca saat di rumah sakit tadi siang.

__ADS_1


Mendengar itu membuat Chaca terdiam. Pikirannya mulai kembali bekerja. Tak lama ia pun menepukkan kedua tangannya dengan wajah bahagia.


"Ah! iya!" Chaca tersenyum lebar. "Bener juga ya kata Lo. Dengan adanya Kak Putri disini, semuanya bakal berjalan lancar." Terlihat jelas jika wajah Chaca nampak bahagia. "Ya kan Kak?!"


Aiden terdiam. Sekilas, ia melihat ada sesuatu di wajah Chaca. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Em," Chaca mengetuk-getukan jarinya di dagu. "Gue ke kamar dulu deh. Udah malem. Gue ngantuk. Gue duluan ya Kak," setelah mengucapkan itu, Chaca melanjutkan langkahnya lagi, mendekati tangga dan berjalan menuju lantas atas untuk pergi ke kamarnya.


Aiden yang melihat Chaca berjalan ke lantai atas pun hanya menghembuskan nafasnya pelan. Dengan segala pikiran di otaknya, ia berjalan menuju arah taman belakang. Semuanya membuat dirinya pusing. Mungkin sedikit udara segar akan menenangkan pikirannya.


...***...


"Dokter kok gitu," Elena menatap nyalang Bryan, yang kini ada di hadapannya.


Mereka berdua sekarang sudah ada di kamar Bryan.


"Sudah malam. Kau sudah waktunya untuk istirahat. Aku hanya tidak mau kau tambah sakit jika masih berkeluyuran malam-malam," datar Bryan, dengan berjalan menjauh dari Elena. Ia membuka jasnya perlahan berniat untuk menaruh jas itu di atas nakas dekat lemari.


"Tapi kan saya cuman mau nganter Kak Putri ke-"


"Jangan banyak bicara. Tubuhmu masih kurang kondusif. Jika kau berbicara panjang lebar kau akan kembali sakit. Sudah sana tidur. Jangan membantah." lanjut Bryan tanpa menatap Elena.


Nada suara Bryan nampak seperti ancaman. Membuat Elena sedikit takut.


Akhirnya, mau tak mau Elena pun langsung berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya serta menggosok gigi.


Saat sudah selesai, Elena pun keluar dari dalam kamar mandi lalu berjalan menuju ranjang.


Elena segera naik ke atasnya lalu merebahkan tubuhnya disana. Tubuhnya pun sudah sangat lelah akibat berkeliling di festival pasar malam tadi.


Namun sebelum benar-benar tertidur. Tiba-tiba Elena merasakan ada sesuatu yang bergerak di perutnya. Dengan mata membulat Elena memegangi perutnya.


Sebuah tangan melingkar indah di perutnya. Ia merasakan pelukan dari arah belakangnya.


"Tidur."


Hembusan nafas terdengar di belakang lehernya. membuat bulu kuduk di tubuh Elena berdiri, merinding.


"Dok-dokter?" gugup Elena.


"Hm." sosok di belakang tubuh Elena adalah Bryan. Pria itu terlihat memeluk Elena erat dari arah belakang dengan mata yang mulai terpejam.


"Dokter kok-" sebelum Elena melanjutkan ucapannya, Bryan terlebih dahulu memotongnya.


"Sut. Kau ini banyak bicara sekali."


Jujur Elena tidak nyaman dalam posisi seperti ini. Bryan memeluknya dari belakang membuat jantungnya kembali berdetak tidak karuan!


"Dokter bisa tidak jangan memeluk saya kayak gini? saya geli Dok." sahut Elena.


"Tidak bisa." Tolak Bryan, makin memeluk Elena erat. "Aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk sesuatu."


"Kan ada guling Dok." Elena tak habis pikir, apa Bryan tidak melihat jika disini ada guling? pria itu bisa saja bukan memeluk guling? kenapa malah dirinya?


Bryan yang mendengar itu segera memutar sedikit wajahnya kebelakang lalu mendorong guling yang ada dibelakangnya hingga terjatuh ke lantai, dengan satu tangannya. Setelah itu, ia pun kembali memeluk Elena

__ADS_1


"Guling ku terjatuh. Aku tidak bisa mengambilnya. Tubuhku sangat lelah seharian merawatmu. Sudah kau tidur saja." sahut Bryan lagi.


Elena yang mendengarnya seketika termenung. Ia tau pasti Bryan lelah merawatnya sedari kemarin. Karna kasihan, Elena pun memiling tidak menjawab ucapan Bryan.


Masih dengan tangan yang melingkar di perutnya, Elena pun mulai memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.


Bryan, yang tidak mendengar jawaban lagi dari Elena pun hanya tersenyum tipis. Dirinya semakin memeluk Elena erat dan mulai ikut memejamkan matanya, menyusul Elena ke dalam mimpi. Jujur, ia merasa nyaman dengan posisi seperti ini.


...***...


Waktu menunjukan pukul 11:40. Rumah keluarga Abraham nampak sudah sepi. Maklum saja, hari sudah semakin malam alhasil semuanya sudah mulai masuk ke dalam mimpi mereka masing-masing.


Putri. Perempuan itu terlihat keluar dari kamar yang ia tempati dan berjalan menuruni tangga dengan langkah perlahan, seakan-akan tidak ingin terdengar oleh penghuni rumah ini.


"Sial!" umpat Putri, dengan wajah takut. "Kenapa dia harus nelpon disaat kayak gini sih?" gumam Putri, sesekali menatap layar ponsel ditangannya yang memunculkan sebuah panggilan.


Putri berjalan mengelilingi rumah ini sampai pada sebuah taman yang ia yakin sebagai area paling belakang di rumah ini. Ia mengedarkan pandangan pada sekitarnya.


Sepi.


Dirasa sudah aman, Putri pun segera mengangkat telponnya dan menjawab si penelpon.


"Sialan ya kamu! Kenapa menelpon?" kesal Putri, pada seseorang yang menelponnya.


Wajah Putri nampak kembali berubah. "Ck! tugas kalian itu gak beres! buat apa kalian minta lagi? dia itu cuma buta. Gak sampai meninggal. Saya anggap kalian gak becus buat jalanin perintah saya. Sudah! saya gak butuh kalian lagi." lanjutnya dengan emosi.


Bip.


Putri mematikan panggilannya sepihak. Ia memegang kepalanya pusing lalu segera membalikkan tubuhnya, berniat untuk kembali ke kamarnya.


Namun ternyata niatnya tidak berjalan mulus. Saat ia berbalik, ia terdiam mematung ketika melihat ada sosok pria yang tengah berdiri sembari bersandar pada dinding belakangnya.


Aiden. Ya, sosok pria itu adalah Aiden.


Aiden nampak menyeringai. Menatap Putri dengan smriknya. Memang Aiden sampai saat ini masih berada di taman belakang. Tadi saat sedang terdiam, ia tiba-tiba mendengar suara yang tidak terlalu jauh darinya, ia pun segera mengikuti asal suara itu sampai pada disini.


"Dugaan gue bener. Kalo emang Lo adalah penyebab kecelakaan Kakak Ipar sama adik gue." Aiden tersenyum miring, wajahnya nampak santai tidak sedikit pun ada rasa takut.


Lain dengan Putri. Wajah wanita itu terlihat seperti orang ketakutan


"Jangan asal nuduh orang." jawab Putri. Mencoba untuk tetap santai.


Aiden mengangkat ponselnya. Memutar-mutarkannya keatas. "Gue ngerekam semua yang Lo ucapin tadi. Dengan ini, tinggal beberapa bukti lagi yang harus gue dapetin buat ngeyakinin polisi kalo Lo pelakunya."


Putri memutarkan bola matanya malas. "Silahkan aja. Lo gak bakal nemuin fakta apapun karna gue bukan pelaku dari kecelakaan Elena. Mana ada sih seorang Kakak yang tega nyelakain adiknya sendiri? gue gak mungkin sejahat itu." ucapnya tak takut.


Aiden lagi-lagi menarik smriknya. Sepertinya ada yang ingin bermain-main dengannya. "Ck! Kak Putri-Kak Putri. Dari wajah Lo aja gue tau kalo Lo itu pelakunya. Ekspresi Lo itu ngeliatin banget kalo Lo ketakutan sama ucapan gue tadi. Gak mau jujur nih? atau nunggu gue panggil polisi baru Lo mau jujur?"


"Panggil aja." Putri terkekeh pelan. "Yang ada kalo Lo lapor ke polisi, Lo malah bakal diketawain sama mereka. Mereka tuh gak bakal percaya sama omongan anak kecil kayak lo. Jadi Lo mending diem aja. Lo cuman anak kecil yang gak tau apa-apa." lanjutnya sinis.


"Dipecat dua tahun lalu karna ketauan selingkuh sama atasannya sendiri. Cewek murahan yang kerjaannya cuman di klub malam. Layanin pria tua berhidung belang dan terima uang dari mereka sebagai bayarannya." Aiden ikutan tersenyum sinis. "Rumah disita? dipecat kerjaan? cuman omong kosong. Gue tau semuanya kok Kak. Gue juga tau Lo deketin Kakak Ipar dan minta nginap disini karna ada alasannya. So? benar kan kata gue?"


Yang menelpon Bryan tadi adalah Aiden. Aiden menyuruh Kakaknya itu untuk membawa saja Putri ke rumahnya. Tanpa di ketahui Putri, Aiden sebenarnya memata-matai wanita itu akhir-akhir ini. Karna Aiden hanya memiliki satu tersangka di otaknya. Yaitu Putri.


Dan tak akan lama lagi, semuanya akan terungkap.

__ADS_1


__ADS_2