
HAPPY READING GUYS🖤
Meldi, Abaraham serta Chaca segera berjalan menuju ruangan ICU. Saat sampai di rumah sakit, mereka langsung melangkah menuju ruangan Dimas namun sayangnya besannya itu tidak ada disana. Tak lama ada salah satu suster yang mendekat kearah mereka dan memberi tahu jika Dimas berada di ruangan ICU karena keadaannya yang kritis, alhasil ketiga orang itu berjalan kembali menuju ruangan yang ditunjuk suster tadi dengan raut wajah khawatir.
-----
Elena berjalan perlahan keluar dari ruangan ICU. Wajahnya sembab sekarang, air matanya masih berlinang turun walau tak sederas tadi.
Ia menatap Merlin yang kini berdiri dihadapannya. Tatapan wanita itu seolah membuat pertahanan Elena kembali runtuh.
"Mbak." lirih pelan Elena.
Merlin merentangkan kedua tangannya dengan pandangan penuh arti. Dengan sigap Elena berjalan dan memeluk wanita dewasa itu yang sudah ia anggap sebagai Kakak-nya sendiri.
"Bapak Mbak, hiks Bapak." Elena memeluk erat Merlin.
"Iya Na, kamu yang sabar ya? kamu harus kuat," Merlin membalas pelukan Elena dan mengelus punggung gadis itu perlahan. Ia tau pasti Elena merasa terpuruk.
Elena masih menangis dipelukan Merlin. Ia takut, ia takut mengatakan hal ini pada Putri. Ia binggung bagaimana mengatakan soal Bapaknya pada Kakaknya itu.
"Hiks," Elena melepaskan pelukannya dan menatap Merlin. "Kak Putri gimana Mbak? Elena gak kuat bilangnya sama Kak Putri."
"Biar Mbak yang nelpon Kakak kamu," Merlin mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu mencari nomor Putri dan menelponnya.
Elena diam menatap Merlin. Semoga saja Kakaknya bisa kuat mendengar tentang hal ini.
"Hallo?" sapa Merlin ketika mendengar suara dari sebrang sana. Ia menatap Elena dengan sesekali mengelus lengan gadis itu.
"Put, Bapak kamu-" Merlin menghela nafasnya kasar. Air matanya mulai kembali turun. "Kamu kerumah sakit sekarang, Bapak kamu udah gaada Put, Mbak harap kamu datang kesini untuk melihat Pak Dimas yang terakhir kali." to the poin Merlin.
Elena memegang tangan Merlin erat. Matanya menyiratkan pertanyaan, ia tidak mendengar jawaban dari sang Kakak karna Merlin tidak mengeraskan suara ponselnya.
"Halo?" ucap Merlin sekali lagi karna tak mendapat balasan.
"Prang!"
Merlin membulatkan matanya mendengar suara pecahan dari ujung sana. "Hallo Put?!"
Bip.
"Gimana Mbak? Kak Putri gimana?" tanya Elena.
Merlin menurunkan ponselnya dan memasukkannya kembali kedalam tas. Ia menggeleng pelan. "Gak ada jawaban apapun Na, Mbak cuma denger suara pecahan kaca gitu." jawab Merlin. Setelah suara pecahan itu terdengar tiba-tiba saja sambungan telponnya mati.
Elena menutup bibirnya. Ada apa dengan Kakaknya? apa perlu dirinya menyusul ke rumah Putri?
"El-elena kerumah Kak Putri dulu Mbak," saat dirinya hendak pergi tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang mencengkram erat tangannya.
"Jangan Na, Mbak yakin Putri pasti kesini. Kamu disini aja." Merlin melepaskan cengkeramannya. "Sekarang kita pikirin dulu Pak Dimas. Mbak tau Kamu juga pasti masih terpuruk soal ini, lebih baik duduk dulu," Merlin menarik pelan tangan Elena dan menyuruh gadis itu untuk duduk.
"Elena gak nyangka Bapak pergi secepat ini Mbak." Elena menatap depannya dengan pandangan kosong. "Baru kemarin Elena liat senyum Bapak, tapi sekarang?" matanya kembali berlinang menatap Merlin.
"Semuanya sudah takdir, semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Mungkin ini yang terbaik buat Bapak kamu Na. Kamu harus sabar," Merlin mengelus pelan puncuk kepala Elena. Ia merasa kasihan karena sekarang Elena hidup sendiri. Dirinya tau Putri mana mau hidup bersama Elena, dilihat saja jika wanita itu sangat tidak menyukai adiknya.
Tak lama saling diam, tiba-tiba dari arah kejauhan datang tiga orang dengan raut wajah cemas mendatangi Elena dan juga Merlin.
__ADS_1
"Na?"
Mendengar namanya dipanggil membuat Elena mendongakkan wajahnya. Ia menatap asal suara tersebut.
Meldi mendekat dan duduk disamping Elena. Ia melihat wajah menantunya yang sembab. Sebenarnya ada apa?
"Kamu kenapa sayang?" tanya Meldi khawatir. Ia melirik suaminya dan juga Chaca yang masih berdiri tak jauh darinya lalu kembali menatap Elena.
Sosok pria tampan ber-jas putih keluar dari ruangan ICU. Ia menatap arah depannya yang ternyata sudah ramai dengan beberapa orang termasuk keluarganya.
Mata Elena kembali memerah. Ia menatap Meldi dengan pandangan sendu. Hatinya rapuh, ia sudah tidak memiliki kedua orang tua lagi sekarang. Dirinya sudah yatim piatu.
"Bapak hiks." Elena memang tipikal gadis cengeng, apalagi jika disangkut pautkan dengan keluarganya. Ia tak mampu menahan tangisannya jika sudah berhubungan dengan sang Bapak.
Meldi yang terkejut dengan kesedihan Elena dengan sigap memeluk gadis itu. Ia mengelus puncuk kepala Elena pelan. "Kamu kenapa sayang? kok malah nangis?"
Abraham menatap penuh tanya anak pertamanya yang baru saja keluar dari ruangan ICU. "Ada apa sebenarnya?"
Bryan mendekat kearah Abraham. Ia seperti mengode sesuatu pada Papahnya itu. "Pak Dimas sudah tidak bisa diselamatkan lagi." pelannya.
Chaca yang mendengarnya hanya diam. Jadi besan dari Mamahnya itu sudah meninggal? ia mengucapkan bela sungkawa dalam hati. Dirinya melirik Elena yang nampak bersedih. Ia turut kasihan dengan kepergian Bapak dari Kakak Iparnya itu.
Abraham dan Meldi membulatkan matanya terkejut. Mereka turut sedih dengan kabar duka ini.
"Kamu yang sabar ya Na, Mamah turut berbela sungkawa. Kamu harus kuat, kamu harus tegar ngadepin ini." Melin melepaskan pelukannya dan menatap Elena sedih. "Ada Papah sama Mamah disini, kamu harus mengikhlaskan Bapak kamu ya?"
Elena mengangguk pelan. Ia mencoba mengikhlaskan Bapaknya walau rasanya berat.
"Urusan pemakaman dan yang lainnya biar Papah dan Mamah yang ngurus ya Na? kamu berdoa saja untuk kepergian Bapak kamu." sahut Abraham.
"Sama-sama Na," Meldi mengelus kepala Elena pelan, sesekali ia menyelipkan rambut Elena kebelakang agar tidak mengenai air mata gadis itu. "Kami juga kan sudah menjadi keluarga kamu sekarang." lanjutnya tersenyum hangat.
Entah harus bersyukur atau bagaimana, Elena merasa nyaman berada di keluarga ini. Rasanya ia sudah menganggap keluarga Bryan adalah keluarganya sendiri.
Lain dengan Merlin yang nampak binggung. Sudah menjadi keluarga? maksudnya apa? Merlin sama sekali tidak mengerti dengan ini semua. Mungkin setelah keadaan tenang, dirinya akan menanyai ini pada Elena.
"Maaf." seorang suster cantik keluar dari ruangan ICU dan menatap kearah beberapa orang disini. "Pasien akan segera dipindahkan sekarang."
Putri terdiam dengan menatap serpihan kaca dibawahnya. Telponnya pun sudah berserakan di atas lantai. Jantungnya seakan berhenti berdetak sekarang. Hatinya hancur, tatapannya kosong menatap arah depannya.
"Ba-bapak?" mata Putri berkaca-kaca. Air matanya mulai turun perlahan membasahi kedua pipinya.
Dengan tangan kasar, Putri menghapus air matanya lalu berbalik berjalan menuju kamarnya. Ia harus pergi kerumah sakit sekarang. Setelah Mbaknya-Merlin menelpon ia merasakan dunianya runtuh, Putri sudah tidak tau lagi harus bagaimana selain mengunjungi Bapaknya dirumah sakit.
Belum sampai di kamarnya, tiba-tiba Putri menghentikan langkahnya. Wajahnya yang sedih kini beralih menjadi terkekeh. "Bapak pasti gak mungkin meninggal." Putri menggelengkan kepalanya pelan. "Pa-pasti Mbak Merlin cuma mengatakan hal bohong agar aku ke rumah sakit, ya kan?" walau bibirnya terkekeh namun matanya tidak bisa menutupi jika dirinya sangat sedih.
Putri kembali melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar dan mengambil tas Selempangnya. Ia akan memastikan jika Bapaknya belum meninggal, ia akan memarahi Merlin karena mengatakan hal bohong padanya.
Setelah selesai, Putri berlari menuju pintu rumahnya. Ia akan pergi kerumah sakit sekarang. Dirinya masuk kedalam mobil dan menyalakannya. Dirasa sudah panas ia pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Di dalamnya ia tidak percaya dengan ini semua. Semoga saja yang di omongkan Merlin adalah suatu kebohongan.
"Hiks! Bapak gak mungkin meninggal!"
__ADS_1
Elena melangkahkan kakinya dengan tatapan kosong. Dirinya akan pergi ke kamar mandi sekarang untuk menenangkan pikirannya sekaligus membilas wajahnya yang sembab.
Bapaknya akan di makamkan hari ini juga, ia tidak kuat jika harus mengantarkan Bapaknya ketempat peristirahatan terakhirnya, namun Elena harus tetap ikut karna dirinya adalah salah satu keluarga dari Dimas.
Elena menghembuskan nafasnya kasar. Dengan langkah perlahan, dirinya sudah terlihat seperti mayat hidup. Wajah yang sembab, rambutnya yang berantakan, dirinya nampak terlihat kacau.
Seketika langkah Elena terhenti ketika melihat ada seseorang yang berdiri didepannya seakan mencegahnya untuk lewat. Dengan segera ia menatap orang tersebut dengan tatapan yang tak berubah.
"Lo boong-kan?! bilang kalo Lo boong soal Bapak meninggal! ini gak lucu Na! Lo gak boleh ngomong kalo Bapak meninggal!" sentak wanita itu dengan tatapan tajam menatap Elena.
"Elena gak boong Kak, Elena juga berharap ini mimpi, tapi nyatanya sampai saat ini Elena belum merasakan bangun dari mimpi Elena."
Ya, orang yang ada dihadapannya adalah Putri. Sang Kakak, anak pertama dari Bapaknya.
Putri terdiam. Tubuhnya bergetar, matanya kembali memerah. Apa adiknya juga menipunya?
"Gak mungkin! Lo pasti boong!"
Elena menggeleng lemah. "Aku gak mungkin boong soal Bapak." Ia mendekat kearah Putri lalu memeluk Kakaknya itu. "Kak Putri harus kuat, Elena juga coba untuk kuat mengikhlaskan Bapak." ia memeluk erat Putri. Ini kali pertamanya ia merasakan pelukan dari sang Kakak.
Putri dengan keras melepaskan pelukan dari Elena. Ia segera menatap tajam adiknya dibalik tatapan sedihnya itu. "Ini semua pasti karna Lo! Bapak meninggal pasti karna Lo! hiks." Bibir Putri bergetar, kelopak matanya sekarang mulai dipenuhi dengan air mata. "Gak cukup apa Lo bikin Ibu gue meninggal? sekarang Lo malah bikin Bapak gue juga meninggal!"
Elena terdiam. Ia menggelengkan kepalanya, kenapa dirinya jadi disalahkan disini?
"Lo! sama Ibu Lo itu sama aja! sama-sama perebut kebahagiaan orang!" tangan Putri terangkat, siap untuk menampar Elena. "Dasar jal-"
Elena memejamkan matanya erat saat melihat Putri akan menamparnya.
5 detik
10 detik
15 detik
Elena tidak merasakan apapun dipipinya. Dengan segera ia membuka matanya perlahan lalu menatap Putri yang masih mengangkat tangannya.
Putri menatap arah belakangnya. Ia bergeming ketika melihat siapa yang menahan tangannya saat akan menampar Elena.
"Jangan pernah menyalahkan orang lain jika belum tau kebenarannya," ucap Bryan dengan menghentakan tangan Putri kasar.
Bryan pun berjalan mendekat ke tubuh Elena lalu berdiri disamping gadisnya itu. Ia menatap tajam Putri. "Silahkan anda introspeksi diri. Mana ada seorang anak yang begitu tega menelantarkan Ayahnya saat sedang sakit? membiarkan Adiknya mencari uang untuk biaya rumah sakit sedangkan sang Kakak yang jelas-jelas memiliki uang banyak malah dengan santainya tidak mau mengeluarkan uangnya dengan alasan biaya rumah sakit yang mahal? jadi seharusnya siapa yang disalahkan disini? seorang Adik yang mati-matian mencari uang untuk kesembuhan Bapaknya atau seorang Kakak yang begitu tega membiarkan Bapaknya terlantar antara hidup dan mati?" datar Bryan tak berekspresi.
Elena menatap Bryan dengan pandangan takjub. Ini kali pertamanya ia mendengar Bryan berucap panjang lebar. Hatinya seketika menghangat mendengar pembelaan dari suaminya.
Tangan Putri terkepal kuat mendengar tuturan dari Dokter Bryan. Kenapa pria itu malah membela adiknya? Putri kesal bukan main.
"Gue gak akan pernah jahat sama Bapak kalo bukan karna cewek ini!" Putri menatap dendam Elena. "Dan Lo? Lo perebut kebahagiaan gue! sejak kehadiran Lo dikeluarga gue, hidup gue jadi berubah!"
Mata Elena kembali berkaca-kaca, ia menatap Putri dengan pandangan kecewa. Sebegitukah bencinya Putri padanya?
"Kak-" sebelum Elena menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Putri memotongnya terlebih dahulu.
"Jangan pernah panggil gue Kakak, karna gue bukan Kakak kandung Lo!" setelah mengucapkan itu, Putri memilih berbalik dan berjalan menjauh dari hadapan Elena dan juga Bryan.
Elena yang mendengarnya hanya diam menatap kepergian Putri dengan pandangan binggung. Maksud ucapan dari Kakaknya itu sebenarnya apa?
__ADS_1
TBC