Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB85: Rencana Aiden & Chaca


__ADS_3

HAPPY READING❤️❤️


Chaca menurunkan kakinya terlebih dahulu lalu keluar dari mobil. Sekarang ia sudah tiba kembali di rumah sakit. Setelah mandi dan mengganti pakaian, Chaca segera meluncur ke tempat dimana Kakaknya di rawat.


Sebenarnya Chaca malas untuk ke tempat ini. Kalian tau bukan alasannya? Ya, Chaca sangat tidak suka dengan kondisi rumah sakit, aroma dan sekitarnya. Tapi demi sang Kakak, dirinya mencoba untuk menghilangkan rasa ketidak sukaan-nya itu.


Hari sudah nampak mulai sore. Dirinya juga mendapatkan telpon jika sang Kakak sudah sadarkan diri. Alhasil dirinya cepat-cepat kesini untuk menunjukan sesuatu pada sang Kakak.


Chaca mulai berjalan masuk ke dalam rumah sakit, dan melangkah menuju kamar rawat Aiden yang sudah ia ketahui.


...***...


"Keracunan makanan."


Dengan punggung yang bersandar pada ujung kasur, Aiden membulatkan matanya. Menatap Bryan yang kini ada di hadapannya.


"Keracunan?"


"Hm," Bryan mengangguk. "Makanan apa yang terakhir kau makan?" tanyanya.


Aiden bergeming. Ia mencoba mengingat-ngiat. Namun nihil, dirinya tidak mengingat apapun. "Aiden gak inget."


"Mamah khawatir banget sama kamu Den, Mamah takut kamu kenapa-napa," Meldi mengelus pelan puncuk kepala sang anak. Ia benar-benar khawatir dengan anak keduanya ini, tapi dirinya bersyukur karena Aiden terselamatkan dan tersadar sekarang.


Aiden mengulas senyumnya. Menatap Meldi disampingnya. "Mamah gak usah khawatirin Aiden, Aiden baik-baik aja kok."


Saat tersadar tadi, Aiden sudah menemukan kedua orang tuanya beserta sang Kakak, Bryan. Dirinya tersentak kaget saat diberi tahu jika ia tadi pingsan dan sempat masuk ke ruang UGD prihal keracunan makanan 'katanya'.


"Tapi sekarang kau merasa baik-baik saja kan Den?" sahut Abraham, yang berdiri di samping Meldi.


Aiden mengangguk, men-iyakan sang Papah.


Abraham nampak memegangi tangan Meldi, dan menatapnya. "Berhubung Aiden sudah siuman dan baik-baik saja, lebih baik kita pulang."


Mendengar ajakan dari sang suami, membuat Meldi menatap Abraham heran. "Pulang? Aiden lagi kayak gini loh Pah, masa pulang sih." omel-nya, tak terima. Sang anak baru saja tersadar, masa dirinya sudah di ajak pulang?


"Sejak tadi siang kamu belum makan. Kita pulang dulu buat bersih-bersih. Sekalian bawa keperluan Aiden, terus kita kesini lagi." jawab Abraham, seketika wajah Meldi meredup. Membuat Abraham sedikit terkekeh, gemas. "Jangan menunjukan wajah seperti itu. Aku takut hilang kendali." Ucapan itu sontak membuat mata Meldi membulat. "Aku juga tidak ingin kau sakit, kita lebih baik pulang dulu. Lalu kembali lagi kesini." lanjut Abraham.


Bryan dan Aiden hanya diam menatap kedua orang tuanya itu. Dengan malas. Selalu saja bermesra-mesraan. Dasar tidak tau tempat.


"Huft. Yasudah," Meldi mengalihkan tatapannya menatap Aiden lagi. "Mamah pulang dulu gapapa kan Den?" dirinya pun merasa tidak enak badan karena sejak tadi siang dirinya belum makan apapun.


Aiden mengangguk tak keberatan. "Mamah sama Papah pulang aja. Aiden disini bakal baik-baik aja kok." balasnya, menenangkan pikiran Meldi yang nampaknya tidak ingin pulang karena takut jika nantinya akan terjadi sesuatu lagi padanya.


Meldi mengangguk lemah. Pasrah. "Iya, cepet sembuh ya sayang." Meldi mengelus kepala Aiden sebentar lalu tatapannya teralihkan pada Bryan. Yang berdiri tak jauh darinya "Jagain adik kamu, Yan."


"Dia sudah besar, tidak perlu lagi di jagain." sahut Bryan, dengan datar. "Seperti anak kecil saja."


"Yan, kamu ini! Dia juga adik kamu. Jagain. Masih sakit dia, kasian." Meldi memang seperti ini pada anak-anaknya. Terlalu sayang. Tidak ingin lagi terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada anaknya.


Mau tak mau Bryan pun mengangguk. Singkat.


Meldi yang melihatnya pun tersenyum. "Yaudah, Papah sama Mamah pulang dulu. Kalian jaga diri baik-baik."


Abraham dan Meldi pun berpamitan pada kedua anaknya lalu melangkah, berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan ini.


Tersisa lah dua orang disini. Bryan dan Aiden. Keduanya saling bertatapan sekarang.


"Menyerah saja. Biar bawahan-ku yang menyelidiki ini," setelah lama terdiam akhirnya Bryan membuka suaranya terlebih dahulu, lalu mulai berjalan mendekati ranjang Aiden.

__ADS_1


Sontak Aiden menggelengkan kepalanya keras. "Biar gue aja yang selesain. Lagian gue juga udah tau siapa biang keladingnya."


"Siapapun itu, percuma jika tidak ada bukti." Bryan sekarang sudah berada di samping Aiden. Ia terlihat menarik smrik nya. "Kau memangnya sudah ada bukti yang kuat?"


Mendengar itu membuat Aiden diam, membisu. Boro-boro bukti, handphone yang merekam bukti labrakan kemarin saja sekarang hilang entah kemana.


"Belum bukan? jika seperti ini terus aku tidak yakin masalah ini akan cepat selesai." lanjut Bryan.


"Gue bakal selesain ini secepatnya. Kak Bryan cukup diam aja, biar Aiden yang selesain." Aiden tetap keukeuh pada pendiriannya. Ia bisa menyelesaikan masalah ini.


Bryan berdecak. "Yasudah. Dua hari lagi. Saat pesta ulah tahun pernikahan Mamah, Papah. Aku ingin kau selesaikan disana." jawabnya, dengan serius.


Aiden mengangguk yakin. "Tapi perjanjian, tetap sama."


"Oke." ucap Bryan, meng-iyakan perjanjian diantara mereka.


Tiba-tiba Bryan mengingat sesuatu. Ia segera menatap sekitaran ruangan ini. Dirinya baru tersadar jika ada seseorang yang menghilang sejak tadi.


"Yasudah, kau istirahatkan saja tubuhmu. Aku harus pergi sekarang." lanjut Bryan. Yang langsung dibalas anggukan oleh Aiden.


Bryan segera berjalan keluar dari ruangan ini. Tak lupa juga ia menutup kembali pintunya.


Saat sudah keluar, ia melihat sesosok gadis yang ia kenal sudah berdiri diam di hadapannya.


"Kak Aiden udah sadar kan ya Kak?" gadis itu tak lain adalah Chaca.


"Hm." Bryan mengangguk singkat lalu menatap Chaca penuh tanya. "Dimana wanitaku?" Bryan heran, kenapa hanya ada Chaca seorang diri disini? dimana Elena?


"Mana Chaca tau." acuh, Chaca. "Lagian juga Chaca baru kesini lagi habis dari rumah. Chaca mana tau Kakak ipar dimana."


Merasakan ada sesuatu yang aneh, Bryan segera berlalu dari hadapan Chaca, langkahnya menuju ke suatu tempat.


Chaca yang melihat Bryan pergi tanpa sekata patah pun hanya mendumel. Kakaknya itu memang seperti itu, setelah bertanya pasti langsung pergi begitu saja. Tidak tau terimakasih memang.


Bryan berjalan menuju ke ruangan kerjanya. Saat sudah sampai, ia segera membuka pintu di hadapannya.


Ceklek!


Bryan segera masuk kedalam. Mengedarkan pandangannya ke segala arah. Nihil, tidak ada satupun orang di dalam ternyata.


Bryan terdiam sesaat. Kemana wanita itu?


Merasakan ada sesuatu yang aneh, Bryan lantas meraih ponselnya yang berada di dalam saku celana lalu mencari nomor seseorang disana.


Setelah mendapatkan nomor itu, Bryan segera menelpon nomor tersebut.


Menunggu beberapa saat, sambungan telponnya tak kunjung terangkat. Tapi tak lama, akhirnya sosok yang ia telpon mengangkat sambungan telponnya.


"Ck! lama sekali mengangkatnya, kau dimana?!"


...***...


Chaca berjalan masuk ke dalam ruang rawat Aiden. Ia menatap Kakaknya itu yang saat ini sedang terdiam, dengan pandangan yang lurus ke depan.


Berniat untuk mengagetkan sang Kakak, Chaca berjalan dengan kaki yang melangkah pelan, agar tidak menimbulkan suara. Saat sudah ada di samping Aiden, baru ia pun bersuara.


"DOR!"


"Gak kaget gue."

__ADS_1


Mengerucutkan bibirnya kedepan. Kesal. Ternyata Chaca gagal untuk mengagetkan kakaknya ini.


"Lo kenapa sih?" tanya Chaca. Dilihat-lihat, Aiden seperti orang yang sedang kehilangan gairah hidupnya. Lemas, seperti itu.


Aiden lalu mengalihkan tatapan menatap Chaca. "Lo gak liat kondisi tubuh gue sekarang?"


Mendengar nada ngegas dari Aiden, membuat Chaca terkekeh. "Makannya, kalo ngerencanain sesuatu itu pake otak," Chaca menunjuk kepalanya sendiri lalu menurunkan kembali tangannya. "Jangan asal ngelabrak. Dan sekarang jadi gini kan? rencananya sih mau ngejebak eh malah kejebak."


Dahi Aiden tiba-tiba mengkerut. "Maksud Lo?" ia tidak mengerti ucapan dari sang adik.


Chaca memutarkan bola matanya malas. Ia segera meraih ponsel yang ada di dalam tasnya lalu membukanya. Berniat mencari sesuatu di dalam sana.


Saat sudah ketemu, dirinya menunjukan sebuah Vidio pada Aiden. Agar sang Kakak melihat apa yang ia rekam di ponselnya tersebut.


Mata Aiden membulat saat melihat Vidio itu. Dugaannya memang benar, jika hanya ada satu pelaku yang terkait dalam semua masalah ini.


Setelah durasi Vidio itu habis, Chaca mematikan vidionya. "Gue dapet bukti ini dari CCTV rumah." Ia pun kembali menunjukan sesuatu pada Aiden. "Gue juga dapet bukti yang lainnya."


Aiden lantas menatap Chaca dengan penuh arti. "Jadi selama ini Lo juga nyelidikin ini semua diem-diem?"


Chaca mengangguk. "Yaiyalah. Gue nyeledikin diem-diem itu karena gue mikirin kedepannya gimana. Gue gak mau asal ngelabrak orang sebelum punya bukti yang kuat. Dan lo, belum punya bukti tapi udah masuk rumah sakit duluan." Chaca nampak menunjukan senyum kemenangan. "Jadi siapa nih yang bodoh disini? gue apa Lo?" ia mengingat saat dimana Aiden mengatai dirinya bodoh, karena percaya begitu saja dan dekat dengan Putri. Tapi dibalik itu semua, dirinya pun memiliki niatan maksud lain.


Memutarkan bola matanya malas. Aiden mengakui ia bodoh. "Iya iya, gue yang bodoh. Terlalu cepet pergerakannya, tapi Lo juga salah karena gak ngomong kalo nyeledikin diem-diem juga."


"Ngapain gue ngomong ke Lo. Males banget, Wle," Chaca memeletkan lidahnya, meledek pria di hadapannya ini.


"Sialan Lo!" Aiden menatap sinis Chaca. "Terus rencana Lo sekarang apaan?"


Chaca menaikkan jarinya, menyentuh dagunya. Seperti orang sedang berfikir. "Em apa ya? oh iya. Serahin semua bukti yang gue punya ke kantor polisi, terus beres deh!" ujarnya, dengan senang.


Aiden menatap malas adiknya itu. "Lo sama aja bodohnya berarti!" Menjeda ucapannya sebentar, lalu kembali berucap, "Semua bukti itu gak terlalu kuat buat ceblosin perempuan itu ke penjara."


"Loh kenapa?" tanya Chaca, heran.


"Yaiyalah. Soal mobil? bisa aja dia menyangkal kalo mobil itu habis di pake orang lain? kaca dalam mobilnya gelap, gak tembus pandang, kita gak bisa lihat di dalamnya itu siapa. Soal CCTV, itu bisa sih, cuman pasti hukumannya gak terlalu berat." lanjut Aiden, menjelaskan.


"Terus bukti yang kuat itu kayak gimana?" Chaca mematikan ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke dalam tas selempang yang ia pakai.


"Dia harus ngomong sendiri tentang perbuatannya." Aiden menatap serius Chaca. "Itu salah satu bukti yang kuat, soal kecelakaan yang di alamin Lo sama Kakak Ipar."


Bibir Chaca membulat sempurna. "Jadi kita harus sekap dia? atau culik gitu? terus kita paksa dia buat jujur? gitu maksudnya?"


"Ck! bukan!" Aiden berdecak, sebal. "Sini gue bisikin."


Chaca mulai mendekatkan telinganya pada Aiden. Aiden pun mulai menjelaskan rencana yang ia susun dalam pikirannya.


"Gimana?" papar Aiden, setelah menyebutkan rencananya tadi.


"Gue gak yakin," raut wajah Chaca berubah. Tak yakin dengan apa yang di lontarkan Aiden.


"Lo harus bantu gue Cha." tatapan Aiden seakan memohon pada adik nya itu. "Gue dikasih waktu sama Kak Bryan dua hari, kita gak ada rencana lain. Gue mohon, kali ini aja Lo bantu gue. Gue gak bisa lagi nyelidikin ini. Gue baru sadar. Lagian juga perempuan itu pasti gak bakal diem aja liat gue masih hidup. "


Pandangan Chaca menangkap seakan ada yang di sembunyikan oleh Aiden. "Lo kenapa ngebet banget minta ini di selesain sih Kak? kenapa gak biarin Kak Bryan yang selesain ini sendiri?"


"Lo gak perlu tau. Intinya Lo harus bantu gue." dalih Aiden.


Chaca memiringkan bibirnya. Seperti ia bisa menyempatkan sesuatu dalam kesempitan ini. "Ehm, mau aja sih cuman di dunia ini gak ada yang gratis loh." ia melebarkan senyumannya, menatap Aiden penuh maksud.


Aiden yang mengerti ucapan Chaca pun menghela nafasnya pelan.

__ADS_1


"Sebutin satu barang. Entar gue beliin."


"Deal!"


__ADS_2