
HAPPY READING GUYS😙
Elena terdiam menatap kepergian Bryan. Ia menghela nafasnya pelan lalu berjalan keluar dari kamar ini. Ia melangkahkan kakinya turun ke lantai 1 untuk menuju dapur.
Sampai di tempat tujuannya, ia sekilas menatap ada wanita disana yang sedang memunggunginya. Dengan segera ia pun mendekat kearah wanita dewasa itu untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.
___
Meldi tersenyum sembari mengaduk-ngaduk susu didepannya dengan sendok yang ia genggam.
Ia akan memberikan susu ini untuk menantunya. Ini adalah susu yang ia pesan tadi, semoga saja rencananya berhasil dengan cepat dan rumah ini akan segera kedatangan keluarga baru. Membayangkannya saja membuat Meldi bahagia, bagaimana jika sudah kenyataannya?
"Mah?"
Meldi berbalik ketika mendengar namanya dipanggil dari arah belakang. Ia tersenyum manis mendapati Elena berjalan mendekatinya, suatu kebetulan menantunya itu kesini.
"Eh Na? kamu mau makan?" tanya Meldi dengan penuh tanya.
Sampai disamping mertuanya, Elena pun menggeleng pelan. "Saya mau ngambil air." ucapnya tersenyum. Matanya beralih pada segelas susu yang di pegang Meldi.
Meldi mengikuti arah tatapan menantunya itu. Ia tersenyum penuh maksud. Dengan segera ia mengangkat gelas tersebut dan memberikannya pada Elena.
"Buat kamu nih," Meldi memberikan gelas susu itu pada Elena.
"Buat sa-saya?" Elena tertekun. Untuk apa Meldi memberikannya susu?
Meldi mengangguk. "Iya. Nih,"
Mau tak mau Elena mengambil susu tersebut dari tangan Meldi. Ia memegang susu itu dan menatapnya binggung.
"Mamah bikin itu khusus buat kamu. Ayo diminum." lanjut Meldi memerintahkan Elena untuk meminumnya.
Dengan rasa bimbang, Elena pun meminum susu tersebut. Meldi yang melihatnya nampak tersenyum puas.
Setelah meminum susu itu sedikit, Elena pun menjauhkan gelas-nya dari mulutnya. Rasanya tak beda jauh dengan susu lain. Tapi ia masih binggung ini susu apa? "Ini emangnya susu apa ya Mah?" tanya Elena.
"Susu suplemen buat kamu cepet hamil."
Elena menganga, membulatkan matanya. Jadi susu ini?
"Tapi gak tau juga sih apa emang bener bakal cepet hamil atau enggak, ya intinya susu itu buat pembantu aja biar kamu bisa secepatnya hamil. Kandungan protein di susu-nya banyak loh, Mamah udah coba browsing di internet nah siapa tau aja susu nya bisa bantu kamu cepet hamil." senang Meldi. Ia jadi tidak sabar mendengar kabar baik dari menantunya nanti.
Elena menatap susu itu. Apa dirinya akan hamil jika meminum susu ini? entah kenapa Elena takut hamil diusia muda seperti ini. Ia pernah mendengar tentang resiko hamil diusia muda. Elena hanya takut saja dengan kondisi dirinya dan juga kandungannya jika dirinya dinyatakan hamil nanti.
"Habisin ya Na." Meldi mengelus pelan puncuk kepala Elena. "Mamah pergi dulu keluar. Mamah selalu doain yang terbaik buat kamu." ucapnya tersenyum. Setelahnya ia pun berlalu dari hadapan menantunya dan berjalan keluar dari dapur.
Elena diam menatap kepergian Meldi, tak lama ia kembali menatap susu itu. Dirinya jadi sedih melihat mertuanya yang sangat menginginkan cucu darinya. Padahal jelas-jelas hubungan pernikahannya saja hanya sebatas perjajian bukan karna saling mencintai.
Ya Tuhan, Aku harus bagaimana?
Elena bimbang akan meminum susu itu kembali atas tidak. Masalahnya ia takut hamil jika meminumnya, tapi ia pernah juga membaca sebuah artikel jika seorang perempuan hamil itu dikarnakan seringnya berhubungan badan. Dirinya saja belum pernah berhubungan badan, jadi jika Elena melanjutkan meminum ini, ia tidak mungkin hamil bukan?
Saat hendak meminum susu nya kembali, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik gelas yang Elena pegang dan membuat gelas itu berpindah tangan.
"Wih susu nih, ini punya lo?" ucap Chaca dengan menatap susu yang sudah berada di tangannya.
Elena mengangguk.
"Buat gue ya? gue haus." setelah berbicara itu, Chaca pun segera meminum susu tersebut. Ia sangat haus setelah membantu Bibinya membersihkan taman belakang dan kebetulan ada Kakak Iparnya yang sedang memegang susu membuatnya menginginkan minuman putih itu.
__ADS_1
"Eh itu susu-" Elena seketika menghentikan ucapannya. Ia melongo melihat Chaca yang minum seperti kesetanan. Apa gadis itu sangat haus?
"Hah!" Chaca mengusap bibirnya setelah segelas susu yang dipegangnya habis. "Enak juga. Ini susu apa Kak?"
"Katanya sih susu su-suplemen gitu." Elena masih tak percaya jika Chaca menghabiskan susunya dalam waktu singkat.
Chaca lantas mengangguk-anggukan kepalanya. "Susu suplemen apa?"
"Untuk mempercepat kehamilan."
Prang!!
Chaca menganga. Matanya turun menatap gelas yang sudah menjadi serpihan kaca di bawah sana. Ia reflek menjatuhkannya tadi karna kaget mendengar jawaban dari sang Kakak Ipar.
Elena sedikit memundurkan tubuhnya ketika gelas itu pecah agar serpihannya tidak mengenai kedua kakinya. Ia lalu menatap panik Chaca. "Kamu kenapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan sang Kakak, Chaca dengan cepat berjalan menuju wastafel dan menyalakan kran air disana.
"Huekk huekk." Chaca memuntahkan segala isi perutnya. Ia mencoba mengeluarkan susu yang ia sempat minum tadi. Tapi sayangnya susu itu tidak kunjung keluar dari perutnya.
Melihat adik iparnya seperti itu membuat Elena panik dan berjalan cepat menuju Chaca.
"Aw." keluh Elena ketika merasakan serpihan kaca menusuknya dibagian telapak kaki. Ia lantas mengangkat kaki kanannya dan melihat darah yang sedikit keluar dari sana. Dengan segera ia mencabutnya serpihan tersebut dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Elena yang sudah berdiri disamping adik iparnya.
Chaca menatap Kakak Iparnya itu dengan pandangan takut sekaligus kesal. "Kakak kenapa gak ngomong kalo susu-nya buat orang hamil!"
"Tadi saya mau ngomong tapi susu-nya keburu habis di minum kamu."
Chaca memijat lehernya sendiri dan mencoba mengeluarkan susu yang sudah ia minum.
Mendengar itu membuat Chaca menegakan tubuhnya dan menghadap Elena.
"Gue bakal hamil gak ya Kak?" Chaca menatap perut ratanya. "Gue belum nikah, masa udah hamil duluan sih!"
"Gak mungkin Cha."
Chaca kembali menatap Elena. "Kan tadi gue minum susu mempercepat kehamilan! pastinya gue bakal hamil dong? Aaaa! kalo gue hamil beneran gimana? hiks siapa yang mau tanggung jawab? nanti kalo gue hamil, gue hamil anak siapa?"
Elena terkekeh melihat kepolosan gadis didepannya. Usianya yang masih muda mungkin menjadi faktor kepolosan adik iparnya ini. "Gak akan hamil Cha, udah tenangin diri kamu."
Wajah Chaca memelas. Ia mengelus perut pelannya. Ia tidak mungkin hamil-kan?
___
Setelah perdebatan kecil soal susu, Elena pun berjalan kembali menuju kamar Bryan dengan segelas air ditangannya. Wajah polos Chaca masih terngiang-ngiang di pikirannya. Muka gadis itu nampak lucu ketika mengira dia akan hamil karna meminum susu itu, padahal menurutnya dia tidak akan hamil. Kata mertuanya pun susu itu tidak seratus persen menjamin akan segera hamil dan susu itu hanya digunakan untuk membantu menambahkan protein tubuh agar tetap sehat, yang nantinya bisa mempermudah kelancaran program kehamilan.
Ceklek
Elena masuk kedalam ruangan itu. Ia melangkah masuk dan menatap sekelilingnya. Keadaan kamar masih remang-remang karna hanya di sinari cahaya bulan dan lampu gantung yang menempel pada dinding kamar ini.
"Taruh gelas itu di atas meja." ucap dingin seseorang dari arah sofa.
Elena mengangguk dengan kaki yang mendekat kearah Bryan. Ia menaruh gelas tersebut di atas meja dihadapan Bryan lalu duduk disebelah pria itu.
Bryan nampak sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan Elena hanya diam menatap suaminya.
Mendapati hening, Bryan pun memalingkan wajanya kearah samping dan melihat jika Elena sedang menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa menatap ku seperti itu?"
Elena segera menggeleng. "Gapapa Kok Dok." ia sebenarnya mengantuk, dirinya ingin tidur. Tapi sayangnya sofa tempat dimana dirinya tidur malah di duduki oleh Bryan alhasil dirinya lebih memilih menunggu pria itu itu bangkit dari sini.
Bryan menaikkan kedua bahunya acuh lalu kembali menatap ponsel, tapi sebelum tatapannya menatap benda pipih tersebut. Ia sekilas menatap kaki Elena yang sedikit menjinjit.
"Kaki mu kenapa?" tanya Bryan penasaran.
Elena menatap arah pandang Bryan yang tertuju pada kakinya. "Oh tadi kena serpihan kaca Dok. Gak parah ko, cuma sedikit berdarah aja." jawabnya sedikit terkekeh namun kekehan itu tam berlangsung lama karna menatap wajah serius Bryan.
"Kenapa bisa mengenai kaki-mu? apa Maid sengaja memecahkan nya didepanmu? Ck! aku akan memberi pelajaran pada Maid sialan itu!" Bryan segera bangkit dari duduknya.
Seketika Elena merasakan hawa dingin mulai menyeruak disini. Entah karna hawa udara disini atau karna Bryan.
Elena segera menahan tangan suaminya yang hendak berjalan keluar. "Bu-bukan Maid, tadi cuma ada sedikit kecelakaan di dapur. Bukan Bibi yang ngelakuin." kenapa jadi pria itu yang terlihat emosi? Elena menjadi heran.
"Kecelakaan apa?!"
Elena kaget mendengar sentakan itu. Kenapa jadi Bryan yang marah? padahal dirinya yang terkena serpihannya merasa biasa-biasa saja.
"Huh! makannya kau hati-hati jika melakukan sesuatu!" Bryan menghentakkan tangan Elena dari tangannya dan berjalan menuju lemari. Sampai disana, Bryan pun membuka pintu lemarinya dan mencari-cari sesuatu disana.
Setelah menemukannya Bryan kembali berjalan menuju Elena dan mensejajarkan tubuhnya di hadapan kaki gadisnya.
"Dokter mau ngapain?" Elena menatap Bryan yang menggenggam kakinya pelan dan sedikit mengangkatnya.
Bryan membuka kotak yang ia bawa tadi dari dalam lemari. Kotak itu adalah kotak obat. Disana terliat ada beberapa betadin, kapas dan yang lainnya.
"Sut! kau diam saja, jangan banyak bicara," Bryan mulai menuangkan betadin kedalam kapas dan menempelkannya di telapak kaki Elena.
Elena memejamkan matanya ketika merasakan ngilu di kakinya. Ia mencoba untuk tidak menggerakkan kakinya agar Bryan gampang mengobatinya.
Setelah dirasa sudah, Bryan pun bangkit dan menegakan tubuhnya kembali.
"Luka sekecil apapun harus tetap diobati agar tidak ber-infeksi. Sudah tidak sakit lagi kan?" tanya Bryan.
"Iya." Elena mengangguk-anggukan kepalanya. "Makasih ya Dok."
"Hm," Bryan lantas membantu Elena untuk berdiri. "Kau tidur dikasur sana."
"Eh. Gak Dok, saya tidur di sofa aja." tolak Elena. Untuk apa Bryan menyuruhnya tidur di kasur? apa jangan-jangan?
Pikiran Elena mulai negatif. Ia menatap Bryan dengan pandangan penuh arti. Dirinya sedikit memundurkan tubuhnya untuk menjaga jarak dengan pria itu.
Mendapati tatapan aneh dari Elena membuat Bryan memutar bola matanya malas. "Hapus fikiran negatif-mu! aku kasian melihat mu jika tidur disofa dengan kaki yang terluka."
"Tapi Dokter-"
"Aku tau kau tidak ingin tidur bersama-ku jadi aku akan tidur di sofa." timpal Bryan. Ia pun berjalan menuju kasur untuk mengambil bantal disana lalu kembali mendekat ke tempat Elena.
"Sudah sana. Aku ingin tidur." datar Bryan.
Elena segera mengangguk dan melangkah menuju kasur. Dibalik gelapnya kamar ini Elena diam-diam tersenyum.
Sampai di dekat kasur. Elena segera naik dan merebahkan tubuhnya disana. Posisi tidurnya ia hadapkan pada sofa yang ditiduri Bryan.
Hatinya menghangat. Elena merasakan ada yang aneh dihatinya mendapati Bryan yang perhatian dengan kakinya tadi. Dengan ulasan senyum diwajahnya, Elena pun mulai memejamkan matanya dan tertidur.
Tbc
__ADS_1