
HAPPY READING🖤
Elena melihat wajah Bryan yang terlihat bersalah. Mata pria itu seperti menyiratkan sesuatu sambil menggelengkan kepalanya menunduk.
"Maaf untuk apa Dok?!" Elena menatap beberapa Dokter disini. "Sebenarnya ada apa?" tanyanya binggung.
"Mohon maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik tapi takdir berkata lain. Pak Dimas dinyatakan wafat pukul satu lewat dua puluh siang waktu Indonesia barat." ucap salah satu Dokter dengan hati-hati.
Deg!
Elena terdiam. Air matanya mulai deras turun membasahi pipinya. Gak mungkin, ini semua gak mungkin. Ia menatap wajah Dimas yang terlihat pucat lalu tatapan-nya teralih pada Bryan.
"Gak mungkin-kan Dok? ayo Dok bilang! ini semua gak mungkin-kan?!" Elena menatap penuh harap Bryan. "Ini pasti bercanda. Tolong jangan bercanda Dok, ini gak lucu." ucapnya gemetar. Ia berharap Bryan mengatakan jika semua ini hanya bercanda.
"Maaf." Bryan menatap Elena sendu. "Bapakmu sudah tidak bisa di selamatkan lagi."
Elena terkekeh. "Gak mungkin. Dokter bilang, Bapak bisa sembuh, Bapak bisa sehat kembali kayak dulu, Bapak bisa-"
"Bapakmu sudah sembuh, sekarang Bapakmu sudah tidak merasakan sakit lagi di sisi Tuhan." Bryan memegang kedua lengan Elena. "Ku harap kau mengikhlaskannya."
Tubuh Elena bergetar. Air matanya tak henti-hentinya turun deras dari kelopak mata. Wajahnya cantiknya kini sudah dibasahi oleh air mata.
"Gak! Bapak gak mungkin ninggalin saya! Bapak kuat, Bapak gak mungkin ninggalin saya sendirian disini!" Elena melepaskan tangan Bryan dari tubuhnya lalu berjalan mendekat kearah Dimas dan mengoyangkan tubuh Bapaknya.
"Bapak bangun! buka mata Bapak! Bapak tunjukkin sama orang disini kalo Bapak masih hidup! Bapak gak mungkin meninggal! Bapak gak mungkin ninggalin Elena disini-kan? jadi Elena mohon Bapak bangun hiks!" Elena menunduk, ia membiarkan air matanya turun mengenai wajah Dimas. "Elena mohon Bapak bangun hiks, Ibu ninggalin Elena! terus Bapak mau ninggalin Elena gitu?! gak boleh, Bapak gak boleh ninggalin Elena!"
Bryan mendekat ke tubuh Elena. Ia mencoba memberi kekuatan untuk gadis itu, ia tau pasti Elena merasakan sedih yang mendalam.
Merasakan ada tangan yang akan menjauhi dirinya dari Dimas, Elena pun segera menghentakan tangan itu kasar. "Lepas!"
__ADS_1
Elena menatap dalam Bryan. "Tolong bangunin Bapak saya Dok!" hatinya hancur, hatinya merasakan sakit sekarang. "Dokter tolong bangunin Bapak saya, bikin dia buka mata!"
"Cukup!" sentak Bryan. "Aku tau kau sedih, tapi aku mohon kau mengikhlaskan kepergiannya. Bapakmu pasti melihatmu disini, Bapakmu akan sedih jika melihat kau seperti ini." lanjut Bryan mengerakkan pundak Elena mencoba untuk menyadarkan gadis itu
Elena menghapus kasar jejak air matanya. "Kalo dokter enggak mau rawat Bapak, biar saya bawa Bapak ke rumah sakit lain!" Elena melepaskan tubuhnya dari tangan Bryan dan berjalan menuju ranjang Dimas. Ia akan membawa Bapaknya pergi kerumah sakit lain jika disini tidak ada Dokter yang mau membuat Bapaknya terbangun.
Elena menggenggam tangan Dimas. Dingin, itu yang dirasakannya. Tubuh dingin Dimas dan wajah pucat Dimas membuatnya tak kuasa menangis. "Kita kerumah sakit lain ya Pak, kita cari Dokter yang mau bikin Bapak bangun!"
Sebelum Elena melakukan itu, Bryan dengan cepat menarik tubuh gadis itu dan menjauhinya dari Dimas. Ia membuat Elena menatapnya. "Aku tau rasa yang kau rasakan sekarang, tapi aku harap kau tenang, Ikhlaskan Bapakmu. Pak Dimas sudah pergi, mau bagaimana pun caramu tetap saja Bapakmu tidak akan terbangun!"
Elena menunduk. Tubuhnya melemas sekarang, rasanya tubuhnya ingin runtuh. Kenapa tuhan mengambil Bapaknya secepat ini? kenapa Tuhan mengambil orang tua satu-satunya yang ia miliki? kenapa Tuhan mengambil orang yang sangat ia sayangi?
"Hiks hiks." Elena menangis, dunianya seakan terhenti sekarang. Bapaknya telah pergi, pergi jauh dari sisinya.
Bryan segera memeluk Elena erat. Ia mengelus punggung gadisnya itu dengan perlahan. "Kau harus kuat, aku yakin Bapakmu sudah bahagia sekarang."
Elena menangis di dada Bryan, mungkin sekarang pakaian pria itu sudah basah akibat tangisannya namun sepertinya Bryan tidak peduli dan membiarkan ia menangis di pelukannya.
Elena mencoba untuk kuat, dengan air mata yang tak kunjung henti ia pun mengangguk.
Keduanya segera berjalan mendekat keranjang Dimas. Elena menatap wajah pucat Bapaknya dengan tatapan sendu.
Sudah tidak ada lagi tawa di bibir Bapaknya. Yang terlihat sekarang hanyalah bibir pucat dan kering diwajah Dimas.
Sudah tidak ada lagi tatapan hangat serta elusan sayang di kepalanya dari Bapaknya, kini yang terlihat hanyalah tubuh kaku tanpa gerakan serta tubuh yang terasa dingin tak bernyawa.
Sudah tidak akan ada lagi yang menyapanya hangat dan menanyai kabarnya ketika pulang bekerja nanti.
Bapaknya kini telah meninggalkannya untuk menerima panggilan Tuhan. Ucapan Bryan benar, Bapaknya sudah tidak merasakan sakit sekarang. Dimas sudah sehat dan bahagia di atas sana.
__ADS_1
Dibalik rasa sakitnya, Elena tersenyum manis. Mungkin sekarang Bapaknya sudah bertemu dengan almarhumah Ibunya. Bapaknya sudah dipertemukan kembali dengan cintanya. Seharusnya Elena senang karna Bapaknya sudah tidak sakit dan bisa menemui Ibunya di atas sana, tapi kenapa ia malah menangis dan hancur?
Elena menunduk, mengelus pelan puncuk kepala Bapaknya. Rasa dingin terasa ditelapak tangannya ketika menyentuh dahi dan kepala Dimas.
"Makasih udah ngerawat Elena dari kecil sampai sebesar ini, maaf Elena belum bisa ngebahagiain Bapak." pipi yang terlihat mengering kini mulai kembali basah akibat air matanya yang keluar begitu saja.
"Maaf Elena belum bisa jadi apa yang Bapak mau. Elena sering bikin Bapak kesel sama marah-kan dulu?" Elena menghapus kasar air matanya lalu tersenyum getir. "Maafin Elena ya Pak."
"Hiks walau berat, Elena bakal ikhlasin Bapak. Bapak pasti sedih-kan ngeliat Elena kayak gini? Elena ikhlas Pak, Elena akan ikhlas." ia memejamkan matanya erat. Air matanya turun deras ketika kelopak matanya tertutup erat.
"Makasih atas semua yang Bapak lakuin untuk Elena, doa Elena akan selalu ada buat Bapak. Elena akan selalu doain Bapak dari sini. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, Bapak tungguin Elena disana ya." senyuman di bibir Elena kembali terbit. "Elena sayang sama Bapak. Elena sayang banget sama Bapak."
Cup!
Elena mencium kening Dimas lalu menjauhkan kepalanya dari Bapaknya.
Terlihat salah satu Dokter mulai menutup wajah Dimas dengan selimut yang menutupi tubuh Bapaknya.
"Hiks hiks."
Bryan memeluk Elena dari samping, salah satu tangannya mengelus puncuk kepala istrinya. Ini memang berat namun semuanya sudah menjadi takdir Tuhan.
Elena tau setiap manusia akan kembali pada sang pencipta, Elena tau pasti setiap manusia akan menemui ajalnya kelak. Hanya yang Elena tidak tau kapan kematian itu hadir di setiap orangnya.
Hanya Tuhan yang tau kapan kita kembali, kita hanya tinggal menunggu kapan ajal itu datang. Biar waktu dan takdir yang menjawab itu semua.
Selamat jalan Pak. Bapak akan selalu ada di hati Elena. Kenangan Bapak serta kasih sayang Bapak akan selalu Elena ingat. Makasih atas semua yang Bapak berikan untuk Elena. Maaf Elena belum membalas semuanya, belum bisa membahagiakan Bapak tapi Elena yakin sekarang Bapak sudah bahagia diatas sana. Tunggu Elena ya Pak, Bu. Tunggu Elena disana. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di dunia selanjutnya. Bapak adalah superhero yang terbaik di kehidupan Elena. I love you Pak, selamat jalan. Elena sayang Bapak.
TBC
__ADS_1
😭😭