Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB108: Aku mencintaimu [ End ]


__ADS_3

Pelan-pelan bacanya. Ending nih, di resapi ya ♡(ӦvӦ。)


-


-


Bryan dan Elena kembali berjalan-jalan menyusuri pantai. Langit nampak menunjukan pukul sore, yang artinya sebentar lagi akan malam.


Setelah pertemuan mereka dengan Mia dan suaminya tadi, dan mendengarkan penjelasan serta resep agar cepat hamil dari wanita itu. Bryan dan Elena memutuskan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Mereka tidak pulang ke hotel, melainkan Bryan menyuruh bawahannya untuk membawakan pakaian ke pantai ini. Ya, Bryan memang sebelumnya sudah menyewa satu villa dekat pantai ini untuk mereka beristirahat dan membersihkan diri setelah acara ini.


Namun karena Elena yang belum puas berkeliling pantai. Bryan akhirnya mengajak perempuan itu lagi untuk kembali berkeliling sembari melihat matahari yang akan terbenam.


Keduanya berjalan dengan tangan yang saling bertautan. Menikmati hawa dingin pantai disini.


"Kok sepi ya Dok?" Elena menatap sekitarannya. Sedari tadi dirinya tidak melihat orang lain disini selain bawahan Bryan, Mia dan suaminya tadi. Ia hanya heran, apa semua orang tidak ada yang ingin ke pantai ini? padahal pantai ini cukup bagus pemandangan nya.


Bryan menarik smrik nya. "Tapi bagus bukan? jika tidak ada orang disini artinya kau bebas melakukan apapun? dan tidak akan terganggu dengan yang lain?"


Mengangguk. "Iya juga sih." Elena melebarkan senyumannya. Benar juga. Ia jadi bebas melakukan apapun disini, bermain pasir atau bermain air tanpa terganggu oleh tatapan orang disini nantinya.


Bryan yang melihat wajah Elena hanya terkekeh. Jika kalian berpikir tidak mungkin pantai sepi dari orang-orang, kalian benar. Nyatanya memang Bryan membayar pantai ini, bisa di bilang sewa. Privat untuk dirinya dan juga Elena. Sebenarnya Bryan bisa saja membeli pantai ini sekalian. Tapi ia harus berpikir ulang, daripada membeli pantai mending Bryan membeli sekalian saja pulau? ah! benar. Ia akan membelikan pulau saja untuk Elena nanti.


Tapi tujuan awal Bryan menyewa pantai ini adalah untuk berduaan dengan Elena. Tanpa di ganggu oleh orang-orang lainnya.


Menikmati kebersamaan mereka.


Hanya berdua.


Elena mengubah wajahnya sendu. Menatap Bryan. Membuat Bryan menaikkan sebelah alisnya binggung.


"Sekali lagi makasih ya Dok. Saya gak pernah berpikir Dokter bakal ngelakuin ini buat saya. Menurut saya seharusnya Dokter gak usah bikin segala macem kayak gini. Kasian Dokter harus ngeluarin uang banyak cuman buat hal kayak gini." sudah mengajak dirinya liburan. Dan menyiapkan ini semua. Pasti Bryan mengeluarkan uang yang cukup banyak bukan? Sebenarnya Elena pun tidak keberatan kalo Bryan mengatakan saja perasaannya. Tanpa melakukan hal semacam ini. Yang pastinya akan mengocek dana cukup besar.


Bryan lagi-lagi terkekeh. Perempuan nya ini sedari tadi berterima kasih dan mengatakan hal itu. Apa Elena tidak tau dirinya siapa? melakukan hal ini bukan apa-apa menurut Bryan. Tidak akan membuat Bryan miskin seketika juga.


"Sudahlah. Kau tidak tau siapa aku? bahkan aku juga binggung mau dihabiskan untuk apa uang ku."


Setelah lelah berjalan, Elena dan Bryan lantas duduk. Di atas pasir tepi pantai. Menatap sunset yang kini tepat berada di hadapannya.


"Lagian juga seharusnya aku yang berterimakasih." Bryan menatap lurus. Melihat matahari yang mulai terbenam.


"Untuk apa?" heran Elena. Ia bahkan tidak mengeluarkan uang sedikit pun. Untuk apa Bryan berterimakasih?


"Terimakasih karena.." Bryan tersenyum. Menatap Elena. "Telah bertahan sejauh ini."


Elena mengalihkan pandangannya dari Bryan. menghindari tatapan pria itu. Yang membuat pipinya merona.


"Aku tidak menyangka, pertemuan di rumah sakit itu mampu membuat aku dan kau sampai pada titik ini." Bryan mengingat awal pertemuan dirinya dan juga Elena. "Bahkan pada saat itu saja kau tidak tau siapa namaku."


Menatap malu Bryan. "Sa-saya emang gak punya tv Dok. Apalagi ngikutin liat-liat berita di handphone. Mana ada waktu saya." alasan Elena, dirinya memang tidak mengikuti kehidupan dunia maya ataupun berita tentang orang-orang kalangan atas. Ia tidak peduli pada semacam itu, karena dirinya hanya sibuk mencari uang untuk almarhum Ayahnya dulu. Jadi dirinya tidak mengenal Bryan saat itu. Tapi ia sering mendengar tentang nama Dokter Bryan hanya saja Elena tidak tau bagaimana rupanya.


"Tapi karena itu juga aku jadi tertarik padamu." Bryan menaikkan sebelah alisnya. Membuat Elena dibuat salting.

__ADS_1


"Tapi saya gak tertarik tuh sama Dokter." kekeh Elena. Membuat Bryan mendengus. "Awal saya liat Dokter, gak ada kesan baik-baiknya Dokter di mata saya."


"Tapi aku yang membantu mu membayar rumah sakit untuk perawatan Ayahmu, heh. Jangan lupakan tentang kebaikanku itu."


"Tapi kan gantinya saya mau di nikahin Dokter."


"Jadi kau menyesal karena ku nikahi gitu?!"


Elena melebarkan matanya. Kenapa Bryan jadi marah-marah padanya? tapi kan memang semua itu fakta.


"Apa jangan-jangan kau memang masih mencintai pria itu? Wilson?" tak suka Bryan.


Menggeleng kan kepalanya keras. "Dulu saya emang suka sama Pak Wilson. Tapi pas denger ternyata Pak Wilson duda. Saya rasa seharusnya saya gak punya perasaan itu sama dia." balas Elena. Dengan raut wajah sedih. Dirinya hanya tidak sanggup menjadi seorang Mamah tiri di usia muda. Apalagi juga bisa saja bukan mantan istri dari Pak Wilson meminta rujuk? semua bisa terjadi. Jadi sebaiknya memang Elena tidak menyimpan perasaan pada Wilson. Agar tidak makan hati.


"Baguslah kalo begitu."


Mendengar jawaban dari Bryan membuat Elena memanjukan bibirnya kesal.


"Jangan dimaju-majukan seperti itu. Kau minta ku cium?" Bryan menatap gemas Elena.


Lagi-lagi Elena membulatkan matanya. Menutup bibirnya rapat. Kenapa Bryan jadi vulgar seperti ini?!


Jelas perilaku Elena itu membuat Bryan seketika terkekeh. "Percuma di tutupi. Aku sudah sering merasakannya." goda Bryan. Membuat Elena berdecak sebal. Lalu menurunkan tangannya.


"Saya gak nyangka juga bisa nikah di usia muda." lanjut Elena.


Bryan melipat dahinya. "Memangnya umur mu berapa?"


Tersentak kaget. Bryan menatap Elena tak percaya. Ya, memang dirinya sudah melihat keseluruhan profil Elena. Namun ia tidak terlalu fokus pada umur Elena ataupun tahun kelahirannya. Atau mungkin ia tidak mengingatnya? sial. Dirinya berumur dua puluh tujuh tahun sekarang. Apa dirinya tidak seperti om-om bagi Elena?


"Dok?" Elena menatap Bryan binggung. Sedari tadi pria ini hanya diam. Setelah ia berucap tadi.


"Hm." Bryan berdalih. "Sudah ku bilang jangan memanggilku Dokter. Aku bukan Dokter mu. Lagian kita sedang disini, bukan di rumah sakit." amarahnya. Heran. Elena selalu memanggil nya Dokter terus menerus. Membuatnya kesal.


Mengigit bibir bawahnya. "Saya udah nyaman panggil itu Dok. Maaf." Tak enak Elena. Dirinya sudah nyaman memanggil Bryan dengan sebutan Dokter. Namun ia tetap berusaha untuk memanggil Bryan dengan sebutan lain. Namun ia binggung. Harus ia panggil apa pria ini?


"Ayo panggil aku dengan sebutan lain. Kau tidak ingin gitu menyebut ku seperti Mia pada suaminya itu?" usul Bryan. Menaikkan kedua alisnya. Menunggu jawaban dari Elena.


Elena menggeleng pelan. Masa iya dirinya memanggil Bryan dengan Babe? Tidak ada yang salah sih. Cuman Elena sedikit malu untuk menjadikan nama panggilan itu untuk Bryan. Terkesan seperti apa gitu.


"Kalo saya panggil Dokter, Kakak aja gimana?" tawar Elena. Membuat raut wajah Bryan kembali datar.


"Aku ini suami mu. Bukan Kakak mu." Bryan menggeleng kan kepalanya. Malas.


Berfikir. Elena jadi binggung sendiri sekarang. "Em, kalo Om?"


Bryan mengumpat. Hey?! dari sekian banyaknya panggilan sayang, kenapa Elena malah memilih memanggilnya dengan sebutan Om? apa emang dirinya setua itu? "Ck! sesuka hati mu saja lah."


Elena sontak tertawa. Melihat ekspresi Bryan yang marah. Tapi memang benar kan ya? umur Bryan lebih tua darinya? tidak salah dong dia menyebutnya Om.


Mendengar Elena yang tertawa membuat Bryan mengubah wajahnya, tersenyum. Entah kenapa melihat wajah bahagia dari Elena membuatnya ikut senang. Merasakan kebahagiaan dari sosok istrinya ini.


"Aku mencintaimu." ucap Bryan lagi. Tak bosan mengatakan cinta pada istrinya ini.

__ADS_1


Setelahnya pandangan Bryan kembali pada arah hadapannya. Menatap matahari yang tinggal setengah. Di ujung pantai. Menikmati senja di sore ini.


Elena tersenyum diam. Masih menatap Bryan. "Aku juga cinta sama Mas nya."


Terdiam sesaat. Bryan segera menatap Elena. Ketika mendengar ucapan itu yang tiba-tiba masuk ke dalam telinganya. "Apa katamu?" Padahal Bryan sangat jelas mendengar nya. Hanya saja ia takut salah dengar.


Elena tersenyum malu. "Saya juga cinta sama Pak Dokter."


Cup!


Elena segera bangkit dari duduknya. Dan berlari menjauhi Bryan.


Bryan yang melihat itu masih terdiam. Menormalkan jantungnya yang berdetak tak karuan. Elena mencium bibirnya secara cepat. Dengan berbicara itu pula padanya. Membuat jantungnya seakan melompat dari tempatnya.


Memegang bibirnya perlahan. Bryan menatap Elena yang mulai menjauh. Dengan tersenyum, Bryan segera ikut bangkit. Dan berlari mengejar Elena.


"Hey! awas saja jika aku menangkapmu!"


"ihh Dokter mau ngapain?!"


"Kau lupa? Mia sudah membagi resepnya agar kau cepat hamil. Kita perlu mempraktekkan untuk membuktikannya, sayang."


"MESUM!!"


"Bagaimana jika aku membuatmu tidak bisa berjalan malam ini?!"


"Boleh. Coba aja kalo bisa!"


"Kau menantangku ya?! siap-siap saja nanti!"


Sore ini. Di hadapan matahari terbenam. Menjadi saksi atas kebahagian mereka berdua. Kelihatan di antara keduanya tertawa bahagia. Berlari kecil sembari menatap satu sama lain dengan penuh cinta. Hanya ada mereka dan alam. Biarkan mereka mengukir cinta ini disini. Biarkan semuanya berjalan dengan mulus. Mungkin ini baru awal dari kisah perjalanan cinta mereka, akan banyak kisah yang muncul setelah ini. Namun dengan kekuatan cinta mereka, mereka yakin akan tetap bersama. Hingga kini dan selamanya~



...SELESAI....


Sumpah demi apa gak rela sebenernya pisah sama mereka😭😭 tapi emang dari awal aku udah mikir end nya cuman bakal sampai mereka ngutarain perasaan mereka ༎ຶ‿༎ຶ


Gimana? sama ending nya? puas gak?


Semoga puas ya. Kalo enggak, puas-puasin aja deh😭


BTW makasih banyak buat kalian yang udah dukung cerita ini! sebenernya bakal panjang nih ucapan terimakasih nya cuman gak mau panjang² takut kalian males bacanya wkwk. Intinya makasih yang udh like, vote dan komen di setiap part-nya. Dukungan kalian, suport bangt buat aku💓-!!!


Belum bisa bales setiap komentar kalian juga. Cuman aku selalu pantengin apa yang kalian komentarin kok. Makasih sekali lagi ya, luvyou!!😭💓


Udah segini aja deh, btw buat kalian yang nanya bakal ada S2 nya? aku jawab Enggak. Tapi buat Spin off? bakal ada. Insyaallah, aku bakal nulis satu tokoh dari cerita ini. Mau tau siapa? RAHASIA wkwk. Tapi itu pun gak tau up nya kapan :)


Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya ya!!!!


Bye bye ♡(> ਊ <)♡


Etss. Tapi tunggu. Mau ada Ekstra part nya gak? kalo mau komen di bawah y >3

__ADS_1


__ADS_2