
Aku kembali lagi nih, ada yang nungguin up cerita ini? moga-moga gak pada lupa ya sama ceritanya karna kelamaan up><
HAPPY READING GUYSđź’•
Chaca menjalankan kakinya menuruni tangga dengan wajah lusuh. Hari masih terbilang pagi, namun gadis itu sudah menekukkan wajahnya kusam. Entah apa yang dipikirkannya sehingga menekukkan wajahnya seperti itu.
"Cha?"
Mendengar namanya dipanggil membuat Chaca memalingkan wajahnya.
"Apa?" ucap Chaca menatap orang yang berbicara tadi.
"Muka Lo kusut amat, kenapa? Lo gak naik kelas?"
"Sembarang!" Chaca memukul pundak Aiden dengan keras, sehingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Ck! parah Lo! sakit tau!" Aiden mengelus-ngelus pundaknya yang terkena pukulan Chaca. Ia menghampiri adiknya ini karna melihat wajahnya kusut, seperti sedang kesal. Aiden hanya kepo ada apa dengan adiknya itu.
Sebelum Chaca menjawab, tiba-tiba dari atas tangga terdengar suara ketukan sepatu pertanda ada seseorang yang akan turun.
Chaca dan Aiden sontak melihat keatas. Posisi mereka sekarang berada di depan tangga bawah sehingga mereka harus menatap atas agar bisa melihat siapa yang akan turun.
Disana terlihat ada kedua orang yang turun dengan santai. Aiden dan Chaca pun cepat-cepat menunduk kembali dan menatap satu sama lain.
"Lo ada yang aneh gak sih?" tanya Chaca.
Aiden menaikkan kedua bahunya. "Gak tuh. Emangnya kenapa?" tanyanya.
Chaca kembali menatap atasnya. Sepertinya ia merasakan ada perubahan di wajah Bryan, tapi ia tidak tau apa yang berubah.
Sampai pada kedua orang itu turun dan berdiri tepat dihadapan mereka. Chaca dan Aiden hanya diam mematung.
"Kalian ngapain disini?" datar Bryan dengan menatap kedua adiknya.
Chaca segera memindahkan tubuhnya dan berdiri disebelah Aiden. "Gak ngapa-ngapain kok." ia tersenyum menatap Bryan lalu berpindah menatap Elena. Ia memutarkan bola matanya malas setelah menatap Kakak iparnya itu.
Elena yang berdiri di sisi Bryan hanya diam, namun ia tetap mengulas senyum hangatnya pada adik iparnya itu. Ia melihat keduanya memakai seragam SMA yang sama, mungkin mereka akan berangkat sekolah hari ini.
Chaca menunduk memalingkan tatapannya pada tangan Bryan. Nampak kakaknya itu memegang erat gadis disebelahnya yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri. Dengan cepat Chaca menyenggol-kan tangannya menyentuh lengan Aiden.
Aiden yang merasa dipanggil pun segera menatap Chaca dengan alis terangkat. Ia menatap adiknya dengan pandangan bertanya.
Chaca mengarahkan dagunya kedepan, seperti mengode. Seakan mengerti Aiden segera menatap Kodean dari Chaca. Tatapannya jatuh pada tangan Bryan yang menggandeng erat tangan Elena.
__ADS_1
Elena dengan cepat mengikuti arah pandang Chaca dan Aiden. Ia lupa jika tadi Bryan mengajaknya turun dengan tangan yang menggandengnya erat. Segera ia pun menggoyangkan tangannya untuk melepaskan tangan Bryan darinya, namun sayangnya genggaman Bryan tak kunjung lepas.
"Dok," Bisik Elena dengan tubuh mendekat ke Bryan. "Bi-bisaa lepasin tangannya gak? gak enak diliatnya."
Bukannya dilepaskan Bryan malah semakin mengeratkan tangannya. Membuat Elena sedikit meringis, sudah dipastikan pasti tangannya akan memerah karna ulah Bryan.
Bryan melirik sekilas Elena dengan pandangan yang masih datar, lalu ia menurunkan pandangannya menatap tangan mereka. Setelahnya Bryan kembali menatap kedua adiknya itu. Mereka nampak menatap Elena, membuatnya juga ikut binggung, ada apa dengan mereka?
"Jangan menatap gadisku seperti itu. Kalian membuatnya tidak nyaman," setelah mengatakan itu Bryan menarik tangan Elena pelan dan berjalan menuju ruang makan.
Elena mau tak mau mengikuti langkah pria itu. Dirinya merasa aneh dengan tingkah Bryan hari ini. Aneh saja, tidak seperti biasanya.
Aiden dan Chaca menganga dengan wajah tak percaya.
"Lo ngerasa hawanya beda gak sih Kak?" tanya Chaca, masih menatap kepergian kedua kakaknya itu.
Aiden mengangguk. "Gue liat di google hari ini bakalan cerah, gak mendung. Hawanya juga berubah dari biasanya. Lebih sedikit panas sih."
Chaca segera menatap pria disampingnya. Wajahnya menatap amarah Aiden. Merasa ditatapi Aiden pun menatap Chaca, alhasil keduanya saling menatap satu sama lain.
"Tadi ketekuk, sekarang merah. Muka Lo lagi ngalamin siklus alam ya Cha? perasaan berubah-rubah mulu." sahut Aiden. Wajah gadis didepannya ini sekarang berubah menjadi kemerahan.
Dengan mengepalkan tangannya, Chaca mengabaikan ucapan Aiden dan memilih jalan mengikuti kakak pertamanya itu. Ia kesal karna Aiden tidak mengerti ucapannya, malah mengatai mukanya sedang mengalami siklus alam. Memangnya mukanya sejenis begituan?
____
"Eh Pasutri udah Dateng."
Elena segera menatap kearah depannya. Ternyata mereka sudah sampai di ruang makan. Ia segera mengulas senyumnya ketika melihat Meldi-mertuanya yang sekarang sedang menatapnya dan juga Bryan.
Meldi tersenyum. Ia menatap kedua pasangan suami istri itu dengan lembut. "Sarapan dulu yuk, Mamah udah siapin makanannya." sahut Meldi dengan menatap makanan di meja serta piring yang dipegangnya.
"Sudah ku bilang kau jangan melakukan apapun di dapur, biar Maid yang menyiapkannya."
Suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang Bryan dan Elena. Dengan cepat Elena menatap belakangnya.
Abraham berjalan masuk kedalam ruang makan, seketika aura disini mulai berubah. Pria itu nampak melangkahkan kakinya mendekat kearah istrinya.
"Aku hanya melakukan statusku. Aku ini Ibu rumah tangga, punya hak juga untuk menyiapkan segala urusan rumah tangga disini. Gak salah kan Mas?" jawab Meldi. Sebenarnya suaminya itu sering sekali menyuruhnya untuk tidak melakukan apapun, namun ia bosan saja jika tidak melakukan apapun dirumah ini. Alhasil ia selalu membantu para Maid menyiapkan sarapan ataupun lainnya.
Abraham menghela nafasnya pelan. "Tapi aku tidak mau kau kelelahan sayang." lanjut Abraham dengan sedikit melirik Bryan yang berdiri disana. Diam-diam smrik-nya muncul, menatap anak pertamanya.
Bryan hanya menatap malas Papahnya. Sepertinya pria itu mulai beraksi.
__ADS_1
Elena menggigit bibir bawahnya ketika merasakan Bryan mengeratkan tautan di tangannya. Sekaligus dirinya merasa tak enak pada Meldi, dirinya juga adalah seorang istri yang seharusnya mengurus rumah tangga juga? kenapa dirinya malah tidak membantu sama sekali disini? Elena jadi merasa bersalah.
Bryan segera berjalan mendekat menuju meja makan. Sampai disisi kursi, ia segera melepaskan tangannya dari tangan Elena. Ia mengode Elena agar duduk dan langsung dijawab anggukkan oleh gadisnya.
Elena langsung duduk disalah satu kursi meja makan, Bryan pun sama. Pria itu nampak duduk disamping Elena.
Meldi dan Abraham pun segera ikut duduk juga. Abraham duduk tepat di hadapan Bryan, sedangkan Meldi didepan Elena.
"Iya iya." jawab Meldi seraya memajukan bibirnya kesal. Abraham selalu saja mengatakan dirinya akan cape-lah jika melakukan ini, membantu para Maid, padahal dirinya yang merasakan dan bukan Abraham.
Elena melirik Bryan sekilas. Bryan yang merasakan ditatap-pun ikut menatap Elena.
"Kenapa?" tanya Bryan.
Melihat tatapan Bryan membuat Elena sedikit merasa gugup. Ia jadi lupa mau mengucapkan apa tadi.
"Ti-tidak jadi," Elena kembali menatap makanan didepannya. Mengalihkan tatapannya dari mata Bryan.
Tak lama kedua orang berseragam SMA masuk dengan santainya.
Chaca masuk dengan wajah yang masih kusam. Meldi yang melihat wajah kusut dari anak gadisnya itu langsung bertanya.
"Kamu kenapa sayang?"
Chaca segera menarik kursi disamping Meldi. "Kak Aidennya tuh ngajak ribut terus."
Aiden yang merasa disalahkan langsung membela diri.
"Enak aja Lo, malah nyalahin gue! gue salah apa sih Cha? perasaan gue gak ngapa-ngapain." bela Aiden.
"Udah!" tegas Abraham. "Kalian cepat duduk." lanjutnya menatap kedua anaknya itu tajam.
Chaca dan Aiden segera duduk setelah mendapat titahan dari Papahnya. Jika sudah menyangkut sang Papah, mereka tidak berani lagi bertindak.
Bryan hanya acuh. Kedua adiknya memang sering bertengkar. Tiba-tiba di otaknya muncul sesuatu, mungkin setelah memperbaiki hubungannya dengan Elena, ia akan mewujudkan sesuatu itu.
Elena menatap makanan di hadapannya. Sepertinya makanan itu terlihat enak-enak. Dirinya pun segera menatap Bryan.
"Dokter mau makan apa?" tanya Elena dengan senyum yang masih tercetak diwajahnya.
Chaca melirik sekilas Elena. "Keliatannya tadi mesra banget pas turun tangga, eh tapi panggilannya masih Dokter aja. Padahal kalian suami istri loh tapi kok masih nyebutnya formal."
__ADS_1
Elena segera menatap Chaca. Bryan pun ikut menatap adiknya itu.
"Papah sama Mamah aja panggilannya sayang-sayangan, karna mereka saling mencintai," Chaca segera memegang garpu ditangannya lalu mengetuk-ngetukkannya diatas piring. "Chaca jadi curiga, kalian itu emang nikah karna cinta atau ada maksud dibalik itu?"