Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
Ekstra part 2


__ADS_3

Dah lama ga up, pada nunggu ga nih? 😂😂


Happy reading!


Elena mengusap bibirnya. Menatap Chaca terkejut. Hamil?


"Gak mungkin lah Cha." balas Elena dengan nada tak yakin. Antara percaya dan tidak. Dirinya pun belum memeriksa, apalagi Elena merasa jika memang dirinya belum mendapatkan tamu bulanan bulan ini. Apa benar dirinya hamil?


"Ga ada yang ga mungkin di dunia ini Kak." Bahagia Chaca. Wajahnya nampak sembringah. "Mamah harus tau soal ini!" lanjutnya dengan bangkit dari duduk. Namun saat hendak berjalan, Chaca merasakan tangannya di cekal oleh Elena. Ia lantas menatap Kakak iparnya dengan tanya.


"Jangan dulu Cha." tutur Elena. Mencegah Chaca mengucapkan soal ini pada mertuanya. "Takutnya aku gak beneran hamil. Kasian Mamah." dirinya masih ingat soal kejadian beberapa bulan lalu. Mamah nya sudah senang jika dirinya mengeluarkan tanda-tanda seperti orang hamil, tapi nyatanya? hanya asam lambungnya yang naik. Elena tidak mau mertuanya kembali kecewa.


Chaca kembali duduk di samping Elena. "Yaudah, Kakak ipar cek aja dulu." masih dengan tersenyum. "Chaca anter ya? kita ke rumah sakit Kak Bryan." usulnya.


Menggeleng keras. "Jangan!" Elena menggigit bibir bawahnya. "Gausah, nanti aku periksa sendiri aja."


"Kakak ipar gak mau aku temenin?" sendu Chaca, menatap Elena sedih.


"Bukan-bukan gitu." Elena jadi binggung sekarang. Bukannya ia tidak ingin Chaca mengantarkannya, tapi hanya saja dirinya perlu memastikan ini sendiri dulu. Lagipula jika akan memeriksa kandungan nanti, dirinya tidak mungkin ke rumah sakit tempat keberadaan Bryan. Ia belum mau memberitahu pria ini. Takutnya memang dirinya tidak benar-benar hamil! bisa malu sendiri nanti jika ia pergi ke Dokter kandungan dan disaat itu ada Bryan lewat.


"Terus?" Chaca menaikkan sebelah alis.


"Em, aku pastiin ini sendiri dulu ya Cha. Lagipula aku gak mau ngerepotin kamu. Aku bisa berangkat sendiri." Akhirnya Elena mendapatkan alasan itu untuk Chaca. "Kamu juga jangan dulu kasih tau siapa-siapa soal ini, ya?" mohon Elena.


Menghembuskan nafas kasar. "Yaudah iya! Chaca gak bakal bilangin ini, tapi Chaca bakal kodein kalo bentar lagi keluarga ini ketambahan anggota baru!" senang Chaca. "Chaca yakin ko kalo Kakak ipar beneran hamil. Kan kemarin Kakak ipar udah bulan madu tuh, lama lagi. Gak mungkin dong kalo pulang gak bawa apa-apa." lanjutnya yang membuat Elena menggeleng kan kepalanya. Apa Chaca seyakin itu jika dirinya beneran hamil?


...---...


Berjalan melangkah dengan santai. Elena keluar dari rumah dengan tas selempang di punggung kanan nya.


Setelah bersiap, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit hari ini. Tentunya untuk mengecek kondisi dirinya.


"Pak." Elena menatap salah satu supir. "Bisa tolong anter aku?"


"Mau kemana Nona?" balasnya.


Terdiam. Elena lantas tersenyum. "Nanti aku tunjukin."


Supir itu pun mengangguk dan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Membukakan pintu untuk Elena, setelah nona nya masuk, ia ikut masuk ke dalam mobil bagian pengemudi.


"Kita berangkat Nona?" supir bertag-Jajang itu menatap Elena dari dalam spion mobil.


Mengangguk dan mengambil ponsel dari dalam tasnya. "Iya Pak, jalan aja dulu nanti aku arahin." ucap Elena. Menatap dan mulai memainkan ponselnya, di kursi belakang mobil.


Mobil pun mulai berjalan keluar dari halaman rumah. Elena masih asik menatap layar ponselnya. Ada artikel gosip yang sedang panas hari ini. Membuatnya tidak ingin ketinggalan.


Baru saja akan berkomentar, tiba-tiba layar ponsel di handphone Elena berubah. Menjadi sebuah panggilan dari seseorang. Melihat dari nama panggilannya, membuat Elena dilanda keheranan. Ngapain suaminya menelponnya?


Ya, yang menelpon adalah Bryan. Padahal baru saja mereka berpisah tadi tapi pria ini sudah menelpon nya.


"Duh angkat ga ya?" Elena binggung harus mengangkatnya atau tidak. Masalahnya ia sedang berada di mobil. Jika ia mengatakan ia akan kemana pasti Bryan akan bertanya untuk apa dan menyusulnya. Tapi itu tidak boleh terjadi. Elena masih harus memastikan sendiri dirinya benar hamil atau tidak. Gawat jika ia jujur pada Bryan.


"Jangan angkat deh." Elena segera mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas selempang yang ia pakai. Tidak peduli jika Bryan marah nanti. Intinya ia jangan sampai membicarakan tentang hal ini dulu pada Bryan ataupun keluarga nya. Semoga saja Chaca tidak benar-benar akan mengatakan jika keluarga mereka akan mendapatkan anggota baru.


Dirinya bisa saja nanti beralasan pada Bryan jika ponselnya habis batre atau tidak mendengar ada suara telpon dari ponselnya. Ya, soal itu gampang. Sekarang yang harus menjadi pikirannya apa dirinya benar hamil?


Menyentuh perut ratanya. Ukiran senyum di wajah Elena mengembang. Jika benar ia hamil, dirinya akan sangat senang. Semoga saja yang di katakan Chaca memang benar jika ia hamil.


Semoga saja.


...---...

__ADS_1


Setelah mendapatkan arahan dari Elena. Akhirnya mobil berhenti di sebuah lobi rumah sakit.


Mematikan mesin. Sopir bername tag Putra itu menatap Elena binggung, dari spion mobil. "Sudah sampai Nona. Tapi maaf, apa Nona sakit?"


Elena mendadak diam. Ia lupa, jika ia meminta antar ke rumah sakit, tidak ada kemungkinan jika nanti supir ini mengatakan pada Bryan jika ia tadi meminta antar ke rumah sakit? duh. Ia tidak kepikiran lagi.


"Em anu-" Elena mencoba mencari alasan. "Itu- enggak kok. Aku cuman mau periksa biasa hehe. Em, Bapak jangan bilang siapa-siapa ya sama orang rumah kalo aku minta antar kesini." mendengar itu membuat pak supir terdiam. "Saya mohon ya Pak. Saya cuman gak mau buat mereka khawatir."


Tak lama supir itu akhirnya mengangguk. "Baik Nona."


"Yaudah kalo gitu aku turun dulu. Bapak pulang aja, nanti aku bisa pulang pake taksi."


"Tidak apa-apa Nona. Saya menunggu saja disini sampai Nona selesai."


Menggeleng. "Gapapa Pak. Bapak pulang duluan aja, takut lama juga."


"Tidak apa-apa Nona. Saya menunggu saja."


"Gapapa Pak, Bapak pulang aja." Elena tetap kekeuh menyuruh supir itu pulang. Bukan apa-apa, ia hanya tidak mau membuatnya menunggu, sekaligus ia takut jika orang rumah tau, ia pergi hari ini.


"Yasudah. Baik Nona." karena ucapan yang di lontarkan atasannya bersifat perintah, akhirnya supir itu mengangguk pasrah. Walau sebenarnya ia tidak mau meninggalkan Nona mudanya sendirian disini. Apalagi tempat ini cukup jauh dari rumah. "Nona jaga diri baik-baik. Hati-hati."


"He'em." Elena tersenyum. "Aku duluan ya Pak."


"Iya Nona."


Elena membuka pintu mobil lalu keluar. Menutupnya dan segera berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Semoga saja antrian tidak panjang, sehingga ia bisa dengan cepat mengetahui nya.


Ya Tuhan.. kenapa aku jadi gugup?


Elena melangkah sembari tersenyum. Entah kenapa ia jadi gugup sendiri. Ia terlalu bahagia mendengar ucapan Chaca. Tapi ia tidak ingin terlalu bahagia dulu, takutnya hanya asam lambungnya yang naik. Ya, jangan terlalu bahagia dulu, takutnya apa yang ia pikirkan, bukan apa yang ia alami saat ini. Huh. Ia harus memastikan terlebih dahulu!


...---...


Setelah mendaftar dan mendapatkan nomor antrian. Elena duduk di kursi tunggu, menunggu nomor nya dipanggil. Ia akan periksa asam lambungnya terlebih dahulu. Takutnya memang selama ini sakit perut serta mual nya berasal dari asam lambung. Jika ia langsung ke dokter kandungan, ia hanya takut sampai sana malah di tertawakan karena hanya asam lambung nya yang naik, dan bukan tanda kehamilan. Bisa-bisa Elena malu.


Sembari menunggu, Elena memainkan ponselnya. Mengusir rasa bosan. Tidak ada notif yang masuk. Hanya panggilan tak terjawab satu kali dari Bryan. Yang menelpon tadi di mobil. Selebihnya tidak ada.


Nomor..


Tak menunggu lama. Akhirnya Elena terpanggil. Ia segera bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ruangan dokter disana.


Ceklek


"Permisi." Elena masuk ke dalam tak lupa menutup pintunya kembali.


Ia lalu duduk di hadapan dokter tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya perempuan cantik ber-jas putih, ber-tag Mira.


Elena tersenyum. "Akhir-akhir ini saya suka sakit perut sama mual Dok.. saya takut asam lambung saya naik lagi."


Dokter perempuan itu ikut tersenyum lalu mengangguk. "Baik, mari saya periksa dulu."


Elena mengangguk. Ia menaruh tas nya di kursi lalu bangkit diikuti dokter tersebut.


Elena berjalan menuju brankar rumah sakit yang sudah di sediakan disana. Ia membaringkan tubuhnya. Membiarkan dokter itu memeriksanya.


Pertama-tama dokter itu memeriksa kondisi perut Elena dengan mengetuk-ngetuk pelan daerah perut, memeriksa kekembungannya. Setelah nya, dokter itu menunjukkan ekspresi berubah, dirasa ada yang janggal, ia segera memakai stetoskop nya, menaruh nya pada perut Elena. Untuk memastikan.


Beberapa menit kemudian, pemeriksaan pun selesai. Elena bangkit dari tidurnya dan kembali duduk di kursi tadi.

__ADS_1


"Bagaimana Dok? asam lambung saya?" tanya Elena. Ketika melihat dokter tadi berjalan menuju kearahnya, duduk lagi di depannya.


Tersenyum. Dokter itu menaruh stetoskopnya di meja lalu membuka laci, mengambil sebuah benda dari sana.


"Saya rasa mbak memerlukan ini.." ia memberikan benda yang tadi diambilnya dari dalam laci. Memberikannya pada Elena. Menaruh di meja hadapan Elena.


Melirik tak paham. "Maksudnya? apa itu?" tanya Elena. "Apa asam lambungnya parah sampai harus di masukin itu ya Dok?"


Terkekeh pelan. "Bukan Mbak, setelah saya memeriksa tadi, asam lambung Mbak baik-baik saja. Hanya saja sepertinya Mbak salah dokter."


"Hah?" sungguh, Elena tidak paham maksud dokter ini.


"Mbak bisa memeriksakan lebih lanjut kondisi Mbak ke dokter kandungan."


Mengambil benda tersebut lalu menatapnya. "Jadi?"


Dokter itu tersenyum. "Selamat ya Mbak. Untuk lebih lanjutnya Mbak bisa langsung menanyakan nya pada dokter kandungan. Tapi jika Mbak ingin memastikannya sendiri terlebih dahulu, Mbak bisa memakai test pack tersebut."


Menutup bibirnya tak percaya. "Sa-saya hamil Dok?" tak menyangka Elena.


"Saya rasa begitu. Sekali lagi selamat ya Mbak."


Elena tersenyum bahagia. Menatap dokter tersebut lalu menatap alat tes kehamilan ini. Sungguh, apa ini semua mimpi?


"Saya gak percaya Dok." Elena masih memasang wajah tak percaya nya. Ini beneran?


Dokter itu langsung terkekeh pelan. Ia tau, pasti perempuan di depannya masih tak percaya. "Jika Mbak masih ragu, Mbak bisa memeriksanya langsung pakai alat tersebut."


Mengangguk. Elena lantas berdiri, masih dengan mengulas senyum. "Yaudah kalo begitu saya permisi ya Dok. Terimakasih."


Dokter itu ikut bangkit. Dan mengangguk. "Sama-sama Mbak.


...---...


Berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan senyum tak percaya. Elena mengelus perut ratanya, masih memegang alat tes kehamilan yang di berikan dokter tadi.


Sekarang dirinya akan mencari kamar mandi. Dirinya akan memastikan semua ini sendiri terlebih dahulu. Ia merasa jantungnya berpacu dengan cepat sekarang, tak sabar melihat apa yang selama ini ada di pikirannya terjadi. Sungguh, Elena masih tak menyangka. Di perutnya ada nyawa. Di tubuhnya ada kehidupan lain.


"Ya Tuhan.." Elena menghentikan langkahnya lalu memejamkan mata sebentar. Ia tersenyum, tak sabar melihat hasilnya nanti. "Bismillah." kembali melangkah, namun belum sampai pada tujuannya, tiba-tiba terdengar suara yang membuat tubuh Elena seketika diam mematung.


"Ekhem."


Deg.


Menjatuhkan benda yang tadi ia pegang. Elena membulatkan matanya. Tersentak kaget ketika mendengar dekheman yang muncul dari arah belakang. Suara yang sangat ia kenal.


"Kenapa kau ada disini?"


Elena menganga. Ya! ia kenal suara ini. Suara...


Dengan panik Elena menatap test pack yang sudah terjatuh ke atas lantai. Ia segera menendang benda tersebut. Jauh, menendang jauh dari tempatnya.


Setelah itu ia segera berbalik. Menatap siapa yang berbicara tadi. Sesosok pria datang menghampiri nya dengan raut wajah tak tertebak.


"Mas?"


Kok bisa dia ada disini?!


...---...


Sebenernya rada lupa sama alur nya, kelamaan ga nulis kali ya, maaf buat kalian nunggu, entahlah masih ada yang nunggu cerita ini atau enggak wkwk. Intinya mff baru bisa nulis lagi, setelah memutuskan untuk Hiatus kemarin. Tapi Alhamdulillah sekarang i'm back, asik.

__ADS_1


Dah lah, yo, masih tinggal beberapa part lagi, aku pastiin secepatnya bakal di end-in dalam waktu dekat, jangan lupa dukungannya!(~ ̄³ ̄)~


__ADS_2