Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB93: Kunjungan Elena


__ADS_3

"Na? kok ngelamun."


"Eh-" Elena membuyarkan lamunannya, dan menatap asal suara itu. "Gak kok Mah, Elena gak ngelamun." balasnya.


Meldi. Perempuan berumur itu menatap lembut Elena. "Mamah tau kamu ngelamun tadi. Kamu gausah mikirin yang lalu. Kakak kamu harus nerima apa yang udah ia perbuat. Soal orang tua kamu juga. Ikhlaskan mereka. Pasti mereka udah bahagia di atas sana. Oke? kamu tenang aja. Ada Mamah, Papah sama suami kamu yang jadi keluarga kedua untuk kamu. Jangan sering ngelamun sama diem terus. Kasian suami kamu." Meldi mencoba untuk menasehati Elena. Agar tidak larut dalam kesedihan.


"Iya Mah." balas Elena. Tersenyum paksa.


Keduanya sekarang berada di dapur. Meldi mengajak Elena untuk memasak bersamanya. Kasian jika menantunya itu hanya berdiam di dalam kamar seorang diri. Akhirnya ia berinisiatif untuk mengajaknya memasak hari ini.


Meldi nampak sibuk dengan sebuah bahan-bahan dan adonan di depannya. Lain dengan Elena di sebelahnya yang sibuk memotong-motongkan bahan, yang disuruh langsung oleh Meldi. Keduanya sudah berbagi tugasnya masing-masing sebelum memulai masak hari ini. Tentunya dengan bantuan beberapa Maid juga di dapur.


"Oh iya. Gimana sama kondisi tubuh kamu?" tanya Meldi.


Dahi Elena mengerut. "Kondisi tubuh Elena baik-baik aja kok Mah. Elena gak sakit juga." heran. Kenapa Meldi menanyakan kondisi tubuhnya? kan dirinya tidak sedang sakit apapun.


"Hm, gak mual-mual atau ngerasa pusing gitu Na?"


Elena menggeleng. "Gak Mah. Kenapa?"


"Oh gapapa sih." Meldi terkekeh. Namun hatinya malah sedih. Karena tak kunjung dapat kabar bahagia dari menantu pertamanya ini.


Drtttt...Drttt


Ponsel Meldi tiba-tiba berdering. Membuat pergerakan wanita dewasa itu terhenti. Dengan cepat, Meldi mengambil ponselnya yang ia taruh di meja lalu menatap siapa yang menelpon.


"Na, Mamah angkat telpon dulu ya. Kamu lanjutin aja."


Elena mengangguk.


Meldi dengan cepat berlarian keluar dari dapur dan berdiri di depan tangga. Lalu tak lama ia mengangkat telpon tersebut.


"Kenapa Mas?"


Ya, yang menelpon adalah Abraham yang ia tau sedang ada di rumah sakit karena ada sesuatu dengan keadaan disana.


"Oke Mas." setelah mendengar perbincangan panjang lebar dari suaminya, Meldi langsung menutup ponselnya dan melangkah kembali menuju dapur.


"Na." Meldi menghampiri Elena.


"Iyah?"


"Udah kamu gak usah lanjutin lagi motong-motongnya. Biar Bibi aja yang lanjutin pekerjaan kamu."


Elena menatap binggung mertuanya. "Kenapa Mah? Elena motongnya kegedean ya?"


Meldi menggeleng. "Bukan. Sekarang Mamah ada tugas baru buat kamu."


"Apa?"


Meldi tersenyum lalu mengambil sebuah tas kain berwarna hijau yang berisikan kotak bekal makanan di dalamnya. "Tolong kamu anterin makanan ini ke suami kamu, ke rumah sakit."


Menerima kantung tas itu. Elena mengangguk. "Dokter Bryan tumben mau makanan siang dari rumah?" tanyanya.


"Iya. Gatau tuh, mungkin makanan dirumah lebih enak daripada di sana. Yaudah sana, kamu ganti baju terus berangkat. Entar ada supir yang nganter kamu."


Elena lagi-lagi mengangguk. "Yaudah, Elena ke atas dulu ya Mah." setelah itu pun Elena berlalu dari hadapan Meldi dan berjalan keluar dari dapur.


"Iya Dandan yang cantik ya Na!" Meldi tersenyum senang. Ia menatap kepergian menantunya itu, penuh maksud.


...----...


Bryan menatap Abraham tak terima. Enak saja dirinya di panggil pengecut.


"Sudah-sudah. Nih lebih baik kau minum, untuk menetralkan tubuhmu agar kau tidak lagi emosi." Abraham memberikan sebuah botol minum pada Bryan.

__ADS_1


Bryan menatap minuman itu tanpa minat. "Tidak mau. Aku tidak haus. Untuk Papah saja."


"Ck! sudah minum saja! jangan membantah!" Abraham memberikan botol itu secara paksa.


Bryan hanya menghembuskan nafasnya pelan. Dirinya pun sebenarnya haus tapi malas jika harus menerima minuman dari sang Papah. Karena ia tau pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan minuman itu.


"Ck! minum. Hilangkan segala pikiran burukmu itu. Aku tidak mungkin menaruh racun di minuman anakku sendiri. Bagaimana sih." kesal Abraham. Menyuruh Bryan cepat meminum air dibotol itu.


Tanpa berpikir panjang lagi. Dan tanpa menaruh curiga. Bryan membuka botol minuman itu lalu meneguknya hingga kandas. Dan menaruh botol itu di atas meja hadapannya. Ya dirinya pun memang haus akibat peristiwa tadi.


"Sudah bukan? sekarang silahkan Papah pergi."


Mata Abraham membulat. "Kau mengusirku? anak kurang ajar! akan ku adukan kau pada istriku!"


Bryan hanya memutarkan bola matanya malas. Istri Papahnya itu juga adalah Ibunya.


Abraham lantas bangkit dari duduknya. Menatap tajam Bryan. "Huh! buang-buang waktu aku mengunjungi rumah sakit ini. Jika bukan karena kekacauan yang kau perbuat. Aku tidak mungkin mau kesini." Tajam Abraham. "Sudah kau diam saja disini, tenangkan pikiranmu. Aku akan bilang untuk mengosongkan jadwalmu hari ini. Dan selamat bersenang-senang nanti." Abraham menarik smrik nya.


Dahi Bryan mengerut. Tak paham dengan kalimat yang di ucapkan sang Papah.


"Maksud Papah?"


Menaikkan pundaknya acuh. Abraham berjalan keluar dari ruangan Bryan tanpa berbicara apapun lagi. Bryan menatap kepergian Papahnya itu dalam diam, dengan pandangan bingung.


...---...


Abraham keluar dari ruangan Bryan. Tak lupa ia menutup rapat pintu ruangan itu. Lalu ia berjalan menuju lobi rumah sakit. Sebelum itu ia mampir dulu ke tempat resepsionis di rumah sakit ini.


"Tolong kosongkan jadwal Dokter Bryan." ucap Abraham. Salah satu resepsionis itu mengangguk.


"Baik Tuan.


"Oh iya, jangan ganggu Bryan juga di ruangannya. Jangan sampai ada seseorang yang masuk ke ruangannya juga, kecuali istrinya." Abraham melihat wajah binggung dari resepsionis itu. "Dengar?!" sentaknya.


Resepsionis langsung mengangguk. "Siap Tuan, saya akan bilang kepada staf yang lain untuk tidak menganggu Dokter Bryan hari ini di ruangannya."


...----...


"Udah pak, berhentiin aja mobilnya disini." Elena. Gadis itu sekarang berada di mobil yang ditunjuk untuk mengantarkannya pergi ke rumah sakit dimana tempat Bryan bekerja.


"Sampai sini aja Nona? gak mau sampai lobi rumah sakit?" tanya supir itu sopan.


Elena mengangguk. "Iya Pak. Kasian Bapaknya nanti harus puter balik kalo masuk ke lobi rumah sakitnya."


Supir itu pun mengangguk. "Baik. Hati-hati ya Nona."


"Siap, makasih ya Pak." Elena lantas keluar dari mobil ini dan berjalan menuju rumah sakit yang ada di depannya. Supir nya itu memang tidak sampai menunggunya pulang, karena sang Mamah bilang jika ia akan pulang bersama Bryan nanti, jadi supir itu akan langsung pulang ketika sudah mengantarkannya.


Elena berjalan masuk ke dalam rumah sakit dengan tergesa-gesa. Jam menunjukan jika jam makan siang sudah hampir habis. Elena hanya tidak mau Bryan memarahinya prihal keterlambatan jam makan siangnya.


Tanpa di duga. Ada sesosok pria yang menatapnya dari dalam mobil. Pria itu tersenyum penuh maksud ketika melihat Elena yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Pria itu lantas menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Obat itu pasti sudah bereaksi sekarang." ucapnya, menarik smriknya.


...----...


Elena berlari menuju meja resepsionis. "Dokter Bryan nya ada kan ya Mbak?"


Resepsionis ber-tag Tina itu mengangguk. Ia tau siapa yang ada di hadapannya ini. "Ada Nona. Dokter Bryan ada di ruangannya."


Elena langsung mengangguk. "Makasih ya Mbak."


"Sama-sama Nona."


Elena segera berjalan menuju ruangan Bryan. Sebenarnya ia sedikit malas untuk bertemu pria itu. Dirinya masih kesal dengan pria itu. Saat dirinya diam, pria itu malah ikut diam. Tidak mencoba membujuknya atau berbicara apapun dengannya. Membuat Elena kesal. Dan juga tentang kebohongan Bryan. Huh, Elena menjadi kesal sendiri sekarang.


Sampai pada sebuah pintu. Elena menatap pintu itu lama lalu tak lama membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. Ya, apa lagi jika bukan ruangan Bryan?

__ADS_1


Elena masuk kedalamnya. Tak lupa menutup pintunya kembali. Mungkin setelah memberikan makanan siang ini, ia akan langsung keluar dari rumah sakit. Lebih baik memutari rumah sakit ini sampai Bryan selesai dari pekerjaannya, daripada harus diam menunggu Bryan di ruangan ini.


Kosong. Elena menatap sekitaran ruangan ini. Tidak ada seorang pun disini. Dimana pria itu?


"Dokter Bryan?" Elena berjalan perlahan. Ke hadapannya. "Dokter dimana?"


Tiba-tiba pendengarannya menangkap sebuah suara yang berasal dari kamar mandi. Dengan cepat Elena berjalan menuju pintu berwarna putih itu.


"Dokter Bryan? dokter ada di dalam?" teriak Elena dari luar pintu itu.


Dahi Elena tiba-tiba mengerut. Mendengar suara aneh dari dalam kamar mandi itu.


Tok Tok Tok!


"Dok?! ini saya Elena. Dokter di dalam? Saya bawain makanan siang buat dokter!" Elena menjadi khawatir. Apa Bryan ada di dalam? atau sebenarnya bukan Bryan yang di dalam?


Ceklek!


Pintu itu mulai terbuka. Sesosok pria keluar dari kamar mandi tersebut.


Elena membulatkan matanya, melihat kondisi Bryan yang amburadul. "Dokter kenapa?"


Bruk!


Tubuh Elena menegang saat tiba-tiba Bryan memeluknya. Tidak terlalu erat. Karena Elena merasakan jika tubuh Bryan yang melemah.


Elena memegangi tubuh Bryan.


"Ssshh.." seketika tubuh Bryan meremang. saat menerima sentuhan dari Elena.


"Dokter kenapa?" tanya Elena. Bryan mengangkat wajahnya. Menatap Elena sendu.


Rambut serta wajah Bryan nampak berantakan di mata Elena. Apa Bryan mabuk? tapi mana mungkin.


Bryan menggeleng kan kepalanya. Menatap wajah Elena sedekat ini membuat tubuhnya bereaksi. Bryan mengumpat. Ini pasti ulah dari Papahnya. Ia tau jika minuman itu memang tidak beres. Tapi bodohnya ia malah meminumnya.


Sialan!


"Dokter? dokter gapapa kan?" Elena mencoba membopong tubuh Bryan. Membawanya untuk ke sofa namun langsung di tahan oleh Bryan.


"Sshh.. kau mau kan membantuku?" ucap Bryan Melemah. Bryan mencoba untuk tetap sadar namun sayangnya obat itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.


Alis Elena terangkat. "Bantu apa Dok?"


"Aku menginginkan tubuhmu," Bryan menurunkan wajahnya di pundak Elena. Menghirup dalam-dalam pundak terbuka Elena. Memainkan hidungnya disana.


Tubuh Elena bergetar seketika. Merasakan hawa Bryan yang berbeda. Ada apa dengan pria ini?


"Mak-maksud Dokter?" Elena mencoba untuk melepaskan Bryan dari tubuhnya namun kekuatan Bryan mengalahkannya.


"Aku butuh pelepasan." Bryan menatap Elena sendu. "Aku mohon."


Elena menggelengkan kepalanya. Ia mencoba melepaskan tubuhnya dari Bryan. Namun sulit.


Wajah Bryan nampak semakin mendekat dengan Elena. "Aku mohon." suara parau terdengar di telinga Elena. Melihat mata Bryan yang sepertinya tersiksa membuat Elena kasian. Tapi dirinya takut untuk melakukan hal itu.


Tanpa permisi, Bryan menempelkan bibirnya pada Elena. Elena memejamkan matanya erat. Merasakan gelayar aneh di tubuhnya.


Tak lama, setelah bermain dengan bibir manis Elena. Bryan menjauhkan kepalanya. Menatap Elena penuh harap.


Elena membuka matanya perlahan. Menatap Bryan. Menelan salivanya kasar. Elena mencoba menganggukkan kepalanya perlahan. Membuat Bryan menunjukan smrik nya.


Dengan cepat, tanpa perkataan lagi. Bryan menarik Elena. Masuk ke dalam sebuah kamar yang ada di ruangannya ini.


Kalian tau lah mereka akan ngelakuin apa ok?😂

__ADS_1


Untuk yang tanya kok di potong? ga asik ga ada gituan-nya. Sebenarnya aku udah nulis adegan wik-wik nya tapi setelah 3 hari di publish, aku takedown guyss😂 Kenapa? Yup, cukup yang pembaca awal aja yang kena dosa, biar kalian pembaca baru gak wkwk


Next? Jangan lupa dukungannya😍


__ADS_2