Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
Ekstra part 11


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian setelah malam itu. Kini perut Elena nampak sudah membesar, membuat Bryan semakin protektif dan siap siaga menjaga Elena. Keluarga Bryan pun turut ikut adil menjaga Elena. Sejak pemberitahuan akan adanya anggota keluarga baru. Semuanya nampak berbahagia. Termasuk Meldi, yang sangat menantikan cucu di keluarga ini.


"Hah, Papah jadi tidak sabar di panggil kakek oleh anakmu."


Elena terkekeh pelan mendengar tuturan Abraham-mertuanya yang berdiri tepat di sebelahnya.


"Elena juga ga sabar nunggu dia lahir." Elena menunduk, mengelus perutnya lembut.


Kedua nya kini berada di halaman rumah. Setelah memutari komplek untuk jongging. Bukan, bukan Elena. Namun Abraham. Elena hanya berjalan santai, karena katanya berjalan kaki saat hamil diusianya segini sangat di sarankan untuk melancarkan proses persalinan nanti.


"Bagaimana kondisi kandunganmu?" tanya Abraham. Ia pun ikut senang mendengar sebentar lagi dirinya akan punya cucu. Apalagi ini cucu pertama. Huh! dirinya jadi tidak sabar memperkenalkan cucunya nanti pada teman-temannya.


Pasalnya teman-temannya saja sudah memiliki cucu, bahkan lebih dari satu, membuatnya sedikit iri, karena diusianya yang sudah tidak lagi muda, dirinya masih belum memiliki seorang cucu. Dan akhirnya setelah sekian lama menanti Bryan menikah dan memiliki seorang keturunan, akhirnya semua ini terjadi. Menantunya hamil. Memberikan anggota baru untuk keluarga Atmaja.


"Kondisinya baik. Kemarin juga sempet gerak-gerak bayinya di dalem. Nendang-nendang." Ia memegangi perutnya, dengan senyum bahagia. Abraham pun ikut tersenyum mendengar nya.


"Aku jadi tidak sabar menanti dirinya lahir. Jenis kelamin nya apa?"


Terdiam. Elena menggeleng pelan. "Gatau, Mas Bryan gamau USG jenis kelamin bayi. Katanya biar nanti aja taunya, pas lahir. Biar suprise."


"Cih, apa dia tidak penasaran dengan jenis bayinya?" gumam Abraham, sebal dengan Bryan. Padahal dirinya ingin tau cucu pertamanya ini berjenis kelamin apa, biar ia bisa siapkan hadiah saat cucu nya lahir.


Elena terkekeh kembali. Sepertinya mertuanya ini yang lebih penasaran daripada Bryan.


Sekelibat sebuah pikiran muncul di benak Abraham. "Kau ngidam apa selama kehamilanmu ini?" tanyanya. "Biasanya ngidam bisa jadi prediksi jenis kelamin bayimu itu, kalo ga salah, Papah pernah denger.."


Elena mencerna ucapan Abraham, lalu berpikir.


"Ngidam?"


Ia jadi teringat kejadian kemarin, saat dimana Bryan menanyakan jika dirinya ingin sesuatu atau tidak.


FLASHBACK ON


"Kau ingin apa?"


Elena menatap Bryan di depannya. Lalu meminum susu yang di siapkan Mamah nya tadi untuknya. "Enggak mau apa-apa." balasnya setelah meminum minuman tersebut.


Berdecak sebal. "Kau tidak ingin makanan atau apapun gitu?" tanya Bryan kembali.


Menggeleng yakin. "Tidak."


"Ck! kau tidak mau apapun?"


Menggeleng pelan. lagi. "Enggak Mas! emang nya kenapa?"


"Kau ini hamil atau tidak sih? kenapa tidak mengidam?! aku ingin mencoba jadi ayah siaga. Kau tidak mau aku membeli atau membuat sesuatu gitu?!" kesal Bryan. Membuat Elena heran.


Orang dirinya tidak mau apapun disuruh mengidam. Padahal seharusnya Bryan senang, calon anaknya ini tidak mau apa-apa! kenapa dia jadi marah sihh?! padahal kan bagus! tandanya anaknya ini irit! hemat! tidak suka menghamburkan uang!


"Jadi ayok sebutkan mau mu apa? Tidak usah di pendam jika kau ingin sesuatu, sebutkan saja, akan aku kabulkan."


Elena menghembuskan nafas pelan. Lalu menatap Bryan greget. "Yaudah aku mau mangga!"


Tersenyum lembut. Akhirnya Elena menyebutkan kemauannya. "Mangga? oke aku akan membelikannya. Kau diam saja disini."


"Aku gak mau mangga dari beli Mas! Aku maunya Mas manjat pohon mangga nya langsung, di petik langsung dari daunnya. Tapi pengennya pohonnya itu di atasnya cuman ada tujuh buah mangga yang tumbuh. Warna nya yang hijau muda ya Mas, jangan lupa di vidioin manjatnya."


Senyum Bryan yang tadinya lebar kini berangsur turun. Hah? apa katanya?!


"Hey! kau ini ngidam atau mengerjai ku?!" tak terima Bryan.


Elena menganga mendengarnya. "katanya Mas nya mau aku ngidam! sekarang aku udah ngidam, Mas malah marah-marah! siapa juga yang ngerjain sih!" deru nafas Elena membara. Udah dikasih tau dirinya mau apa, suaminya malah tidak mau mengabulkannya. Gimana sih?!


FLASHBACK OFF.


"Terakhir Elena cuman mau buah mangga. Udah itu aja." Balas Elena.


Abraham sedikit tertekun. "Mangga saja?"


Mengangguk yakin. "Iya."


"Ckckck sepertinya bayi mu ini akan jadi seorang pendiam, kenapa dia tidak ingin sesuatu seperti istriku dulu saat mengandung Bryan?"


"Mamah emang dulu ngidam apa Pah? pas hamil Mas Bryan?" tanya Elena cepat. Ia jadi penasaran, mertuanya itu ngidam apa sampai-sampai Bryan jadi orang seperti itu?


Berpikir sebentar. "Saat hamil Bryan, mamah mu itu suka sekali ngemil es batu. Ya sudah tertebak gimana Bryan saat ini bukan?" Abraham masih ingat saat Meldi tiba-tiba ingin es batu. Lalu memakannya begitu saja bak gorengan. Mana di gigit. Apalagi yang membuat Abraham pusing adalah Meldi ingin es batu yang langsung dari kutub Utara. Mana bisa coba?! alhasil ia berbohong saja, memberikan es batu yang ia beli di toko mart, dan mengucapkan es itu dari kutub Utara. Dan Yah, Meldi begitu saja percaya padanya. Ckckck.


"Pantesan dingin xixi." Elena tertawa singkat.


"Kapan kamu akan melahirkan?" Abraham mengalihkan pembicaraan.


"Dokter bulan sekitar bulan Oktober nanti, tapi buat tanggal, belum tau."


Mengangguk. "Papah doakan semoga persalinan mu lancar ya nanti."


Elena ikut mengangguk dan tersenyum. "Aamiin, terimakasih Pah."


"Yaudah Papah masuk dulu, kamu mau ikut masuk?"


Menggeleng. "Elena masih mau disini."


"Yaudah kalo gitu Papah duluan ya."


"Hem." Elena tersenyum mengangguk lagi.


Setelah Abraham masuk ke dalam rumah. Elena berjalan menuju taman kecil di samping rumah. Ketika mendengar suara ribut dari sana.

__ADS_1


"Lu gimana sih! udah tau tinggal satu! malah di abisin!"


"Ih kok Kak Aiden marah-marah, kan Chaca gatau. Di kulkas ada ini, ya udah Chaca makan. Lagian udah dingin juga. Kasian kalo ga dimakan secepatnya."


"Alasan! bilang aja lu mau gitu!"


"Emang Chaca mau, makannya Chaca makan! tapi kan Chaca gatau kalo ini punya Kak Aiden, kirain ini punya Kak Bryan!"


"Mana ada Kak Bryan makan es kek gitu!"


Elena menggeleng kepalanya. Melihat dua orang di depannya beradu mulut. Seperti biasa.


"Cha, Den. Kenapa?" ia mendekati kedua adik iparnya itu. Menatap mereka binggung.


Chaca menatap Elena yang sudah berdiri di depannya. "Kak Aiden! marah-marah es krimnya Chaca makan. Padahal kan masih bisa beli lagi!"


Aiden mendengus. "Itu belinya jauh Cha! Deket sekolah! yakali gue beli kesana lagi. Capek tau. Seharusnya Lo ganti, beliin gue sana."


"Dih ogah! lu yang makan lu yang beli dong."


"Hey ngaca! itu es krim di tangan Lo aja punya gue, gue yang beli, pake duit gue, tapi Lo yang makan!"


Chaca menatap es berukuran cukup sedang di tangannya. "Yaudah si biasa aja, gausah ngegass!"


"Siapa yang ngegas sih, Lo yang mulai!"


"SUTTT!" Elena menutup telinganya. Ya Tuhan, padahal dirinya dan Kak Putri di rumah tidak pernah bertengkar, tapi kenapa kedua adik kaka ini selalu saja bertengkar? "Udah jangan ribut."


"Kak Aiden nya Kak!" Chaca berjalan mendekati Elena. Menatap perut wanita itu yang sudah bergelembung. "Ponakan aunty nanti jangan kek Kak Aiden ya sayang. Pelit."


"Gue bukan pelit! tapi itu emang cuman satu!"


"Udah, udah." Elena mengelus perutnya pelan. dengan gelengan di kepalanya. Matanya lantas turun, menangkap sebuah cap yang cukup besar di tangan Chaca.


"Itu apa Cha?"


Menatap tangannya. "Ini eskrim yang Kak Aiden ributin. Kakak ipar mau?" tawar Chaca.


Dengan cepat Elena mengangguk. "Mau." sepertinya makan es hari ini enak. Apalagi hari makin siang, makin panas.


Mata Chaca membulat. Ia segera melirik es nya, yang nyatanya sudah habis tandas. "Yah, habis Kak."


Cemberut. Elena memasang wajah kecewa. Lain dengan Aiden yang melihat Kakak iparnya dengan was-was. "Kakak ipar mau rasa apa? biar Aiden beliin es nya."


"Loh?!" tak terima Chaca. Menatap Aiden tak sangka. "Kok kakak ipar mau lo beliin sih?! tadi katanya Kak Aiden gamau beli lagi! malah nyuruh Chaca beli! tapi sekarang malah nawar diri buat beliin kakak ipar."


Melotot tajam pada Chaca. "Cha!" desis pelannya. Apa anak itu tidak liat kakak iparnya sedang mengandung ponakannya?


"Dasar pilih kasih! ga adil!"


Elena yang melihat keduanya menggeleng kan kepala lagi. Ribut terus. Ga ada capek-nya kedua anak ini. "Kamu beli es nya di mana Den?" menatap Aiden penuh tanya.


"Kata-nya tadi jauhhh, sekarang ngomong deket!" Chaca menatap Elena. "Kak Aiden bohong, sekolah kita tuh emang jauh kak."


"Kalo gitu nanti aku minta supir buat anter aku kesana. Di sekolah kamu kan Cha? dimana nya?"


"Persis di depan jalannya, pokoknya ada bacaan gede, toko eskrim. Kakak ipar mau kesana? Chaca nitip eskrim juga ya rasa alpuket."


Elena mengangguk. "Oke Cha." menatap kedua adik iparnya berganti an. "Kalo gitu aku masuk dulu ya? eh iya, kamu mau nitip Den?" matanya berhenti pada Aiden di depannya.


Menggeleng pelan. "Gausah Kak, biar Aiden aja yang beliin. Kak Elena kan-"


"Udah gapapa Den, nanti aku gantiin eskrim yang di makan Chaca sekalian ya?" memotong ucapan Aiden sepihak. "Kalo gitu aku masuk duluan." tersenyum manis. Elena pun berbalik, berjalan masuk ke dalam rumah. Untuk mengambil tas dan menyiapkan kepergian nya membeli eskrim.


Melihat itu membuat Aiden menganga lalu melirik Chaca yang malah melambaikan tangannya pada Elena. "HEH! Lo tuh ya, Kakak ipar lagi hamil! bukannya nawarin diri buat beliin malah nitip lagi!" kesalnya.


"Kok kak Aiden malah marah-marah sama aku sih? kan kakak iparnya yang mau, ya harus beli sendiri lah. Lagian sekalian juga beliin Chaca sama gantiin es krim Kak Aiden." ikut kesal Chaca. Marah-marah terus kerjaan nya. Pantas saja Aiden tidak memiliki pacar, tukang marah sih. Jadi gaada yang mau.


"Kakak ipar tuh lagi hamil! kalo dia mau sesuatu berarti dia ngidam! dan harus di turutin! inget kata Kak Bryan tadi pagi?! jangan sampe kakak ipar keluar rumah! apalagi keadaannya lagi perut besar gitu, lo gak takut kalo kandungan Kakak ipar kenapa-napa?!" decak Aiden. Kalo kakaknya tau, Elena pergi dari rumah untuk membeli eskrim bahaya! bisa ngamuk pria itu!


Terdiam. "Yaudah si, gapapa juga kali, itung-itung jalan-jalan, kasian kak Elena diem di rumah terus dari kehamilannya, kan kasian juga calon ponakan Chaca di kerem mulu di rumah ga bisa liat indahnya jalanan kota."


"Calon ponakan gue tuh masih ada di dalem perut! mana bisa liat indahnya kota!"


Cemberut. Chaca berpikir sebentar.


Benar juga sih. Ponakan nya masih di dalam perut, mana bisa melihat keadaan disini?


"Tapi kan bisa, lewat kakak ipar liatnya."


Menaikkan alisnya. "Gimana?"


"Dari mata Kakak ipar. Kan dari mata turun ke janin."


...---...


Membenarkan tas selempang nya. Elena berjalan menuju salah satu mobil yang sedang di lap oleh supir.


"Pak? bisa anterin Elena?"


Mendengar itu supir tersebut berbalik menatap asal suara. "Non." sedikit terkejut dengan kedatangan menantu majikannya. Ia segera berdiri tegap. "Nona mau kemana?"


"Ke tempat sekolah Chaca. Bapak tau kan? Katanya disana ada toko es krim. Saya mau kesana, anterin saya ya Pak." menyentuh pintu mobilnya, siap membuka.


"Jangan non." telak sang supir, mencegah Elena untuk masuk. Membuat Elena menatapnya binggung.


"Loh kenapa pak? mobilnya belum bersih? atau bapaknya ada kerjaan lain?" tanya Elena menghentikan niatnya. "Kalo gitu Elena bisa minta tolong panggilin supir yang lain?" sungguh, Elena ingin sekali eskrim yang di makan Chaca tadi. Entah kenapa ia ingin buru-buru memakannya.

__ADS_1


"Bu-bukan gitu Non." menggeleng pelan. "Kalo Nona ingin eskrim yang disana, saya bisa membelikannya. Nona diam saja di rumah." dirinya tau majikannya ini sedang mengandung, bahaya jika Tuan Bryan tau istrinya pergi ke luar rumah dalam keadaan begitu.


"Gapapa kok Pak, saya ikut, sekalian jalan-jalan." sebenarnya Elena pun bosan. Bryan selalu saja menyuruh nya untuk di rumah dan di rumah. Apa dia tidak berpikir anaknya butuh udara segar di luar?!


"Apa No-nona sudah memberitahu Tuan Bryan?"


Terdiam. Lalu mengangguk tak lama. "Udah Kok pak, ayok anter saya." Elena memang sudah meminta izin. Karena dirinya tidak mau keadaan seperti kemarin terjadi. Diizinkan atau tidak? tentunya.. tidak tau. Karena ponsel Bryan tidak aktiv. Mungkin dia sedang sibuk. Jadi dirinya pergi saja, toh ini demi anaknya, agar tidak ileran saat lahir.


Menatap Nona-nya tak percaya. Pak supir hanya takut jika majikannya ini berbohong agar bisa pergi. Karena dirinya sudah berpengalaman tentang hal ini, namun berbeda orang. Dulu adalah majikannya, mertuanya Nona Elena. Nyonya Meldi. Yang memintanya antar pergi untuk bertemu temannya, dengan alasan sudah meminta izin. Taunya apa? saat pulang dirinya malah di marahi oleh Tuan Abraham karena mengantar nyonya nya pergi begitu saja tanpa izin.


Dirinya hanya tidak mau, kejadian itu terulang lagi.


"Udah pak Ayokk, mau ya?" Elena memasang puppy eyes. Memohon.


Tak kunjung dapat jawaban, wajah Elena pun mengkerut. "Kalo bapaknya gamau biar saya pergi aja naik ojek."


"Ehhh, saya mau nona."


Mendengar itu membuat Elena tersenyum. "Yaudah ayok pak." ia melanjutkan niatnya, membuka pintu lalu masuk ke dalam. Mendudukkan bokongnya di kursi penumpang.


Melihat itu pak supir menggeleng kan kepalanya. Yasudah lah, lagian katanya sudah izin juga. Jika nanti dimarahi, terima nasib saja.


...----...


Hari makin siang, matahari nampak sudah berada di titik paling atas. Udara pun sudah terasa panas, di tambah macetnya jalanan ibu kota. Membuat keadaan makin terasa tidak enak.


"Nona?"


"Hm?" Elena menatap supir di depannya dengan sesekali menyuapi es krim ke mulutnya.


Setelah ke tempat dimana toko es krim itu berada, Elena langsung membeli beberapa eskrim. Ralat, bukan beberapa, tapi cukup banyak. Di tambah dengan es krim milik Chaca dan Aiden.


Ternyata rasa es krim disana memang berbeda. Sangat enak. Membuat Elena senang karena dirinya tadi membeli banyak, jadi ia bisa menyetok es krim di rumah.


"Tidak jadi Nona."


Elena menaikkan sebelah alis. Tapi tak lama ia kembali memakan es krimnya. Perasaan nampak lega sangat terasa sekarang. Karena bisa merasakan es yang di makan Chaca tadi.


Beberapa saat kemudian, Elena merasakan ada yang aneh pada mobil yang di naikkan nya ini. Ia menghentikan suapannya, lalu menatap supir. "Pak?"


"Iya Nona?" pak supir menatap Elena melalui spion dalam mobil.


"Mobilnya kenapa ya?" pasalnya ia merasakan laju mobilnya sekarang cukup pelan di tambah AC yang kurang dingin. Tidak seperti saat menaikinya.


"Maaf Nona seperti nya mobilnya.."


Drutt.. drutt..


"Eh pak kenapa mobilnya." Elena bisa merasakan mobil nya berjalan tersendat.


"Mobilnya kayaknya.."


Damn!


Pak supir menoleh ke arah belakang. "Bakal mogok Nona."


"Udah mogok kali pak." Elena memajukan bibirnya. Saat ini mobilnya sudah berhenti di jalan yang cukup sepi. Untung saja, karena mobilnya tidak mogok di jalan yang ramai.


Tersenyum tak enak. "Maaf ya Nona. Kalo begitu saya keluar dulu, mau meriksa." supir itu lantas segera membuka pintu mobil lalu keluar. Berniat memeriksa mobil. Alasan kenapa bisa mogok.


Padahal dari awal dirinya sudah punya firasat tak enak pasal mobil ini, namun dirinya tetap diam karena tidak mau membuat Nona nya khawatir.


Berkeliling menatap ban mobil, setelah dirasa tidak bocor atau kempes, ia membuka bak mobil depan. Sepertinya masalahnya memang dari sana.


"Kenapa Pak?"


Tersentak kaget. Pak supir itu menatap Elena yang sudah berdiri di sebelahnya. "Kayaknya saluran bahan bakarnya bermasalah nona."


Ber-oh. Kembali memakan es krimnya. "Bapaknya bisa benerin?"


Menggeleng. "Sepertinya saya harus menelpon montir untuk kesini." Menatap nona mudanya.


"Lama?"


"Sepertinya iya."


Mengangguk. "Yaudah telpon aja pak."


"Nona ingin saya telpon supir lain juga untuk menjemput nona?" tanya Pak Supir, karena tak mau membuat Elena menunggu.


"Gak usah Pak. Saya nunggu aja." tolak pelan Elena. Kasihan jika ia meninggalkan pak supir ini sendirian disini.


"Tapi akan lama nona. Biar saya telpon supir untuk menjemput nona disini."


"Gak usah pak, saya tunggu aja." Elena tersenyum. "Bapak telpon montir nya aja dulu, biar cepet selesai juga."


Pasrah. "Yasudah, nona tunggu disini. Saya akan telpon montir." supir itu mengambil ponselnya dari dalam saku lalu mencari nomor telpon disana. Nomor montir yang sering di panggil ke rumah untuk membenarkan mobil yang rusak atau sebagainya.


Elena mengangguk lalu berjalan memutari mobil. Ia berdiri di depan pintu tempat duduknya tadi. Menyenderkan tubuhnya disana. Menatap sekitaran. Sambil memakan eskrim nya.


Beberapa saat kemudian. Ia merasakan ada mobil yang melaju mendekatinya dan berhenti tepat di belakang mobil yang ia naiki.


"Siapa itu?" denyut nadi Elena seketika bergemuruh. Apa itu mobil Bryan?


Tapi dilihat sih bukan. Karena mobil itu nampak mewah, berwarna silver keemasan. Apalagi nomor plat mobil itu sangat asing di matanya.


Klik.

__ADS_1


Pintu mobil itu nampak terbuka, menampilkan sesosok pria tua di sana. Berjas hitam, dengan rambut putih kelimis yang tertata rapih di kepalanya. Walau sudah tua, tapi di mata Elena, pria itu masih terlihat tampan? Apalagi wajahnya seperti tidak asing di matanya. Mirip...


"Permisi."


__ADS_2