
Saat di nanti pun tiba. Dimana umur usia kandungan Elena hampir 39 Minggu, dan tepat besok adalah perkiraan Elena akan melahirkan. Sedari kemarin Elena pun sudah merasakan kontraksi palsu. Dan itu membuat Bryan berinisiatif langsung membawa Elena ke rumah sakit. Menginap menjelang kelahirannya nanti.
Bryan memegang tangan Elena lembut. "Sakit?"
Elena menggeleng. Pertanyaan itu sudah berulang kali Bryan tanyakan, apa pria itu tidak cape? "Engga ko mas, anak kamu juga belum lahir, aku masih sehat sehat aja ini, belum ngerasain apa-apa." sebenarnya ia merasakan nyeri di daerah panggul, tapi ia masih bisa menahannya.
"Kalo ngerasain sakit, bilang ya." balas lagi Bryan.
Elena hanya mengangguk sebagai jawaban.
Mereka berdua sekarang sedang berkeliling rumah sakit, Bryan membaca jika orang yang akan melahirkan di anjurkan berjalan sebelum tiba proses melahirkan nya nanti, agar semuanya berjalan lancar.
Bryan sudah mempelajari bagaimana tentang cara menangani proses melahirkan nanti, ia sudah membaca dan mengingat-ngingat, karena ia sendiri yang akan terjun untuk membantu proses kelahiran anaknya. Sebenarnya Elena sudah bilang jika Bryan jangan terlalu memaksakan untuk membantu proses kelahiran nya, walau Bryan ini dokter tapi Elena tetap takut Bryan tidak kuat membantu proses kelahirannya, karena hal ini belum pernah di lakukan oleh Bryan.
"Mas yakin mau bantu aku lahiran?" tanya sekali lagi Elena, memastikan.
"Iya, kenapa? kau masih tidak percaya jika aku bisa?" sinis Bryan. Ia kesal karena Elena selalu bertanya seperti itu, seperti tidak percaya padanya.
Mendengar nada sinis dari suaminya, Elena menghembuskan nafas pasrah. "Kenapa ga coba sama yang lebih ahli mas? emang, kamu dokter tapi kamu kan belum pernah ngelakuin ini. Kalo nanti ada sesuatu yang terjadi gimana?"
"Aku tidak ingin milik ku dilihat orang lain."
"Hah?" Elena terdiam mendengar jawaban kecil Bryan. Pria itu menjawab tapi nyaris seperti bergumam. Ia tidak mendengarnya.
Menghembuskan nafas kasar. "Sudah, kau percaya saja padaku, aku sudah belajar berbulan bulan. Aku yakin semua akan berjalan lancar." Bryan mencoba meyakinkan Elena, membuat perempuan itu mau tak mau meng-iyakan.
Karena Bryan adalah Bryan. Pria itu sangat keras kepala, mau sekeras apapun ia menolak, Bryan akan tetap melakukannya.
"Mas, perut aku ko mulai sakit ya?"
Bryan yang mendengar itu langsung memasang wajah khawatir. "Sakit? ayo kita ke kamar. Sepertinya akan segera pembukaan."
Bryan segera membawa Elena ke dalam kamarnya yang letaknya tidak terlalu jauh, tapi ketika baru menginjakkan kaki di pintu kamar, Bryan melihat ada cairan yang keluar dari paha bawah Elena. Membuatnya sedikit bergetar.
"Mas, aargh, perut aku, huh huh.." Elena memejamkan matanya dengan tangan menahan diri di gagang pintu. Perutnya bertambah sakit sekarang, entah kenapa ini lebih sakit dari yang ia bayangkan sebelumnya.
"Kau masi kuat berjalan?" Bryan jadi kelimpungan sendiri sekarang, ia sudah belajar tapi kenapa di situasi seperti ini pikirannya malah buyar? "Aku akan menuntun mu, atau mau aku gendong?"
Elena menggelus perutnya dengan anggukan kecil. "Huh huh, aku masi kuat jalan ko Mas."
Bryan mulai menuntun Elena dan mulai membantu perempuan itu untuk duduk di atas kasur yang sudah tersedia disana.
"Kau tunggu di sini, aku akan mencari bantuan." Bryan segera bergegas mencari beberapa suster dan menyuruh mereka menyiapkan semuanya. Seharusnya ada beberapa suster yang berjaga di kamar ini untuk berjaga-jaga jika Elena akan lahiran dadakan seperti ini. Ia berjanji akan memarahi mereka semua nanti.
"Arghhh mas cepet! huh huh, gakuatt." Elena mengelus perutnya, rasanya campur aduk menyebabkan keringat dingin pun mulai bercucuran di dahinya.
"Kakak ipar?! kakak ipar kenapa?!" dari arah pintu masuk terlihat Chaca, Aiden, Abraham dan Meldi. Mereka kebetulan juga sedang berada di rumah sakit untuk mengecek rutin kesehatan mereka, di tambah juga untuk menjenguk Elena yang sedari kemarin sudah mendiami rumah sakit menjelang kelahiran anaknya.
"Pa-panggilin dokter, huh, ga-gakuatt."
Meldi yang paham membelakkan matanya. "Elena bakal lahiran mas! panggilin dokter!" Meldi buru buru mendekati Elena, menenangkan perempuan itu, ia melihat ada cairan berwarna kemerahan yang mengalir dari paha Elena, menembus kasur yang ia duduki. "Ya Tuhan Elena.."
"Suami mu dimana?! kenapa dia meninggalkan mu sendirian disini?! dasar suami tidak tau diuntung! bagaimana sih!" Abraham membalikan badannya, keluar dari ruangan untuk mencari dokter.
"Tarik nafas sayang, tenang, kamu rebahin diri, sabar ya sebentar lagi." Meldi mencoba menenangkan Elena.
Beberapa menit kepergian Abraham, tiba tiba terdengar suara ribut dari depan kamar Elena. Ya siapa lagi jika bukan suara khawatir Abraham dan suara Bryan?
"Kau ini darimana saja?! istrimu sudah akan melahirkan!"
"Aku mencari suster dan menyiapkan kebutuhan persalinan!"
"Kenapa tidak di siapkan dari kemarin?! kenapa baru menyiapkan sekarang?! terus mana dokter yang akan membantu menantu ku melahirkan? kenapa kau datang sendiri dengan beberapa suster?!"
"Aku sendiri yang akan membantu istriku melahirkan."
__ADS_1
"Hah?! kau yang akan membantunya?!"
"Iya memangnya kenapa? sudah! istriku akan melahirkan, kau jangan menghalangiku terus, pah!"
"Berani kau membentakku! memangnya tidak ada dokter persalinan apa sampai kau sendiri yang membantu menantu ku lahiran?!"
"Menantu mu itu istriku!"
"Aku tidak mau! Carikan dokter persalinan, aku tidak mau menantu ku kenapa napa jika kau yang membantu dia lahiran!"
"Bagaimana mungkin aku membahayakan istriku, pah! aku bisa menangani ini sendiri! sekarang awas, kau menghalangi jalanku!"
"YATUHAN KENAPA JADI RIBUT RIBUT SIH DI DEPAN! HEY! ADA YANG AKAN MELAHIRKAN DISINI!" teriak Meldi memegang kepalanya sakit. membuat suara gaduh di depan ruangan terhenti. Kenapa dua orang itu malah ribut di depan sih? mereka tidak tau apa Elena sudah sangat kesakitan sekarang!
"Mah, huh huh, sa-sakit. Ini Elena ngeden apa gimana Mah? Gakuat mau keluar.." Elena sebenarnya sudah membaca buku tentang apa yang harus ia lakukan ketika proses melahirkan. Tapi disaat situasi ini dirinya malah binggung sendiri dan pikirannya jadi melebur karena panik.
Pintu ruangan terbuka menampilkan Bryan dan beberapa suster masuk dengan langkah terburu-buru.
Aiden dan Chaca hanya diam di sisi Elena menatap keriuhan disini. Mereka ikut pusing.
"Kalian bisa keluar dari ruangan ini dulu." tutur Bryan menatap keluarganya. Ia mencoba tetap tenang walau hatinya bergetar tak karuan.
"Hey! aku tidak mau jika menantu ku lahiran hanya bersamamu!" Abraham masih keukeuh untuk tidak mengizinkan Bryan seorang diri dokter yang membantu Elena. Walau ada beberapa suster tapi tetap saja, suster hanya membantu dari belakang.
Sebenarnya Abraham juga tau jika Bryan belajar beberapa bulan untuk membantu Elena melahirkan, tapi ia tidak menyangka Bryan akan benar-benar melakukan ini, ia kira Bryan akan menghentikan belajar nya dan memilih untuk menyerahkannya pada dokter ahli, tapi ternyata tidak. Mana hanya ia sendiri, jika saat melihat istrinya kesakitan nanti Bryan tak kuat bagaimana?
Kemarin saja saat melihat Elena hampir terpleset saat berjalan, Bryan menangis mengetahuinya dan menyuruh Elena untuk diam di kasur dan tidak melakukan apapun selama 3 bulan. Lah ini? melihat Elena kesakitan? apa pria itu tidak pingsan nantinya?!
"Carikan dokter lagi, suruh dokter lain membantu!" Abraham melirik salah satu suster disana. Membuat suster yang di tatap mengangguk.
"Tidak usah! aku bisa sendiri! Tidak boleh ada yang melihat milikku!" tolak Bryan.
"YATUHAN Bryan! ini bukan masalah milikmu, atau gimana! ini masalah nyawa!" Meldi merasakan tangan nya yang di genggam Elena semakin erat. Perempuan ini nampak sudah tidak kuat. "Ini anak kamu bentar lagi keluar! kamu turunin egois kamu!"
"Carikan dokter perempuan!" telak Bryan setelah diam beberapa saat.
"Cemburu mu itu memang sudah akut! dasar budak cinta!" Abraham menggelengkan kepalanya dan melelang pergi dari ruangan diikuti Meldi, Chaca dan Aiden ketika melihat dokter perempuan masuk untuk membantu persalinan.
-
Setelah menunggu 8 jam, akhirnya persalinan pun selesai. Elena berhasil melahirkan anak perempuan yang sangat cantik.
"Huaaaa Chaca ga nyangka udah jadi auntyyyy." Chaca menatap bayi kecil di sebelah Elena. "Cantik banget si, mirip Chaca deh."
Mendengar itu Elena hanya tersenyum menanggapi. Sedangkan Aiden memutar bola mata malasnya.
"Mirip lu darimana, jelas jelas ponakan gue mancung sedangkan lu pesek." ledek Aiden.
"Enak aja!" Chaca menatap Aiden tak terima. "Chaca juga mancung ko, tapi versi ke dalem hihi."
"Mamah ga nyangka udah jadi nenek sekarang hiks." Meldi menyeka air matanya. Ia sudah semakin tua sekarang karena sudah memiliki cucu.
"Papah juga ga nyangka keluarga Atmaja bertambah dan papah punya seorang cucu." Abraham ikut terharu.
Sudah lama ia menantikan ini, dirinya tidak sabar memamerkan cucunya pada teman-temannya yang sudah terlebih dahulu memiliki cucu. Dirinya ikut senang karena pasti rumah akan sangat ramai jika ada anak bayi.
Kenatth sendiri tidak datang sekarang, ia sempat datang saat dimana Elena masih proses bersalin di dalam, lalu pulang kembali karena kesehatannya yang tidak mungkin untuk menunggu terlalu lama dirumah sakit, tapi Abraham sudah membicarakan ini dan sebentar lagi dia akan sampai kesini.
Lalu Bryan? pria itu menghilang ketika sudah membantu persalinan. Setelah membuka pintu dan berbicara jika proses lahiran lancar, pria itu langsung pergi tanpa sepatah kata apapun.
"Sayang, gimana kondisini kamu? masih sakit?" Meldi mengelus puncuk kepala Elena.
"Masih agak sedikit nyeri mah," Elena tersenyum lemah. "Tapi gapapa."
Mengangguk. Meldi paham, dirinya pun dulu saat melahirkan Bryan dirinya sampai-sampai pingsan setelah melahirkan karena tidak kuat. Tapi Elena malah masih sadar hingga kini yang artinya memang wanita ini sangat kuat.
__ADS_1
"Wah papah sungguhan sudah datang.." suara Abraham memecahkan interaksi Elena dan Meldi.
Terlihat disana jika Bryan masuk ke dalam ruangan dan mendekati Elena serta anaknya.
Abraham dan Meldi yang paham mencoba memberi waktu untuk ketiganya bersama. Ia menyuruh Aiden serta Chaca keluar dari ruangan ini.
Tersisa Elena dan Bryan serta putri kecil mereka.
"Terimakasih sudah berjuang sejauh ini. Terimakasih sudah melahirkan anak kita, dan terimakasih lagi sudah bertahan untuk ku." mata Bryan memerah menatap hangat kondisi lemah istrinya. Ia pergi untuk menenangkan kesedihan hatinya melihat Elena yang kesakitan tadi.
Tersenyum. "Terimakasih juga sudah membantu kelahiran anak ku, dokter." Elena terkekeh kecil, mengucapkan kata dokter, membuatnya teringat pertama kali ia memanggil Bryan dengan sebutan itu.
"Anakmu anakku juga." Bryan mengucup kening Elena lalu berganti ke anaknya yang tertidur pulas. "Bagaimana kondisimu sayang? masih sakit? atau bagaimana?"
"Aku udah baik baik aja ko, Mas." Elena membenarkan posisi tidurnya. "Cuman masih sakit aja bagian bawah."
"Maafkan aku telah membuatmu kesakitan seperti ini." Bryan meneteskan air matanya, membukukan sedikit tubuhnya, menyiumi tangan Elena. "Jika melahirkan sesakit itu, aku tidak akan membuat mu hamil lagi. Aku tidak ingin melihatmu sakit seperti tadi."
"Eh," Elena menganga. Gelayar aneh muncul di hatinya mendengar Bryan berbicara itu. Se takut itu kah Bryan melihatnya kesakitan seperti tadi? ah, kenapa Bryan jadi seperti ini?!
Jantungnya kan jadi berdetak tak karuan!
"Aku gapapa ko Mas, lagian anak itu titipan Tuhan, aku juga wanita, udah selayaknya mengeluarkan tenaga yang aku bisa buat ngelahirin anak kita, kodratnya wanita juga mengandung dan melahirkan anak. Aku malah seneng banget pas anak kita udah lahir, sakit itu langsung ilang gitu aja pas denger suara nangisnya."
Tak terasa air mata Elena jatuh. dirinya pun tidak menyangka sekarang sudah menjadi seorang ibu. Dirinya berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Dirinya tidak ingin anaknya merasakan penderitaannya dulu. Kehilangan kasih sayang seorang ibu kandung.
"Kalau begitu, bagaimana jika sepuluh anak lagi?" Bryan mengerjapkan matanya polos. Sepertinya rumah mereka akan sangat ramai jika banyak anak.
Elena yang tadinya terharu sedih seketika tergelak matanya. Apa pria ini bilang? SEPULUH ANAK LAGI? GILA KALI!
"Tida-" sebelum melanjutkan ucapannya, tiba-tiba suara gebrakan pintu terdengar kencang membuat Elena dan Bryan menatap pintu ruangan ini.
BRAK!
"CICIT KU!"
Kenatth masuk dengan wajah gembira, diikuti Abraham dan Meldi yang menatap Bryan meminta maaf karena tidak bisa menahan Kenatth lebih lama di luar.
"YA Tuhan! Mana cicitku, aku ingin menggendongnya. Duh, sudah jadi buyut saja diriku ini, kenapa aku jadi setua ini." Kenatth mendekati Elena, tersenyum. "Terimakasih sudah melahirkan keturunan Atmaja. Aku ingin menggendongnya, boleh?"
Elena mengangguk tersenyum lalu menyerahkan Grace kepada Kenatth di bantu Meldi juga.
"Cantik sekali.. siapa namanya?" Kenatth menatap Bryan dan Elena.
Kedua pasutri itu menatap satu sama lain, lalu kembali menatap Kenatth. "Grace Queenzaf Atmaja."
"NAMA YANG CANTIK!"
Elena tersenyum gembira. Dirinya bisa merasakan kehangatan keluarga disini, setelah semua yang terjadi di hidupnya, ia akhirnya memiliki titik kebahagiaan dalam hidupnya. Memiliki keluarga yang baik, suami yang baik, adik-adik yang baik dan juga sekarang dirinya memiliki seorang anak.
"Aku mencintaimu sayang.." Bryan mengecup kening, pipi lalu bibir Elena secara bertahap. Menatap perempuan itu lembut penuh cinta.
Elena makin melambungkan senyumannya.
"Aku juga mencinta mu Mas.."
Pak, Bu, lihat.. putri kalian sudah bahagia sekarang. Maafin Elena , Pak, bu, kak, Elena pernah membuat keluarga kalian hancur, Elena akan menebus kesalahan ini dengan menjadi lebih baik dan menjadi sosok ibu yang baik buat anak Elena. Kalo Ibu dan bapak masih hidup pasti kalian ikut bahagia karena punya cucu. Tapi Elena yakin Bapak dan Ibu juga bahagia disana.. dan untuk ibu Sarah, walau pertemuan kita kemarin singkat, tapi Elena tau Ibu Sarah pasti sayang banget sama Elena. Terimakasih untuk mata nya, Elena akan jaga baik baik juga mata ini. Terimakasih tuhan untuk semuanya. Terimakasih banyak.
...ENDING...
Setelah sekian abad purnama akhirnya benar-benar selesai ni cerita. Apa kabar semuanya? xixi, mohon maaf baru bisa melanjutkan sekarang, setelah kemarin aku hilang entah kemana, akhirnya aku kembali lagi disini 🙏🙏 walau emang udah lupa sama cerita sendiri gara-gara kelamaan ga nulis haha, tapi aku masih inget masi ada cerita ini yang harus aku selesaikan. Terimakasih untuk kalian yang masih menunggu cerita ini, terimakasih pembaca setia! terimakasih dukungannya untuk cerita ini! selamat tahun baru juga untuk semuanya! ❤️❤️
Sampai jumpa di cerita aku selanjutnya! Lov u❤️
__ADS_1