Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB41: Apa Aku Mencintainya?


__ADS_3

HAPPY READING GUYS😙


Setelah dirasa hatinya tenang, Elena pun segera turun dari mobil milik Bryan dan berjalan masuk kedalam rumah yang berada dihadapannya. Suami-nya itu sudah terlebih dahulu berjalan masuk ketika Elena masih berada di dalam mobil.


Huh


Elena melangkahkan kakinya dengan kepala yang menunduk. Kata-kata Bryan masih terngiang-ngiang di kepalanya. Entah memang pria itu hanya bercanda atau tidak, dirinya tidak tau. Tapi yang jelas kata 'cemburu' yang dilontarkan Bryan tadi ber-efek buruk terhadap jantungnya. Sekarang ia masih merasakan jika jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Apa ia memiliki penyakit jantung? mungkin Elena akan memeriksanya nanti ke rumah sakit.


Saat masih asik berjalan, tiba-tiba saja Elena menghentikan langkahnya ketika melihat ada sebuah kaki yang berdiam di hadapannya. Ia lantas mendongakkan kepalanya dan menatap sosok pemilik kaki tersebut.


"Dari mana aja? lama banget keluar-nya. Seharusnya tuh seorang istri diem dirumah ngurus rumah tangga. Cuci piring kek, cuci baju, beresin kamar. Jangan mau apa-apa dikerjain sama Maid. Gak mandiri banget."


Elena terdiam menatap sosok gadis cantik didepannya. Ia sedikit memundurkan tubuhnya untuk menjaga jarak dengan gadis itu.


Chaca terseyum sinis menatap Elena. Gadis itu nampak melipatkan kedua tangannya di dada dengan memasang wajah malas.


"Lagian gue heran. Selera perempuan Kak Bryan jadi turun drastis kayak gini. Padahal nih ya, dulu tuh yang deket sama Kak Bryan itu kaum model. Yang tubuhnya tinggi sama berisi." Chaca menatap tubuh Elena dari atas sampai bawah. "Bukan pendek, kurus kayak gini."


"Saya memang bukan model, bukan dari kalangan atas juga. Tapi setidaknya saya bisa menghargai orang lain dengan tidak membanding-bandingkannya dengan yang lain. Walau Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk yang sama, namun pasti ada perbedaan di dalamnya. Manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tidak semuanya sama." Elena tersenyum menatap Chaca.


Raut wajah Chaca berubah. Terlihat gadis itu seperti merendam amarahnya.


Elena hanya diam setelah mengucapkan itu. Ia tidak salah bicara bukan? lagian yang diucapkannya memang benar. Tidak ada yang sempurna. Pasti manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.


"Iya sih, emang bener yang dibilang lo." Chaca mengangguk-anggukan kepalanya tapi tak lama setelah itu ia segera menggelengkan kepalanya. Kenapa dirinya jadi setuju dengan ucapan Kakak Iparnya?


Chaca menatap Elena kesal. Kakak Ipar-nya itu malah tersenyum manis ke padanya, seharusnya kan Elena menatapnya marah atau membalas pedas ucapannya? tapi kenapa malah terlihat tenang seperti itu?


"Kok jadi kesitu sih? gue itu nanya kenapa Kak Bryan mau sama cewek kayak lo! soal manusia yang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing juga gue tau kali!" kesal Chaca.


Elena binggung. Ia harus menjawab apa?


Saat Elena hendak menjawab, dari arah belakang tiba-tiba saja terdengar sebuah suara membuat keduanya menatap asal suara tersebut.


"Cinta gak pandang fisik. Kalo orang udah cinta, fisik gak bakal dijadiin prioritas." ujar seorang pria dengan tersenyum, menunjukan lesung di kedua pipinya.

__ADS_1


Aiden berjalan mendekati kedua orang itu dan berdiri disamping Elena. Ia menatap Kakak Iparnya dan juga sang adik secara bergantian.


"Halah. Jaman sekarang itu fisik dulu yang di-lihat baru cinta." tutur Chaca. Ia memutar kedua bola matanya malas mendengar ucapan Kakak Keduanya ini.


"Bagaimana pun rupa orangnya, mereka akan tetap istimewa dimata orang yang mencintainya." lanjut Aiden membela Kakak iparnya. "Kalo belum pernah ngerasain gimana rasanya mencintai dan dicintai jangan so'soan ngomongin cinta."


Chaca menghentakan keras kedua tangannya yang sedari tadi di-lipat didada dan meletakannya disamping tubuh. Tangannya terkepal kuat. Ia sebal dengan jawaban yang dilontarkan Aiden seakan memojokkannya didepan Elena.


"Kalo belum ngerasain dicintai dan mencintai jangan so'soan ngomongin cinta?" cibir Chaca mengulangi ucapan Aiden. "Hello! ngaca dong. Bang Aiden juga belum pernah mencintai dan dicintai kan?!" lanjutnya.


"Jangan asal ngomong. Lu itu masih kecil. Jangan ngotorin lidah lu sendiri dengan mencibir orang lain. Kena azab baru tau rasa lu."


Wajah Chaca berubah kusut. Azab? memangnya ia melakukan apa? lagian juga dirinya hanya bertanya kenapa sang Kakak-Bryan malah mau menikahi gadis seperti Elena, namun kenapa omongan mereka malah ngawur kemana-mana? dengan rasa kesal, Chaca pun pergi sembari menghentakkan kedua kakinya keras diatas lantai.


Elena dan Aiden hanya diam melihat kepergian gadis Itu. Aiden lalu menatap kembali Kakak Iparnya dan tersenyum hangat.


"Anak itu emang gitu. Jangan masukin ke hati ya Kakak Ipar." ucap Aiden mencoba agar Elena tidak termakan oleh omongan adiknya itu.


Elena mengangguk. "Iya, saya ngerti kok kenapa dia begitu." ia mengulas senyum tipisnya. "Makasih ya." Elena berterimakasih karna Aiden datang diwaktu yang tepat dan membelanya.


Aiden menaikkan kedua jempolnya. "Siap Kak. Nanti kalo si Chaca apa-apain Kakak Ipar. Kakak Ipar tinggal bilang sama Aiden, nanti biar Aiden yang hadepin anak itu."


"Ekhem."


Kedua orang yang asik berbicara itu seketika mengalihkan tatapannya menatap asal suara tadi. Elena dan Aiden berbalik, mereka melihat ada seorang pria tampan menatap dingin keduanya.


"Kalian sedang apa disini?" dingin Bryan. Pria itu menemukan jika sang adik dan juga wanitanya saling berhadapan dan tersenyum satu sama lain. Kenapa hatinya mendadak kesal?


"Ah! gak lagi ngapa-ngapain kok. Ya kan Kakak Ipar?" Aiden melirik Elena sekilas.


Elena hanya mengangguk meng-iyakan ucapan adik iparnya. "I-iya."


Bryan menyipitkan matanya tak percaya. Tadi dirinya menerima telpon dari rumah sakit makannya ia turun dari mobil dan pergi duluan. Namun saat balik lagi mendekati mobil, ia sudah tidak melihat Elena disekitar sana alhasil dirinya berjalan masuk ke dalam rumah dan menemukan Aiden dengan Elena yang sepertinya sedang membicangkan sesuatu.


Tak lama Bryan mengangguk singkat dan berjalan mendekati Elena lalu menggenggam lengan gadis itu lembut. Ia melirik sekilas Aiden disampingnya lalu melanjutkan kakinya berjalan kedepan dengan tangan kiri yang menggenggam telapak tangan Elena sedangkan tangan kanannya ia masukan kedalam saku celana.

__ADS_1


Elena melebarkan matanya. Bryan menggenggam tangannya lembut dan berjalan jadi mau tak mau dirinya mengikuti langkah suaminya itu dari belakang.


Lain dengan Aiden yang heran menatap kepergian kedua Kakak-nya itu. Bryan seperti menatapnya aneh, ia tidak tau arti dibalik tatapan itu. Tapi tak lama senyum kembali terbit diwajahnya. Ia senang Bryan bisa memperlakukan Elena dengan baik dan lembut, ia menjadi iri dengan kedua pasutri itu.


"Duh, jadi pengen nikah gue." gumam Aiden dengan wajah melas.


___


Bryan berjalan menuju kamarnya dilantai 2. Wajahnya nampak seperti biasa, dingin tak berekspesi. Tangannya pun masih menggenggam erat telapak tangan Elena seakan tak mau kehilangan.


Elena hanya diam, ia lebih memilih mengikuti Bryan tanpa bertanya ataupun bersuara.


Sampai di depan sebuah pintu. Keduanya langsung masuk kedalamnya. Keadaan kamar lumayan gelap karna lampu kamar dimatikan. Hanya ada cahaya bulan yang menerangi kamar ini yang timbul dari sela-sela pintu kaca dekat balkon.


Bryan menghentikan langkahnya, lalu melepaskan genggamannya dan berbalik menatap Elena. "Sudah ku bilang, aku tidak suka jika kau berdekatan dengan pria lain."


Dahi Elena mengerut binggung. "Saya tidak berdekatan dengan pria lain." yang dimaksud pria ini siapa? ia tidak mengerti.


"Aiden." Bryan menaikkan kedua alisnya. "Anak itu playboy, lebih baik kau jangan dekat-dekat dengannya."


Apa?!


Elena heran. Ia tidak boleh berdekatan dengan Wilson karna pria itu tidak baik, ia pun tidak boleh berdekatan dengan Aiden yang notabenya adik iparnya sendiri karna dia playboy. Ada apa dengan Bryan?


"Tapi-kan Aiden adik Dokter, gimana saya gak dekat sama dia."


Ada benarnya gadisnya ini, namun Bryan tetap tidak mau Elena dekat dengan anak itu. Ia menangkap jika mata Aiden berbeda ketika menatap Elena. Tatapan itu lah yang membuatnya tidak suka jika Aiden berdekatan dengan gadisnya. Bukan tidak suka mungkin hanya sedikit kesal.


Bryan menghela nafasnya kasar. "Ambilkan aku segelas air," titahnya dengan berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.


Sampai di kamar mandi. Bryan segera menutup kencang pintu tersebut dan berjalan menuju wastafel. Ia menatap kaca didepannya dan mengusap wajahnya dengan sedikit air.


"Huh! kenapa aku jadi tidak suka jika gadis itu berdekatan dengan pria lain?!" Bryan menatap dalam dirinya sendiri di kaca. Hatinya selalu berbeda ketika berada didekat Elena.


Bryan lalu menyalakan air kran di hadapannya dan membasuh wajahnya kasar dengan air dan sabun.

__ADS_1


Apa aku mencintanya?


Tbc


__ADS_2