
HAPPY READING π₯°
Sesosok wanita cantik berjalan dengan anggunnya membelah jalanan di lorong rumah sakit yang cukup ramai ini.
Sampai pada tempat tujuannya, ia pun menatap kedua sosok pria bertubuh besar yang sedang berjaga didepan sebuah pintu ruang rawat.
Ia langsung mengubah ekspresinya, mengganti tatapannya menatap orang-orang itu dengan pandangan khawatir seakan-akan mencemaskan sesuatu.
"Apa benar ini ruangan Elena?!" ucapnya cemas.
Salah satu pria itu mengangguk.
"Apa saya boleh masuk? saya khawatir sama dia, saya dengar dia kecelakaan. Saya harus ngecek kondisi dia." lanjutnya.
"Anda ada hubungan apa dengan Nona Elena?" ya, kedua pria itu adalah Bodyguard yang dititah Bryan untuk menjaga Elena.
"Saya Putri, Kakak dari Elena. Jadi boleh saya masuk? saya cemas sama kondisinya."
Putri memperlihatkan rasa takut yang mendalam. Seakan-akan takut terjadi sesuatu pada Elena-adiknya.
Kedua Bodyguard itu nampak menatap satu sama lain, tak lama mereka pun mengangguk singkat menatap Putri.
Melihat itu, Putri mengulas senyumnya tipis. "Makasih," ia lantas bergegas membuka pintu ruangan dihadapannya.
Ceklek!
Putri masuk kedalamnya, dan tak lupa juga menutup kembali pintu itu.
Ia melihat ada 3 orang didepannya, sedang menatapnya juga. Matanya pun langsung ia alihkan pada sosok gadis yang terduduk di atas ranjang. Air matanya mulai turun membasahi pipinya, menatap kondisi Elena disana.
"Na?!" Putri segera berjalan, mendekat kearah ranjang Elena dan berdiri disamping gadis malang itu.
"Kamu ko bisa kayak gini?! kamu kenapa?" tanya Putri khawatir.
Elena terdiam. Suara ini seperti suara milik Kakaknya-Putri. Apa benar ini Kakaknya?
"Kak Putri?" panggil Elena.
"Iya ini aku," Putri mengenggam tangan Elena erat.
Didalam hati Elena, ia tak menyangka Putri akan kesini menjenguknya. Apa benar ini Kakaknya? jika saja dirinya bisa melihat, mungkin ia akan langsung percaya jika ini adalah Putri, Kakaknya.
Putri melihat pergerakan aneh dari Elena. "Mata kamu kenapa Na?"
"Aku-"
"Kak Elena buta. Dia gak bisa liat lagi." timpal Chaca yang masih berdiri di tempatnya. Aiden pun sama, ia masih diam disamping Chaca, matanya sedari tadi mengawasi pergerakan dari wanita asing itu.
Putri terbelak mendengar jawaban seorang gadis yang ia tau bernama Chaca. "Kamu bu-buta?" wajah Putri berubah menjadi sendu.
Elena mengangguk pelan.
Dengan sigap, Putri menarik tubuh Elena dan memeluk adiknya ini. Wajahnya menunjukan rasa kasian pada Elena.
"Ya Tuhan, kenapa kamu bisa kayak gini?" Putri melepaskan pelukannya. "Kamu yang sabar ya?"
"Iya Kak." Elena menunduk, air matanya kembali turun.
Tak lama Elena kembali mendongakkan wajahnya. "Oh ya, kenalin ini Kak Putri, Kakak saya." lanjutnya dengan tersenyum hangat.
Aiden dan Chaca pun ber-oh. Mereka tidak tau jika Elena ternyata mempunyai Kakak karna saat pernikahan terjadi, mereka tidak melihat keluarga Elena yang lain selain Dimas-Bapak kandung Elena.
Chaca mengalihkan tatapannya pada Putri. "Kak Putri cantik juga ya." ucapnya seraya tersenyum.
Mendapat pujian, Putri pun tersipu malu. "Makasih, kamu juga lebih cantik kok."
Tak lama dari itu, tiba-tiba Chaca merasakan ada sesuatu yang bergetar.
Drttt..Drtt..
Chaca hanya tersenyum tipis lalu mengambil sesuatu di saku celananya. Ya, ponselnya berdering. Saat membuka layar dan melihat siapa yang menelpon, Chaca pun seketika mengubah wajahnya menjadi gugup.
__ADS_1
"Kenapa Cha?" tanya Aiden, ia tidak bisa melihat layar ponsel adiknya karna langsung di tutupi oleh Chaca.
"Gapapa kok, gue keluar dulu ya." ucapnya sembari menggoyangkan ponselnya pelan. "Ada yang nelpon," setelah itu Chaca segera berbalik, berjalan mendekati pintu dan keluar dari ruangan ini.
Aiden menatap curiga adiknya itu, sepertinya ada yang ditutupi Chaca. Ia pun segera mengalihkan tatapannya menatap kedua orang didepannya. Ia tau pasti Putri dan Kakak Iparnya ingin berbicara berdua disini.
"Em Kakak Ipar, gue keluar dulu ya. Gue tau pasti ada yang kalian pengin omongin berdua." ucapnya tersenyum. Menatap kedua orang didepannya.
Putri ikut tersenyum, pria itu tau saja jika ada sesuatu yang ingin ia obrolkan berdua dengan Elena.
"Makasih ya Den." sahut Elena mendengar Aiden yang memberi waktu mereka untuk mengobrol berdua.
"Hm," Aiden pun berbalik, berjalan keluar dari ruangan ini tak lupa juga ia menutup kembali pintunya.
Tersisalah Putri dan Elena disini. Putri sedari tadi menatap Elena penuh kasihan. Entah memang benar-benar kasihan atau tidak, tidak ada yang tau.
"Maafin gue Na, gue tau dulu gue salah dulu, gue selalu jahat sama Lo, gue minta maaf." lirih Putri pelan, dengan sendu. Tangannya masih setia menggenggam erat tangan adiknya.
Elena terdiam. Kakaknya meminta maaf padanya? apa ini nyata?
"Gue tau pasti Lo susah buat maafin gue, tapi gue bener-bener nyesel Na, gue nyesel karna gue sadar pas Bapak udah gak ada hiks."
Suara tangisan terdengar menggema di ruangan ini. Elena segera mengangkat tangannya mencari wajah Putri. Setelah mendapatkannya ia segera menghapus jejak air mata Kakanya itu. Ya, Putri menangis.
"Kak Putri gak usah nangis, Elena maafin Kakak Kok, setiap orang pasti punya kesalahan, dan kita harus bisa memaafkannya." Elena tersenyum manis. "Elena seneng Kakak mau berubah, pasti Ibu sama Bapak bangga diatas sana, ngeliat perubahan Kakak."
Putri mengenggam tangan Elena yang ada dipipinya, setelah itu ia memegangnya erat. "Gue bakal berubah Na, berubah jadi yang lebih baik."
Elena tak menyangka Putri mau berubah secepat ini. Kakaknya mungkin memang benar-benar menyesal atas kematian Bapaknya-Dimas, dan Elena yakin Putri akan berubah.
Seketika pandangan Putri menatap sekitaran kamar ruangan ini. Lalu tatapannya kembali menatap Elena. "Dokter Bryan kemana Na?"
"Dokter Bryan keluar Kak. Dia ada urusan katanya." jawab Elena.
"Ada urusan?"
"Iya, dia mau ketemu sama Dokter yang lain." entah kenapa Elena tidak mau membicarakan sepenuhnya apa yang diurusi Bryan.
Putri menghela nafasnya pelan. "Gue yakin dia gak bener-bener ketemu Dokter lain deh Na."
"Ya siapa tau aja dia mau ketemuan sama perempuan lain? gue pernah baca artikel kalo banyak yang deketin Dokter Bryan, mulai dari kalangan artis, model papan atau perempuan karir lainnya. Siapa tau aja Dokter Bryan mau ketemuan sama perempuan lain?"
Elena terdiam, membisu.
"Lo kan buta. Terus bisa aja kan dia cari perempuan lain diluar sana? yang lebih sempurna? terus nanti dia bakal ninggalin Lo dan ceraiin Lo dengan keadaan Lo yang kayak gini."
Elena menggeleng. "Dokter Bryan bukan laki-laki kayak gitu."
"Ya kan gaada yang tau. Gue cuman gak mau Lo sakit hati Na, gue gak mau Lo menderita lagi."
Hati Elena tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda.
"Sebenernya gue mau nebus kesalahan gue sama Lo. Gue mau Lo lanjutin pendidikan Lo, Na. gue mau Lo kuliah dan gue bakal biayain itu semua beserta biayain semua kehidupan Lo. Gue mau kita tinggal bareng lagi kayak dulu, tapi kayaknya gak mungkin karna Lo udah punya suami." lanjut Putri. "Apa Lo bahagia sama pernikahan ini? apa Lo bener-bener cinta sama Dokter Bryan?"
Elena masih terdiam. Ia bimbang, Dirinya tidak tau pasti bagaimana perasaannya pada Dokter Bryan.
___
Chaca segera menutup sambungan telponnya ketika sudah mengangkatnya tadi. Ia pun menghela nafasnya pelan lalu berbalik.
"Aaaaampss!." Chaca membulatkan matanya ketika ada sebuah tangan yang membekap mulutnya erat membuat teriakannya terhenti.
"Sut! ini rumah sakit Cha. Jangan teriak kayak gitu, Lo mau kita diusir sama satpam?!" kesal Aiden dengan melepaskan tangannya dari wajah adiknya.
Setelah terlepas, Chaca pun segera menghirup banyak-banyak udara. "Ck! Lo sih ngagetin aja! Lo ngapain disini? oh jangan-jangan Lo ngupingin gue ya?!" selidik Chaca. Mereka sekarang ada di lorong yang cukup jauh dari ruangan Elena.
Aiden memutarkan bola matanya malas. "Kurang kerjaan banget gue ngupingin Lo."
"Terus Lo ngapain disini?!"
"Gue cuma kepo siapa yang nelpon Lo." kekeh Aiden. "Siapa tadi yang nelpon? kok gue denger ada suara cowok ya?"
__ADS_1
Tubuh Chaca menegang. Wajahnya terlihat sedikit berkeringat. "Bu-bukan siapa-siapa kok. Cuma temen gue yang iseng nelpon tadi."
____
Drtt..Drtt..
Tiba-tiba Putri merasakan ada sesuatu yang bergetar di tasnya. Dengan segera ia pun membuka tasnya dan mengambil benda yang bergetar itu.
Putri menatap layar ponselnya. Dengan cepat ia menatap jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya.
"Na, maafin gue. Gue harus kembali kerja lagi. Gue pamit duluan gapapa kan?" sahut Putri.
Elena mengangguk. "Gapapa."
Putri segera merapihkan kembali rambutnya beserta tubuhnya. "Gue bakal sering-sering kesini buat jenguk Lo, gue pamit ya Na."
Elena kembali mengangguk. "Hati-hati ya Kak."
Putri tersenyum. "Iya," selepas itu, ia pun segera berjalan menjauh dari ranjang Elena dan keluar dari ruangan ini.
___
Putri menatap kedua laki-laki yang berjaga didepan pintu Elena. Ia tersenyum dan berpamitan pada kedua orang itu.
Kakinya melangkah menjauh dari ruangan Elena. Sembari berjalan, ia menghapus air matanya kasar, helaan nafas pun sesekali terdengar dibibirnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat ada sosok wanita yang menghalangi jalannya. Wajahnya kembali ia rubah menjadi sendu.
"Elena kayak gini pasti karna ulah kamu kan?"
Putri menutup mulutnya. Tak percaya dengan apa yang diucapkan wanita didepannya "Ibu nuduh saya yang ngelakuin ini?"
Ya, wanita itu adalah Sarah.
"Iya. Siapa lagi yang gak suka sama Elena? cuma kamu yang gak suka sama kehadirannya."
Putri menggeleng pelan. Menurunkan tangannya lagi. "Saya emang benci sama perempuan itu, tapi dulu. Sekarang saya udah sadar kalo semua ini gak ada artinya. saya nyesel pernah benci sama Elena, padahal dia gadis yang baik." Matanya kembali memerah. "Saya juga udah minta maaf sama Elena, dan sekarang saya juga mau minta maaf sama Ibu."
"Bagaimana pun Ibu, Ibu nya saya juga. Saya minta maaf selama ini kurang sopan sama Ibu." lanjut Putri.
Sarah terdiam. Apa benar yang dikatakan wanita didepannya ini.
Putri menatap Sarah dari atas sampai bawah, wanita itu memakai pakaian Rumah sakit. Apa Sarah dirawat juga di rumah sakit ini?
"Saya gak percaya sama kamu, Putri. Saya tau sifat kamu."
Putri mengeleng. "Orang jahat kayak saya emang susah untuk dipercaya. Tapi apa salahnya berubah? saya mencoba untuk berubah Bu, saya mau memperbaiki semuanya."
Sarah menatap mata Putri, dirinya masih diam dengan hati berkecamuk. Jika bukan Putri lalu siapa yang melukai anaknya? apa memang kecelakaan murni?
"Elena buta."
Deg!
Wajah Sarah terbelak. Matanya membulat tak percaya. "Apa kata kamu?! Ele-elena buta?"
Putri mengangguk. "Saya menyesal karna tidak bisa menjaga Elena sesuai permintaan Bapak, saya pengin banget ngedonorin mata saya buta Elena biar dia bisa liat lagi." pipi Putri mulai terlihat basah akibat tetesan air mata yang turun. "Tapi saya takut Elena tidak mau menerima donoran mata saya."
Sarah menatap lekat Putri. Ia sedikit menepis ucapan dari Putri. "Kamu kesini pasti karna Elena kan? kamu tau darimana kalo dia kecelakaan? tau darimana kalo Elena dirawat di rumah sakit ini?"
Putri terdiam.
"Saya tau kamu yang ngelakuin ini! kamu mau balas dendam kan sama Elena? terus bikin dia buta, iya-kan?!" emosi Sarah.
Putri lagi-lagi mengeleng. "Ibu mau percaya atau enggak terserah Ibu. Yang penting satu hal yang harus Ibu tau. Jangan asal nuduh orang. Saya bisa aja ngelaporin Ibu ke pihak berwajib karna pencemaran nama baik. Tapi saya gak mungkin ngelakuin itu."
Putri menunduk. "Saya minta maaf Bu, saya gak bisa lama-lama disini. Saya masih ada urusan diluar," Putri maju mendekat kearah Sarah dan meraih tangan wanita itu. "Putri pamit." ucapnya setelah menyalami Sarah.
Putri segera berlalu dari hadapan Sarah. Ia melangkahkan kakinya pergi dari rumah sakit ini. Dengan berjalan, Putri membuka tasnya dan mengambil kacamata hitam yang selalu ia pakai.
Setelah mendapatkan benda itu, Putri pun menghapus jejak air matanya terlebih dahulu lalu memakai kacamata tersebut. Wajahnya kembali berubah menjadi tak berekspresi.
__ADS_1
TBC
Team yang percaya kalo Putri pelakunya mana nih? masih yakin Putri pelakunya? ππ