
HAPPY READING GUYS😽
Elena mulai berjalan menuju ruangan dimana Bapaknya dirawat. Ia menyusuri lorong rumah sakit hingga sampai pada tempat tujuannya.
Saat hendak membuka pintu tiba-tiba ia mendengar suara obrolan dari arah dalam membuatnya seketika menghentikan niatnya untuk masuk.
"Jujur saya masih takut kalo bertemu dengan dia. Saya takut dia membenci saya."
"Dia gadis yang baik Sarah, cepat atau lambat pasti dia akan tau semuanya."
"Lebih baik dia tidak mengetahui semua ini. Biarkan dia hanya tau jika kamu dan Mbak Reni adalah orang tua kandungnya."
Elena terdiam mendengar almarhum sang Ibu disebut-sebut dalam obrolan tersebut. Ia bingung, yang dimaksud 'Dia' dalam pembicaraan itu siapa?
"Gak bisa Rah, kamu Ibu kandungnya. Dia berhak tau."
Elena segera membuka pintu dihadapannya lalu masuk kedalamnya membuat obrolan yang sempat ia dengar tadi terhenti.
"Pak?" Elena berjalan mendekat kearah Dimas dengan senyum mengembang, sampai disisi Bapaknya Elena pun meraih telapak tangan Dimas dan menyalaminya. "Bapak sehat-kan?" tanyanya.
Dimas tersenyum mendengar hal itu. Senenarnya ia kaget karna Elena datang tiba-tiba namun ia tetap senang sang Anak datang menjenguknya. "Alhamdulillah Bapak sehat Na."
"Syukurlah." Elena mengalihkan tatapannya kearah wanita yang sekarang bediri dihadapannya. Mereka hanya dibatasi oleh ranjang Dimas yang berada ditengah-tengah keduanya.
Elena tersenyum sembari menyapa singkat wanita itu. Orang itu adalah wanita yang tadi berbicara dengan sang Bapak. Ia menjadi penasaran dengan apa yang dibicarakan barusan dengan Dimas.
Dimas yang menangkap tatapan Elena pun langsung ikut menatap wanita yang ia panggil 'Sarah' tadi.
"Kalo begitu saya permisi dulu ya. Saya masih ada urusan, Semoga Pak Dimas cepat sembuh. Permisi." wanita itu pun pamit dan melangkah pergi menuju arah pintu dan berjalan keluar.
Elena yang menatap itu heran. Kenapa wanita itu tiba-tiba pergi?
Tak lama Elena kembali menatap sang Bapak yang sedang terduduk diranjangnya. "Dia siapa Pak?"
"Teman Bapak, kebetulan dia dengar kondisi Bapak yang dirawat disini jadi dia jenguk Bapak." Dimas tersenyum kecut. Ia telah berbohong pada Elena namun semua ini karna terpaksa.
Elena membulatkan mulutnya ber-oh. Ia sebenarnya tidak yakin dengan jawaban yang dilontarkan Bapaknya ini namun karna tak mau bertanya lebih jauh akhirnya Elena meng-iyakan saja.
"Bapak kenapa duduk seperti itu? lebih baik Bapak tidur dan istirahat, Bapak baru sadar kemarin jadi Bapak harus banyak-banyak istirahat." ucap Elena perhatian ketika sadar Dimas duduk dengan bantal yang menjadi tumpuan dibelakangnya.
"Bapak cape Na tidur mulu." Dimas sedikit terkekeh. Ia memang cape sedari kemarin hanya tiduran di kamar ini tanpa melakukan apapun, membuatnya bosan.
Elena membalas dengan senyuman hangat. Ia cukup maklum karna saat belum dirawat dan sakit, Bapaknya ini setiap hari bekerja dan menjalani aktivitas tanpa henti membuatnya sering jarang beristirahat.
"Ini demi kesehatan Bapak. Bapak harus banyak istirahat biar sehat."
"Iya Bapak nanti istirahat, sekarang Bapak mau duduk-duduk dulu biar tulang Bapak gak kaku." Dimas sedikit mengoyangkan tubuhnya.
__ADS_1
Elena menggelengkan kepalanya mendengar tuturan Bapaknya. Sedang sakit pun Dimas masih bisa tersenyum dan tertawa membuatnya ingin sekali menangis karna ia tau pasti sebenarnya Dimas merasakan sakit dibagian dalam tubuhnya.
"Oh ya, Kakak kamu gak jenguk Bapak disini Na? kamu udah kasih tau Kakak kamu kan kalo Bapak dirawat disini?" lanjut Dimas dengan tatapan sendu.
Deg!
Elena terdiam. Apa jadinya jika ia memberi tahu semua yang diucapkan Putri saat dirinya mengatakan jika Bapaknya dirawat dirumah sakit? Elena tak sanggup mengatakan itu. Elena takut kondisi sang Bapak semakin parah ketika dirinya mengatakan hal sebenarnya.
"Kak Putri udah tau ko Pak, yang donorin darah buat Bapak juga Kak Putri saat Bapak akan di-operasi." Elena menahan tangisannya. "Saat di operasi Kak Putri ada dirumah sakit kok Pak, cuma Bapak kan belum sadar jadi Bapak gatau. Dan sekarang Kak Putri masih sibuk jadi belum sempat kesini lagi." lanjutnya berbohong.
"Syukurlah kalo Kakak kamu itu masih menganggap Bapak, Ayahnya." Dimas menghela nafasnya pelan.
Elena tersenyum kecut. "Em, Dokter Bryan titip salam buat Bapak. Dia gak bisa kesini soalnya ada pasien mendadak tadi." ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dokter Bryan suami kamu itu?" Dimas sedikit menggoda Elena.
"Iy-ya." entah kenapa kata suami yang Bapaknya ini membuat pipi Elena memanas.
"Gimana acara resepsi kemarin? lancar?" tanya Dimas mencoba mengingat jika kemarin besannya mengatakan akan diadakan pesta dirumah menantunya itu.
Elena mengangguk. "Lancar Pak. Seandainya Bapak kemarin ada, pasti Elena bakal senang." ia menyayangkan sang Bapak tidak hadir diacara kemarin. Walau itu acara yang tidak diinginkannya tetap saja itu adalah hari dimana dirinya melepas statusnya menjadi istri sah dari Bryan.
"Bapak senang kamu punya pendamping hidup." Dimas mengelus puncuk kepala Elena pelan. "Bapak jadi tenang kalo sewaktu-waktu tuhan nyabut nyawa Bapak. Bapak jadi gak khawatir lagi sama kamu karna kamu sekarang ada yang jaga."
Mendengar hal itu membuat Elena menggelengkan kepalanya dengan menggenggam tangan Dimas yang mengelus kepalanya. "Bapak gak boleh ngomong gitu. Elena yakin Bapak sembuh, Bapak harus sembuh demi Elena." Ia menurunkan telapak tangan Dimas dan mengenggamnya erat.
"Bapak jangan ngomong gitu! Elena gak mau Bapak ninggalin Elena. Bapak pokoknya harus sembuh." air mata Elena mulai bercucuran. Ia tetap pada pendiriannya jika Dimas harus sembuh dan akan sehat kembali.
"Iya. Kamu doain Bapak aja ya Na." Dimas mengalah, semoga saja takdir tetap membuat dirinya dan juga anaknya ini bersama.
"Nah sekarang Bapak istirahat ya. Bapak harus cepat-cepat sembuh biar bisa sama Elena lagi."
Elena membantu sang Bapak berbaring di atas kasur. Dimas pun menurut dan merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Anaknya ini cukup keras kepala jadi Dimas mencoba menuruti saja perkataan Elena.
"Bapak minta maaf ya sama kamu Na. Bapak selalu ngerepotin kamu," lanjut Dimas dengan merebahkan tubuhnya mencari posisi enak untuk tidur.
"Bapak engga ngerepotin Elena. Udah kewajiban Elena ngerawat Bapak."
Memang anak keduanya ini selalu baik dan perhatian padanya. Dimas merasa bersyukur karna bisa merawat Elena sampai sebesar ini.
"Bapak udah makan?" tanya Elena.
"Sudah, Bapak udah makan tadi dibantu sama suster."
Elena lagi-lagi mengangguk. "Yaudah Bapak tidur ya."
Dimas mulai memejamkan matanya. Ia sebenarnya pun mengantuk karna habis makan dan meminum obat. Tak lama ia pun tidur dengan pulas.
__ADS_1
Elena tersenyum sembari mengecup pelan dahi sang Bapak. Ia sangat menyayangi Dimas, ia tidak mau jika Dimas pergi jauh darinya.
Drrrttt!
Tiba-tiba tas yang ia simpan sebelumnya dimeja bergetar hebat dengan disusul suara nyaring dari arah dalamnya.
Elena segera mengambil dan mengambil benda yang bergetar di dalam tas tersebut sebelum sang Bapak terbangun.
+62 89536517523 is calling...
Dahi Elena mengerut melihat sambungan telpon dengan nomor tak dikenal. Dengan segera Elena mengangkat telpon tersebut.
"Hallo?"
"Hallo Na? ini aku Wilson." ucap seseorang dari ujung telpon sana.
"Oh Pak Wilson? ada apa Bapak telpon saya?" Elena binggung karna tak biasanya atasannya menelpon apalagi dengan nomor yang berbeda.
"Sore ini bisa ketemu? ada yang mau saya obrolin."
"Penting Pak?"
"Menurut saya penting. Kamu mau-kan Na?"
Elena jadi kepo dengan apa yang akan diobrolakan mantan bosnya ini. Penting apa memangnya? "Bisa Pak." karna ikut penasaran Elena pun meg-iyakan.
"Yasudah kalo gitu nanti alamatnya aku kirim ya. Sampai jumpa nanti Na."
Sambungan telpon pun terputus. Elena sedikit berpikir hal apa yang akan diucapkan mantan atasannya.
"Permisi."
Suara dari arah pintu dibelakangnya membuyarkan lamunan Elena. Elena segera menatap arah pintu ruangan ini.
Nampak seorang perawat cantik menunduk sopan dan menatap Elena.
"Maaf Nona. Dokter Bryan memanggil Nona Elena untuk ke ruangannya sekarang."
Baru saja tadi berpisah tapi pria itu sudah menyuruhnya untuk menemuinya. Elena menjadi kesal sendiri.
"Mau apa?" tanya Elena.
Perawat itu menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau. "Tadi Dokter Bryan hanya memerintahkan saya membawa Nona keruangannya."
Huh! baru saja sampai disini sudah disuruh kesana lagi!
Tbc
__ADS_1