Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB62: Kecelakaan


__ADS_3

Terdapat adegan kasar. Harap bijak dalam memilih bacaan.


HAPPY READINGšŸ’•


Elena menatap jalanan sepi didepannya. Sekarang mereka sudah berada di komplek yang diarahkan Chaca tadi. Terlihat cukup sepi, seperti tak berpenghuni.


Chaca melirik Elena yang masih terdiam sembari memegang stir mobil. "Jangan disini deh Kak, kita kedepannya lagi. Disini sepi banget, rawan." tuturnya sedikit takut.


Elena pun mengangguk dan mulai melajukan kembali mobilnya. Memangnya perkomplekan selalu sepi seperti ini ya? maklum saja Elena jarang-jarang ke daerah elit seperti ini.


Mobil kembali melaju pelan. Berjalan lebih kedepan lagi. Mata Elena tiba-tiba menatap spion mobil yang ada disampingnya. Entah kenapa perasaannya jadi tak enak.


Disana nampak ada mobil berwarna hitam yang seperti mengikutinya dari belakang. Mobilnya berjalan pelan, dan jalanan disini masih luas tapi kenapa mobil dibelakangnya itu malah setia melaju di belakangnya?


"Kakak Ipar kenapa?" Chaca menatap Elena heran. Sedari tadi Kakak Iparnya itu terlihat melirik spion terus.


Elena dengan cepat kembali menatap Chaca. Melirik sekilas lalu kembali fokus ke jalanan. "Ah! gapapa kok Cha."


Chaca yang memang dasarnya kepo langsung mengalihkan kepalanya kebelakang. Matanya seketika menangkap ada mobil hitam disana.


"Kok gue ngerasa mobil belakang ngikutin sih Kak?" lanjut Chaca masih menatap arah belakangnya.


Elena kembali menatap spion kaca. Adiknya ini ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya. Perasaan yang mengatakan jika mobil belakangnya sedari tadi mengikutinya.


"Coba cepetin deh Kak jalannya," titah Chaca sembari kembali duduk pada posisinya tadi.


Elena mengangguk dan langsung menginjak pedal gas mobil dengan sesekali melirik spionnya lagi, untuk memastikan apa benar mobil belakang mengikutinya.


Dan benar saja. Mobil belakang langsung ikut mempercepat kan mobilnya, menyusul Elena yang melaju dengan cepat.


"Tuh kan. Mobil belakang beneran ngikutin." ucap Chaca takut.


"Em. Apa itu bawahannya Tuan Abraham ya Cha?" Elena menggenggam erat stir mobilnya. "Kayak bodyguard atau orang suruhan buat ngejagain kamu?" Elena tetap mencoba untuk berfikir positif.


Chaca menatap arah belakangnya lagi. Ia melihat intens mobil dibelakangnya, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Setelah itu, Chaca kembali menatap Elena.


"Bukan," Chaca menggeleng keras. "Mobilnya beda. Gue hafal banget setiap Mobil dirumah. Gak mungkin juga bodyguard atau suruhan Papah ngikutin kita."


Wajah Elena mulai berubah. Ia takut. Dengan masih melajukan mobilnya, Elena mencoba untuk mempercepat jalannya agar bisa menjauh dari mobil di belakangnya.


Tapi naas. Mobil dibelakang dengan kilat memotong perjalanan mobil yang ditumpangi Elena dan Chaca. Membuat Elena sigap mengerem mobilnya.


Ckit!!!


"Aw!" Elena memegang dahinya karna terbentur stir didepannya. Sakit, itu yang dirasakannya sampai-sampai ia merasakan pandangannya sedikit kabur dan buram.


Chaca pun sama. Gadis itu nampak memegangi dahinya.


"Aduh. Kakak Ipar kenapa main ngerem mendadak aja sih! sakit tau!" kesal Chaca masih mengusap-ngusap dahinya.


Elena menatap Chaca."Ma-maaf." tangannya mencoba untuk meraih dahi gadis disampingnya.


"Sakit ya Cha?" Elena tak enak pada Chaca. Ini semua karena-nya. Ia harus tanggung jawab.


Sebelum tangan Elena mengusap dahi Chaca, gadis itu dengan cepat segera menepis tangan Elena.


"Gak usah. Gak terlalu sakit kok."


Elena pun kembali menarik tangannya. Ia mengarahkan wajahnya menatap arah depannya. Mobil hitam itu kini ada didepannya sekarang.


Chaca pun ikut menatap yang ditatap Kakak Iparnya. Tubuhnya seketika menegang. Dirinya nampak langsung merapatkan tubuhnya mendekat pada Elena.


"Kak. Itu orang mau ngapain sih." ucap Chaca penasaran tapi terselip rasa takut juga.


Elena menggeleng pelan. Dirinya menatap intens mobil didepannya, sampai pada sesosok pria berbadan besar keluar dari mobil hitam itu.


"Tubuhnya gede-gede. Kak." Chaca melirik Elena. "Duh, gimana dong. Chaca gak bisa ngelawan mereka semua kalo badannya aja pada segede gitu."


"Kamu gak usah takut Cha. Kita harus hadepin." Elena ikut menatap Chaca. "Kita lawan." lanjutnya untuk meyakinkan Chaca, padahal hatinya pun sebenarnya ikut takut.


____


Sesosok wanita cantik terlihat sedang mengamati mobil putih yang cukup jauh didepannya. Nampak dari mobil itu keluar kedua orang yang cukup ia kenali. Tiba-tiba senyum smrik-nya pun muncul.


"Padahal satu aja cukup, tapi orangnya ada dua. Hm." wanita itu nampak berpikir sebentar. "Gapapa deh, musnahin dua-duanya juga kayaknya seru."


Dengan tangan yang memegang stir, wanita itu menggenggam ponselnya lalu menelpon seseorang. Ketika sambungan telponnya tersambung, ia pun mulai berbicara.

__ADS_1


"Habisin aja keduanya, jangan sampai ada yang tersisa. Pastikan semuanya benar-benar mati tidak bernapas, setelah itu tugas kalian selesai."


Bip.


___


Elena dan Chaca dengan perlahan keluar dari mobil mereka. Keduanya berjalan menuju depan mobil lalu saling berpegangan untuk menjaga satu sama lain.


Walau Elena takut. Ia mencoba untuk tetap berani, dirinya langsung menatap empat orang yang sudah ada didepannya.


"Ma-mau apa kalian?!" ucap Elena menggenggam tangan Chaca erat.


Salah satu orang didepannya terlihat memegangi telinganya sendiri seperti sedang berbicara dengan seseorang dari jauh. Elena menatap orang itu, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu.


"Ki-kita gak punya uang. Kalo kalian mau rampok, rambok aja yang lain. Tapi inget loh rampok itu dosa. Kena azab nanti, baru tau rasa!" timpal Chaca mulai mengeluarkan suaranya.


"Kami gak mau harta kalian." jawab salah satu pria bertubuh tegap itu.


Elena menelan salivanya kasar. "Ja-jadi mau kalian apa?"


"Nyawa. Kami mau nyawa kalian, agar tugas kami selesai."


Mata Elena dan Chaca seketika membulat. keduanya tersentak kaget mendengar jawaban dari orang-orang didepannya. Mereka meminta nyawa sudah seperti meminta uang saja. Gampang sekali berbicara.


"Enak aja! nyawa kita cuma satu! kalo kalian ngambil nyawa gue sama Kakak Ipar, kita mati dong?!" polos Chaca.


Keempat pria itu langsung terkekeh.


"Memang itu mau kami." lanjut salah satu pria berkepala plontos, menjawab ucapan yang dilontarkan gadis kecil dihadapan mereka.


"Kak." Chaca merapatkan tubuhnya pada Elena. "Duh, gue gak mau mati duluan Kak. Gue belum nikah."


Elena menghela nafasnya pelan. Dirinya bisa saja menghajar keempat orang ini, namun ia tidak yakin akan menang.


"Bawa mereka." titah pria berkepala plontos tadi, yang langsung diangguki beberapa orang lainnya.


Serempak Chaca dan Elena pun menggelengkan kepala mereka. Dengan cepat Elena melihat arah kanan dan kiri. Sepi, disini sangat sepi. Tidak ada orang yang melintas karna mereka berada di dekat jalanan taman komplek sehingga sedikit jauh dari perumahan.


"Kak! sial! lepasin gue!"


Genggaman Elena pada Chaca terlepas begitu saja ketika Chaca ditarik oleh salah satu pria bertubuh gemuk.


"Kalian lebih baik menjauh! atau mau sa-saya teriak hah?" Elena memundurkan tubuhnya sedikit, membuat pria didepannya terkekeh.


"Kami akan menjauh saat nyawa kalian sudah kami habisi. Dengan begitu kami akan mendapatkan banyak uang dan kalian akan hidup tenang di neraka sana." kekeh pria itu.


Elena menatap tangannya yang mulai dipegangi beberapa pria.


"Anda lebih baik diam dan ikuti kami. Atau anda ingin kami bertindak kasar?" lanjut pria yang memegangi tangan Elena.


Elena mengumpat dalam hati. Begini saja sudah termasuk tindakan kasar, bagaimana ada pria seperti ini?


Elena diam-diam tersenyum. Dengan cepat ia menghempaskan tangannya keras membuat genggaman pria-pria ini terlepas.


Bugh!


"Saya gak akan tinggal diam," Elena dengan sigap menghajar satu-satu pria didepannya. Jangan bilang dia lemah, walau perempuan tapi ia cukup ahli bela diri.


Ya, Elena memang sempat mengikuti ekstrakurikuler bela diri di SMA-nya. Mungkin ini adalah saatnya dirinya mengeluarkan jurus-jurus yang ia pelajari walau sebenarnya ia pun takut.


"Ayo Kakak Ipar! hajar terus!" Chaca yang masih dipegangi pria gendut itu langsung berteriak histeris. Menyemangati Elena yang sedang menghajar pria yang tidak tau asal usulnya ini. Dirinya tidak menyangka Elena bisa bela diri seperti itu, mungkin nanti ia bisa meminta diajari olehnya setelah belajar mobil nanti.


Bugh!


"Sialan!" ucap salah satu pria yang tersungkur jatuh kebelakang.


Ketiga orang didepannya sudah terjatuh. Ini kesempatan untuk Elena. Untung saja pria-pria ini tidak menyerangnya balik karna mereka nampak terkulas lemah setelah Elena menendang aset berharga mereka.


Elena segera berlari. Mendekat kearah Chaca.


Pria bertubuh gendut itu langsung melepaskan gadis yang ia pegang dan berjalan maju kedepannya. Posisinya sekarang ada dihadapan Elena.


Elena hanya terdiam. Tinggal satu yang harus ia hajar. Didalam hatinya ia berdoa, semoga saja dirinya tidak mendapatkan dosa karna ia melakukan ini terpaksa.


"Wanita sialan! anda tidak akan selamat kali ini." ucap pria itu sembari menengak-nengok ke sampingnya. Seperti sedang mencari sesuatu.


Mata Elena kembali membulat. Pria itu nampak membawa kayu yang sekarang ada di genggamannya.

__ADS_1


"Ini hukuman untuk wanita nakal seperti mu." smrik pria itu seketika muncul.


Elena memundurkan tubuhnya beberapa langkah.


Chaca yang melihatnya hanya diam. Ia ingin membantu tapi dirinya takut, semoga saja Kakak Iparnya itu bisa menanganinya sendiri.


"Rasakan ini!" tangan pria itu terangkat. Siap untuk memukul wanita didepannya dengan kayu.


Elena dengan cepat menghindar. Namun sepertinya takdir baik tidak berpihak padanya.


Bugh!


"Shhh." Elena memegangi kepalanya. Pandangannya seketika kembali buram. Ia menahan rasa sakit di kepalanya akibat terkena pukulan kayu itu.


Chaca yang melihatnya langsung bergerak. Dengan cepat ia mendekat kearah pria gendut itu dan menendangnya dari belakang.


Bugh!


Pria gendut itu tersungkur ke depan dan melepaskan kayu yang digenggamnya. Chaca dengan cepat mengambil kayu itu dan memukul pelan pria yang terjatuh didepannya.


Bugh!


"Rasain Lo!" Chaca segera mendekat kearah Elena. "Ayo Kak kita pergi." ucapnya sembari menarik lengan Kakak Iparnya untuk masuk kembali dalam mobil.


Dengan tangan yang memegangi kepalanya. Elena mengikuti Chaca masuk kedalam mobil.


Sampai didalam mobil, Elena mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Ayo Kak cepet! keburu mereka bangun lagi." ucap takut Chaca.


"Iya Cha." Elena memejamkan matanya sesekali lalu membukanya kembali. Ia merasakan matanya selalu kabur. Entah kenapa penglihatan matanya jadi sedikit kurang jelas.


Elena segera melajukan mobilnya pergi dari tempat sini. Dengan kecepatan cepat.


___


Orang-orang yang tersungkur lemas itu langsung masuk kedalam mobil dan melakukan mobilnya.


Walau ada rasa nyeri, mereka masih mencoba untuk mengikuti mobil yang disuruh bosnya. Mobil yang berisikan orang yang akan mereka habisi.


"Kita pake rencana kedua."


__


"Mereka masih ngikutin Kak!" ucap Chaca menatap kearah belakangnya. Ternyata mobil hitam tadi tidak kapok mengikuti mereka.


Elena mencoba untuk mencepatkan laju mobilnya. Walau matanya kurang jelas, Elena tetap melaju kencang agar mobil yang mengikuti tidak mendahuluinya lagi.


Ya Tuhan, kenapa mataku jadi tidak jelas seperti ini


Entah kenapa matanya mendadak kurang jelas. Ingin rasanya menghentikan mobilnya namun Elena tidak mau ambil resiko jika nanti mereka tertangkap oleh orang-orang itu.


Dor!


Prang!


Elena menatap kebelakang lewat kaca spion.


Chaca mengelus dadanya takut. "Me-mereka main tembak-tembakan Kak. Kaca mobil belakang pecah." Chaca menunduk takut.


"Kamu tenang aja Cha. Semoga kita selamat." Elena masih mencoba untuk mempercepat kecepatan mobil. Kaca mobil belakang sudah pecah akibat tembakan tadi.


Elena memejamkan matanya lagi. Kenapa penglihatannya jadi kabur seperti ini?


Dor!


Blesh!


Elena segera membuka matanya cepat.


"Kak kok jalannya gak bener!" ucap Chaca masih dengan nada khawatir.


"Ban belakang meledak Cha." Elena melirik kebelakangnya melalui spion. Pasti ban belakangnya pecah akibat tembakan.


Keseimbangan mobil Elena mulai tidak teratur. Mobil mulai berjalan tak tentu arah. Elena sudah tidak bisa lagi mengambil alih kendali pengemudi. Benturan kayu dan stir tadi membuat kepalanya sakit. Dirinya hanya bisa merapalkan doa didalam hati. Apa ini akhir hidupnya?


BRUK!!

__ADS_1


"Dokter Bryan.."


__ADS_2