
HAPPY READING!
Elena menghembuskan nafas kasar. Lalu memencet tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo Mas?"
Akhirnya Elena mengambil keputusan untuk mengangkat telpon Bryan. Tapi, ia mengangkat nya di dalam kamar mandi. Setelah perdebatan kecil dengan Chaca prihal angkat atau tidak, Elena pergi dari sana, sesuai ucapan Chaca yang mengatakan angkat saja tapi di kamar mandi. Agar katanya tidak terlalu berisik jika mengangkat disana.
"Kau kemana saja tidak mengangkat telepon ku?! aku sudah memberi mu pesan juga, kenapa tidak membalas?!"
Terdengar ucapan kesal dari ujung sana.
"M-maaf, ponselku aku taruh di tas, aku tidak tau," cicit pelan Elena.
"Huh~ sekarang kau dimana?"
Elena terdiam sesaat. "Di kamar mandi- eh hallo?" Elena mendengar nada putus dari ponselnya, lalu menatap layar nya.
Mati. Sambungan telpon itu mati. Apa sinyal nya tidak sampai pada kamar mandi?
Tapi tak lama layar ponsel Elena kembali bergetar, memperlihatkan sambungan telpon lagi. Tapi bedanya kali ini sambungan telpon nya adalah Vidio Call.
"Duh! gimana ini?!" Elena menatap sambungan Vidio call dari Bryan. Kenapa pria itu malah mengajaknya bertatap muka?!
Karena tak mau mengambil masalah, Elena mengangkat Vidio call tersebut.
"Hai Mas?" Elena melambaikan tangannya pada layar. Terlihat disana ada Bryan yang sudah menatapnya datar. Dia tidak kerja apa ya?
"Kau dimana sebenarnya?"
Elena menatap kanan kiri, lalu mengarahkan ponselnya ke segala sisi tempatnya. Lalu kembali ke wajahnya. "Kamar mandi. Kan aku udah bilang."
Wajah Bryan nampak binggung disana. Heran, untuk apa wanitanya di kamar mandi?
"Sedang apa kau disana?"
"Lagi di kamar mandi, sudah pasti tau sedang apa kan?" balas Elena malas. Padahal dirinya kesini hanya untuk menerima telpon Bryan hehe.
"Ck! maksud ku kau sedang apa di Mall bersama gadis kecil itu?"
Ber-oh. "Ehm, hanya jalan-jalan.." Elena sudah berjanji tidak akan memberi tahu Bryan soal ini. Bisa bahaya jika Bryan tau ia dan Chaca kesini untuk membeli kado.
"Yakin?!"
Mengangguk. "Iya."
Memicingkan matanya. "Kau tidak berbohong padaku bukan?"
Elena mengigit bibirnya. Duh, apa Bryan tau soal ini? apa ia bilang saja? tapi tidak suprise dong! "I-iyaa. Aku tidak bohong."
Maafkan aku Ya Tuhan, Aku terpaksa berbohong demi kebaikan bersama hiks.
Setelah beberapa saat terdiam. Bryan menghembuskan nafas kasar. "Yasudah kalo begitu."
Elena tersenyum. "He'em," akhirnya, Bryan percaya.
__ADS_1
Menyangka panggilan nya akan tertutup, tapi ternyata tidak. Bryan masih saja menatapnya. Membuatnya binggung.
"Kenapa?" tanya heran Elena.
"Aku merindukan mu." Wajah Bryan disana terlihat sangat mengenaskan. Membuat Elena terkekeh geli.
"Baru tadi pagi ketemu."
"Itu tadi pagi, sekarang sudah menjelang siang! aku jadi ingin cepat-cepat pulang.."
"Selesain tugas kamu dulu, baru pulang," titah Elena. Akhir-akhir ini Bryan terlihat manja sekali padanya. Mungkin bawaan ....?
"Hah~ yasudah kalo begitu.. aku akan cepat membereskan nya. Kau jangan merindukan ku ya. Tunggu aku pulang."
Elena mengangguk kekeh. Melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
"Hanya itu? kau tidak ingin memberi tanda perpisahan?"
"Apa? tadi aku udah lambai-in tangan," balas Elena.
"Kau ini memang tidak peka, sudahlah aku tutup!"
"Eh-"
Bip!
Sambungan telpon terputus sepihak. Membuat Elena tak habis pikir. Kenapa pria itu malah marah? mengatainya tidak peka. Memangnya tidak peka apa coba?!
"Gatau deh," Elena menaikkan kedua bahunya acuh, lalu berbalik. Kembali pada meja dirinya dan juga Chaca.
...---...
Chaca yang sedang menikmati es-krim itu mengangguk. Lalu menenteng eskrim dan beberapa tasnya, berniat untuk pergi dari sini.
Elena yang melihat Chaca kesusahan merasa kasihan. Sudah tubuh kecil, ditambah tas yang banyak serta besar-besar. "Eh, mending habisin dulu aja eskrim kamu itu, baru kita pulang," Elena kembali duduk di kursinya.
Chaca mengangguk lalu duduk lagi. Menikmati es-krim nya. "Kakak ipar gak mau?"
Menggeleng lemah sembari tersenyum. Menolak halus tawaran Chaca. Dirinya menjadi hilang selera, moodnya kembali turun. Entah lah, mungkin karena menjelang siang? cuacanya membuat Elena tidak enak.
...---...
Setelah menghabiskan Eskrim dan perjalanan pulang. Akhirnya keduanya sampai di rumah. Membuat Elena dan Chaca segera masuk ke dalam. Berniat meregangkan tubuhnya setelah capek jalan berkeliling memutari Mall.
"Eh udah pada pulang."
Saat baru sampai pintu, keduanya sudah disambut oleh Meldi.
Elena tersenyum, menyapa mertuanya itu.
Pandangan Meldi langsung teralihkan. Menatap belanjaan kedua perempuan di depannya.
Berdecak heran. "Cha, Cha. Udah Mamah duga kamu. Pasti pulang-pulang kayak orang mau pindahan. Banyak banget Cha," Meldi menggeleng kan kepalanya melihat belanjaan anaknya itu. Memang sudah biasa, tapi Meldi masih heran saja. Apa saja memangnya yang di belanjaan anak nya itu setiap ke Mall? seperti tidak habis-habis nya berbelanja.
Chaca hanya terkekeh pelan.
__ADS_1
Meldi lalu mengalihkan tatapannya menatap Elena. Terlihat, jika Elena hanya membeli dua barang saja, karena di tangannya hanya ada dua tas belanja. "Kamu beli apa Na?"
Menatap tas yang di pegang nya. "Oh ini, cuman boneka sama baju aja Mah.." balasnya tak mengendurkan senyuman.
"Kalo Chaca beli tas, lilin, baju, sendal tidur, aksesoris, cincin, novel, komik, boneka, bantal kecil, baju tidur juga, gantungan lucu, buku catatan, totebag mini, lipstick, make-up," timpal Chaca membuat Meldi melongo. "Ada juga-" baru saja akan melanjutkan, tiba-tiba suara Meldi memotong.
"Udah. Mamah gak mau denger lagi. Bisa jantungan Mamah," Meldi mengelus dadanya pelan. Mendengar itu saja sudah membuatnya sesak nafas. Berapa yang dihabiskan Chaca untuk itu kira-kira? Ya Tuhan.. Meldi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Gembira. "Yaudah kalo gitu Chaca ke kamar duluan ya! mau tidur!" setelah berpamitan, Chaca segera pergi dari sini. Meninggalkan Elena dan Meldi.
Melihat kepergian itu membuat Meldi menatap Elena lagi. "Buat kado Bryan udah ada?" tanya nya.
Mengangguk. "Udah ada kok Mah." menjeda sebentar ucapannya. "Em, maaf, kalo Elena tinggal duluan ke kamar gapapa kan Mah?" sungguh, tubuh Elena saat ini lelah sekali. Berputar berjam-jam di Mall tadi.
Meldi ikut mengangguk mengerti. "Yaudah, kamu istirahat gih pasti capek kan?"
"Hm. Kalo gitu Elena ke kamar duluan ya."
"Iya." Meldi mengangguk lagi.
Setelah mendapatkan balasan, Elena segera melangkah. Naik ke atas tangga, berniat ke kamarnya. Tubuhnya butuh banyak istirahat saat ini.
...---...
Menjatuhkan tubuhnya pada atas ranjang. Elena menghembuskan nafas, menatap langit-langit dinding kamar. Posisi yang cukup nyaman, ia jadi ingin tidur sekarang, tapi sayangnya dirinya harus melakukan sesuatu terlebih dahulu. Sesuatu yang sudah ia rencanakan saat kepulangan dari Mall tadi.
"Huh," bangkit dari rebahannya. Elena mengambil tasnya. Membuka, mencari sesuatu dan langsung mengeluarkannya. "Apa aku ngecek sekarang aja?" tanya Elena pada diri sendiri. Menatap benda yang sudah ada di tangannya.
Benda yang ia beli di apotik saat dirinya dan Chaca pulang.
Benda yang sempat ia tendang di rumah sakit kemarin.
Sebuah test-pack.
Ya. Untung saja Elena ingat untuk membeli benda ini lagi. Karena kejadian dirinya bertemu Bryan kemarin di rumah sakit, dirinya jadi belum tau apa ia memang hamil atau tidak. Apalagi dirinya juga belum memastikan nya ke dokter kandungan. Hah, semoga saja memang benar, tapi jika tidak benar pun Elena tidak terlalu mempermasalahkan, atau merasa sedih. Pasalnya memang Elena memiliki asam lambung, dan penyakit nya itu sering kambuh dalam kurun waktu tak tentu, tak ayal jika memang tanda-tanda seperti orang hamil ini malah ternyata asam lambungnya yang naik.
"Semoga saja," Elena lantas bangkit dari duduknya. Berjalan perlahan menuju kamar mandi. Masuk ke dalamnya lalu tak lupa mengunci dari dalam.
Sampai di dalam, Elena langsung membaca tulisan tata cara di bungkus test-pack tersebut. Di dalam hati, Elena merapal kan banyak-banyak doa. Dirinya sungguh deg-degan akan hasilnya nanti. Positif atau negatif?
Yang pertama dirinya akan mengambil urin terlebih dahulu.
Setelah mendapatkannya wadah yang menampung urin langsung ia taruh di atas wastafel. Mengambil test-pack yang sudah tersedia. Langkah selanjutnya Elena akan mencelupkan testpack tersebut ke dalam wadah. Sesuai aturan, Elena mencelupkan nya hingga batas max yang ada di testpack tersebut.
Menatap bungkusan lagi, Elena membaca hasilnya akan keluar dalam lima detik. Artinya dirinya hanya perlu menunggu.
Menghitung setiap detik jam, Elena lantas segera mengangkat testpack tersebut ketika sudah sampai pada detik kelima, untuk melihat hasilnya.
Memejamkan mata sebelum melihat, Elena berharap garis yang menunjukkan akan dua. Sesuai yang ada di bungkus nya, garis dua berarti pertanda jika memang dirinya hamil.
"Satu.. dua.. tiga!" Elena membuka mata, menatap test-pack yang sudah ada di tangannya. Menatap hasil nya.
Senyum yang tadinya merekah tiba-tiba turun menyusut. Elena menatap diam garis yang di tunjukan test-pack tersebut. Menatap kembali bungkus nya, lalu menatap test-pack lagi. Benar. Dirinya tidak salah membaca dan melihat. Terdapat garis satu di benda putih panjang tersebut. Yang artinya..
Dirinya tidak hamil.
__ADS_1