Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB44: Kekesalan Chaca


__ADS_3

HAPPY READING❤


Bryan dengan cepat berjalan menuruni tangga. Ia harus bergegas pergi ke rumah sakit karna keadaan mertuanya kembali kritis. Dirinya tidak tega membicarakan ini pada Elena karna gadis itu nampak kurang sehat, alhasil ia memilih untuk pergi langsung ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Pak Dimas.


"Bi." sahut Bryan memanggil Maid yang melintas tak jauh darinya.


Mendapat panggilan dari seseorang, membuat Maid itu menghentikan langkahnya dan menatap asal suara tersebut.


Melihat majikannya memanggil, ia pun segera mendekat dan menunduk sopan. "Iya Tuan."


"Bawakan sarapan ke kamar."


"Baik Tuan, kalo begitu saya permisi," Maid itu lantas pergi meninggalkan Bryan ketika sudah tidak ada perintah lagi. Ia akan langsung melaksanakan perintah yang di ucapan Majikannya itu.


Bryan pun kembali melanjutkan langkahnya, namun sebelum menuju pintu utama tiba-tiba saja namanya dipanggil dari arah belakang.


"Bryan, kamu mau kemana?"


Bryan lantas berbalik menatap seseorang yang memanggilnya tadi. "Aku akan kerumah sakit, Mah."


Meldi berjalan mendekat kearah anak pertamanya itu. Ia heran karna Bryan berangkat pagi-pagi sekali, apalagi menantunya tidak terlihat disekitar anaknya.


"Pagi-pagi banget. Oh iya, menantu kesayangan Mamah mana?" tanyanya dengan melihat keadaan sekitarnya.


"Aku ada urusan dirumah sakit. Elena sedang tidak enak badan, aku menyuruhnya untuk istirahat di rumah."


Raut wajah Meldi seketika berubah menjadi panik. "Elena sakit?! sakit apa?!" padahal kemarin menantunya terlihat baik-baik saja, namun kenapa sekarang malah sakit? Meldi jadi khawatir pada menantunya itu.


Bryan menaikkan kedua bahunya. "Aku belum sempat memeriksanya tadi." Bryan sangat menyesal karna tidak bisa memeriksa gadisnya itu sekarang.


"Kamu ini gimana sih! itu istri kamu loh, malah kamu tinggal. Yaudah sana pergi kalo kamu mau kerumah sakit, Elena biar Mamah yang ngurus." Kesal Meldi. Ia lantas segera berbalik dan berjalan cepat menaiki tangga. Ia sangat khawatir jika ada anggota keluarga yang sakit, apalagi ini menantu kesayangannya.


Bryan menghela nafasnya pelan. Jika bukan karna mertuanya, Bryan pun tidak mau meninggalkan Elena yang sedang sakit seperti itu. Namun mau bagaimana lagi? Dimas kembali kritis. Kondisi mertuanya sekarang sangat diluar dugaannya. Ia hanya takut jika ke khawatirannya selama ini terjadi.


Bryan lantas kembali melanjutkan langkahnya keluar dari rumah Atmaja dan menaiki mobil yang terparkir indah di halaman. Ia memang tidak mempekerjakan supir, lain dengan Abraham yang memiliki beberapa supir untuk penjagaan. Entah kenapa Bryan lebih nyaman menyetir sendiri ketimbang dengan supir.


Setelah memanaskan mobilnya sebentar, Bryan pun langsung melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumahnya dengan kecepatan sedang.


___


Meldi berjalan menuju kamar Bryan. Sampai didepan pintu, ia langsung masuk begitu saja karna rasa panik sekaligus khawatirnya pada sang menantu.


"Na? kata Bryan kamu sakit? kamu sakit apa?" tutur Meldi ketika sampai di dekat Elena dan duduk di tepi ranjang sembari menatap Elena khawatir.


Elena yang sedang terduduk diatas ranjang pun langsung mengalihkan tatapannya pada wanita dewasa didepannya. Ia lantas tersenyum karna mendapat perhatian dari mertuanya, seketika hatinya menghangat.


"Aku gapapa ko Mah. Mamah tenang aja." jawab Elena. Ia memang sudah tidak merasakan mual lagi walau rasa pusing dikepalanya masih ada.


"Emangnya tadi kamu kenapa?" ulang Meldi.


"Tadi aku sedikit mual sama pusing."


Meldi terdiam mendengarnya. Mual? pusing? bukankah itu gejala pertanda?


"Mual?" kerutan di dahi Meldi seketika berubah menjadi wajah gembira. "Kamu Hamil Na!"


Elena menganga, membulatkan matanya. Ia tidak hamil, dan tidak akan mungkin hamil! bagaimana bisa hamil jika kondisi tubuhnya masih suci alias perawan?!

__ADS_1


"Ga-" sebelum Elena berbicara, Meldi terlebih dahulu memotong ucapannya.


"Udah fix kamu hamil! ternyata susu kemarin berfungsi juga. Ya Tuhan, Terimakasih. Akhirnya Mamah bakal punya cucu." ucap Meldi bahagia.


Melihat wajah bahagia dari mertuanya membuat Elena terdiam. Bagaimana ia menjelaskan jika dirinya tidak hamil? raut wajah Meldi pun nampak senang, dirinya jadi tidak tega mengatakan bahwa dirinya tidak hamil.


"Tapi-"


Lagi-lagi ucapan Elena di potong oleh Meldi. Membuat gadis itu menghela nafasnya pelan.


"Udah Na, kamu diem aja disini. Jangan kemana-mana ya. Mamah mau telpon dokter pribadi keluarga dulu, biar dia ngecek kondisi tubuh kamu sama calon bayinya," Meldi segera bangkit dari duduknya namun sebelum melangkah, tiba-tiba saja dari arah pintu masuk datang sesosok wanita tua dengan kedua tangan yang memegang sebuah nampan berisikan beberapa makanan.


"Maaf Nyonya, saya mau mengantarkan sarapan untuk Nona Elena." jelas wanita tua itu yang tak lain adalah salah satu Maid dirumah ini.


Meldi mengangguk dan tersenyum.


Mendapat persetujuan, Maid bernama Susi itu pun berjalan mendekat kearah ranjang Elena dan menaruh nampan yang ia bawa di atas nakas di samping kasur. Ia lantas menatap istri dari Tuannya.


"Saya membawa makanan untuk Nona. Silahkan dimakan Nona." sopannya.


Elena mengangguk dengan tersenyum. Dirinya merasa tersanjung mendapati semua perhatian ini. "Makasih ya Bi, maaf ngerepotin."


"Sudah tugas saya melayani, Nona." tunduk Maid tersebut. "Kalo begitu saya pamit, permisi." lanjutnya berbalik dan berjalan menuju kearah luar, namun sebelum itu sebuah suara dari belakang membuatnya menghentikan langkahnya.


"Bi."


Maid itu kembali berbalik. "Iya Nyonya."


Ya, yang memanggilnya adalah Meldi. Wanita dewasa itu nampak menaikkan kedua alisnya penuh maksud.


"Tolong panggilkan pihak rumah sakit ya Bi, suruh dokter kandungan yang terbaik disana, kesini. Karna sebentar lagi keluarga kita akan dapat kabar bahagia." ucap Meldi tanpa menurunkan senyum diwajahnya sembari sedikit melirik Elena yang masih terdiam di ranjang.


Tak lama terdiam, Bi Susi-pun mengangguk paham. Ia ikut mengulas senyum bahagianya. Untung saja otaknya sedang kosong jadi dirinya bisa secepatnya menafsirkan setiap kode yang di arahkan Nyonya-Meldi.


"Baik Nyonya, kalo begitu saya permisi dulu." Ia mengalihkan tatapannya menatap Elena "Mari Nona, " setelah menunduk hormat Maid itu pun berlalu dari hadapan Meldi dan Elena. Ia akan melaksanakan tugas untuk menelpon rumah sakit agar mendatangkan dokter kandungan kesini.


___


Dengan langkah cepat, Bi Susi berjalan mendekat kearah tangga untuk turun. Ia ikut senang dengan kabar akan adanya anak kecil dirumah ini.


"Bi!"


Perjalanannya seketika terhenti. Ia masih terdiam ditempatnya sampai sesosok gadis cantik muncul dari arah belakang dan berdiri di hadapannya.


"Bibi mau kemana?"


Maid itu tersenyum. "Saya akan memanggil dokter kandungan, Nona."


Chaca membulatkan matanya tersentak kaget. Dokter kandungan? untuk apa? untuk siapa? memangnya disini ada yang sedang mengandung? seingatnya tidak ada.


"Dokter kandungan buat siapa?" tanyanya kepo. Ia memang suka penasaran dengan sesuatu yang masih menjadi tanya besar di kepalanya.


"Untuk Nyonya-"


"APA!?" Chaca menganga dengan mata yang kembali membulat lebar. Ia kaget dengan tuturan Bibi-nya ini.


Bi Susi terdiam ketika mendengar suara teriakan yang membuat telinga-nya mendengung. Ia belum saja selesai berbicara namun anak ketiga majikannya ini sudah mendahuluinya.

__ADS_1


"Aaaaa!!" rengek kembali Chaca, wajahnya sudah merah padam sekarang. Ia sangat merasa kesal dan sekaligus ingin menangis. "Apa gak cukup gue, Kak Bryan sama Kak Aiden?! kenapa Mamah malah nambah anak lagi sih! Chaca gak suka!"


Chaca menghentakkan kakinya kasar. "Masa diumur gue yang udah segede gini, Mamah malah hamil lagi sih!" lanjutnya sebal.


"Tapi Nona-"


"Sut!" Chaca menatap tajam sang Maid. "Udah Bi, cukup! aku gak kuat dengernya kalo Mamah hamil! udah Bi jangan bilang lagi, aku udah ngerti!"


Bi Susi terdiam kembali. Ia ingin menjelaskannya namun Chaca selalu memotong ucapannya.


Dengan kaki yang di hentakkan kesal, Chaca pergi dari hadapan Bi Susi dan berjalan melangkah ke tangga untuk turun ke lantai bawah. Wajahnya mendung, ia tak terima dengan apa yang di tuturkan sang Maid tadi.


Chaca berjalan menuju arah pintu utama, ia berniat akan keluar dari rumah hari ini untuk menenangkan otaknya.


Belum sampai di pintu utama, tiba-tiba Chaca menghentikan langkahnya ketika melihat sesosok pria tampan masuk dan berjalan mendekat kearahnya.


"Kamu kenapa Cha? muka merah kayak gitu. Kamu habis ngapain hm?"


Abraham berjalan dan berdiri dihadapan Chaca. Dahinya mengkerut menatap sang anak yang terlihat sedang kesal?


"Papah!" Chaca memajukan bibirnya kedepan. "Papah gak cukup apa sama Chaca, Kak Bryan dan Kak Aiden?" ketusnya.


"Maksud kamu itu apa?" Abraham menatap Chaca dengan tanya. Maksud anaknya ini apa sebenarnya?


Chaca tau pasti Papahnya ini pura-pura tidak tau jika sang Mamah hamil, mana ada suami yang tidak tau jika istrinya sedang mengandung? "Chaca udah tau semuanya! Chaca udah tau kalo Mamah itu hamil lagi, ya kan Pah?!" ucapnya sembari melipat kedua tangannya di dada.


"APA?! MAMAH HAMIL?"


Chaca mengalihkan tatapannya kearah pintu utama lagi. Disana terlihat ada Aiden yang sedang membulatkan matanya tersentak kaget.


Aiden segera berjalan mendekat ke tempat keduanya lalu berdiri tepat disamping Abraham. Ia menatap Papahnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Yang dibilang Chaca bener Pah? Mamah hamil lagi?" tanya Aiden penuh tanya.


Abraham menggelengkan kepalanya. "Papah gatau kalo Mamah kalian hamil lagi." ia tidak melihat jika Meldi mual-mual atau Meldi berbicara soal anak lagi dengannya, apa yang dikatakan Chaca itu benar? seketika senyumnya terbit. Jika memang benar, dirinya sangat bersyukur dan merasa bahagia.


"Papah bener-bener gatau?" Chaca menaikkan sebelah alisnya ketika Abraham melebarkan senyumnya. "Papah ko malah senyum sih!" runtuknya.


"Ya terus Papah harus apa?" tanya Abraham.


Aiden masih terdiam. Wajah-nya ikut kusam seperti Chaca. Ia tak habis pikir jika Papahnya masih mau menambah momongan.


"Ya bilang kek sama Mamah jangan hamil! aaa pokoknya Chaca gak mau Mamah hamil!"


Helaan nafas terdengar dibibir Abraham. "Gak boleh gitu Cha, anak itu titipan dari Tuhan sekaligus rejeki buat keluarga kita." jelasnya. Hatinya merasa bahagia mendengar kabar Meldi yang hamil lagi, itu artinya tak sia-sia ia membuang semua obat kb milik istrinya.


"Ih Papah! kalo Mamah hamil, terus beberapa hari lagi nanti Kakak Ipar hamil gimana?!"


Aiden menatap Chaca binggung. "Hubungannya Mamah hamil sama Kakak Ipar hamil apa?"


Chaca berdecak sebal. "Kalo Kakak Ipar hamil, Mamah hamil terus nanti pasti mereka lahiran dihari yang gak beda jauh dong? terus kalo anak-anak nya udah gede gimana?! nanti banyak orang yang nganggep kalo mereka itu Adik-Kakak tapi nyatanya mereka itu Tante sama Ponakan yang umurnya setara gimana? kan gak lucu Pah!"


Aiden menganga. Ada benarnya juga adiknya ini.


"Yang bilang lucu siapa Cha?" Abraham terkekeh menatap wajah kesal anak ketiganya. Gadis itu nampak terlihat sangat emosi.


Chaca menghentakkan kakinya kasar. Bukannya memikirkan bagaimana nasib adiknya dan juga keponakannya, Papahnya itu malah terkekeh geli membuat dirinya bertambah kesal.

__ADS_1


Bantu like, vote dan suportnya untuk cerita ini ya! terimaksih❤


__ADS_2