Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB77: Festival Pasar Malam


__ADS_3

HAPPY READING❤️


Setelah melontarkan apa yang ada di hatinya. Bryan pun menjauhkan wajahnya dan menatap Elena dengan pandangan yang masih tak berekspresi. Tak lama Bryan menaikkan kedua alisnya seperti menunggu jawaban dari gadis di depannya ini.


Sedangkan Elena diam mematung. Masih mencerna ucapan dari Bryan.


"Mak-maksud Dokter itu apa ya?" tanya Elena setelah lama terdiam.


Bryan menghembuskan nafasnya pelan. Menatap Elena dengan wajah dinginnya.


Pletak!


"Aw," Elena segera memegang dahinya. Meringis. Bryan menyentil dahinya dengan pelan namun terasa sakit di kepalanya.


Setelah melakukan hal itu, dengan tidak berdosanya Bryan memasukkan kedua tangannya di saku jas putih yang ia kenakan. Lalu menatap Elena santai, seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kau ini bodoh atau memang pura-pura tidak tau?" papar Bryan, singkat.


Elena mengeleng pelan. "Aku memang tidak tau. Dokter bicara ambigu sekali. Tidak bisa apa langsung to the point?" Elena menatap nyalang Bryan. Dirinya tidak boleh takut, dirinya memang benar tidak tau maksud dari Bryan. Tidak salah bukan?


Mendengar itu membuat Bryan membalas tatapan Elena tak kalah tajam. Keduanya menatap satu sama lain namun tak lama Bryan memutuskan tatapannya terlebih dahulu.


"Ck! dasar tidak peka," Bryan berbalik. Memunggungi Elena, untuk kembali berjalan seperti semula. "Kita pulang sekarang." lanjutnya dengan melangkah meninggalkan Elena.


Elena yang melihat itu terdiam. Tidak peka bagaimana? kadang Elena binggung dengan sikap Bryan. Sering berubah-rubah. Apa pria itu memiliki dua kepribadian? tapi jauh dari lubuk hatinya. Ia merasa Bryan seperti memberi kode jika dia? ah sudahlah. Elena tidak mau terlalu agresif. Jika yang ada di hatinya tentang ucapan Bryan tadi salah bagaimana coba?


Elena segera menggelengkan kepalanya. Ia mengusir apa yang ada di pikirannya. Dengan cepat, ia menatap arah hadapanya. Bryan nampak sudah berjalan jauh di depan sana membuatnya ikut segera melangkahkan kakinya sebelum tertinggal jauh.


Elena berjalan di belakang Bryan. Ia menyesuaikan kakinya dengan langkah pria di depannya.


Keduanya sekarang berjalan kembali menuju ruangan Elena, untuk membereskan semuanya termasuk mengganti pakaian yang di kenakan Elena.


Sampai di depan tujuan. Tak ingin membuang-buang waktu, mereka pun langsung masuk ke dalam kamar rawat Elena.


"Ganti pakaian mu. Aku akan tunggu disini." ucap Bryan, tanpa menatap Elena. Pandangannya nampak lebih dominan menatap sekitaran ruangan ini. Entah menghindari tatapan gadisnya atau memang tidak mau menatapnya.


Elena mengangguk pelan. Lalu berjalan menuju kamar mandi yang terletak disini. Ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi itu, walau hatinya merasa binggung. Kenapa? karna ia binggung sebenarnya ini hotel atau kamar rawat? semua fasilitas tersedia disini. Tapi tak lama, tanpa mau berfikir panjang. Elena segera masuk dan mengganti pakaiannya disana. Ya, kemarin salah satu bawahan Bryan membawakannya beberapa pakaian dari rumah, sehingga dirinya masih bisa mengganti pakaiannya disini, agar tubuhnya tidak lengket.


...***...


Bryan menyenderkan tubuhnya pada dinding pintu belakang kamar ini. Menunggu Elena keluar dari kamar mandi.


Kedua tangannya asik memainkan ponsel. Sebenarnya pekerjaannya cukup lumayan banyak, namun dirinya lebih mementingkan Elena sekarang. Toh, rumah sakit itu akan menjadi miliknya, jadi tidak mungkin akan ada orang yang berani memarahinya, kecuali sang Papah-Abraham.


Sembari menunggu, Bryan sesekali men-scrool ponselnya. Membuka semua pesan atau pun yang lain. Namun dirinya tidak membalas itu semua, hanya melihatnya tanpa ada niatan membalas.


Tak lama suara pintu di depannya terbuka. Bryan segera menatap asal suara itu dengan memasukkan ponselnya kedalam saku celana.


Seorang gadis mendekat. Membuat Bryan menegakkan tubuhnya seperti biasa.


"Sudah?" tanya Bryan.


Elena menganguk. Dengan tersenyum. "Sudah."


"Yasudah kita pulang sekarang," Bryan berbalik. Berniat membuka pintu, namun ada ucapan yang menghentikan pergerakannya.


"Tapi pakaian saya gimana Dok?" tanya Elena. Pakaiannya di kamar rawat ini masih belum di bereskan.


Bryan berbalik, kembali menatap Elena. "Biarkan bawahan ku yang membereskannya." singkat Bryan.


Elena pun mau tak mau mengangguk. "Yasudah."


Bryan mengangguk singkat lalu keluar dari ruangan ini. Disusul Elena.


Mereka berjalan saling beriringan. Melangkah melewati lorong demi lorong rumah sakit. Sebenarnya Elena risih, me dapati tatapan dari orang sekitarnya. Yang menatapnya begitu aneh, membuatnya tidak mengerti.


Dengan kaki berjalan. Bryan terlihat melirik sekilas Elena. Ia tau apa yang di rasakan gadis itu sekarang. Tanpa di suruh, Bryan pun segera menggenggam telapak tangan Elena yang kosong. Mengenggam erat tangan itu.


Elena yang merasakan ada sesuatu langsung menatap tangannya. Genggaman. Elena segera menatap Bryan. Tangan Bryan mengenggamnya sekarang.


"Hiraukan mereka semua. Jangan pedulikan," ucap Bryan. Tanpa menatap Elena. Tatapannya nampak fokus ke arah depannya.


Elena hanya diam. Guratan senyum terlihat kembali di wajahnya. Senang? entah lah. Namun hatinya tidak bisa di tutupi, ia merasakan ada sesuatu dihatinya dengan perlakuan Bryan sekarang. Sebenarnya ada apa dengan pria ini?


...***...


Tak lama perjalanan. Mereka berdua sudah sampai sekarang di parkiran. Bryan melepaskan genggamannya pada Elena ketika sudah berada di depan mobil berwarna putih.


"Masuk." titah Bryan, menatap Elena.


Elena menganguk. Ia pun segera masuk kedalam mobil putih itu, yang tak lain adalah mobil Bryan.


Disusul Bryan yang ikut masuk kedalam mobil. Keduanya duduk berdampingan. Bryan di bagian pengemudi, sedangkan Elena di sampingnya.


Keadaan menjadi gugup. Mereka berdua hanya terdiam dengan pikiran masing-masing, sampai pada Bryan menyalakan mobilnya dan melaju keluar dari rumah sakit, mereka masih nampak terdiam satu sama lain. Tak ada dari mereka yang berniat berbicara terlebih dahulu, ataupun membuka suara.


Bryan fokus menyetir, sedangkan Elena hanya diam menatap gedung-gedung dan jalan di sampingnya.


Hari nampak sudah mulai malam, namun langit masih belum terlalu gelap. Kondisi jalanan pun terlihat cukup padat karna memang jam segini adalah jam semua orang pulang dari kerjaan mereka, alhasil menjadi macet seperti ini.


Elena menatap sampingnya, lebih tepatnya menatap keadaan di luar jendela mobilnya. Sampai pada mata nya menangkap sesuatu yang ramai. Membuat dirinya langsung menatap Bryan.


"Dokter?" panggil Elena. Menoleh pada Bryan.


Bryan yang masih fokus menatap jalanan,dengan cepat melirik Elena.


"Hm."

__ADS_1


Elena menunjuk pinggir jalan di depannya. Membuat Bryan mengikuti arah pandang gadisnya.


"Kita kesana yuk Dok?" ajak Elena, penuh harap.


Bryan berdecak. "Kau belum sembuh. Disana terlihat ramai. Aku tidak mau kau pingsan di tengah keramaian itu," sebenarnya ada alasan lain juga. Bryan memang sedari kecil tidak suka dengan keadaan ramai, dirinya lebih suka dengan keadaan yang sepi dan tenang. Keliatannya pun tempat yang di tunjuk Elena itu sangat ramai dengan orang-orang. Membuatnya sangat tidak menginginkan kesana.


"Saya udah sehat kok Dok. Kita Mampir sebentar kesana. Keliatannya seru," gembira Elena. Kalian mau tau tempat apa yang di tunjuk Elena? ya. Gadis itu menunjuk sebuah festival. Dari sisi jalan saja sudah terlihat banyaknya orang yang ingin masuk kedalam sana. Mungkin bisa di bilang juga ada pasar malam disana.


"Tidak. Lebih baik kita pulang," singkat Bryan.


Elena menunduk. Tiba-tiba di pikirannya memunculkan sesuatu ide yang cukup cemerlang. Semoga saja ide itu mampu meluluhkan hati Bryan.


"Padahal kita jarang jalan-jalan berdua loh Dok." sedih Elena menunduk, dengan sesekali melirik Bryan.


Bryan menatap Elena sekilas. Sebenarnya ia tidak mau kesana. Namun melihat wajah sedih Elena membuat hatinya berbeda. Dengan menghembuskan nafasnya pelan, Bryan pun mengangguk.


"Yasudah, kita kesana-" jawab Bryan, yang membuat Elena langsung tersenyum.


"Tapi hanya sebentar." lanjut Bryan.


Mendengar itu Elena pun mengangguk. Akhirnya aktingnya berhasil. Tak apalah hanya sebentar. Yang penting dirinya bisa mampir kesana.


Elena memang belum pernah kesana. Dirinya ingin merasakan pergi kesana. Mencoba sensasi yang tersedia disana. Jangan mengatainya lebay hanya karna begitu antusias pergi ke tempat 'pasar malam' itu. Dirinya memang belum pernah mengunjungi tempat tersebut. Semenjak Ibunya meninggal, dan Bapaknya sakit, Elena bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan juga sang Bapak. Alhasil tidak ada waktu untuk dirinya berkunjung ke tempat seperti itu.


Mobil Bryan pun segera melaju mendekat ke tempat itu lalu berhenti tepat di depan sana. Keadaan nampak ramai oleh pejalan kaki maupun kendaraan yang lewat.


Bryan menatap sekitar tempat itu, melewati kaca mobil. "Ck! kau lihat? tempatnya ramai. Kau yakin ingin pergi ke tempat seperti itu?" tanyanya.


Elena mengangguk yakin. "Iya," ia ikut menatap sekitaran area pintu masuk pasar malam itu. "Kalo masuk gak terlalu ramai kok Dok. Kayaknya cuman sekitaran depan aja yang ramai," Elena menatap kembali Bryan. "Turun Dok," setelahnya ia nampak membuka pintu lalu turun dari mobil.


Bryan yang melihat itu ikut turun dari mobilnya, tapi sebelumnya ia melepaskan jas putih yang kenakan, lalu segera keluar dan berjalan mendekat ke tempat Elena dan berdiri di samping gadis itu.


"Huh. Kau harus berterimakasih karna aku mau menemanimu kesini," papar Bryan menatap Elena.


Elena tersenyum simpul. "Terimakasih ya Dok."


Bryan menghela nafasnya gusar, lalu segera menggenggam tangan Elena.


Elena yang merasakan tangannya di genggam kembali pun langsung menatap Bryan penuh tanya.


"Aku hanya tidak ingin kau hilang. Tubuhmu pendek, akan susah jika kau menghilang di tempat keramaian ini," dingin Bryan, kembali menatap arah depannya lalu segera berjalan.


Karna Bryan mengenggam erat tangannya. Elena pun mau tak mau harus kembali mengikuti setiap langkah Bryan.



Mereka bedua masuk kedalam festival itu. Beriringan dengan tangan yang saling bertautan. Seakan-akan tidak ingin saling berpisah.


Elena begitu antusias menatap sekitarnya. Mulai dari wahana ataupun kedai yang menjual berbagai macam makanan.


Bryan melirik Elena disampingnya. "Kau senang?"


Elena membalas. Menatap Bryan. "Seneng Dok," ucapnya dengan mengangguk. "Saya belum pernah kesini, cuma pernah lewat depannya aja. Belum pernah masuk." curhatnya.


Tanpa sadar Bryan menarik smrik-nya. Senang melihat Elena bahagia seperti ini, namun sedih karna menemukan fakta Elena belum pernah kesini. Apa dirinya perlu mengosongkan tempat ini khusus untuk mereka berdua? agar Elena bisa sering-sering kesini tanpa di ganggu keramaian ini? Bryan mungkin akan memikirkan soal itu nanti.


"Dokter pernah kesini?" tanya Elena.


"Aku tidak suka tempat ramai." jawab Bryan.


Keduanya berbicara sembari mengobrol Menatap satu sama lain. Seakan dunia hanyalah milik mereka berdua.


Elena mengangguk pelan. "Padahal ramai-ramai gini enak loh Dok." sahutnya.


Bryan menaikkan sebelah alisnya. Seakan bertanya.


Elena yang paham pun akhirnya menjelaskan.


"Enak aja karna bisa lihat orang-orang lainnya bahagia disini, ada juga mungkin yang gak sengaja kenalan disini dan akhirnya punya temen baru, atau mungkin ketemu jodohnya disini. Siapa tau aja kan Dok?" kekeh Elena.


Bryan tak habis pikir. Gadis seperti ini memikirkan hal seperti itu? sungguh diluar dugaannya.


"Dokter pernah jalan berdua gitu kayak gini?" tanya Elena. Entah kenapa ia sedikit kepo dengan masalalu Bryan, soal percintaannya.


"Maksud mu?"


Elena mengigit bibir bawahnya. Gugup. "Maksudnya tuh, kayak jalan berdua, kencan gitu. jalan-jalan." ucapnya menatap penuh tanya Bryan.


Bryan nampak berfikir. Tak lama ia nampak mengangguk, "Pernah."


Mendengar itu membuat Elena ber-oh.


"Kau tidak ingin tau siapa orangnya?" lanjut Bryan.


Elena menggeleng. "Untuk apa?" Elena tidak terlalu kepo dengan wanita yang pernah diajak jalan oleh Bryan. Toh, Bryan sosok laki-laki yang di idam-idamkan wanita, pastinya banyak bukan yang sering mengajaknya berkencan?


Bryan menatap kesal Elena. Dirinya jadi kembali mengingat saat mereka pertama kali bertemu. Di rumah sakit. Saat dimana ia bertanya, mengapa Elena tidak menanyakan namanya, dan gadis itu dengan santainya bertanya 'untuk apa?' ya sama saja seperti ini.


"Sosok itu Chaca. Gadis yang mungkin pertama dan terakhir aku ajak jalan dulu." jawab Bryan menatap Elena, yang sepertinya akan bersuara. Karna tau apa yang akan di bicaran, Bryan pun menimpali terlebih dahulu. "Walau kau tidak bertanya, aku hanya memberitahu saja. Aku takut kau tidak bisa tidur karna memikirkan siapa wanita yang pernah ku ajak jalan." lanjutnya sedikit terkekeh.


Elena yang mendengar itu hanya memasang wajah sebal. Ngapain juga memikirkan hal itu sampai tidak bisa tidur? tidak ada faedahnya. Walau sebenarnya jalan pikiran dan juga hatinya merasa berbeda.


"Lalu kau?" lanjut Bryan, bertanya.


Elena nampak berfikir juga. Mengingat-ngingat masa lalu. Tak lama ia pun mengangguk.


"Em, Pernah. Dulu sih, bukan ketempat ini cuman pernah jalan sekitaran taman aja."

__ADS_1


"Siapa ornag itu?" selidik Bryan.


"Pak Wilson," jawab Elena, dengan tersenyum. Tanpa menyadari akibat yang akan timbul nanti setelah mengatakan nama itu.


Mendengar nama orang itu di panggil membuat Bryan menghentikan langkahnya. Ia mengubah wajahnya menjadi datar. Bryan kesal. Entah kenapa dirinya jadi membenci dengan nama itu.


Mendapati Bryan yang menghentikan langkahnya, Elena pun ikut menghentikan kakinya.


Elena menatap Bryan dengan tanya. Kenapa pria ini berhenti?


Bryan mengubah posisi tubuhnya. Elena pun mengikuti Bryan. Posisi keduanya sekarang menjadi saling berhadapan.


"Jangan pernah menyebutkan nama itu lagi. Aku tidak suka," kesal Bryan.


Elena menaikkan salah satu alisnya binggung. "Memangnya kenapa Dok?"


Bryan berdecak sebal. "Ck! aku tidak suka kau mengingat pria itu lagi. Jangan pernah menyebut namanya lagi, hapus pikiran mu tentang pria itu. Jangan pernah mengingatnya lagi."


Mata Elena membulat. "Mana bisa gitu Dok."


"Harus bisa." dingin Bryan, walau ucapannya terdengar penuh tekanan. "Apa perlu aku mencuci otakmu agar kau bisa melupakan pria itu?"


"Permisi Kakak-Kakak."


Tiba-tiba terdengar suara dari arah samping mereka. Keduanya pun menatap asal suara itu yang ternyata berasal dari seorang laki-laki muda yang nampak memegangi kameranya.


"Jasa photonya Kak." ucap pria itu. Menawarkan jasanya.


Elena menggeleng pelan. "Gak dulu Bang. Maaf." tolak halus Elena yang membuat pria itu mengubah ekspresinya menjadi sedih.


"Gratis kok Kak, untuk Kakaknya. Kayaknya Kakaknya pasangan yang romantis. Jadi cocok deh aku gratisin. Itung-itung promosi." kekeh pria itu.


"Lain kali ya Bang." tolak halus sekali lagi Elena. Bukannya tidak mau, ia memang tidak suka berfoto seperti itu. Apalagi posisinya sekarang dirinya dan juga Bryan sedang membicarakan sesuatu.


Elena mengalihkan tatapannya pada menatap Bryan. Keduanya kembali saling berhadapan sekarang.


"Dok-dokter cemburu?" selidik Elena. Melanjutkan pembicaraan tadi.


"Tidak." walau Bryan menatap Elena datar, namun terlihat jelas di matanya nampak sebuah kegugupan. "Siapa juga yang cemburu pada pria itu."


Elena tersenyum manis. Membuat Bryan mendelik.


"Jangan tersenyum." lanjut Bryan. "Senyum mu itu jelek."


Elena segera menurunkan senyumannya. Apa katanya?! wajahnya sekarang berubah menjadi cemberut.


Melihat itu, membuat Bryan menarik smrik-nya lagi. Menatap lucu ekspresi Elena. "Nah, biarkan muka mu seperti itu. Jika kau tersenyum seperti tadi, akan banyak pria yang menatapmu."


Deg!


Jantung Elena berdegup kencang. "Dok, dokter bi-" sebelum Elena melanjutkan ucapannya, Bryan memotong terlebih dahulu.


"Aku sudah memperingatkan mu agar mengganti nama panggilanku." sela Bryan. "Jangan memanggilku Dokter. Aku bukan Dokter jika berada di disini."


Elena menelan salivanya kasar. Wajahnya nampak masih mencerna ucapan Bryan tadi. "Terus saya harus panggil Dokter apa?"


"Aku ingin mendengarmu memanggilku sayang." Bryan menatap Elena, seperti menantang gadis ini memanggilnya dengan sebutan itu.


"Hah?" cengo Elena.


Bryan menaikkan tangannya. Ia menyentuh puncuk kepala Elena dengan telapak tangannya. Membuat Elena terkaget.


"Cepat panggil aku sayang." titah Bryan. "Ini perintah." jawabnya dengan suara yang berubah menjadi dingin. Tatapannya pun menatap tajam Elena.


Elena yang melihatnya lantas gugup. Antara takut dan binggung. Ada apa dengan pria ini?


"Ayo cepat katakan." kata Bryan lagi. Yang ternyata mengagetkan Elena.


Bryan nampak masih menunggu ucapan Elena.


Elena yang melihatnya lalu mengigit bibir bawahnya. Gugup. "Sa-sayang?"


Tatapan Bryan berubah. Ia malah tersenyum menatap Elena, dengan pandangan menghangat.


"Aku juga sayang padamu," tutur Bryan. Mengelus pelan puncuk kepala Elena.


Blush!


Elena terdiam. Menatap Bryan tak percaya. Niatnya tadi mengucapkan sayang hanya untuk sekedar bertanya, tapi ternyata?


`


`


`


"Nah bagus. Posisinya bagus. Saya izin foto ya Kak."


Cekrek!



Tanpa mereka sadari. Laki-laki yang memegangi kamera itu ternyata masih berada disana. Karna melihat pemandangan yang cukup bagus untuk fotonya, ia pun memotret momen itu.


Momen yang mungkin tidak akan pernah di lupakan mereka berdua. Bryan dan juga Elena.


TBC

__ADS_1


__ADS_2