Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB67: Donor Mata


__ADS_3

HAPPY READINGšŸ’•


Brak!


Bryan masuk kedalam sebuah ruangan salah satu bawahannya. Ia membuka pintu dengan cukup keras membuat sang empu ruangan terkejut bukan main.


"Dokter Bryan?"


Bryan melangkah mendekat kearah orang tersebut dan segera duduk di meja hadapannya.


"Bagaimana hasil kondisi gadisku?!" tajam Bryan.


Dokter Fahri berdekhem. "Apa Nona Elena-?"


Bryan mengangguk cepat. "Aku tidak mau dia seperti ini! gadisku terlihat sangat terpuruk," Bryan meremas tangannya erat, dengan tatapan sedih dibalik wajah dinginnya.


"Dokter Bryan tenang saja." Fahri tersenyum tipis.


Mendengar itu membuat Bryan menatap tajam pria dihadapannya. Tenang? gadisnya tidak dapat melihat, dirinya disuruh tenang saja!?


"Eh." wajah Fahri seketika berubah menjadi gugup ketika ditatap tajam oleh Bryan. "Maaf Tuan, maksud saya Tuan tenang saja karna Nona Elena dapat melihat lagi."


Bryan menyipitkan matanya, dahinya mengkerut karna tidak mengerti. "Maksud mu?"


Fahri mengambil sebuah berkas dimeja nya lalu membuka dan memperlihatkannya pada Bryan.


"Saya kira saraf penglihatannya terputus akibat kecelakaan itu, tapi saya salah. Setelah hasilnya keluar, ternyata mata Nona Elena hanya rusak dibagian kornea-nya saja," Fahri menutup berkas itu dan menyimpannya kembali. "Nona Elena dapat melihat lagi dengan donor mata. Kita harus mencari pendonor yang cocok untuk Nona Elena."


Bryan terdiam. Hatinya seketika lega mendengar Elena bisa melihat lagi. Ia segera menatap Fahri dengan serius. "Carikan pendonor yang cocok untuk gadisku, secepatnya."


"Tapi Tuan, mencari pendonor mata itu tidak gampang." keluh Fahri. Ya, tingkat kebutaan di negri ini banyak. Banyak orang yang mau melihat lagi, namun perbandingannya sangat jauh dengan orang yang mau mendonorkan matanya, dari yang sudah meninggal maupun orang yang masih hidup.


"Aku tidak peduli. Kau harus bisa mendapatkan pendonor mata untuk gadisku." Bryan kembali menajamkan matanya pada Fahri. "Jika kau tidak bisa, kau harus siap-siap saja dengan identitas mu sebagai Dokter disini," setelah itu Bryan pun bangkit dari duduknya.


"Sampaikan pada Dokter yang lain juga. Carikan pendonor mata untuk gadisku secepatnya, atau pekerjaan kalian semua akan terancam," lanjut Bryan dengan berbalik. Ia nampak berjalan kembali mendekat ke arah pintu dan keluar dari ruangan ini.


Dokter Fahri hanya diam melihat kepergian dari atasannya itu. Dirinya harus mencari pendonor dimana? ya, mungkin ia akan berbicara pada Dokter lainnya nanti. Ia ngeri dengan ancaman Bryan, Tuannya itu terlihat sangat serius. Dirinya harus bisa mencari pendonor. Jika tidak, sia-sia saja dirinya belajar dengan giat hingga bisa lulus kuliah dan bekerja disini.


___


Chaca berjalan kembali menuju ruang rawat Elena. Setelah adu mulutnya dengan Aiden, ia memutuskan pergi dan menjauh dari Kakaknya itu. Lagian Kakaknya itu kepo sekali ingin tau siapa yang menelponnya, padahal kan ini privasinya.


Sampai didepan pintu ruang rawat Elena. Ia merasakan aneh ketika mendapati sudah tidak ada Bodyguard disini.


"Loh, pada kemana tuh Om-Om?" gumam Chaca mendapati keadaan disini yang kosong.


Namun tak lama, tanpa berfikir panjang akhirnya Chaca pun hanya menaikkan kedua bahunya acuh, dan berfikiran mungkin mereka sedang ada urusan.


Chaca pun segera masuk kedalam ruang rawat Elena, untuk mengecek kondisi sang Kakak ipar.


___


Sesosok wanita cantik berjalan mendekat kearah satu ruangan VVIP di lorong rumah sakit yang cukup sepi. Dengan kaki gemetar, ia berjalan. Raut wajahnya pun berubah menjadi takut dan cemas. Jantungnya bergemuruh hebat, hatinya merasakan kacau sekarang.

__ADS_1


Sampai didepan ruangan itu, ia segera menatap arah dalamnya melewati jendela yang terletak disampingnya.


"Elena." Seketika air matanya turun, membasahi kedua pipinya. Ia tak kuasa melihat gadis itu mengalami peristiwa sekejam ini.


Ingin rasanya masuk kedalam, memeluk Elena dan menguatkannya. Namun sayangnya ia tidak berani. Dirinya tidak berani untuk masuk kedalam dan menemui Elena, karna ia merasa sangat bersalah pada gadis itu.


Ia meraba jendela didepannya. Hanya ini yang bisa ia lakukan. Dirinya tidak bisa masuk dalam sana untuk bertemu gadis itu.


"Maafin Saya." Ia menunduk sedih. Pandangannya nampak terlihat menyimpan banyak luka dan rasa bersalah.


"Ekhem."


Tiba-tiba dari arah samping, dirinya mendengar suara dekheman pelan dari seorang pria. Dengan cepat ia pun menatap asal suara tersebut dan melihat ada siapa disana.


___


Bryan menatap perempuan asing di depannya. Sedang apa dia disini? Ya, setelah keluar dari ruangan Dokter Fahri, ia memutuskan langsung bergegas kesini untuk memberitahu kabar gembira ini pada Elena.


"Sedang apa anda disini?" singkat Bryan dengan pandangan datar.


"Anu-" Wanita itu nampak gugup, membuat Bryan sedikit menaruh curiga. "Saya hanya kebetulan lewat tadi." lanjutnya.


Bryan menaikkan sebelah alisnya tak percaya. Ia menatap intens wanita didepannya ini, kenapa dirinya seperti melihat sosok Elena didepannya?


Wanita itu menunduk. "Sebenarnya saya kesini mau melihat kondisi anak dari teman saya, Pak Dimas." Ia pun terlihat memalingkan wajahnya menatap Elena didalam sana.


"Pak Dimas?"


Bryan menatap pakaian yang dipakai orang didepannya. Ia tau pakaian itu adalah pakaian pasien dirumah sakit ini. Mungkin saja orang ini salah satu pasien disini.


"Apa benar dia buta?" lanjut wanita itu dengan sendu.


Bryan mengangguk pelan. "Iya, kecelakaan itu membuat penglihatannya terganggu."


"Ta-tapi dia masih bisa melihat lagi-kan Dok? dia masih bisa sembuh-kan?" wanita itu nampak khawatir sekaligus takut.


Entah kenapa Bryan kembali menaruh rasa curiga pada wanita didepannya. "Dia masih bisa melihat lagi, dengan donor mata." Bryan menghela nafasnya pelan. "Saya dan dokter lain juga sedang mencari pendonor yang cocok untuk gadisku."


"Biar saya saja yang menjadi pendonor untuk Elena."


Bryan seketika terdiam. "Apa?"


Wanita itu mengangguk. "Sa-saya mau mendonorkan mata saya untuk dia, saya mau dia bisa melihat lagi. Saya yakin pasti mata saya cocok untuk Elena. Bisa kan Dok?!" ucapnya dengan pandangan memohon pada Bryan.


Bryan tersenyum kecil. "Terimakasih karna mau membantu gadisku."


"Saya melakukan ini agar dia tau kalo saya sangat menyayanginya, sekaligus permintaan maaf saya karna dulu pernah meninggalkannya." Wanita itu mengalihkan tatapannya menatap Elena dari luar jendela.


"Meninggalkan-nya?"


"Eh," wanita itu menoleh. "Bu-bukan. Maksud saya it-itu sebagai pembalasan Budi saya untuk Mas Dimas karna Mas Dimas dulu membantu saya juga jadi ini waktunya saya untuk membalas semua jasa-jasanya. Begitu."


Bryan menatap intens wajah wanita didepannya, yang ia taksir umurnya mungkin seusia Mamahnya-Meldi.

__ADS_1


Helaan nafas terdengar dibibir Bryan. "Kita perlu mengecek kondisi tubuh anda dulu sebelum melakukan operasi."


Wanita itu mengangguk. "Saya salah satu pasien dirumah sakit ini. Jika semuanya sudah siap, Dokter bisa panggil saya. Saya pasien kamar Melati nomor dua ratus." Ia melirik sekilas Elena lalu menatap kembali Bryan. "Kalo begitu saya pamit dulu, permisi," setelah mengatakan itu, wanita itu pun berlalu dari hadapan Bryan dan berjalan kembali menuju kamar rawatnya.


Bryan menatap dalam kepergian wanita dewasa itu. Sepertinya ada yang dia sembunyikan. Gelagatnya terlihat aneh dimatanya.


Dengan pandangan datar, Bryan meronggok saku jasnya dan mengambil sebuah ponsel yang ia simpan disana.


Bryan lantas membuka layar ponselnya dan mencari nomor seseorang. Setelah mendapatkannya, ia pun langsung menelpon seseorang tersebut.


Tak lama sambungan telpon pun tersambung.


"Cari informasi tentang pasien kamar Melati nomor dua ratus. Cari juga tentang semua riwayat hidupnya. Sore nanti antar ke ruanganku."


Bip.


Sambungan pun terputus sepihak oleh Bryan. Matanya masih menatap sosok wanita itu yang berjalan membelakanginya. Setelah wanita itu hilang dari pandangannya, Bryan pun berbalik dan masuk kedalam ruang rawat Elena.


Ceklek!


Bryan masuk kedalam ruangan itu. Ia menatap ada dua orang perempuan disana. Dengan segera Bryan pun mendekat ketempat dua orang itu.


Chaca yang melihat Kakaknya masuk pun segera menatap Elena yang terduduk diatas ranjang. "Em, Kakak Ipar, gue pergi dulu ya?"


Elena mengeratkan tangannya pada Chaca. "Jangan pergi Cha. Kamu disini aja. Saya takut sendirian."


"Kakak Ipar gak sendirian kok. Pangeran es Kakak Ipar kan udah tiba diruangan ini, daripada gue jadi obat nyamuk disini lebih baik Chaca keluar dulu sebelum ditatap tajam sama Kak Bryan." jawab Chaca dengan sedikit terkekeh.


Bryan memutarkan bola matanya malas mendengar ucapan dari adiknya itu.


Eratan tangan Elena pun mulai melemah membuat Chaca segera melepaskannya. "Yaudah ya Kak, gue keluar dulu." Chaca memalingkan wajahnya ke Bryan. "Selamat berdua-duaan." lanjutnya tersenyum manis.


Chaca pun segera berjalan menjauh dari ranjang Elena setelah berpamitan tadi. Ia melangkah dengan cepat menuju pintu dan langsung keluar dari ruangan ini.


___


Bryan mendekat kearah Elena dan berdiri disamping ranjang gadis itu.


"Dokter Bryan?" panggil Elena.


"Iya aku disini." singkatnya. Bryan menatap wajah Elena dengan sendu, ia sedih dengan kondisi gadisnya namun ada rasa senang karna sebentar lagi Elena bisa melihat kembali.


"Gimana sama penglihatan saya Dok? Masih bisa sembuhkan?" cemas Elena. Semoga saja semuanya baik-baik saja.


"Ada kabar gembira untukmu." Bryan tersenyum hangat. Ini kali pertanya ia tersenyum dihadapan seseorang, namun sayangnya orang dihadapannya tidak dapat melihat dirinya sekarang. "Sebentar lagi kau akan bisa melihat. Dengan donor mata, kau dapat bisa melihat lagi."


Senyum dibibir Elena merekah. Terlihat sekali jika dirinya senang. "Syukurlah." di dalam hati Elena, ia memanjatkan banyak doa-doa dan rasa bersyukur. Akhirnya ia bisa melihat lagi.


"Kau senang?"


Elena mengangguk gembira. "Seneng banget Dok."


Bryan ikut tersenyum tipis. "Aku juga senang melihat-mu bahagia seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2