Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB102: Teman Lama Bryan?


__ADS_3

HAPPY READING🤩🤩


Pagi harinya.


Elena berjalan menuju sofa. Setelah terbangun dan mandi tadi, ia sudah tidak menemukan Bryan di sini. Entah kemana pria itu, Elena tidak tau karena pria itu tidak bilang apapun.


Memainkan ponselnya. Tak lama Elena mendengar suara pintu terbuka. Ia lantas menatap arah pintu itu.


Nampak Bryan berjalan dengan sebuah paper-bag di tangannya. Elena hanya menatap diam pria itu, yang sedang berjalan menuju tempatnya.


"Sudah lama menunggu?" balas Bryan, dengan menaruh paper-bag tersebut di meja dan duduk disamping Elena.


Elena menggeleng pelan. "Dokter dari mana?" tanya nya.


"Aku ada urusan."


Mendengar itu Elena menatap curiga Bryan. Urusan apa pagi-pagi buta begini?


Merasa di tatap, Bryan pun hanya berdekhem pelan. "Aku sudah membelikan mu sarapan." ia menunjuk paper-bag di hadapannya dengan dagu nya. "Ayo di makan."


Elena mulai mendekati paper-bag tersebut dan membukanya. Sebuah makanan terdapat disana. Ia lantas mengambil makanan itu dan mulai akan memakannya.


"Dokter gak makan?" tanya Elena, menatap Bryan hanya diam menatap nya.


"Aku sudah makan sebelum kau terbangun tadi." balas Bryan datar.


"Gak mau makan lagi gitu?" tawar Elena. Kali saja Bryan masih lapar.


Bryan menggelengkan kepalanya menjawab ucapan wanitanya ini.


Memajukan bibirnya kedepan. Tiba-tiba Elena punya satu ide di otaknya. Ia lantas menyendok kan makanan tersebut dan mendekatinya menuju wajah Bryan.


"Ayo makan Dok," Elena mengangkat sendok tersebut, berniat menyuapi makanan tersebut pada Bryan.


Bryan menggeleng. "Buat mu saja."


"Udah ayo." paksa Elena, masih mengangkat sendok tersebut di hadapan Bryan.


Bryan menghela nafasnya pelan. Mau tak mau ia pun mulai menerima suapan dari Elena. Elena yang melihat itu pun tersenyum. Setelahnya ia menjauhkan sendok tersebut dan memasukkannya kembali pada kotak makanan yang berada di paha nya.


"Gimana Dok?" tanya Elena, mengulas senyum lebarnya.


"Manis." balas Bryan, ikut tersenyum menatap Elena.


"Hah?" Elena menunduk, menatap makanannya dan kembali menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya. Ia merasakan makanan tersebut. Rasanya sama seperti pertama kali ia menyuapkan makanan ini ke dalam mulutnya tadi. Ia lantas menatap Bryan. Manis? manis darimana nya coba?! "Manis?"


Tanpa sadar, Bryan mengangguk polos.


"Ta-tapi kan ini nasi goreng Dok." Elena menatap makannya. "Manis dari mana nya?" tanya nya kembali menatap Bryan.


"Eh." seketika Bryan tersadar. Wajahnya nampak linglung. Namun tak lama berubah menjadi datar. "Ck! menurut ku nasi goreng itu terlalu manis. Aku tidak menyukainya. Untuk mu saja. Ayo cepat habiskan. Setelah ini kau ingin jalan-jalan bukan?" lanjutnya mengalihkan arah pembicaraan mereka.


Mendengar kata 'Jalan-jalan' membuat mata Elena berbinar. Ia pun lantas mengangguk dan mulai kembali menyantap makannya. Bryan yang melihat Elena tak menanyakan hal tadi pun menghembuskan nafas lega.


Setelah beberapa menit akhirnya makanan pun Elena sudah habis. Elena lantas memasukkan kembali kotak makanan tersebut ke dalam paper-bag lalu menatap Bryan yang masih setia di sampingnya.


"Ayo Dok." Elena bangkit dari duduknya dan mulai mengambil tas nya yang berada di atas ranjang. Setelah tas nya berada di genggamannya, ia pun kembali menatap Bryan. Pria itu nampak masih sibuk memainkan ponselnya di sofa.


"Dok?"


"Hm."


"Ayo." tak kunjung mendapat kan balasan, Elena segera melangkah menuju tempat Bryan lagi. Dan duduk kembali di tempatnya.


Elena menatap Bryan yang masih terfokus memainkan ponselnya. Sebenarnya pria ini sedang ngapain sih?

__ADS_1


"Dokter?"


"Hm."


Lama-lama Elena kesal. Bryan menjawabnya hanya dengan dua kata itu, dan ditambah lagi tanpa menatapnya. Membuat Elena benar-benar sebal. Apa pria ini sibuk dengan kerjaannya? tapi jika memang Bryan banyak kerjaan, kenapa pria ini mengajaknya kesini?


Sesuatu ide muncul di pikirannya. Elena langsung melebarkan senyumannya. Sembari menatap Bryan, ia berdekhem, menormalkan suaranya.


"Sayang?"


Mendengar ucapan itu membuat Bryan melirik sekilas Elena lalu mematikan ponselnya dan kembali menghadap Elena.


"Apa kau bilang tadi?" Bryan menatap Elena sedikit terkejut.


"Bilang apa?" Elena memasang wajah penuh tanya nya. Seakan tidak tau apa yang di maksud Bryan.


Bryan berdecak. "Yang tadi kau ucapkan!"


"Emang saya ngomong apa?" balik tanya Elena.


"Ck! yang kau bilang sayang tadi!"


"Itu Dokter denger." Elena tersenyum akan kemenangan lalu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menjauh dari Bryan.


Bryan yang melihat itu lantas segera bangkit dan mulai mengikuti Elena.


Di hadapan pintu, Elena menatap Bryan yang sudah berada di sampingnya. Ia sedari tadi menunggu namun pria itu tak kunjung membukakan pintu.


"Ayo Dok buka pintunya." sahut Elena.


Bryan melirik Elena. "Kenapa kau terus memanggilku Dokter?! aku bukan Dokter mu." ia hanya binggung, dirinya sudah bilang Elena untuk tidak memanggilnya Dokter tapi terus saja wanita ini memanggil nya seperti itu. Sebenarnya dirinya itu suaminya atau dokternya coba?


Mendengar itu membuat Elena mengingit bibir bawahnya. Dirinya sudah nyaman memanggil pria ini dengan sebutan Dokter. Entah kenapa sulit sekali mengganti nama panggilan untuk Bryan. "Tapi kan Dokter emang Dokter." balasnya, memberi alasan jika Bryan memanglah Dokter jadi dirinya memanggil pria ini dengan sebutan Dokter, profesinya.


"Iya. Tapi disini itu aku suami mu. Bukan Dokter."


Elena menatap Bryan. Pria itu nampak mulai membuka kunci pintu hotel ini lalu mulai berjalan keluar. Tanpa mengatakan apapun lagi.


Dengan sigap Elena ikut keluar dan tak lupa menutup kembali pintu hotelnya. Lagi-lagi Bryan meninggalkan nya. Apa pria itu marah?


Secepatnya Elena menyusul Bryan. Mensejajarkan langkahnya di samping pria itu. Elena melirik Bryan yang hanya diam. Kayaknya pria ini memang benar-benar marah. Jadi dirinya harus mengatakan apa?


"Ma-" sebelum Elena melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Bryan memotong nya terlebih dahulu.


"Sekarang kau ingin kita kemana?" Bryan melirik sekilas Elena lalu menatap lagi jalan di hadapannya.


Menelan salivanya kasar. Elena binggung, sebenarnya Bryan marah atau tidak sih? "Em, ke pantai? gimana Dok?" ujarnya dengan wajah seperti meminta persetujuan.


Keduanya kini memasuki lift, berdiri masih berdampingan di dalamnya, menunggu lift untuk turun menuju lantai bawah.


Bryan menggeleng. "Jangan. Udara masih terlalu panas jika kita kesana sekarang." balas Bryan menatap Elena. "Lebih baik sore atau besok saja."


Memajukan bibirnya kedepan. Elena mendesah kecewa. Padahal dirinya ingin sekali ke pantai. Bermain pasir dan air.


Bryan yang melihat Elena memasang wajah cemberut hanya terkekeh singkat. "Biasakan saja bibirmu. Aku tidak tahan jika melihat wajah mu seperti itu."


Membiasakan lagi wajahnya. Elena melihat Bryan di sampingnya. "Tidak tahan? tidak tahan apa?" ucapnya binggung.


Menarik smrik nya. Bryan nampak mendekat kan bibirnya pada telinga Elena. Untuk membisikan sesuatu disana.


"Apa lagi jika bukan memainkan bibirmu itu hm?"


Setelah berbicara itu, Bryan menjauhkan wajahnya dari Elena. Menatap kembali wajah wanitanya ini, yang langsung berubah setelah ia mengucapkan hal itu.


Elena yang paham langsung membulatkan matanya. "Mesum!" cetus nya kesal yang membuat Bryan lagi-lagi terkekeh.

__ADS_1


Ting!


Saat sudah sampai di lantai paling bawah dan pintu lift sudah terbuka, Bryan dan Elena pun segera keluar dari lift tersebut dan berjalan menuju lobi luar hotel. Untuk melakukan perjalanan kembali. Sesuai keinginan Elena.


Keduanya berjalan saling bertautan. Menuju luar. Sampai pada lobi, mereka sudah di sambut dengan mobil. Elena tidak tau apa mobil ini milik Bryan atau Bryan hanya menyewa nya, ingin sekali bertanya tapi ia tau pasti Bryan akan menjawab apa. Alhasil dirinya hanya diam saja. Lagipun ia tidak tertarik untuk mengetahuinya.


Keduanya mulai masuk ke dalam mobil. Duduk di bagian penumpang. Dirasa sudah siap, mobil yang di tumpangi Elena dan Bryan mulai terlihat berjalan. Menjauh dari lobi hotel menuju tempat yang sudah di beritahu oleh Elena.


Di dalam mobil, keduanya tidak banyak bicara. Bryan sedari tadi sibuk memainkan ponselnya lain dengan Elena yang sibuk melihat pemandangan dari perjalanan mereka. Keduanya larut dalam keheningan sampai di tujuan.


...---...


Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka tiba. Di sebuah tempat yang cukup ramai. Bisa di bilang juga tempat ini adalah pusatnya kota


Elena dan Bryan pun turun dari mobil. Elena nampak begitu antusias, ketika baru menuruni kaki di tempat ini.


Asiatique The Riverfront



Sebuah tempat yang menjadi favorit para wisatawan. Disini banyak terdapat tempat makanan yang enak. Tak hanya makanan, banyak juga perbelanjaan terbuka yang cukup lengkap dan aneka wahana hiburan dan permainan. Disini pun terdapat tempat dengan bangunan-bangunan bergaya kolonial yang juga di gandrungi warga lokal.


Keduanya mulai berjalanan beriringan. Mereka akan memesan tiket terlebih dahulu. Setelah mendapatkannya, mereka pun masuk ke dalam tempat tersebut.


Bryan menatap Elena di sampingnya. Perempuan itu menampakkan wajah sembringah nya. Ia sedikit heran. Apa Elena pernah kesini? sepertinya wanita ini tau tentang tempat-tempat di negara ini.


"Kau pernah kesini?"


Mendengar pernyataan itu membuat Elena menatap Bryan. "Keluar kota aja gak pernah, gimana mau keluar negri?" balasnya dengan terkekeh singkat. "Saya cuman liat tempat ini dari google Dok. Dulu saya pengin banget kesini, gak tau kenapa, dan akhirnya ternyata saya bisa nyempetin ke tempat ini." lanjutnya tersenyum bahagia.


Bryan menyipitkan matanya, menatap Elena. Namun tak lama ia pun mengangguk, sebagai jawabannya.


Mereka mulai berkeliling tempat ini. Dengan sesekali mengobrol dan bercanda. Keduanya nampak semakin akrab, Bryan pun tak sesekali tertawa melihat tingkah wanitanya. Keduanya sudah bak seperti kedua pasangan yang sedang di Landa asmara.


Bryan menatap Elena yang berlari di depannya. Ia terkekeh singkat lalu mengangkat kamera yang ia bawa di lehernya.


"Elena."


Mendengar namanya di panggil dari belakang membuat Elena menatap arah belakangnya.


Cekrek!



Bryan menurunkan kameranya. Dan melihat hasil jepretan nya.


Elena yang melihat itu hanya terdiam. Antara terkejut dan heran. Bryan. Pria itu memanggilnya. Ini baru pertama kalinya ia mendengar Bryan memanggil namanya. Apa dirinya saja yang lupa? tapi sepertinya memang benar. Ini kali pertama pria itu memanggilnya pakai nama.


Bryan nampak menatap hasil fotonya dengan tersenyum. "Cantik."


Elena dengan segera menghampiri Bryan. "Mana Dok, saya mau liat." ujarnya mendekatkan tubuhnya pada Bryan, untuk melihat kamera yang di bawa Bryan.


Foto yang tidak di sengaja itu membuat Elena tersenyum. Ternyata Bryan mempunyai bakat fotografer terpendam. Hasilnya cukup bagus, Elena akan menunjukannya pada Chaca nanti.


"Bryan?"


Saat keduanya sedang asik berbincang pasal foto, tiba-tiba suara dari arah belakang membuat pandangan mereka teralihkan.


Sesosok wanita cantik nampak tersenyum. Di hadapan Elena dan juga Bryan.


"Ternyata bener ini kamu Bryan. Kirain aku tadi salah liat." wanita itu nampak tersenyum. "Gak nyangka bisa ketemu kamu disini. Kamu apa kabar Yan? udah lama kita gak ketemu ya?"


Bryan terdiam. Menatap wanita yang cukup familiar di otaknya.


Melihat Bryan yang hanya terdiam membuat wanita itu terkekeh. "Pasti kamu lupa deh. Aku Mia. Padahal dulu kita akrab banget loh, masa kamu lupa sih."

__ADS_1


Mia. Siapa tuh? Buat kalian yang mulai mencium arom-aroma pelakor, kalian... gak cukup lanjut part 3 😂


__ADS_2