
HAPPY READING GUYS🖤
Elena menaruh bunga yang berada ditangannya kembali ke atas ranjang. Dirinya menatap ponsel yang berada tak jauh darinya lalu mengambilnya.
Ia menatap layar ponsel itu lalu mencari-cari nomor seseorang disana. Setelah mendapatkannya, ia pun segera menelpon seseorang tersebut.
"Hallo Mbak?" ucap Elena, ketika sambungan telponnya terangkat.
"Kenapa Na?"
"Em, Elena mau tanya. Mbak punya lowongan pekerjaan gak buat Elena?"
Yang Elena telpon tak lain adalah Mbak Merlin, tetangganya sekaligus orang yang ia anggap sebagai Kakak kandungnya sendiri.
"Kamu mau kerja Na?" tanya Merlin dari ujung sana.
"Iya Mbak, Elena mau kerja."
"Aduh maaf Na, Mbak belum tau ada lowongan pekerjaan dimana. Kamu tau sendiri Mbak aja kerjanya jadi pembantu. Tapi Mbak usahain deh coba tanya-tanya sama temen-temen Mbak yang kerja di toko atau nanti Mbak coba tanya sama majikan Mbak, dia kan punya ruko, siapa tau dia butuh pegawai tambahan disana." lanjut Merlin.
Senyum Elena terbit. "Makasih yah Mbak. Elena juga besok mau coba-coba cari pekerjaan. Siapa tau ada yang mau terima."
"Yaudah, nanti juga Mbak bantu cari pekerjaan buat kamu, Mbak doain juga supaya kamu dapet pekerjaan yang gajinya gede, biar kamu bisa cepet kaya."
Elena terkekeh mendengar jawaban dari Merlin. "Aamiin, makasih sekali lagi ya Mbak, maaf Elena ngerepotin sama ganggu waktu Mbak."
"Gak kok Na, kamu gak ngerepotin, apalagi ngeganggu." sahut Merlin lembut.
"Yaudah, Elena tutup ya Mbak?"
__ADS_1
"Oke."
Bip.
Sambungan telpon pun terputus sepihak. Elena menurunkan ponsel yang digenggamnya lalu menjatuhkan tubuhnya kebelakang. Ia menatap langit-langit yang ada diatasnya.
Tekadnya sudah bulat. Jika Bryan tidak mau berpisah dengan alasan dirinya masih memiliki hutang pada pria itu, Elena akan coba mencari pekerjaan untuk membayar semua hutang-hutangnya pada pria itu. Setelah semuanya lunas, Elena akan bebas dari Bryan dan akan memulai hidupnya yang baru.
___
Setelah berendam di dalam kolam renang, Bryan pun segera keluar dari tempat tersebut.
"Ini Tuan, handuknya."
Bryan mengambil handuk yang dibawakan salah satu Maid, yang memang sempat ia perintahkan sebelumnya. Ia lantas mengenakan handuk itu untuk menutupi tubuh atasnya.
Bryan berjalan mendekat kearah kursi yang tak jauh dari kolam renang tempat ia berenang tadi. Ia pun menduduki kursi panjang tersebut.
Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang duduk disampingnya. Dengan cepat, Bryan mengalihkan tatapannya kearah samping.
"Kau sedang apa disini?"
Ketika sudah tau siapa orang yang duduk disampingnya, Bryan pun memalingkan lagi wajahnya menatap kolam renang di depannya.
"Duduk." singkat Bryan.
Abraham terkekeh melihat wajah kusam dari anaknya. Ia memang bukan psikolog yang tau apa arti ekspresi wajah, namun dirinya tau apa yang ada dipikiran anak pertamanya ini.
"Kau pasti sedang ada masalah dengan gadismu itu kan?" Abraham mengikuti tatapan Bryan yang mengarah ke kolam renang. "Ya, memang wanita itu sulit untuk di mengerti."
__ADS_1
"Papah sedang apa disini?" Bryan melirik sekilas Papahnya, ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan Abraham.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab dulu pertanyaan Papah tadi. Kau sedang ada masalahkan dengan gadismu itu?" tanya Abraham kembali menatap Bryan.
Bryan terdiam, membisu.
Melihat anaknya yang hanya diam, Abraham pun sontak mengeluarkan kekehan-nya pelan. "Jika kau memang menyukai gadis itu, kau harus mengungkapkan-nya. Jangan terus-terusan bersikap dingin seperti ini. Lemah sekali kau ini, tidak berani mengucapkan kata cinta pada menantuku." ledek Abraham.
Bryan menatap Abraham dengan pandangan yang sulit diartikan. "Tau apa Papah soal cinta?"
Seringai di bibir Abraham muncul. "Cinta, cinta, cinta. Lima kata yang awalnya memang belum Papah pahami. Tapi semenjak Mamah mu hadir di sisi Papah, Papah mulai merasakan ada sesuatu disini," Abraham menunjuk dadanya sendiri. "Rasanya berbeda sebelum aku bertemu dengan istriku."
Bryan menatap datar Papahnya ini. Walau tatapannya dingin, namun ia tetap penasaran dengan apa yang akan di katakan Papahnya.
"Dulu, Papah sama sekali tidak peduli dengan Mamah mu itu. Aku tidak peduli dengan apa yang dilakukannya, Tapi hari demi hari Papah dan Mamah mulai semakin dekat, dan dekat. Papah mulai merasakan sesuatu yang aneh jika Mamah mu itu bertemu atau berdekatan dengan pria lain, Papah tidak suka melihatnya. Jika Mamah mu itu tersenyum pada pria lain, Papah sama sekali tidak menyukai itu. Dan juga jika Mamah mu bercanda dengan pria lain, Papah benci melihat situasi itu. Ingin rasanya Papah memusnahkan semua pria yang ada di bumi ini agar Mamah mu tidak bisa melihat pria lain dimatanya, tapi rasanya tidak mungkin." lanjut Abraham dengan terkekeh.
Bryan berdecak pelan. "Dasar possessiv."
"Hey! kau belum saja merasakan itu semua." kesal Abraham. "Gengsian, cih."
Bryan memutarkan bola matanya malas, ia kembali menatap arah depannya.
"Tapi aku rasa kau mulai merasakan apa yang ku rasa dulu." Abraham tersenyum sinis. "Tatapan mu saat menatap mantan menantuku-Wilson dengan gadismu waktu itu, aku tau kau merasa cemburu."
"Ungkapkan, sebelum dia meninggalkanmu atau lakukan cara agar kau dan gadismu bisa terikat satu sama lain." lanjut Abraham serius.
Bryan menatap Abraham dengan menaikkan salah satu alisnya tidak mengerti. "Terikat?"
Abraham mengangguk. "Buat gadismu mengandung dan melahirkan cucu ku. Itu salah satu cara agar kau dan dia bisa terikat selamanya."
__ADS_1
TBC
Kode minta cucu kali ya😂😂