Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB35: Karna Pijatan


__ADS_3

Elena segera bangkit dari duduknya dengan membawa tas yang melingkar dipundaknya. Elena berjalan menuju pintu didepannya. Sebelum ia benar-benar melangkah keluar Elena sedikit melirik sang Bapak yang masih tidur pulas. Ia tersenyum, Dimas sudah terlelap disana jadi Elena lega jika harus meninggalkan Bapaknya sendirian.


Elena menutup pintu ruangan Dimas dan mulai berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ruangan Bryan. Entah apa yang akan dilakukan pria itu hingga menyuruh suster memanggilnya, padahal bisa sajakan Bryan menelponnya? apa dia tidak punya pulsa? mana mungkin sih seorang Dokter tidak memiliki pulsa?


Elena sedikit mencepatkan langkahnya. Selang beberapa menit akhirnya ia sampai didepan ruangan yang dulu sempat ia datangi.


Sebelum masuk, Elena berdoa terlebih dahulu agar Bryan tidak melakukan hal-hal aneh nanti padanya. Saat sudah siap Elena segera membuka pintu didepannya.


Ceklek!


"Permisi?" Elena masuk perlahan kedalam ruangan itu. Perawat tadi sudah pergi ketika dirinya sudah sampai didepan ruangan Bryan jadi sekarang dirinya hanya sendiri.


"Iya Paman, Nanti aku akan mampir sebentar kesana."


Elena bergerak masuk dan mendekati Bryan yang nampak memunggunginya. Ia berdiri dibelakang Bryan yang terlihat sedang mengobrol dengan seseorang lewat telpon yang digenggamnya.


"Hm, yasudah aku tutup. Salam juga untuk Bibi."


Elena menatap gerak-gerik Bryan dari belakang. Pria itu sudah memutuskan sambungan telponnya namun dia masih belum membalikkan tubuhnya. Elena hanya diam tak berniat bersuara, ia lebih baik menunggu Bryan menatapnya.


Elena mengulas senyum ketika Bryan mulai berbalik.


"Pak Dokter?"


Elena menatap Bryan yang sepertinya kaget dengan kedatangannya. Ia sekuat tenaga menahan tawanya didalam hati, ekspresi Bryan sangat lucu menurutnya, walau dia tidak bersuara namun tetap saja tubuhnya memperlihatkan jika dia kaget ketika menatap dirinya.


Bryan mengumpat kesal dalam hati. Ia kaget ketika Elena hadir tepat didepannya sekarang, dirinya terlalu sibuk menelpon tadi sampai tak mendengar langkah gadisnya masuk. "Ck! kau sedang apa disini? membuatku kaget saja!"


"Dokter yang nyuruh saya kesini. Kok malah nanya saya mau apa kesini?" Elena mengerutkan dahinya heran.


Bryan nampak berfikir namun tak lama ia berdekhem. "Hm, duduk disana." ucapnya dengan mengarahkan dagunya pada sofa yang berada tak jauh dari mereka.


Elena menatap arah pandang Bryan lalu mengangguk singkat. Ia melanjutkan langkahnya menuju sofa tersebut dan duduk disana. Nampaknya Bryan ingin mengatakan sesuatu serius padanya.


Bryan berjalan menuju meja kerjanya dan terlihat mengambil sebuah berkas dari dalam laci. Sedangkan Elena sudah duduk manis di sofa.


Bryan lantas berjalan mendekat ke tempat gadisnya dengan membawa berkas di tangannya. Sampai disana Bryan pun duduk Tepat disamping Elena.


"Hasil operasi kemarin. Aku sengaja membuatkan dokumentasinya agar kau bisa paham dengan kesehatan Bapakmu itu," ucap Bryan dengan memberikan berkas yang ia pegang.


Elena mengambil berkas itu lalu membukanya. Elena mulai membacanya walau sedikit kurang paham dengan isinya.


"Kondisinya mulai membaik, tumor di otaknya mulai mengecil. Dengan sedikit lagi perawatan Bapakmu akan sembuh." lanjut Bryan. Ia memang menyuruh beberapa Dokter untuk mengecek setiap perkembangan kondisi Dimas agar ia dapat memberitahunya pada Elena.


Elena tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. Bapaknya akan sembuh dan kembali sehat. Ia senang dengan kabar ini, mungkin nanti dirinya akan memberitahu Putri tentang hal ini.


"Terimakasih sudah merawat Bapak dengan baik Dok. Saya sangat berterimakasih," Elena menutup berkas itu dan tersenyum hangat menatap Bryan.

__ADS_1


Bryan mengangguk singkat. "Sebagai bayarannya karna aku sudah merawat baik Bapakmu itu, kau pijati aku sekarang."


Elena sedikit menganga. "Ha? pi-pijat?"


"Iya! Hari ini aku sedikit lelah, jadi tolong pijati aku."


Bryan mulai membalikkan badanya memunggungi Elena. Jujur dirinya sebenarnya tidak lelah namun dirinya ingin beristirahat sebentar selagi ada Elena disini tidak masalah bukan jika dirinya meminta pijatan?


"Tapi saya gak bisa mijit Dok." Elena memang tidak bisa memijat karna dirinya bukan tukang pijat."


"Apa aku harus menyuruhmu membaca surat perjanjian itu lagi? kau sudah berjanji akan menuruti semua ucapanku jadi cepat, jangan banyak alasan."


Elena pasrah. Tidak apa-apa lah sesekali dirinya memijat Bryan, toh Dokter ini pun terlihat kecapean jadi Elena sedikit membantu Bryan agar bisa bugar kembali dengan pijatan tangannya.


Elena segera naik keatas sofa dengan lutut yang ditekukkan setengah. Tangannya mulai menyentuh pundak pria dihadapannya. Dengan perlahan Elena meremas-remas pundak itu.


"Kau ini sedang memijat atau apa? pelan sekali."


Mendengar keluhan itu membuat Elena mengeraskan gerakan tangannya.


"Seperti ini Dok?" tanya Elena dengan tangan yang masih bergerak.


"Hm." Bryan mulai menikmati setiap gerakan yang diberikan Elena. Pijatan yang diberikan gadisnya ini sedikit enak menurutnya.


Karna terlalu bersemangat alhasil Elena tak segaja menekan kencang tulang yang berada pada pundak Bryan membuat pria itu sedikit kegaduhan.


Elena tersentak kaget ketika Bryan tiba-tiba membalikkan badannya membuat keseimbangan tubuhnya goyah. Tubuh Elena terjatuh membuat punggungnya menyentuh atas sofa dan sialnya saat akan terjatuh Elena menarik jas putih yang dipakai Bryan membuat pria itu ikut terjatuh diatas tubuhnya.


Posisi mereka sekarang saling berhadapan dengan Elena yang berada dibawah tubuh Bryan, begitupun Bryan yang berada diatas tubuh Elena dengan kedua tangan yang menahan pinggiran sofa disamping Elena. Tubuh mereka terbilang cukup intim, mereka saling menatap satu sama lain karna wajah mereka cukup dekat, mungkin hanya tinggal beberapa inci saja.


Elena membulatkan matanya diam. Jantungnya sudah seperti akan copot sekarang. Melihat wajah Bryan sedekat ini membuatnya ingin pingsan.


Lain dengan Bryan yang fokus menatap manik mata dari Elena. Cantik, itu yang ada dipikirannya menatap wajah Elena sedekat ini. Ini kali pertama ia merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Apa dia sudah terjebak dalam permainannya sendiri?


Toktoktok!


Ceklek!


"Dok saya bawa-" sesosok wanita cantik masuk dengan membawa berkas ditangannya. Suster ber-tag Sinta itu terdiam dengan mata yang membulat tak percaya melihat adegan didepannya.


Bryan melirik suster itu membuat sang suster gugup.


Sinta lantas menutup matanya dengan berkas yang ia bawa. "Ma-maaf Dok, saya gak liat kok beneran." dirinya dengan cepat meraih knop pintu dan menutupnya kembali. "Silakan dilanjutkan Dok, ma-maaf saya ganggu."


Pintu sudah tertutup membuat Elena sadar akan posisinya. Dengan cepat Elena mendorong tubuh Bryan agar terbangun. Ia pun ikut bangun dan sedikit merapihkan pakaian dan rambutnya. "Dok-dokter cari kesempatan ya?" Elena sedikit menjauh dari tubuh Bryan walau masih duduk disofa yang sama.


Bryan sedikit berdekhem menetralkan tubuhnya. "Cih, aku tidak tergoda dengan tubuh lurus mu itu, jadi jangan berfikiran macam-macam."

__ADS_1


Elena menatap Bryan dengan pandangan kesal sekaligus besyukur. Tubuhnya lurus? memangnya gagang sapu. Ia bersyukur karna Bryan tidak tergoda dengan tubuhnya jadi Elena tidak perlu berfikiran macam-macam dengan Bryan.


"Lagian juga kau yang menarik tubuhku. Kau sengaja bukan ingin menarik perhatianku agar aku tergoda dengan tubuhmu?" sinis Bryan.


"Aku tidak sengaja melakukan itu."


"Jadi siapa yang disalahkan disini hm?"


"Tapi Dokter yang tiba-tiba berbalik tadi. Saya-kan jadi kaget."


"Jika saja kau tidak memijat keras tulangku aku tidak mungkin akan berbalik, jadi siapa yang bersalah disini?"


Elena diam membisu. Mengapa jadi dirinya yang disalahkan?


"Ayo jawab." lanjut Bryan masih menunggu gadisnya ini bersuara.


"Yasudah saya yang salah, saya minta maaf." Elena menyerah. Daripada urusanya menjadi panjang lebar lebih baik Elena meminta maaf agar masalah ini selesai.


"Aku tidak bilang jika kau yang salah disini, tapi kau yang mengakui itu sendiri." Bryan hanya mengetes gadisnya ini tapi ternyata Elena lebih memilih mengalah, lagian siapa yang bisa melawan ucapannya? Bryan akan tetap menang disetiap ucapannya dan membuat yang lawan bicaranya kalah dalam omongannya sendiri.


Entah sudah berapa kali Elena merdecak sebal dengan mengata-ngatai suaminya ini didalam hati. Ia kesal dengan Bryan, lagian juga kenapa ia mengalah tadi? Elena jadi kesal sendiri sekarang.


"Yasudah sana, belikan aku jus. Aku haus sekarang." titah Bryan.


Elena sudah tau pasti Bryan tidak akan membiarkan dirinya diam sebentar. Baru selesai memijat sudah disuruh lagi. "Jus apa?" tanyanya.


"Seterah kau saja. Jangan pakai lama, aku ada operasi lagi hari ini," Bryan mulai meraih ponsel yang ada di jasnya dan memainkannya. Ia memberi tahu bawahannya agar suster yang tadi sempat keruangannya kembali lagi kesini.


Elena bangkit dari duduknya dan mulai berjalan dengan menekukkan wajahnya penuh kesal. Ia harus tetap sabar, sekarang dirinya harus senang dan tersenyum karna Bapaknya sebentar lagi akan sembuh dan akan sehat kembali.


Bryan menatap kepergian Elena. Ia sedikit tersenyum kecil melihat wajah kesal gadisnya tadi. Setiap ekspresi yang ditunjukan Elena membuatnya gemas, mungkin sekarang membuat gadisnya kesal menjadi hobi baginya.


Ting!


Bryan menatap tas Elena yang tergeletak disampingnya. Karna penasaran Bryan membuka tas itu dan mengambil benda yang bersuara tadi. Bryan mengambil ponsel milik Elena dan membukanya.


Ternyata handpone tersebut tidak dikunci membuat Bryan dengan mudah membukanya. Disana terlihat ada sebuah pesan yang masuk. Bryan menekan pesan tersebut dan mulai membacanya.


+ 62 89536517523


Jln. Cempaka putih no 74B. Kita ketemuan di restauran ya Na, jam 3 sore nanti. Aku tunggu.


Wilson.


Bryan menatap dingin pesan itu. Ia meremas keras ponsel milik Elena. Ternyata gadisnya masih berhubungan dengan Wilson-Wilson itu dan sore nanti mereka berdua akan bertemu. Bryan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Tbc..

__ADS_1


__ADS_2