Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB70: Pertemuan


__ADS_3

HAPPY READING🄰


Bryan berjalan dengan santainya melewati koridor rumah sakit yang cukup ramai. Tak ayal banyak yang menatapnya dengan pandangan tak percaya.


Dokter Bryan yang dipercayai sangat dingin pada seorang wanita, sekarang malah menggendong sosok gadis yang sangat asing di mata mereka. Bukan dari kalangan artis, bukan juga dari kalangan model, lalu siapa sosok gadis yang digendong Bryan? mereka mempertanyakan itu semua. Sedangkan yang dipertanyakan malah dengan santainya berjalan tanpa menatap mereka, bisa dibilang cuek dan tak peduli pada sekitarnya.


Bryan melangkah menuju taman di samping rumah sakit. Ya, rumah sakit memfasilitasi taman untuk pasien dan pengunjung. Jika mereka bosen, mereka bisa datang ke taman tersebut.


Lain dengan Elena, perempuan itu terlihat hanya diam, menyembunyikan wajahnya pada dada Bryan dan mengalungkan tangannya erat pada leher pria itu.


Elena bersembunyi karna telinganya mendengar jika keadaan rumah sakit sedang ramai, jadi lebih baik dirinya bersembunyi di tubuh pria ini.


Tak lama, Elena merasakan gerakan kaki Bryan terhenti. Tubuhnya seketika merasa turun. Elena pun mulai menyeimbangkan tubuhnya, berdiri dan merapihkan sedikit pakaiannya.


"Udah sampai Dok?" ucap Elena.


"Iya." Bryan mengalihkan tatapannya, menatap sekeliling taman ini. Mertuanya-Sarah belum terlihat disini. Ya, saat Bryan menjemput Elena, wanita itu meminta izin akan pergi ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum menemui Elena.


"Duduk." sambung Bryan.


Elena mengangguk. Ia mulai menurunkan tubuhnya untuk duduk, dibantu Bryan dari arah samping.


"Emangnya siapa yang mau ketemu saya Dok?" setelah mendudukkan tubuhnya, Elena pun bertanya. Memangnya siapa yang ingin bertemu dengannya, sampai-sampai harus ketaman seperti ini?


"Biar nanti kau tau sendiri." jawab Bryan masih berdiri disamping tubuh Elena.


Elena pun mengangguk singkat, ia makin penasaran dengan orang itu.


Bryan mengedarkan pandangannya pada sekeliling taman ini, dari arah kejauhan tiba-tiba ia melihat sosok yang tadi sempat bersamanya di ruangannya. Sosok wanita itu berjalan mendekat ke tempat Bryan dan juga Elena yang terduduk dikursi taman.


"Maaf, dikamar mandi tadi ada sedikit masalah jadi saya terlalu lama disana." ucap Sarah menatap Bryan, mungkin pria itu sudah lama menunggunya disini jadi dirinya meminta maaf karna membuat menunggu.


Bryan mengangguk singkat masih dengan wajah datar.


Elena yang mendengar suara wanita dari arah dekatnya sedikit bergeming. Ia sepertinya pernah mendengar suara ini.


Sarah menatap gadis yang terduduk didepannya, lalu pandangannya menatap kembali Bryan.


"Saya ingin bicara berdua saja." tutur Sarah, meminta agar Bryan meninggalkan dirinya dan juga Elena berdua.


Bryan menghela nafasnya pelan. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Elena disini, namun ia tau pasti mertuanya ini ingin berbicara dari hati kehati. Jadi mau tak mau Bryan menuruti ucapan Sarah-mertuanya.


Bryan menundukkan tubuhnya sedikit. Ia mendekatkan kepalanya pada telinga Elena.


"Aku akan meninggalkanmu disini, tapi aku akan mengawasimu dari jauh. Tidak apa-apakan?" ucap lembut Bryan.


Elena menganggukkan kepalanya. "Gapapa Dok."


Bryan tersenyum singkat lalu menegakkan kembali tubuhnya. Ia menatap mertuanya-Sarah dan sedikit mengangukkan kepala. Setelah itu ia pun terlihat berlalu dari hadapan wanita itu.


Bryan berjalan menuju pohon yang terletak sedikit jauh dari tempat duduk Elena. Ia mendekat dan berhenti di dekat pohon itu, disana tersedia juga kursi untuk duduk, namun ia memilih untuk berdiri, mengawasi kedua perempuan itu dari jauh.


___


Sarah menatap kepergian Bryan dengan diam, tak ingin membuang-buang waktunya, ia pun segera menatap Elena dan duduk disamping gadis itu.


Anak kandungnya sekarang sudah berada didepannya. Anak yang ia tinggal dari dulu sekarang duduk disampingnya. Tak terasa air mata Sarah menetes perlahan turun membasahi pipinya.


"Elena." gumam pelan Sarah. Mengingat kejadian dulu, membuatnya merasa bersalah pada anak gadisnya ini.


Elena menatap asal suara itu. Suaranya ia kenal, namun ia lupa.

__ADS_1


Sarah tersenyum masam lalu mengenggam telapak tangan Elena erat.


"Kamu pasti masih hafal kan sama suara saya?"


Elena mengangguk pelan. "Saya kayaknya pernah denger suara Ibu, cuma saya lupa. Maaf." jawabnya sembari terkekeh pelan tak enak.


Sarah ikut terkekeh. "Saya Sarah, wanita yang pernah kamu temui diruangan Pak Dimas saat beliau masih dirawat dirumah sakit waktu itu." ia mencoba untuk mengingatkan Elena, kapan mereka pernah bertemu.


Elena terdiam, mencoba mengingat-ngingat, setelah mengingatnya, ia pun membulatkan bibirnya, ber-oh. "Oh ya, temennya Bapak ya?"


Sarah mengangguk. "Iya." bibirnya mengulaskan senyum getir. Bagaimana ia menjelaskan semuanya pada Elena? "Em, saya turut berduka atas kematian Mas eh Pak Dimas, saya ikut sedih dengan kepergiannya."


Elena terlihat tersenyum manis walau pandangan terlihat sedih, ketika mengingat kematian sang Bapak. "Iya, Terimakasih ya Bu."


Keheningan tiba-tiba terasa di sekitar mereka.


"Em, Ibu apa kabar? saya panggil Ibu, gapapa-kan?" lanjut Elena, memecahkan keheningan yang ada disini.


"Gapapa kok." Sebenarnya dipanggil Ibu oleh Elena, membuatnya merasakan bahagia. "Saya baik, kamu sendiri gimana kabarnya?" lanjutnya.


"Seperti yang Ibu liat, saya kayak gini."


"Eh." Sarah lupa jika ia sendiri tau bagaimana kondisi Elena, kenapa dirinya malah bertanya seperti itu? pasti Elena merasa sedih. "Maaf, saya-"


Elena nampak mengelengkan kepalanya, masih dengan senyuman hangat dibibirnya. "Gapapa Bu, emang kondisi saya kayak gini kok."


Sarah menghela nafasnya pelan, ia melepaskan tangannya dari telapak tangan Elena. "Saya ikut sedih dengan kondisi kamu seperti ini, tapi kamu tenang aja, sebentar lagi kamu pasti bisa melihat lagi."


Elena terdiam sesaat. "Ibu tau darimana kalo saya sebentar lagi bisa melihat?" selidiknya. Kenapa Ibu ini bisa tau dan yakin jika ia akan bisa melihat lagi?


Sarah terlihat gugup. "Dokter Bryan ngasih tau saya sebelum pertemuan ini." alasannya. Untung saja ia bisa menjawab pertanyaan Elena.


"Oh." lagi-lagi Elena ber-oh. "Iya, kata Dokter Bryan ada yang mau donorin mata buat saya, saya gak nyangka masih ada orang baik seperti dia. Mungkin nanti kalo saya sudah bisa melihat, saya ingin menemuinya dan keluarganya, saya sangat berterimakasih atas bantuannya." gembira Elena


Elena menganguk semangat. "Terimakasih. Bapak sama Ibu saya emang ngajarin saya dari kecil, mereka nge-bimbing saya sampai saya sebesar ini, saya seneng dan bersyukur banget bisa di lahirin di keluarga seperti Bapak sama Ibu saya."


Deg!


Sarah terdiam. 'Bapak dan Ibu saya' kata-kata itu membuat hatinya hancur. Dia yang melahirkan Elena, namun sosoknya terlihat sangat tidak dianggap dalam kehidupan Elena.


"Kamu kayaknya sayang banget ya sama mereka?" sahut Sarah, mencoba menahan kesedihannya.


Lagi-lagi Elena mengangguk. "Mereka yang ngerawat Elena dari kecil, terutama Ibu. Ibu ngerawat Elena sama Kak Putri. Walau dulu Ibu di sibukin sama kerjaannya juga, tapi Ibu saya tetep ngerawat saya sama Kakak saya dulu, tapi waktu Ibu meninggal-" Elena mengubah ekspresi wajahnya sedih. Ia mengingat kejadian yang membuatnya sangat terpukul saat itu. "Saya ngerasa hancur, saya belum bisa memberikan apa-apa untuk Ibu saya, saya belum bisa balas jasa-jasanya, tapi beliau sudah duluan dipanggil Tuhan, dan disusul kemarin juga Bapak." Elena menghembuskan nafasnya kasar, air matanya pun ikut turun membasahi pipinya sedikit demi sedikit.


Sarah sedih menatap Elena seperti ini. "Saya yakin Pak Dimas dan istrinya sudah tenang di alam sana. Saya tau mereka orang baik, pasti mereka bahagia sudah kumpul berdua sekarang disana."


"Ya, Bapak sama Ibu pasti udah bahagia diatas sana," Elena mengusap pipinya yang basah. "Mereka orang tua yang sangat baik. Elena sayang banget dan beruntung bisa dibesarkan mereka."


Sarah tetap tersenyum, walau hatinya sedikit teriris. "Iya, saya tau dari mata kamu. Kamu keliatan sayang banget sama mereka."


Elena tersenyum. "Saya seneng juga bisa kenal sama ketemu Ibu disini." ucapan itu membuat Sarah terenyuh. "Tapi sayangnya saya gak bisa liat wajah Ibu, waktu itu saya cuma sekilas karna Ibu buru-buru pulang. Em, nanti kalo saya udah bisa liat, Ibu mau kan ketemu saya lagi?" lanjut Elena penuh harap.


"Gak bisa." Sarah mengelengkan kepalanya lemah.


Elena terdiam. "Kenapa?"


Sarah menaikkan tangannya mengusap wajah Elena. "Setelah kamu bisa melihat lagi, saya akan pergi jauh dari sini." jawabnya sendu.


"Ke-kemana?"


"Saya akan pergi jauh, sejauh-jauhnya." Sarah menahan air matanya untuk tidak turun. "Saya minta maaf sama kamu, saya minta maaf."

__ADS_1


Elena mengenggam tangan Sarah yang mengelus pipinya. "Gapapa Bu, saya tau Ibu juga orang sibuk, pasti Ibu pergi ada urusan juga kan? mungkin nanti? masih ada waktu buat kita ketemu, setelah Ibu Sarah kembali dari kepergian Ibu." ucapnya mengulas senyum tipis.


Sarah meneteskan air matanya. Jika tau saja ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Elena, apa gadis ini akan tetap mengulas senyumnya seperti itu? dirinya akan pergi jauh setelah Elena bisa melihat, pergi sejauh-jauhnya dari bumi ini.


"Saya boleh peluk kamu?" gemetar Sarah.


Elena terdiam, namun tak lama ia pun mengangguk. "Boleh."


Dengan cepat Sarah pun memeluk Elena erat. Pelukan kedua yang ia berikan setelah melahirkan Elena dulu. Ia memeluk kembali anaknya yang sudah tumbuh dewasa.


"Ibu sayang banget sama kamu." gumam Sarah dipelukan Elena. Air matanya sudah turun membasahi pipinya sejak tadi.


Elena yang mendengar itu hanya tersenyum, ia pun membalas pelukan Sarah. Entah kenapa ia sangat nyaman dipelukan wanita teman Bapaknya ini.


Tak lama pelukan pun terlepas. Sarah menatap sendu Elena didepannya. "Saya harus pergi sekarang, jaga diri kamu baik-baik ya. Saya gak bisa ngejagain kamu lagi, mungkin saya akan jagain kamu dari atas sana nanti, kamu harus hati-hati sama orang sekeliling kamu. Jangan pernah tertipu sama wajah baik orang yang sudah kamu kenal sifatnya sedari dulu. Saya yakin kamu bisa jaga diri kamu," Sarah bangkit dari duduknya masih dengan air mata yang menetes. "Saya pamit dulu, suami kamu lagi awasi kita disana, kamu tunggu aja disini, saya panggilkan dia untuk jemput kamu kesini." setelah itu Sarah berlalu dari hadapan Elena, dan berjalan menuju tempat Bryan berada.


Elena masih terdiam, mencerna ucapan Sarah diawal-awal tadi. Maksud Ibu itu apa?


___


Bryan mengepalkan tangannya. Sarah-Mertuanya tidak berbicara apa-apa soal kebenarannya pada Elena. Ia menatap sosok wanita itu yang kini ada dihadapannya.


"Maaf, saya gak bisa jujur sama Elena. Saya yakin kamu denger obrolan kami berdua tadi. Elena sangat menyayangi dan menganggap Pak Dimas dan istrinya sebagai kedua orang tuanya. Menurut saya, saya cukup tidak berarti di kehidupan Elena, jadi saya rasa dia tidak usah tau soal ini."


"Anda orang yang melahirkannya, itu cukup berarti untuk dia. Anda adalah orang tua kandungnya, pastinya anda sangat berarti untuk Elena." Bryan tak habis fikir dengan mertuanya ini. Apa susahnya tinggal bilang semuanya?


Sarah mengusap air matanya. "Biarkan waktu yang menjawabnya. Saya yakin setelah saya sudah tiada, Elena akan tau kebenarannya. Saya permisi dulu."


Bryan menatap kepergian Sarah dengan raut datar. Lalu tak lama ia mengalihkan tatapannya pada Elena yang duduk sendirian disana, dengan cepat ia pun melangkahkan kakinya mendekat ke tempat Elena.


___


"Aw! lu ngapain sih, narik-narik gue?" keluh Chaca.


Ya, saat sudah sampai dirumahnya, tiba-tiba saja sebelum ia pergi ke lantai dua, ada seseorang yang menarik tangannya hingga sekarang mereka berada diruang tamu.


"Nih," Aiden memberikan ponselnya pada Chaca.


Chaca mengerutkan dahinya binggung. "Apaan?"


"Liat." Aiden menatap layar ponselnya yang menyala.


Chaca mengikuti arah pandang Aiden, disana terlihat sebuah Vidio rekaman CCTV.


"Loh, Lo dapet dari mana rekaman ini?" Chaca menatap tak percaya Aiden. Di rekaman itu terlihat ada mobil yang dikendarai Elena dan dirinya sebelum kecelakaan terjadi.


"Pulang dari rumah sakit, gue coba ngecek keadaan mobil yang ancur gara-gara kecelakaan Lo sama Kakak Ipar tadi." jelas Aiden. "Nah gue inget Lo ngomong katanya ada mobil yang ngikutin Lo sama Kakak Ipar, gue liat disana ada CCTV komplek, alhasil gue minta satpam buat ngecek CCTV itu dan gue rekam deh pake handphone."


"Lo liat nih." lanjut Aiden, menatap ponselnya yang masih memutarkan kejadian dimana mobil Elena melaju dan ada mobil hitam yang mengikutinya dari belakang. "Dibelakang mobil hitam ini ada mobil lagi, gue rasa itu mobil si pelaku utama."


Chaca memperhatikan mobil itu, ya mobil hitam itu mobil yang mengikutinya, namun ia baru sadar ternyata dibelakang mobil itu ada mobil lagi.


"Sayangnya ini CCTV di ambil dari depan komplek pas lu masuk komplek itu doang. Yang Lo kecelakaan, ditempat itu gak ada CCTV jadi kita belum bisa mastiin semuanya." Aiden menatap serius Chaca.


Chaca pun ikut menatap Aiden. "Kenapa Lo liatin gue kayak gitu?"


"Karna Lo ada sangkut pautnya sama ini kecelakaan, Lo harus bantu gue."


Salah satu alis Chaca terangkat. "Bantu?"


Aiden mengangguk. "Kita usut ini semua. Kita cari tau kebenarannya. Gue yakin permainan ini bakalan seru."

__ADS_1


TBC


__ADS_2