Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
Esktra part 4


__ADS_3

Happy reading!


Malam harinya.


Kini di sebuah meja makan sudah tersedia beraneka macam makanan. Semuanya sudah berkumpul untuk rutinitas mereka. Yaitu makan malam.


Elena melirik Bryan di sebelahnya. Setelah memutuskan untuk mengurung diri di kamar, ia tidak lagi bertemu dengan pria itu. Entah kenapa ia selalu kesal melihat wajah Bryan. Gengsi kok di pelihara sih! apa susahnya coba pria itu mengatakan jika dirinya cemburu? membuatnya kesal saja!


Mungkin merasa di perhatikan, Bryan pun menatap Elena. Elena yang melihat itu segera menatap makanan di depannya. Menghindari tatapan suaminya. Bryan hanya menggeleng kan kepalanya pelan, terkekeh singkat melihat perilaku Elena barusan.


"Oh iya, gimana hasilnya Kak?"


Tempat yang tadinya hening mendadak menegang untuk Elena. Ia dengan cepat menatap asal suara. Chaca. Ia menatap perempuan itu dengan diam. Serta mata tajam.


Chaca yang di plototi Elena langsung menatap makanan nya kembali. Ia lupa! disini masih banyak orang! dirinya sudah janji tidak akan mengatakan apapun prihal kepergiannya ke 'rumah sakit' gawat ini!


"Hasil apa?" Abraham menaruh sendok ke atas meja lalu menatap tanya Chaca.


"Anu-" Chaca melirik kembali Elena. Kakak iparnya itu masih menatapnya tajam. Seperti mengode untuk tidak berbicara apapun soal dirinya. "Itu hasil-"


Bryan ikut menatap Chaca, dan melirik sebentar Elena. Seperti nya benar. Ada yang di sembunyikan Elena darinya. Dan Chaca tau soal itu.


"Hasil apa?"


"Itu- em."


Chaca mulai mencari alasan. Kenapa ia jadi seperti di interogasi begini coba?! mana gugup lagi!


"Itu hasil-- hasil pertandingan tadi! iya!" Chaca berujar. "Hasil pertandingan tadi, kan tadi Chaca sama Kakak Ipar nonton pertandingan bola di tv, cuman Chaca pergi duluan ke kamar alhasil Chaca tanya gimana hasil pertandingan nya. Menang atau engga tim yang di pegang Chaca sama Kakak Ipar. Gitu. Hehe." senyuman paksa terlihat di akhir ucapannya. Semoga saja mereka semua percaya padanya.


"Oh." Abraham kembali mengambil sendok nya.


Di dalam hati Chaca, ia menghembuskan nafas lega. Akhirnya mereka percaya.


Aiden mengambil minumannya. Sebelum meminum, ia menatap Chaca penuh tanya. "Eh Cha, tadi Lo sempet ngomong sama gue soal bakal ada calon keluarga baru, itu maksudnya apa?" setelah bertanya, Aiden meminum minumannya.


Chaca menatap Aiden tegang. Ia lagi dan lagi menatap Elena. Terlihat jika perempuan itu kembali menatapnya tajam. Melotot lagi. Membuat tubuhnya mendadak dingin.

__ADS_1


Ah! kenapa kakaknya pake ngomong lagi? pasalnya tadi dirinya hanya keceplosan ngomong seperti itu! gimana sih! malah di tanya lagi!


"Keluarga baru?" Meldi menimpali.


Elena memegang garpu di tangannya. Ia mengambil penuh tekanan makanan di piringnya. Lalu memakannya sembari menatap tajam Chaca.


Chaca yang melihat itu ketar-ketir. Duh! ia harus jawab apa!? belum juga lama bernafas lega, sudah di tanya lagi!


"Ap-apaan sih Kak. Emang Chaca ngomong itu kapan? perasaan Chaca gak ngomong apa-apa tuh sama Kak Aiden." Tanya balik Chaca. Pura-pura lupa.


Menaruh minumannya kembali di meja setelah menghabisi-nya. "Jangan pura-pura lupa, gue inget Lo ngomong gitu tadi." balas Aiden.


Mengumpat dalam hati. Chaca menggerutu sebal. "Oh iya! Chaca inget." Ia memutuskan untuk mulai mencari alasan baru. "Keluarga baru tuh maksud nya itu.. Chaca mau nikah."


Uhuk!


"Minum Mas." Meldi memberikan segelas air pada suaminya, ketika suaminya itu tersedak akibat ucapan Chaca tadi.


"Huh!" Abraham menatap tajam Chaca. "Maksud kamu apa Cha?! kamu mau nikah?"


Chaca mengangguk. "Iy-iya. Kan kalo nanti Chaca nikah pastinya suami Chaca bakal jadi calon keluarga baru kita. Gitu.." kekeh singkat di akhir kalimat. Ia binggung alasan apa yang cocok, jadi apa yang ada di pikirannya saat ini ia ucapkan saja lah.


Mengangguk lagi. "Udah dong! emang kayak Kak Aiden! jomblo akut! huu!" ejek nya.


"Siapa calonnya?"


Chaca melebarkan pandangan nya ketika mendengar suara dingin. Ia menatap sang Ayah, yang datar menatapnya. Apa ia salah ngomong ya?


"Siapa yang mengajak mu nikah?"


Abraham memang tidak sedikit menyukai jika Chaca dekat dengan laki-laki. Bukan apa-apa. Jika berteman saja, Abraham memaklumi tapi jika sudah lewat batas dari pertemanan. Abraham sedikit tidak mau, karena umur Chaca yang menurutnya masih terlalu kecil untuk bermain cinta-cintaan.


"Siapa Cha?" serius Abraham. Membuat Chaca di landa kegugupan.


Sumpah demi apapun! Chaca hanya memberikan alasan palsu saja! semua ini tidak benar! mana ada calon, bahkan laki-laki saja tidak berani mendekatinya karena Aiden yang selalu menjaganya di sekolah.


"Ah- itu." Chaca melirik Elena sekilas. Nampak perempuan itu hanya diam menatapnya sembari memakan makanannya. Apa Kakak iparnya tidak berniat membantunya ya?!

__ADS_1


"Itu... ah!" tertawa hambar. "Chaca cuman bercanda. Papah jangan terlalu serius ah. Cuman seandainya aja, gak ada yang ngajak nikah kok. Cuman seandainya." telak Chaca.


Abraham masih memasang raut datar. Lalu menghembuskan nafas kasar. "Kamu mau nikah Cha?"


"Emang boleh Pah?" berbinar Chaca. Sungguhan? dirinya di bolehkan nikah? wah! asik ini!


"Ya boleh.." Abraham memainkan garpu dan sendok-nya. "Nanti kalo kamu udah lulus sekolah."


Chaca tersenyum senang. "Beneran Pah?"


Abraham mengangguk. "Hm. Nanti kamu nikah sama anak temen Papah. Papah jodohin kamu sama dia ya. Kebetulan kemarin anaknya ketemu Papah. Ganteng loh, udah kerja juga."


Senyuman di wajah Chaca seketika berangsur surut. Apa kata Papahnya tadi? di jodohkan? sama anak teman nya?


"Ih kok gitu sih! gamau ah!" tolak Chaca. "Sekarang bukan jaman nya siti Nurbaya! di jodohin. Gak mau Chaca."


"Lah, katanya kamu mau nikah, belum ada calonnya kan? yaudah sama anak temen Papah aja. Dia juga belum nikah kok."


"Ih gamau!" sebal Chaca. "Chaca mau nikah sama pilihan Chaca sendiri, gak mau di jodohin."


Sretttt


Suara denyitan kursi yang tiba-tiba membuat pandangan mereka langsung teralihkan.


Elena menegakkan tubuhnya, tersenyum, menatap mertua serta adik-adik iparnya. "Elena udah selesai, Elena duluan ke kamar ya Mah, Pah, Cha, Den." sedikit melirik Bryan, malas. "Mas." kembali tersenyum. "Permisi." setelah mengatakan itu, Elena mengundurkan diri dari tempat ini. Berniat kembali ke kamarnya. Membuat semua orang terdiam seketika. Karena tak biasanya Elena pergi terlebih dahulu.


"Kakak ipar kenapa Kak?" Aiden melirik Bryan yang sedang menatap kepergian Elena yang mulai menjauhi mereka.


"Tidak tau." tak lama dari itu, Bryan ikut bangkit dari duduknya. Menatap keluarganya. "Aku juga sudah selesai. Aku duluan." dengan pandangan datar, Bryan berlalu dari mereka. Berniat menyusul Elena.


Chaca hanya diam menatap kedua pasutri tersebut. Apa Kakaknya itu belum tau ya kalo Kakak iparnya hamil?


"Mau ya Cha. Entar Papah bilang sama temen Papah buat nge-jodohin kalian." Abraham kembali bersuara.


Chaca menatap sang Papah dengan malas. "Gak mau Pah!" ia sedikit menyesal telah berbicara ingin menikah tadi, kalo ujung-ujungnya malah membahas perjodohan! "Buat Kak Aiden aja tuh, jodohin Kak Aiden. Kasian, jomblo terus."


"Dih, kok jadi gue."

__ADS_1


Abraham menggeleng kan kepalanya. Heran dengan tingkah anaknya. Tadi mau meminta nikah, giliran akan di jodohkan tidak mau.


"Anak temen Papah itu cowok. Masa di jodohin sama Kakak kamu. Jeruk makan jeruk dong."


__ADS_2