
Bantu like, vote dan komennya ya! dukung terus biar akunya semangat ππ
Mobil Bryan nampak keluar dari perkarangan rumah. Melihat itu, Elena segera menghembuskan nafasnya pelan. Untung saja Bryan pergi darinya, jadi sekarang ia bisa leluasa pergi dari sini, dan mencari pekerjaan.
"Kakak Ipar!"
Elena tersentak kaget ketika mendengar suara tiba-tiba dari arah belakangnya. Dengan wajah kaget, Elena pun berbalik menatap asal suara tadi.
"Gue mau ngomong sesuatu dong."
Elena menatap Chaca yang sudah ada didepannya. Gadis itu akan berbicara padanya? tumben.
"Bicara apa?" tanya Elena dengan lembut sembari tersenyum hangat.
"Gue mau minta Lo ajarin gue nyetir mobil." pandangan Chaca seketika berubah menjadi berbinar. "Mau ya Kakak Ipar?" ia sebenarnya dari dulu ingin bisa menyetir mobil, mumpung ada Elena, jadi bolehkan jika ia memanfaatkan perempuan ini? jika nanti mobil yang ia kendarai rusak ataupun tergores kan dirinya bisa menyalahkan Kakak Iparnya ini.
"Ka-kamu udah punya SIM?" tanya Elena.
Chaca menggeleng. "Belum. Umur aja baru enam belas tahun, mana pun SIM, KTP aja belum punya." jawabnya santai.
"Kalo belum punya lebih baik jangan belajar sekarang Cha. Nanti aja kalo udah punya SIM. Bahaya kalo belum punya." ucap Elena, menasehati. Ia hanya tidak mau sesuatu terjadi nanti.
Chaca mengerutkan wajahnya kesal. "Ayo dong Kakak Ipar! Ajarin gue ya? semua orang sibuk sama kerjaannya. Para supir juga gak mau ngajarin gue dengan alasan takut dimarahin Papah, tapi kan kalo sama Kakak Ipar pasti boleh." lanjutnya memohon. "Eh Lo bisa kan nyetir mobil?"
Elena segera mengangguk.
__ADS_1
"Nah kan bisa, udah ayo Kak. Ajarin gue!"
"Tunggu satu tahun lagi aja Cha." sebenarnya Elena mau mengajarkan adik iparnya ini, tapi kan ia ada kerjaan sekarang alias kerjaan untuk mencari pekerjaan.
"Kelamaan kalo tunggu satu tahun! gue tuh mau belajar biar nanti pas udah punya SIM gue bisa langsung naikin mobil, gausah pake acara belajar lagi." Chaca tetap pada pendiriannya, ingin jika Elena mengajarkannya menaiki mobil.
"Gimana ya Cha-" Elena menunduk, ia binggung sekarang.
"Ayo dong Kakak Ipar. Mau ya? pliss," Chaca menempelkan telapak tangannya keatas, seakan memohon pada perempuan didepannya. Persetanan dengan rasa malu, urat malunya sudah terpotong sejak lahir.
Elena ragu. Antara mau atau tidak. Melihat pandangan Chaca yang memohon membuatnya tak enak. Siapa tau jika ia menuruti keinginan gadis ini, Chaca akan menatapnya lembut dan hubungan mereka akan membaik.
Dengan segala kerisauan dihatinya, Elena pun mengangguk.
Chaca yang melihatnya menaikkan salah satu alisnya. "Mau?" tanyanya masih tak mengerti dengan anggukan Elena.
Senyum lebar tercetak jelas diwajah Chaca. "Thanks ya Kakak Ipar." sekarang dirinya sangat senang. "Belajar sekarang yuk Kak?"
Mata Elena melebar. "Kamu sekolahkan Cha? sekolah dulu aja. Nanti siang kita belajarnya." gadis didepannya ini masih memakai seragam SMA dan tas di punggungnya yang artinya dia akan berangkat ke sekolah, namun kenapa malah mau belajar sekarang?
"Eh ya." Chaca baru ingat jika dirinya akan berangkat ke sekolah. "Yaudah deh, gue berangkat sekolah dulu."
Elena mengangguk.
"Good bye ya," Chaca menaikkan tangannya, melambai-lambaikan pada Elena. Dirinya senang akhirnya ada yang mau mengajarinya bekerja. "Gue duluan," Chaca segera berjalan cepat melewati Elena dan berlari menuju arah depan rumah.
__ADS_1
Elena melihat sekilas kepergian gadis itu, setelahnya ia kembali masuk kedalam rumah dan mempersiapkan semuanya. Setelah mengajari Chaca, selanjutnya ia akan segera mencari pekerjaan. Jadi dirinya akan mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan.
___
Putri keluar dari rumahnya dengan pakaian yang cukup ketat. Berhari-hari ia mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya prihal kematian sang Bapak, dan sekarang ia mencoba untuk tegar.
Dengan riasan sedikit ramai. Putri tersenyum manis dan mengeluarkan ponselnya dari tas yang di selempangkan di bahunya.
Ketika layar diponselnya sudah menyala, ia segera mencari nomor kontak seseorang disana. Ketika sudah mendapatkannya, ia pun segera menelpon seseorang tersebut.
"Halo?" sapanya, ketika sambungan sudah tersambung.
"......"
"Bagaimana? sudah siap semuanya?" Putri menarik smrik-nya penuh arti.
"......"
"Bagus, setelah pekerjaan selesai dan berhasil, Saya akan kasih bonus buat kalian semua." Putri tersenyum. "Lakuin sebaik mungkin ya."
Bip.
Setelah berbicara itu Putri pun menutup ponselnya. Pekerjaannya sangat banyak sekarang ditambah pekerjaan lagi yang harus melibatkan beberapa orang didalamnya agar semuanya berjalan dengan lancar, karna ia tau pasti dirinya tidak akan bisa melakukan semua itu sendiri.
Dengan jalan penuh anggun. Putri melangkah mendekat kearah mobil dan masuk kedalamnya, ia akan ketempat pekerjaannya sekarang. Namun sebelum itu, dirinya akan mampir ke suatu tempat.
__ADS_1
"Huh!" Putri segera menyalakan mesin mobilnya dengan senyum yang kembali melebar.
TBC