Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
Ekstra part 6


__ADS_3

HAPPY READING!


"Kau yakin tidak ingin ikut ke rumah sakit?" Bryan menatap Elena yang berada di depannya.


Kini hari sudah menjelang pagi, Bryan sudah siap memakai pakaian nya. Siap untuk berangkat bekerja.


Menggeleng pelan. "Aku di rumah aja." balas Elena tersenyum.


"Yasudah." Bryan mengelus puncuk kepala Elena, ikut tersenyum. "Jaga dirimu baik-baik."


"He'em." jawabnya mengangguk.


Menurunkan tangannya masih dengan menatap Elena. Bryan berdiam diri, membuat Elena binggung.


"Katanya mau berangkat?" heran. Pasalnya Bryan masih berdiri di tempatnya.


"Kau tidak ingin memberikan salam perpisahan?" menaikkan sebelah alisnya, Tatapan Bryan kali ini di penuhi maksud.


"Salam perpisahan?" binggung Elena. Tidak paham maksud suaminya.


Mengangguk. Bryan menunjuk bibirnya pelan. Seperti mengode.


Elena yang melihatnya mendadak salting. Dasar tidak tau tempat! "Malu Mas. Disini banyak orang."


Menengok ke arah kanan dan kiri. Melihat ada beberapa pekerja yang berlalu lalang disini. "Nan-"


Cup!


"Kelamaan." Bryan menjauhkan wajahnya kembali setelah melakukan hal tak terduga pada Elena. "Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik, kabari aku sesekali." mengelus pipi Elena, Bryan tersenyum lalu melangkah pergi dari hadapan Elena.


Elena yang syok masih terdiam membisu. Hey? bagaimana ia tidak syok coba? Bryan mencium bibirnya mendadak! mana jantungnya belum siap.


Menyentuh bibirnya pelan. Tak terasa bibirnya mengulas senyum sempurna. Elena melihat Bryan melambaikan tangannya sebelum masuk mobil. Membuat Elena membalas lambaiannya.


Hal kecil yang membuat Elena senang. Merasa dirinya perempuan yang paling bahagia. Memiliki suami seperti Bryan dan keluarga mertua yang sangat baik. Elena merasa sangat bahagia. Tuhan sangat baik padanya. Disaat keluarganya pergi menjauhinya, Tuhan mendatangkan lagi keluarga yang menyayangi nya seperti anak sendiri.


"Kakak Ipar!"


Elena terkejutnya mendengar panggilan tiba-tiba dari arah belakangnya.


Sesosok perempuan dengan dress pink yang melekat di tubuhnya datang, berdiri di samping Elena. Menatapnya.


"Ayok. Chaca udah siap."


Elena menatap adik iparnya. "Ayok?" ia mendadak binggung. "Ayok kemana?"


Mendesah sebal. "Ih! Kakak Ipar lupa?" Chaca menggeleng kan kepalanya pelan. Heran. Masih muda kok pelupa. "Mamah bilang Kakak ipar mau ikut Chaca beli kado. Sekarang Chaca udah siap nih. Yuk kita berangkat."


Menepuk dahinya lupa. Elena menatap mobil Bryan yang sudah menghilang disana. Ia lantas kembali menatap Chaca dan mengangguk. "Aku ambil tas dulu bentar ya Cha."


"Oke. Chaca nunggu disini."


Tak menunggu lama akhirnya Elena kembali dengan sebuah tas yang sudah menggantung di bahunya. Ia mendekati Chaca, lalu menatap adik iparnya. "Yuk."


Chaca mengangguk. Lalu menggenggam tangan Elena lembut.


Keduanya kini melangkah menuju supir yang sudah di beritahu Chaca sebelum nya untuk bersiap karena dirinya serta Elena akan pergi hari ini.


"Pak supir ayok kita berangkat sekarang." Chaca menatap supir berambut kriting yang nampak sudah siap dengan seragamnya.

__ADS_1


"Siap Nona, saya siapkan mobil dulu." Supir itu dengan cepat melangkah menuju mobil, berniat menghidupkan mesin mobilnya sekaligus mengeluarkan mobil dari bagasi.


Elena yang melihatnya berniat mengambil kesempatan untuk menyalakan ponsel. Ia akan memberitahu Bryan jika ia akan pergi hari ini. Walau Mamahnya menyuruhnya untuk tidak memberi tahu, ia akan tetap memberitahunya, dirinya takut saja jika bertemu Bryan nanti, seperti kemarin, pria itu muncul begitu saja di rumah sakit, membuat jantungnya berdetak tak karuan.


Mencari kontak Bryan, Elena lantas segera mengirim nya pesan.


Bryan.


Mas, aku izin pergi hari ini sama Chaca ya.


"Kakak ipar ayok!"


Elena mengalihkan tatapannya dari ponsel, lalu mengangguk ketika melihat Chaca yang melambai tangannya di samping mobil yang sudah siap untuk berangkat.


Setelah memastikan pesannya terkirim, Elena segera memasukkan ponsel nya kedalam tas, lalu berjalan menuju mobil, dan masuk ke dalamnya.


...---...


"Mau kemana dulu Kak?" saat ini keduanya sudah berada di Mall pusat kota. Cukup ramai, namun tidak terlalu berisik.


Elena melirik ke kanan dan ke kiri. Ia pun jadi bingung akan kemana. "Aku ikut kamu aja Cha," balasnya.


Chaca menimang-nimang akan kemana. Ia pun sebenarnya tidak tau juga akan kemana dulu, semua toko di Mall ini nampak menggoda untuk di kunjungi.


Saat masih berjalan, Chaca melihat sebuah toko yang menjadi pusat perhatian nya. Ia lantas menatap Elena, segera menggenggam tangan Kakak iparnya itu. "Kesana Kak! Ayok!"


"Ehh, pelan-pelan."


Chaca menarik tangan Elena menuju toko boneka. Keduanya masuk ke dalam toko itu, dengan pandangan Chaca yang berbinar.


"Ih lucu banget," saat sampai, Chaca langsung mengambil salah satu boneka yang tergantung di sana. Ada banyak boneka lucu, mulai dari ukuran kecil, sedang hingga besar.


"Ish, ini tuh buat aku, Kakak Ipar." melirik sekilas Elena lalu kembali menatap bonekanya. "Lucu ya kan?"


Ber-oh lalu mengangguk. Kirain adik iparnya ini akan membelikan Bryan boneka, tapi jika dipikir-pikir gimana ya ekspresi Bryan saat di kasih boneka? Elena jadi ingin melihat wajah lucu laki-laki itu, akan semalu apa kira-kira?


Sedikit bergeser dari Chaca. Elena melihat-lihat boneka di pajangan lain. Dulu dirinya pun memiliki boneka, tapi bedanya mungkin boneka disini lebih besar dan warna nya pun lucu-lucu.


Ia jadi ingat pernah bertengkar dengan Kakaknya hanya karena boneka. Hah, dirinya merindukan masa-masa dulu. Elena jadi merindukan Kakaknya, apa kabarnya ya?


Sebuah boneka Teddy bear membuat pandangan Elena sedikit teralihkan. Elena mengambil boneka itu lalu melihatnya. Sekilas ia tersenyum kecil, Teddy bear tersebut memakai jas putih kecil di tubuhnya dengan tangan di tempeli alat dokter. Mirip seperti Bryan, tapi bedanya ini lebih mini dan lebih lucu! beda dengan suaminya itu.


Melihat hanya ada satu disana, Elena berniat mengambil boneka itu untuk dirinya. Lumayan, untuk menemaninya di rumah ketika Bryan tidak ada.


"Kakak Ipar."


Elena melirik ke belakang. Terdapat Chaca disana. "Udah Cha?"


Chaca mengangguk sembari menenteng keranjang berisi beberapa boneka kecil, untuk menambah koleksi boneka di kamarnya. "Udah." Melihat boneka di tangan Elena. "Ih lucu, Kakak ipar mau beli boneka itu?"


Ikut mengangguk. "Lucu kan?"


"He'em." Chaca menatap meja kassir yang tak jauh dari tempatnya. "Udah kan Kak?"


"Udah." Elena menatap Chaca lagi.


"Yaudah yuk."


Setelah membayar boneka yang mereka beli. Kini, Chaca dan Elena kembali berjalan sembari menenteng tas berisi boneka yang di beli.

__ADS_1


Keduanya berniat kembali mencari-cari kado apa yang bagus untuk Bryan.


"Kak ada diskon baju tuh," Chaca menunjuk toko yang di penuhi beberapa orang itu, karena terdapat poster besar berisi diskon besar-besaran.


Elena yang melihatnya langsung berwajah senang. "Besar banget potongannya," dilihat-lihat baju tersebut bermerek. Jika diskon besar-besaran artinya untung bukan jika di beli? sudah bermerek, murah lagi!


"Kesana yuk Kak, sebelum kehabisan."


Elena dan Chaca segera berlari menuju kerumunan orang-orang di toko tersebut. Siap untuk melihat sekaligus membeli baju yang mereka sukai.


Kini, membeli kado untuk Bryan tinggal angan-angan. Keduanya nampak lupa dengan niatan awal mereka untuk kesini. Keduanya asik keluar masuk toko, bukan untuk membeli kado, tapi untuk membeli kebutuhan mereka sendiri, yang di rasa menarik untuk keduanya.


...---...


"Banyak banget kamu belanjaannya Cha," Elena melihat beberapa tas yang di angkat Chaca ke atas meja.


Mereka sekarang berada di restoran. Berniat mengisi perut sehabis berkeliling mall ini.


Terkekeh. "Habisnya bagus-bagus banget Kak, Chaca baru ke mall lagi setelah satu minggu gak main kesini."


Elena menggeleng kan kepalanya. Ia melihat tasnya yang hanya ada dua. Yang satu berisi boneka yang ia beli tadi, yang satunya lagi adalah baju tidur couple berwarna kuning. Tentunya untuk dirinya dan juga Bryan.


"Jadi kamu mau ngado apa?" tanya Elena.


Chaca terdiam. Membulat kan mata. "Oh iya! kita kesini mau beli kado ya?!" mengerutkan wajahnya menatap Elena. "Ih Chaca lupaaaaaaa."


Elena terkekeh melihat wajah lucu Chaca saat ini. Bisa-bisanya Chaca lupa. Padahal gadis itu yang ingin kesini untuk membeli kado.


Melihat-lihat barang yang ia beli. "Aaaaaa gimana Kak? mana ini barang perempuan semua, Chaca kasih apa ke Kak Bryan nanti?" Chaca binggung. Ia harus membeli barang lagi? tapi masalahnya duitnya sudah habis sekarang! ludes membeli barang-barang untuknya. Mana dirinya tidak memiliki tabungan, hanya tersisa celengan babi di kamarnya. Apa cukup?


Jika meminta duit lagi, Ayahnya pasti menyinggung soal perjodohan seperti malam tadi. Tidak mau! dirinya masih kesal!


Elena ikut binggung sendiri. "Coba kamu cek barang kamu, siapa tau ada yang cocok buat kado Bryan?"


Chaca memajukan bibir kesal. "Ada sih, lilin aromatik. Kak Bryan suka gak? buat yoga bagus deh, tenang." katanya dengan berpikir, cocok apa tidak ia mengado lilin? "Tapi Chaca beli satu doang." berat rasanya memberikan lilin itu. Ia belinya hanya satu, harga nya mahal banget soalnya!


"Gapapa ikhlasin aja.." Balas Elena sembari tertawa pelan. Ia tau harga lilin itu, karena saat membayar, Elena mendengar nominal yang di ucapkan kasir. Cukup kaget dengan harga nya. Elena yakin, dirinya tidak akan mampu membeli dengan duit nya sendiri. Hasil kerja satu bulan di restoran dulu saja sepertinya masih kurang untuk membeli lilin yang di beli Chaca.


"Mana bisa gitu!"


Elena tersenyum tipis, heran. Rata-rata barang yang di beli Chaca barang yang menurutnya kurang penting, tapi ya tidak ada yang tau, mungkin Chaca memerlukannya?


Drttttt...Drtttt


Sebuah getaran di tas Elena membuat fokus Elena teralihkan. Ia melihat tasnya, lalu membukanya. Mengambil penyebab tas nya itu bergetar.


Bryan is calling..


Membulatkan mata saat menatap layar ponsel. Elena terkejut melihat panggilan mendadak itu. Bryan menelpon! Bagaimana ini?


Melihat wajah Kakak iparnya yang terkejut, membuat Chaca kepo. "Kenapa Kak?"


"Mas Bryan nelpon!"


Chaca ikut melebarkan matanya. "Jangan di angkat Kak, jangan di angkat!" titahnya. Tapi setelah pikir panjang, Chaca menggeleng kan kepalanya. "Angkat aja Kak Angkat. Tapi jangan bilang pergi sama Chaca ya."


Elena menggigit bibir bawahnya. Tak enak. "Aku udah ngomong kalo aku pergi sana kamu."


"Yah!!" Chaca mendumal kesal. "Habis ini, Habis." Bryan sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak pergi ke Mall. Seperti yang di ucapkan nya tadi, dirinya sudah seminggu tidak ke Mall karena Bryan melarang untuk tidak kesini jika tidak ada yang di butuhkan. Pasalnya memang Chaca suka membeli barang yang tidak ada faedahnya, menghamburkan uang secara cuma-cuma. Dan pastinya, Bryan akan mengatakan ini pada Papahnya. Dan terjadi lah, Chaca akan di marahi untuk belajar hemat.

__ADS_1


Elena kembali menatap ponselnya. Haruskan ia mengangkat telpon ini? tapi ia harus jawab apa?!


__ADS_2