
HAPPY READING GUYS😙
Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran, Bryan berjalan masuk kedalam rumah sakit dengan wajah tak ber-ekspresinya. Ia hanya berdehem pelan ketika ada yang menyapanya disepanjang jalan. Ya, dirinya memang seperti itu dan para pekerja disini pun memakluminya.
Sampai ditujuan, Bryan menghentikan pergerakan kakinya. Ia menatap seorang Dokter yang sekarang ada dihadapannya.
"Bagaimana?" pelan Bryan dengan serius.
Dokter ber-tag Wildan itu menggeleng pelan. "Keadaan pasien semakin kritis. Tumor di otaknya ternyata sudah memasuki tumor ganas atau yang bisa di bilang kanker otak. Penyakitnya juga sudah menyebar ke seluruh organ tubuh lainnya."
Bryan melirik jendela yang ada disampingnya. Ia menatap Dimas dengan pandangan yang sulit diartikan.
Keduanya sekarang berada di depan ruangan Dimas. Kebetulan Dokter Wildan baru saja keluar dari ruangan Dimas setelah memeriksa keadaan pria itu.
Helaan nafas terdengar di wajah Bryan. "Pantau terus, aku akan memikirkan langkah selanjutnya. Suruh beberapa suster menjaganya juga," setelah berbicara itu Bryan pun melangkahkan kakinya berjalan menuju ke ruanganya, ia akan memikirkan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya untuk mertuanya itu, ia berharap semuanya berjalan dengan baik dan tidak akan terjadi sesuatu yang membuat gadisnya bersedih.
___
Sesosok Dokter cantik berjalan masuk kedalam rumah besar milik keluarga Atmaja. Ia datang setelah mendapatkan panggilan untuk memeriksa salah satu keluarga dirumah ini, Dokter bernama Syasya itu mengulas senyumnya ketika melihat ada ketiga keluarga Atmaja yang sedang berdiri di ruang tamu.
"Permisi. Tuan Abraham, Nona Frischa dan Tuan Aiden." sapanya ramah. "Saya kesini karna dipanggil oleh Nyonya Meldi."
"Tuh kan Pah! aaaa Mamah beneran hamil. Chaca gak mau!" tutur Chaca menatap Dokter cantik itu lalu berganti menatap sang Papah dengan raut wajah kesal.
Bukannya kesal Abraham malah tersenyum menatap Dokter itu, ini hari yang paling bahagia menurutnya. Ia sangat senang mendapat kabar jika wanitanya hamil lagi, yang artinya ia sebentar lagi akan memiliki anak ke-empat. Dan semoga saja anak ke-empatnya ini berjenis laki-laki lagi.
Tiba-tiba seorang Maid datang dengan menunduk sopan mendekat kearah ke empat orang yag berdiri di ruang tamu.
"Maaf Dokter Syasya, Nyonya Meldi sudah menunggu di kamar Nona Elena." ucapnya pada sang Dokter.
Dokter itu mengalihkan tatapannya pada asal suara tersebut dan mengangguk singkat. "Bisa tolong antarkan? saya belum tau dimana letak kamar Nona Elena." ia tau Elena itu sendiri adalah istri dari Dokter Bryan. Dirinya sempat tidak percaya jika pria itu menikah karna yang ia tau jika Bryan tidak pernah sama sekali berdekatan dengan wanita manapun tapi dirinya pun ikut senang dengan kabar pernikahan atasannya.
Maid itu mengangguk. "Baik Dokter. Mari," ia lalu menunduk sopan menatap para majikannya dan pamit untuk mengantarkan Dokter yang dipanggilnya tadi.
Dokter Syasya lantas tersenyum dan kembali menatap ketiga orang dihadapannya. "Kalo begitu saya permisi dulu, permisi." setelahnya ia pun melangkah mengikuti mengikuti Maid yang sudah terlebih dahulu berjalan.
Chaca masih menatap kepergian wanita itu dengan wajah yang masih memerah padam. Kesal, marah dan ingin menangis tercampur aduk diwajahnya.
"Biasa aja kali Cha. Kalo wajah lo digituin lo malah keliatannya kek cabe kiloan yang dijual di pasar tau." kekeh Aiden sembari meledek.
"Sudah-sudah. Lebih baik kita ke kamar Elena sekarang. Papah sudah tidak sabar mendengar jika Mamah kalian itu dinyatakan hamil." Abraham berjalan terlebih dahulu menuju lantai atas. Senyuman di wajahnya tak kunjung surut, semoga saja ada kabar baik yang ia idam-idamkan sedari dulu.
Chaca menajamkan matanya menatap Kakaknya. "Lo-"
__ADS_1
Sebelum Chaca melanjutkan bicaranya, tiba-tiba Aiden sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Jangan marah-marah. Kalo lo emosi mulu entar lo cepet tua, terus lo jadi kriput, rambut lo tumbuh uban terus gaada yang mau sama lo. Lo jadi perawan tua deh." ledek kembali Aiden membuat gadis didepannya merubah wajahnya menjadi merah api.
Chaca nampak menaikkan tangannya dan menurunkan tangannya kembali. "Sabar Cha, sabar! orang kayak kak Aiden jangan di ladenin. Huh!" ia menghentakkan kakinya dan berbalik berjalan mengikuti Abraham yang menuju ke lantai atas.
___
"Mah sebenarnya aku-"
"Udah Na, kita liat aja nanti hasil dari Dokter ya? sebentar lagi pasti dia kesini," Meldi mengelus pelan puncuk sang anak.
Elena terdiam membisu. Bagaimana lagi ia mengatakan jika dirinya tidak hamil?
Ceklek!
Elena dan Meldi menatap arah pintu yang mulai terbuka lebar. Disana terlihat ada sesosok wanita berjas putih masuk dengan seorang Maid.
"Nyonya Meldi." Dokter Syaya tersenyum menatap istri dari pemilik perusahaan Atmaja. "Nona Elena." lanjutnya menatap Elena dengan tersenyum hangat.
Elena mengangguk dengan tersenyum ragu. Lain dengan Meldi yang tersenyum senang.
"Syukurlah Dokter datang dengan cepat." Meldi bangkit dari duduknya. "Silahkan periksa menantu saya Dok."
"Nona Elena sakit apa?" tanyanya melirik Elena dan Meldi secara bergantian.
"Elena tadi sempat mual-mual sama pusing ya kan Na?" ucap Meldi menatap Elena yang langsung diangguki gadis itu. "Firasat saya kayaknya Elena hamil, jadi Dokter tolong periksa menantu saya." gembiranya.
Elena menelan ludahnya kasar. Ia tidak hamil, dan tidak mungkin hamil!
Ya tuhan, aku harus berbicara apa sekarang?
Senyum di wajah Dokter Syasya terbit. "Wah, baiklah saya akan memeriksa Nona Elena. Semoga saja ada kabar baik ya." tuturnya menatap Elena, ia ikut bahagia jika memang benar jika gadis dihadapannya sedang hamil. "Saya akan mulai memeriksa. Nona Elena silahkan berbaring ya."
Elena mengangguk dan menidurkan tubuhnya. Tubuhnya mulai bergetar sekarang. Bagaimana jika Meldi mengetahui jika dirinya tidak hamil? ia menjadi tidak sanggup melihat mertuanya sedih.
"Jangan tegang Nona, Rilexs saja." titah Dokter Syasya dengan mulai memeriksa tubuh Elena.
Elena mengangguk singkat. Ia memejamkan matanya namun tak lama ia membuka-nya kembali. Kenapa disaat seperti ini, Bryan tidak ada disampingnya? ia kan jadi tidak bisa mengatasi ini semua.
Beberapa menit berlangsung, Dokter Syasya pun bangkit dari duduknya dan membereskan peralatannya. Ia berdiri disamping Elena dengan tatapan menatap Meldi dan gadis itu.
"Jadi bagaimana Dok? Menantu saya hamil-kan?" tanya penuh harap Meldi.
__ADS_1
Syasya menghela nafasnya pelan. "Maaf Nyonya, setelah saya periksa tadi saya tidak melihat tanda-tanda kehamilan di diri Nona Elena."
Meldi terdiam. "Tapi tadi mual itu-?"
Dokter Syasya mengulas senyumnya tipis. "Asam lambung Nona Elena naik. Itu yang menyebabkan Nona mual-mual dan sedikit pusing." ia mengalihkan tatapannya menatap Elena. "Saya harap Nona menjaga pola makannya ya? jangan sampai telat makan. Saya akan memberikan resep obat-nya nanti."
Elena mengangguk pelan. Ia menatap Meldi yang terlihat mengerutkan wajahnya.
Dari arah pintu, tiba-tiba terlihat Abraham dan juga Chaca yang masuk kedalam kamar Bryan.
Abraham mendekat kearah Meldi dengan senyum mengembang. "Bagaimana hm?"
Meldi lantas menatap Abraham dengan sendu. "Ternyata Elena gak hamil Mas, huh padahal aku sudah berharap ingin memiliki cucu." ia melirik sekilas Elena sedih.
"Jadi bukan Mamah yang hamil?" Chaca menatap Meldi berbinar. Hatinya sekarang merasa sedikit lega.
Dahi Meldi mengerut. "Yang bilang Mamah hamil siapa?"
Rasa gembira tercetak jelas di wajah Chaca. Ia senang bukan main dengan fakta ini. Akhirnya sang Mamah tidak jadi hamil! rasanya ia ingin sekali melompat-lompat.
"Ku pikir kau yang hamil." Abraham menghela nafasnya pelan dan mengelus pelan puncuk Meldi. "Hah, mungkin kita harus lebih bekerja keras lagi malam ini untuk membuatmu hamil." ia nampak menaikkan kedua alisnya penuh arti.
Seluruh orang yang ada di ruangan ini membulatkan matanya. Mereka tidak percaya Abraham mengatakan hal itu disini.
Drttt..Drttt
Seketika getaran ponsel diatas nakas membuat mereka mengalihkan tatapannya. Elena menatap asal suara tersebut dan mengambilnya. Ternyata getaran itu adalah ponselnya yang berbunyi nyaring.
Beberapa orang diruangan ini sudah mulai keluar, hanya tinggal beberapa orang saja yang tersisa disini.
Elena dengan segera membaca nama penelpon yang tertera dilayar ponselnya, setelah tau siapa yang menelponnya ia pun segera mengangkatnya.
"Hallo?"
"...."
Elena mendadak terdiam mendengar suara dari orang di sebrang sana. Hatinya tiba-tiba terserang rasa takut yang mendalam.
"Mbak jangan kemana-mana ya? jagain disana. Aku bakal kesana sekarang." Elena segera bangkit dari duduknya dan turun dari ranjang. Ia menatap beberapa orang yang masih berada diruangan ini.
"Maaf, a-aku harus pergi sekarang."
Tbc..
__ADS_1