Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB103: Sakit Hati Elena


__ADS_3

Elena menatap Bryan dan wanita di hadapannya dengan bergantian. Apa Bryan mengenal wanita ini?


"Mia," Bryan nampak mengingat-ngingat sosok di hadapannya ini. Saat sudah mengingat, ia pun mengangguk. "Perempuan gendut yang dulu sering mengejekku. Benar bukan?!"


Mia nampak terkekeh mendengarnya. Memperlihatkan kedua lesung pipinya. "Aku udah kurus loh Yan, liat." ia nampak memutar-mutarkan tubuhnya dengan menarik pakaiannya ke samping. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kurus.


Bryan terkekeh. "Tubuhmu mungkin sudah kurus, tapi wajahmu menurutku masih sama saja seperti dulu. Bulat." ejeknya.


Mia membulatkan matanya. "Sialan kamu ya Yan!" tak terimanya. "Bulat-bulat gini dulu juga banyak yang suka. Termasuk kamu, ya kan?!"


Deg!


Elena terdiam mendengar tuturan wanita di depannya. Jadi Bryan pernah menyukainya?


Bryan terkekeh lagi. "Kau ternyata masih sama saja. Kepedean."


"Ya kan emang bener!" Mia menatap sekilas arah samping Bryan. Ia baru sadar ternyata Bryan tidak sendirian disini. "Dia siapa Yan?"


"Istriku." Bryan tersenyum tipis, menatap Elena di sampingnya.


Mia membulatkan matanya. "Ah! kamu pasti Elena kan?!" ia nampak tersenyum. "Kenalin aku Mia, temen lama Bryan." lanjutnya menaikkan tangannya, meminta jabatan tangan dari Elena sebagai perkenalannya.


"Iya." Elena tersenyum canggung lalu menerima jabatan tangan dari Mia. Jadi mereka teman lama? tapi perempuan ini tau darimana namanya?


Melepaskan jabatan tangannya. "Gimana kalo kita ngobrolnya pindah aja?" tawar Mia. Menatap kedua orang di hadapan. "Ada kafe yang cukup populer disini. Kita kesana, gimana?"


Bryan melirik Elena. Meminta jawaban dari wanita nya ini. Setelah melihat anggukan kecil dari Elena. Bryan pun ikut mengangguk. "Oke. Kita kesana."


...---...


Sebenarnya Elena malas untuk menerima ajakan dari 'teman lama' Bryan ini. Entah kenapa bawaan kesal sekali melihat sosok perempuan yang kini duduk di hadapan nya.


Ya, kini mereka bertiga sudah berada di sebuah kafe yang cukup ramai pengunjung. Elena dan Bryan duduk saling bersampingan, sedangkan Mia duduk di kursi depan Bryan.


"Dimakan. Enak loh makanan disini. Tenang aja entar aku yang bayar," Mia tersenyum, mempersilahkan Elena dan Bryan memakan makanan yang sudah tersedia disini.


"Biar aku saja yang membayar." timpal Bryan, tak terima. Gengsi bukan jika perempuan yang membayar?


Mendengar itu membuat Mia terkekeh. "Aku aja. Dulu kamu sering banget bayarin makanan aku pas kita makan berdua di kantin sekolah. Sekarang gantian dong aku yang bayar. Lagian juga aku udah kaya. Bayar makanan segini doang mah gaada apa-apanya." sombong nya. Membuat Bryan ikut terkekeh pelan.


"Sombong sekali, sudah biar aku saja yang membayarnya. Aku takut kau tidak punya ongkos pulang jika membayar semua ini nanti." ledek Bryan yang langsung di plototi Mia.


"Ih! yaudah-yaudah!" kesal Mia. "Siap Pak Dokter." Mia tersenyum dengan hormat lalu mulai memakan makanannya.


Elena yang melihat interaksi dari kedua orang ini hanya terdiam. Entah kenapa hatinya sakit melihat keakraban dari keduanya.

__ADS_1


"Ayo dimakan Na." Mia menatap Elena yang hanya terdiam sedari tadi.


Elena menatapnya lalu mengangguk pelan dan mulai memakan makanannya. Tanpa berbicara apapun lagi.


Ketiga nya mulai menikmati makanan mereka. Dengan sesekali mengobrol dan tertawa Elena hanya diam mendengarkan, Bryan pun hanya menjawab setiap perkataan yang di lontarkan Mia. Dan yang jadi pembicara aktiv disini adalah Mia.


Sampai pada suara yang menganggu ketenangan mereka.


Bryan. Pria itu nampak mengambil sebuah ponsel dari dalam saku celananya dan menatap layarnya


"Ck, ganggu saja." gumam pelan Bryan, mengumpat kesal saat melihat siapa yang menelpon. Ia lantas menatap Elena. "Aku akan mengangkat telpon dulu. Kau disini saja." ucapnya yang langsung di angguki Elena. Setelah berbicara itu Bryan pun bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari meja mereka untuk mengangkat telpon tersebut.


Mia yang melihat kepergian Bryan lantas tersenyum lalu mengalihkan tatapannya menatap Elena. Di depannya.


"Aku denger pernikahan kalian udah beberapa bulan lalu. Berarti udah ada tanda-tanda nih?" tanya Mia, yang membuat Elena menatapnya.


Menatapnya binggung. "Tanda-tanda apa?" balas Elena. Tak mengerti.


"Huh! itu loh hamil." to the point Mia. "Udah isi belum kamu Na?"


Menggeleng lemah. "Belum." Hey? Elena saja baru melakukan itu satu kali. Apa iya dirinya bisa hamil secepat itu?


Mendengar jawaban dari Elena membuat Mia membulatkan matanya. Tak percaya. Seketika ia terdiam. Menatap Elena dalam. Tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di otaknya, Tak lama Mia pun tersenyum sinis.


"Sebenernya aku cukup kaget loh sama pernikahan kalian." celoteh Mia. Mengalihkan topik dari sebelumnya.


Mengerutkan dahinya. "Chaca?" Elena binggung. Dia mengenal Chaca? sebenarnya seakrab apa mereka hingga sudah mengenal keluarga?


Mia mengangguk. "Kaget ya? aku emang udah kenal deket sama Chaca, bahkan seluruh keluarga Bryan. Aku juga udah dianggap kayak anak sendiri sama Tante Meldi." ujarnya dengan menyeruput minumannya.


Terdiam. Fakta itu membuat Elena cukup terkejut. "Kalian keliatannya deket banget ya." cicit pelan Elena.


Mia tersenyum manis. "Kita emang deket. Soalnya dulu kita.." Mia menjeda ucapannya, menatap sekitaran lalu kembali menatap Elena. "Pernah lebih dari seorang temen."


Deg!


Jangan bilang jika wanita di hadapannya ini pernah berpacaran dengan Bryan?! entah kenapa Elena merasa hatinya sakit. Kenapa Bryan tidak pernah bilang jika dirinya pernah memiliki kekasih?!


"Lebih dari temen?"


Lagi-lagi Mia mengangguk. "Bisa di bilang apa ya." ia nampak berfikir. "Hm, deket lah intinya. Tapi ada satu rahasia yang aku sama Bryan gak pernah bilang ke siapapun. Kamu mau tau?"


Elena mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban. Mia yang melihat itu dengan segera menaikkan tubuhnya. Mendekati Elena untuk membisikan sesuatu pada perempuan itu.


"Kita pernah tidur bareng." bisik Mia pada telinga Elena. Setelah mengatakan itu, ia duduk kembali di kursinya. Dan melihat ekspresi yang di tunjukan dari istri Bryan ini.

__ADS_1


Elena menjatuhkan sendok yang ia pegang lalu menatap Mia di depannya dengan wajah tak percaya. Ja-jadi mereka pernah?


"Banyak banget kenangan aku sama Bryan dulu. Tapi nyatanya takdir misahin kita beberapa tahun lalu dan saat ini awal pertemuan aku lagi sama Bryan. Mungkin takdir kali ya kita bisa di temuin lagi." lanjut Mia masih menatap ekspresi Elena yang cukup terkejut. "Tapi sayangnya kita di pertemukan dalam takdir yang berbeda." Mia menekukkan wajahnya, sedih.


"Kamu suka sama Dokter Bryan?" tanya Elena dengan menguatkan hatinya.


Mia terkekeh. "Siapa sih yang gak suka sama Bryan? Dokter muda, tampan, kaya lagi. Banyak yang mau ngantri jadi istrinya. Tapi ternyata dia malah jatuhin hatinya sama kamu."


Elena memejamkan matanya erat. Gelayar aneh di tubuhnya mulai terasa. Entah kenapa dirinya sudah tidak mood untuk berada disini. Ia ingin sekali pergi dari sini!


"Are you okay Elena?" tutur Mia ketika melihat wajah Elena yang berubah.


Membuka matanya. "Gapapa kok." Elena mencoba untuk tetap tersenyum, walau hatinya berkata lain.


Mia lantas mengangguk. "Yaudah, ayo dimakan lagi." tersenyum, lalu melanjutkan makannya. Tanpa mengatakan apapun lagi.


Elena hanya diam melihatnya. Rasanya ia sudah tidak mood untuk menyantap makanannya. Duduk di sini pun Elena sudah malas karena sekarang otaknya sudah dipenuhi hal-hal negatif. Tentunya, tentang Mia dan juga Bryan. Huh.


...---...


"Kenapa selalu menelpon ku?! aku sudah memintamu untuk mengurusnya. kau ini bagaimana?!" kesal Bryan. Saat ini dirinya berada di ujung kafe. Menerima panggilan telpon yang masuk tadi.


"......"


Terdiam sesaat. Namun tak lama Bryan menunjukkan senyum smrik nya. Mendengar tuturan dari sang penelpon di ujung sana. "Bagus. Aku akan mengabarimu lagi nanti."


Bip.


Memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Bryan terlihat masih mengulas senyumnya. Tak lama, ia pun berbalik. Melangkah kembali menuju mejanya tadi.


...---...


Elena menatap Bryan yang terlihat berjalan mendekatinya. Mia pun sama, ia juga mengalihkan tatapannya dari makananya ke Bryan. Kedua wanita itu seperti menunggu kedatangan Bryan ke sini.


Elena melirik sekilas Mia dari ujung matanya. Lagi-lagi dirinya kesal dengan perempuan itu. Kenapa dia melihat Bryan seperti itu sih?!


"Maaf lama." ucap Bryan ketika sampai di samping Elena. Tersenyum singkat lalu mulai kembali duduk di kursinya. Namun baru saja duduk, gadis di sampingnya terlihat bangkit. Membuat pandangan nya langsung teralihkan. Ya, siapa lagi jika bukan Elena?


"Dokter, sa-saya mau pulang." Elena menatap Bryan dengan wajah yang sulit di artikan.


Bryan menatap Elena. Binggung. "Makanan mu belum habis." ujarnya, menatap Makanan Elena yang masih terlihat penuh.


Menggeleng kuat. "Saya mau pulang aja Dok." kesal Elena. Melirik Mia yang tersenyum. Sinis. "Badan saya gak enak."


Sontak pertanyaan itu membuat Bryan langsung bangkit. Dan memeriksa dahi Elena. "Kau sakit?" tanya nya khawatir.

__ADS_1


"Iya! hati saya sakit!"


__ADS_2