
HAPPY READINGš„°
Bryan berjalan mendekat ke tempat Elena berada. Setelah sampai, ia pun duduk disamping gadis itu. Wajahnya masih terlihat datar namun sebenarnya ada ekspresi lain di hatinya.
Elena merasakan jika kursi sampingnya seperti ada yang menduduki. Ia mencium aroma tubuh Bryan disini. Ya, ia sudah hafal bagaimana aroma parfum maskulin yang dipakai Bryan, mungkin karna keseringan berada di sisi pria itu, dirinya jadi tau.
"Operasi saya kelanjutannya gimana Dok?" tanya Elena, memudarkan lamunan Bryan.
Bryan menaikkan sebelah alisnya heran. Dirinya belum berbicara sepatah katapun, namun kenapa Elena tau jika dirinya ada disini?
"Kenapa kau tau jika aku sudah ada disini?"
"Dari tubuh Dokter." jawab Elena.
Bryan menghela nafasnya pelan. "Melihat kondisi tubuh mu yang seperti ini, aku tidak yakin untuk menjalankan operasi hari ini."
"Saya gapapa kok Dok. Tubuh saya baik-baik aja." tutur Elena. Ia merasakan tubuhnya baik-baik saja.
"Tubuh mu itu terlihat mengatakan sebaliknya. Sudah, aku tidak mau ambil resiko. Jika tubuhmu sudah membaik, baru kita lakukan operasi." jelas Bryan. Ia melihat kondisi Elena yang sepertinya kurang vit, alhasil lebih baik di tunda sebelum terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Elena hanya terdiam. Sebenarnya ia juga merasakan kurang enak badan hari ini, entah apa sebabnya, ia tidak tau.
"Kau ingin ke kamar?" tanya Bryan.
Elena menganguk lemah. Dirinya benar-benar ingin berbaring di atas kasur, dan menidurkan tubuhnya.
"Eh Dokter mau ngapain?!" tiba-tiba Elena merasakan tubuhnya seperti akan terangkat kembali.
"Menggendongmu, memangnya apa lagi?"
__ADS_1
"Saya gak mau digendong Dok. Turunin saya." lanjut Elena. Ia tidak mau digendong kembali. Sudah cukup tadi saat pergi ke taman dirinya digendong dan sekarang ia tidak mau lagi di angkat seperti ini.
Bryan dengan cepat kembali menurunkan tubuh Elena diatas kursi. Ia lalu kembali duduk disamping gadis itu.
"Kau bilang kau ingin ke kamar." ucap dingin Bryan.
"Iya, tapi saya gak mau di gendong. Saya malu Dok."
"Malu?" heran Bryan, dengan pandangan binggung. Malu? malu kenapa?
"I-iya. Pasti nanti banyak yang liatin. tadi juga saya denger banyak orang yang ngobrolin tentang kita. Saya cuman gak mau rumah sakit heboh cuma karna liat Pak Dokter gendong perempuan kayak saya." ia malu dipandang banyak orang. Apa jadinya jika nanti ada salah satu orang yang mencari tau tentang wanita yang di gendong oleh Bryan? terus menemukan identitas dirinya?
"Tidak usah pedulikan ucapan orang lain."
Elena terdiam sesaat.
Apa katanya? harus senang?!
Elena sedikit mengumpat di dalam hati. "Seneng? gak tuh. Saya yakin pasti Dokter juga sering kan gendong perempuan lain kayak Dokter gendong saya?"
Bryan sedikit terkekeh. "Aku baru pertama kali menggendong perempuan."
____
"Lo ngomong apa sih kak! gue gak ngerti," keluh Chaca dengan mengusap-ngusap kepalanya frustasi.
Chaca dan Aiden sekarang duduk di sofa ruang tamu. Mereka sedang membicarakan tentang vidio CCTV itu.
"Ck! lo itu di SMP belajar gak sih? Beginian aja gak bisa. Ini tuh pelajaran anak SMP." jawab Aiden kesal.
__ADS_1
Chaca memutarkan bola matanya malas. "Gue belajar kali! tapi omongan Lo itu nge bingungin. Lo ngomong dari tadi tentang jarak, waktu, kecepatan mobil sama teori yang gak gue ngerti! Lo itu sebenernya lagi mecahin masalah ini atau ngajarin gue pelajaran IPA sih?" ya, sedari tadi Aiden berbicara yang tidak ia mengerti. Teori-teori yang membuat kepalanya seakan mau meledak.
"Emang susah ya ngomong sama orang yang pikirannya pendek."
Mendengar itu membuat Chaca membulatkan matanya lebar-lebar. Apa katanya? pikirannya pendek?!
"Enak aja Lo!" Chaca menatap tajam Aiden. "Lo nya aja yang kebanyakan materi. Udah kayak detektif Conan aja."
"Makannya banyak baca cerita detektif atau nonton flim pemecah masalah kayak gitu, yang bikin otak kita ikut muter. Bukan cuma ngomongin orang lewat media sosial, sama nyinyirin orang setiap saat. Makannya tuh otak mentok di situ doang, gak maju-maju." tutur Aiden, mengatai adiknya ini yang selalu bergosip dengan teman-temannya tentang para cogan, artis yang sedang hits, ataupun yang lagi trending masa kini.
Chaca bangkit dari duduknya, menatap Aiden garang. "Apa Lo bilang? Lo ngatain gue?! hey! otak gue itu berpikiran maju ya! maju kedepan, cuma Lo nya aja yang ngejelasinnya panjang lebar sama bertele-tele. Otak gue gak nyampe tau!" kesal Chaca. Ingin sekali dirinya mencakar-cakar wajah tampan Aiden, hanya saja dirinya tidak mau mengotori kuku cantiknya yang kemarin baru saja selesai perawatan. "Lagian juga gue gak suka ngomongin orang! gue cuma bahas apa yang mereka lakuin, udah gak lebih. Kita juga main tebak-tebakan apa yang bakal terjadi sama orang itu, so? otak kita juga dibikin muter-muter tuh sama tebak-tebakan."
Aiden menghela nafasnya kasar. Ia ikut bangkit dari duduknya. "Sama aja, sama-sama ngomongin orang. Huh! dasar netizen."
"Ish! tau ah! Lo pecahin aja ni masalah sendiri. Lo gak liat kepala gue masih diperban?!" Chaca memegang kepalanya yang masih terlilit perban. "Gue pulang karna pusing, terus sampe rumah malah diajak diskusi yang bikin pikiran gue makin pusing. Lo mau kepala gue meledak hah?!"
Aiden terdiam dengan raut wajah menahan tawa melihat ekspresi lucu dari Chaca.
"Udah, gue mau ke kamar. Pusing kepala gue," setelah berbicara itu, Chaca pun berlalu dari hadapan Aiden. Ia berjalan menuju lantai 2 untuk pergi ke kamarnya.
___
Elena sedikit bergeming. Baru pertama kali? jadi Bryan baru pertama kali memperlakukan wanita seperti ini? apalagi dirinya yang menjadi pertama bagi Bryan? gelayar aneh terasa dihatinya. Elena merasakan jantungnya kembali berdetak kencang.
"Pertama kalinya?" tanya sekali lagi Elena.
"Hm. Apalagi berat badannya yang cukup berat. Huh! Untung aku kuat menggendongmu, tubuhmu itu terlihat kurus tapi berat badanmu di atas rata-rata. Sepertinya kita harus periksakan tubuhmu, aku takut kau cacingan."
Elena mengubah wajahnya menjadi kesal. Sebenarnya Bryan sedang membuat hatinya senang atau malah mengatainya sih?!
__ADS_1