
Deg.
Bryan terdiam kaku. "Apa?" dengan perasaan tak percaya, ia menatap kembali adiknya.
Mengangguk. Air mata Chaca kini mulai turun lagi membasahi pipi. "Kak Elena jatuh! kepalanya bocor! kakinya patah, tulangnya retak, banyak darah!" tangisannya pecah. Dengan mata sembab. Pertanda ia menangis sedari tadi.
****. Tidak mungkin.
Bryan menatap Chaca tajam. "Nggak mungkin!"
"Apa air mata ini, Kak Bryan anggap sebuah lelucon semata? apa kepanikan aku, Kak Bryan anggap sebuah permainan? apa Kak Bryan gak percaya sama adik kandung kakak sendiri? HAH?!" Chaca mengeluarkan tangisannya. "Kak Elena jatuh! aku gak mungkin bohong!"
Dengan wajah yang sudah tak karuan. Bryan menghempaskan tangan Chaca. Lalu segera berjalan, lari cepat, berniat menghampiri wanitanya.
Chaca yang melihat itu menghapus air matanya. Segera berlari, mengikuti Bryan. "Kak Bryan tunggu!"
Saat sudah sampai di lantai bawah. Bryan menatap sekeliling tempat ini.
Kosong. Gelap. Sepi. Tidak ada siapapun disini.
"Dimana dia?!" Bryan berbalik menatap Chaca di belakang nya.
Chaca terdiam, dengan tatapan datar, namun air matanya masih menetes penuh di pipinya.
"Ck!" Bryan menghampiri Chaca. "Dimana wanitaku HAH?! DIMANA?!" Ia menggoyangkan pundak Chaca. Namun sang empu tetap diam, dengan tubuh bergetar dan gelengan kecil di kepalanya.
"Mas?"
Terdiam. Bryan menatap ke arah belakangnya. Tepat disana. Tidak jauh dari tempatnya. Berdiri perempuan yang sangat familiar di kepalanya. Penyebab ke khawatiran nya ini terjadi.
Melepaskan tangannya dari Chaca. Bryan berlari mendekati Elena. Masih dengan wajah khawatir.
"Kau tidak apa-apakan? tidak ada yang terjadi padamu kan? kepalamu? tangan?!" Bryan menggenggam satu persatu tubuh wanita yang berdiri tegap di depannya.
Elena kini nampak tersenyum, namun sedikit binggung Melihat Bryan.
JEDAR!
PRIUUTTTTT!!
"HAPPY BIRTHDAY!"
Bryan terdiam mendapati lampu disini menyala terang, dengan keluarganya yang berdiri di dekatnya.
"HAPPY BIRTHDAY KAK BRYAN!"
Bryan berdiri kaku, menatap sekeliling nya. Dengan wajah binggung, ditambah tidak mengerti. Maksud semua ini apa? bukannya katanya Elena-
"Aku gapapa kok Mas." Elena kembali mengulas senyum. "Baik-baik aja."
Bryan kembali menatap istrinya. Dari atas hingga bawah. Lalu melirik tajam Chaca di belakang nya. Seakan-akan memarahinya dalam diam.
Chaca yang melihat ikut tersenyum. Mengangkat kedua jarinya. "Piss, Chaca di suruh doang."
Bryan mengepalkan tangannya erat, dengan wajah datar. "Chaca." geraman itu mampu membuat Chaca mengigit bibir bawahnya. Dan berlari menuju Abraham. Mengumpat di belakang tubuh pria itu.
"Chaca disuruh Papah kak!"
Abraham yang melihat kondisi Bryan saat ini terkekeh keras. "Aku tidak menyangka kau bisa juga menangis karena wanita."
Mendengar itu membuat Bryan mengusap matanya. "Siapa yang menangis." dengan wajah dingin, Bryan membalas. Walau dirinya sedikit kesal, dirinya tetap bersyukur, karena ternyata Elena tidak kenapa-napa. Membuat nafasnya lega.
Meldi maju mendekati Elena, memberikan kue berisikan 3 lilin disana. Membuat Elena menerima kue tersebut.
"Selamat ulang tahun Mas!" ucapan itu membuat Bryan kembali menatapnya.
"Kau mengingat ulang tahunku?"
Elena menatap Meldi di sebelah nya. "Sempet lupa, tapi untung Mamah kasih tau."
Menatap Meldi di sebelah Elena. Bryan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Tiup dulu Kak Lilinnya!" Aiden mengeluarkan suaranya. "Udah lama gak makan kue nih!"
Plak!
"Sut! diem." Abraham memberi tamparan kecil di pundak Aiden. Menyuruh anak itu diam. Sedangkan Chaca masih berada di belakang Abraham, memperhatikan ini semua.
"Bener kata Kak Aiden, ayok Kak Tiup!"
Mengangkat kuenya. Me-ngode Bryan agar meniup. "Jangan lupa doanya." ucap Elena.
Bryan mengangguk lalu memejamkan matanya. Setelah berdoa dan harapannya, ia lalu menutup lilin tersebut.
"Terimakasih." Tatapan Bryan kini berubah dalam.
Elena mengangguk menjawab. "Sama-sama."
Bryan lalu segera memeluk Elena. Membuat Elena sedikit terkejut karena memegang kue dengan tangan kanannya. Untung tidak jatuh.
Aiden yang melihat segera menutup mata Chaca di belakang nya.
"Kak kok ditutup sih!" Chaca berusaha melepaskan tangan Aiden dari matanya.
"Anak kecil gak boleh liat. Area dewasa!" Bisik Aiden pelan.
Setelah melepaskan pelukannya. Bryan menatap Meldi di sebelahnya. "Terimakasih Mah."
Meldi mengelus kepala Bryan. "Semoga kedepannya kamu lebih baik lagi Bryan, apa yang kamu harapkan bisa terwujud."
Bryan tersenyum tulus, mengangguk lalu memeluk Mamahnya.
Meldi yang merasakan itu membalas pelukan Bryan. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa merasakan lagi pelukan Bryan. Sangat hangat. Beda dari sosok biasa di dirinya.
Beberapa menit kemudian Bryan melepaskan pelukannya. Lalu menatap Abraham yang berdiri tak jauh darinya.
"Pah."
Abraham mengangguk. Tersenyum. "Semoga gengsi mu turun."
"Kau sudah bertambah dewasa, sudah menjadi seorang suami juga. Jaga baik-baik istrimu. Jangan mengecewakan dia." Abraham menepuk bahu Bryan beberapa kali. "Jangan sesekali membuatnya menangis. Jika kau lakukan itu, kau berhadapan denganku."
Bryan menggeleng. "Aku tidak mungkin melakukan itu." melirik Elena. "Mana mungkin aku melukai orang yang ku sayang?"
"Hahaha, kau memang sudah berubah anakku!*
Keduanya kini berpelukan. Penuh tawa.
Orang di sekeliling hanya menggeleng kan kepalanya. Sifat yang sama di dua orang yang berbeda. Sungguh sama persis.
...---...
"Terimakasih."
Elena melirik Bryan di sebelahnya. "Untuk apa?"
"Semuanya."
Elena mengangguk pelan. "Sama-sama Mas! jangan terimakasih lagi, udah cukup." tersenyum manis. "Seharusnya aku yang terimakasih sama Mas nya, makasih udah selalu ada buat aku. Ngebantuin dari dulu, walau Mas nya suka ada maunya!"
Keduanya kini berada di kamar. Setelah makan kue bersama, bercengkrama hangat di ruang tamu. Keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar. Berniat menghabiskan sisa-sisa waktu berdua.
Terkekeh. "Aku masih ingat pertemuan kita di rumah sakit dulu."
Mendengar itu, pipi Elena sontak memerah. Namun tak lama berubah. "Eh mas, sapu tangannya udah aku balikin belum ya?"
"Itu nggak penting. Yang penting sekarang karena hal itu aku bisa mengenalmu." Bryan tersenyum. Senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan kepada siapapun. "Jika saja dulu aku tidak bertemu denganmu. Mungkin hidupku masih sama seperti dulu."
Blushing. Kenapa tiba-tiba Bryan seperti ini? Elena jadi malu kan!
"Tapi Masnya gengsian! mana jahat banget dulu!"
Mengangguk. "Untung saja kau tidak pergi. Terimakasih bertahan sejauh ini. Maafkan aku jika belum jadi yang sempurna untukmu."
__ADS_1
"Mas.." Elena menatap Bryan sedikit aneh. Tatapan pria ini sangat dalam. Membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Aku mencintaimu." Bryan mengelus puncuk kepala Elena. "Aku harap kau juga."
Elena mengangguk dengan senyuman yang tak pernah turun. Duh, hatinya jadi tak karuan begini! ya Tuhan, kenapa pria itu sangat menggemaskan sekarang?!
"Oh ya, bentar Mas." Elena menurunkan tangan Bryan dari kepalanya, lalu berjalan menuju laci, membukanya, mengambil sesuatu dari sana.
Setelah mendapatkan nya, ia kembali duduk di samping Bryan.
"Kado dari aku."
Sebuah kado persegi panjang kecil di berikan Elena untuk Bryan. Memang tidak mewah, hanya kado berwarna merah dengan pita di atasnya. Namun, ini sangat berharga untuk Elena. Ia yakin Bryan akan menyukainya.
Bryan menatap kado itu. "Seharusnya kau tidak perlu memberiku kado."
Menggeleng. "Itu perlu Mas, Masnya kan ulangtahun." Elena menyodorkan kado itu, membuat Bryan menerimanya. "Maaf ya Mas, aku cuman bisa ngasih ini." sebenernya Elena sedikit minder. Abraham, Meldi serta Chaca dan Aiden memberikan kado yang cukup mewah menurutnya. Ia hanya takut, Bryan tidak menyukai apa yang ia berikan. Apalagi bentuk kadonya kecil, tidak semewah kado keluarga yang lain. "Aku harap Masnya suka."
"Hal apapun aku pasti suka jika darimu." Bryan tersenyum kekeh membuat pipi Elena kembali merona.
"Aku buka?"
"Hm!" Elena mengangguk.
Bryan segera membuka kado tersebut. Membuat Elena mengigit bibir bawahnya.
Setelah kado itu terbuka sempurna. Bryan terdiam, dahinya mengernyit, lalu mengambil benda itu dari dalam kado tersebut.
"Test-pack?" Bryan menatap benda persegi panjang itu. Menatapnya binggung. Namun, saat melihat layar kecil di ujung test-pack tersebut. Jantung Bryan mendadak berdetak kencang. Gelayar aneh muncul di hatinya. Nafasnya memburu lemah. Elena..?
"Kau?" Bryan menatap tak percaya Elena.
Elena mengangguk menjawab. "Bakal ada calon anak dokter sebentar lagi!"
Bryan menatap perut Elena yang masih rata. Ia menelan salivanya kasar. "Aku..?"
"Mas nya bakal jadi bapak." senang Elena.
Bibir Bryan membuka lebar. Rasa senang tak bisa di tutupi di wajahnya. "Ini benar?!"
"Mas nya gak percaya?" Kepala Elena sedikit di miringkan, dengan menampakkan mata gemasnya. Jika sudah seperti ini, mana mungkin Bryan tidak percaya?
"Terimakasih banyak!" Bryan segera memeluk Elena, memberi kecupan di wajah Elena.
"Udah mas udah!" Elena mendorong sedikit dada Bryan. Agar menjauh darinya. "Mas seneng sama kadonya?
"Ini kado terindah. Terimakasih telah memberiku dia." Bryan menatap perut Elena lagi. Dirinya akan menjadi bapak? rasanya mustahil. Dia jadi bapak? akan jadi bapak-bapak?! "Sejak kapan dia disana?"
Menaikkan bahunya. Elena mengingat hal tadi. Saat dirinya akan membuang test-pack tersebut, ia menatap benda itu lagi. Setelah tau di kamar mandi hanya ada garis satu, dia memastikan kembali dan benar saja. Layar kecil itu malah menunjukkan garis dua. Membuat Elena binggung dan berniat memeriksa lagi dengan testpack yang ia beli. Tapi hasilnya tetap sama. Bergaris dua.
"Gatau."
"Terimakasih sekali lagi." Bryan kembali memeluk Elena. Memberi kecupan di kening nya. "Aku sangat mencintaimu."
Membalas pelukan Bryan. "Aku juga Mas." Elena tersenyum lembut.
Bryan mendekati telinga Elena, lalu membisikkan sesuatu disana.
"Jadi aku boleh menjenguk nya?"
Mata Elena seketika membulat. "MASSSSS JANGAN MULAI!"
Plak!
"HAHAHHAA."
...---...
The result picture:
__ADS_1