
"Hm..."
Chaca menatap Aiden dengan kesal. Pria itu sedari tadi hanya berdiam diri dengan tangan yang memegangi dagunya.
"Kak!!" Kesabaran Chaca sudah habis sekarang. "Jadi kakak ipar gimana?!" bagaimana Chaca tidak kesal coba? mereka sudah berdiam disini selama setengah jam lebih tapi Aiden tak kunjung menyuarakan usulannya tentang kakak ipar mereka. Chaca sudah lelah menunggu jawaban dari Kakak nya itu.
Aiden melirik Chaca sekilas. Ketika mendengar adiknya itu bertanya. "Hmm.." wajahnya masih nampak seperti orang sedang berfikir.
"Hm.. hm.. terus." balas Chaca kesal. Dirinya sudah beberapa kali menanyakan pertanyaannya itu tapi Aiden hanya membalasnya dengan kata 'Hm'. Dua huruf yang sangat menjengkelkan menurut Chaca.
"Sabar napa gue lagi mikir nih!" sahut Aiden yang akhirnya menjawab dengan kata selain 'hm'.
Chaca menghembuskan nafasnya gusar. "Mikir,mikir terus tapi daritadi gak ngeluarin hasil dari pemikirannya itu! Situ mikir apa ngelamun coba!" sinis Chaca.
Menaikkan sebelah alisnya. "Ck! jawaban yang bagus itu berawal dari pemikiran yang matang! gue lagi berpikir matang nih buat jawaban atas berita itu." jawab Aiden bijak, tapi menurut Chaca itu malah lebih so bijak.
"Tapi gakhmpphh-" Chaca membulatkan matanya. Ketika merasakan sebuah tangan membekap mulutnya sebelum ucapannya selesai. Ya! ulah siapa lagi jika bukan ulah dari sang Kakak Aiden?!
"Berisik dah! gue lagi mencoba buat mikir fokus nih!" Aiden kembali berfikir tanpa rasa berdosanya.
Membulatkan matanya lebar. Chaca menepuk-nepuk tangan Aiden yang masih membekap mulutnya. Jika dirinya mati karena kehabisan nafas bagaimana coba?!
Tak lama sesuatu ide muncul di pikiran Chaca. Dengan tersenyum di dalam hati, Chaca segera melancarkan ide cermelang tersebut dan mempraktekkan nya.
"Aw! Sialan lu Cha!" Aiden segera menjauhkan tangannya dari wajah Chaca, dan mengelus-ngelus tangannya itu pelan.
Chaca yang merasakan bekapan Aiden sudah lepas lalu menghembuskan nafasnya lega. Ia menatap Aiden yang nampak kesakitan. "Makannya jangan asal bekap aja! kalo gue mati karena kehabisan nafas gimana coba?!" Ya! ide cermelang Chaca adalah menggigit telapak tangan pria itu dan dengan cara itu Aiden akhirnya menarik tangannya sendiri dari Chaca karena merasa kesakitan akibat gigitan gadis itu.
"Ya kalo mati tinggal kubur." santai Aiden yang langsung dibalas plototan oleh gadis disampingnya.
Plak!
"Sakit anjir!" Setelah tangannya, Aiden beralih mengelus pundaknya yang dipukul oleh Chaca. Kenapa adiknya ini malah main fisik sih?
"Lemah," remeh Chaca ketika melihat Aiden yang kesakitan. "Gitu aja udah kesakitan. Cowok itu seharusnya kuat! otot kawat tulang besi!" ledeknya.
Aiden membalas ledekan Chaca dengan mengikuti ucapan gadis itu tadi yang membuat Chaca lagi-lagi mendengus. Kesal.
"Huh! Udah ah! balik lagi ke Kakak ipar! terus Kakak ipar gimana?!" Dengan pandangan kesal sekaligus penuh tanya, Chaca menatap Aiden. Mengembalikan topik pembicaraan mereka yang sedang membahas tentang artikel sang kakak ipar.
"Hm.." Aiden nampak mulai berfikir lagi. Chaca yang melihat itu sontak mengerang dan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Merasakan hawa tak enak dari arah sampingnya. Aiden menatap Chaca, wajah gadis itu nampak nampak memerah. Aiden yakin pasti gadis itu kesal karena ulahnya. Ya memang dirinya sengaja membuat gadis itu kesal sedari tadi wkwk.
"Gini aja deh.." ucap Aiden. Mulai serius.
"Gimana?" ujar Chaca penuh tanya.
"Telpon Papah, kasih tau tentang artikel kakak ipar itu biar Papah yang nyuruh orang buat hapus semua artikelnya." jawaban yang dilontarkan Aiden membuat Chaca terdiam.
Terbalik, sekarang Chaca lah yang nampak berfikir.
"Udah gak usah so'soan mikir! kayak yang punya pikiran aja Lo!" sinis Aiden, menatap Chaca yang hanya terdiam membisu.
Plak!
"Ck! lu mainnya fisik sih Cha! sakit tau!" Aiden kembali mengelus pundaknya yang dipukul oleh Chaca.
Chaca hanya memutarkan bola matanya malas lalu membuka layar ponselnya. Sepertinya ide dari sang Kakak tidaklah terlalu buruk.
Mencari nomor disana, setelah menemukan nomor sang Ayah, Chaca segera menekan tombol hijau di ponselnya untuk menelpon Ayahnya. Sebelum sambungan telpon itu tersambung tiba-tiba Chaca merasakan ada seseorang yang melintas di belakangnya. Dengan cepat Chaca menoleh, dan mendapati ada sesosok Maid yang melangkah pergi menuju pintu luar dengan pakaian rapih dan sebuah tas kecil di tangannya.
"Bibi!" teriak Chaca.
Merasa dipanggil. Sang Maid pun menghentikan langkahnya. Lalu berbalik. Mendekati Chaca dan juga Aiden yang nampak santai duduk di sofa ruang tamu.
Melihat pakaian yang cukup rapih dari sang Maid. Membuat Chaca kepo. "Bibi mau kemana?" tanyanya.
Aiden yang mendengar itu hanya memfokuskan pandangannya pada TV di depannya dengan memakan cemilan yang sudah ada di tangannya. Toh, ia pun tidak terlalu kepo juga dengan urusan Maid itu.
"Saya mau ke rumah sakit Nona."
"Bibi sakit?" balas Chaca.
Maid itu menggeleng. "Tidak Nona."
"Terus?"
"Saya ke rumah sakit atas perintah Tuan Bryan yang menyuruh saya mengantarkan pakaian untuk Nona Elena kesana." balas sang Maid dengan tersenyum.
"Buat apa?"
Maid itu menggeleng. "Saya tidak tau Nona. Saya hanya ditugaskan untuk mengantarkan pakaian Nona Elena. Itu saja."
__ADS_1
Chaca terdiam mendengar ucapan Maid tersebut. Untuk apa Kakaknya menyuruh Maid membawakan pakaian untuk kakak iparnya? memangnya pakaian yang dikenakan kakak iparnya sekarang kemana?
"Kalo begitu saya duluan Nona. Saya takut Nona Elena menunggu disana. Saya permisi dulu, Mari Nona Chaca, Tuan Aiden," setelah berpamitan, Maid itu nampak kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya, menjauhi kedua anak majikannya itu.
Chaca melihat kepergian Maid itu dengan Diam. Ia lantas menatap Aiden dengan wajah yang masih penasaran.
"Kak? kenapa ya Kak Bryan minta Maid nganterin baju buat Kakak ipar?" tanyanya pada Aiden.
Aiden menaikkan bahunya. "Kakak ipar habis berenang kali, bajunya basah deh terus kak Bryan minta Maid buat nganterin baju ganti kesana." balasnya masih dengan pandangan fokus menatap layar tv.
Mendengar jawaban itu membuat Chaca mengangguk, ber-oh. Tapi tak lama ada satu pertanyaan yang muncul di pikirannya.
Sejak kapan rumah sakit punya fasilitas kolam renang?
...---...
Elena membuka selimutnya lalu mendudukkan tubuhnya kembali. Bersender pada punggung ranjang.
Ia melihat sekeliling kamar ini. Kosong. Sepertinya Bryan memang sudah benar-benar pergi dari sini. "Huh!"
Wajah Elena nampak masih memerah. Sungguh. Ia masih malu akibat insiden kemarin malam. Apalagi kejadian itu terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
"Ya Tuhan!" Membayangkan tubuh Bryan yang cukup atletis dan mempesona apalagi- ah! Elena menggelengkan kepalanya. Tak sanggup membayangkannya lagi.
Menghembuskan nafasnya lelah. Elena mulai menuruni kakinya dari ranjang. Sembari menunggu pakaiannya tiba, mungkin Elena akan memandikan tubuhnya terlebih dahulu. Ia merasa tubuh nya sudah cukup lengket, membuatnya tak nyaman.
Terlebih dahulu Elena berjalan menuju lemari di ujung ruangan ini. Sampai disana, Elena membuka lemari itu. Nampak ada beberapa pakaian Bryan dan juga jas dokternya disana. Elena yakin pasti Bryan sering sekali menginap disini, apalagi menurutnya tempat ini seperti bukan ruangan kerja melainkan seperti hotel karena fasilitas disini cukup lengkap seperti kamar dan dapur.
Setelah mengambil sebuah bathrobe (jubah mandi) disana, Elena kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Ia berjalan dengan perlahan, karena masih merasakan sakit di bagian paha dalamnya.
Sampai pada kamar mandi. Elena berjalan masuk ke dalamnya tak lupa ia menutup pintu itu dengan rapat agar tidak ada yang masuk.
Cukup terpukau dengan kamar mandinya. Tempat ini tak beda jauh dengan kamar mandi di rumah Bryan, pantas saja pria itu betah berada di ruangannya ini.
Mendekati kaca yang menggantung di dinding kamar mandi ini. Elena mendekati kaca itu dan berdiri di depannya.
Banyak banget batin Elena.
Ia menyentuh lehernya yang nampak dipenuhi tanda kemerahan disana. Ia menggeleng kan kepalanya melihat tubuhnya dari kaca tersebut. Terlihat jelas jika tubuhnya nampak berantakan dan pastinya Karena ulah pria itu.
"Huh!" Elena menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan menuju bathtub di kamar mandi ini. "Berendam sebentar gapapa kali ya?" tanya nya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Gapapa kali." Elena tersenyum lalu mulai menurunkan tubuhnya di bak mandi itu. Mungkin berendam air hangat sebentar tidak masalah, siapa tau saja pegal di tubuhnya ini hilang. Begitu pikir Elena.