Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB95: Malu!


__ADS_3

Bryan tersenyum, menatap Elena yang nampak tertidur pulas. Setelah pergulatan tadi, gadis itu terlihat kelelahan dan tertidur di sampingnya.


Hatinya merasa senang karena Elena mampu menjaga kesuciannya. Bahagia terasa di hati Bryan karena sekarang Elena sudah benar-benar menjadi miliknya. Mungkin nanti dirinya akan berterima kasih pada sang Ayah? tapi Bryan sedikit gengsi untuk melakukan hal itu.


Merapihkan rambut yang bertumpuk di pipi gadisnya, Bryan menyeka dan menyelipkan rambut Elena di belakang telinga gadis itu. Menatap sebentar wajah Elena lalu Bryan pun bangkit dari tidurnya.


Bryan perlahan menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar ini. Ya, di ruangannya memang disediakan dua kamar mandi, satu di dalam kamar dan satunya lagi di luar kamar.


Dengan tersenyum, Bryan terlebih dahulu mengambil sebuah handuk di lemari lalu melanjutkan langkahnya kembali ke tujuannya. Dirinya sekarang akan melakukan ritual mandi karena badannya sudah cukup lengket akibat peristiwa tadi.


...---...


"Enghh.." sesosok gadis membuka matanya secara perlahan. Setelah matanya terbuka lebar, ia menatap langit-langit di atasnya. Sadar dengan apa yang terjadi, gadis itu langsung terbangun dari tidurnya dan terduduk di atas ranjang.


Elena. Gadis itu menatap sekitaran tempatnya lalu menepuk-nepuk pipinya perlahan, mencoba untuk tersadar.


Menghembuskan nafas gusarnya. "Huh!" Elena menggelengkan kepalanya. "Cuman mimpi. Iyakan?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.


Elena menyimpulkan senyumannya. Dirinya sudah terbangun dari mimpi buruknya tadi. Dirinya memimpikan jika Dokter Bryan dan dirinya melakukan hal- ah sudahlah. Elena tidak mau mengingat-ngingat mimpi itu lagi.


Tapi tunggu. Elena merasakan ada sesuatu yang tidak beres disini.


Dengan perlahan Elena mengedarkan kembali pandangannya ke arah sekitaran. Kamar di ruangan Bryan. Elena memimpikan kejadian itu pun sama di ruangan ini. Dan kasur. Kenapa Elena bisa berada di kasur ini? kapan ia kesini dan tertidur disini? melihat ada sesuatu di lantai bawahnya. Elena segera melihat ke arah lantai. Baju yang ia pakai tadi sudah berserakan dibawah sana. Jadi?


Meneguk salivanya kasar. Elena perlahan menundukkan kepalanya. Selimut yang ia pakai menurun karena tadi sempat terbangun dari tidurnya. Dan menampilkan pemandangan yang membuat Elena terkejut.


Tadi itu cuman mimpi kan?! tapi kok-


Ceklek


Suara pintu terbuka terdengar di telinga Elena. Gadis itu dengan segera menatap asal suara tadi.


Matanya membulat saat melihat sesosok pria keluar dari dalam pintu itu dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Perut kotak-kotak serta rambut yang basah membuat Elena terlena dengan pemandangan di depannya.


Tapi dengan cepat Elena membuyarkan lamunannya. Ia langsung menggelengkan kepala. Melihat Bryan yang keluar dari pintu yang ia yakini sebagai kamar mandi itu.


Elena menatap Bryan. Sebaliknya pun sama. Bryan menatap Elena dengan tangan yang mengusap-ngusapkan handuk di rambutnya yang basah.


"Kenapa?" Bryan mengeluarkan suaranya ketika merasa di perhatikan oleh Elena. "Terpukau heh? atau kau masih ingin bermain lagi? hm?"


Elena melihat pandangan Bryan yang mulai menurun. Dengan cepat Elena ikut menatap arah pandang Bryan.

__ADS_1


Membulatkan matanya lebar, Elena segera menaikkan selimutnya, untuk menutupi dadanya yang polos.


Elena segera memundurkan tubuhnya hingga punggung ranjang ini dengan selimut yang ia gumpalkan untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Mesum!"


Elena berdecak. Ternyata tadi itu bukanlah mimpi.


Bryan menaikkan smrik nya melihat wajah malu dari gadisnya. "Tidak perlu di tutupi seperti itu, aku sudah melihat keseluruhnya tadi." ucapnya santai dengan berjalan menuju lemari di kamar ini.


Pipi Elena memerah mendengar hal itu. Kenapa pria itu berubah menjadi mesum seperti ini?! membuatnya malu saja!


Elena menatap Bryan yang mengambil pakaiannya disana dan juga terlihat memakainya. Elena hanya terdiam melihat itu, karena dirinya tidak tau harus berbuat apa.


Setelah selesai berpakaian, Elena melihat Bryan berjalan menuju kearahnya. Dengan menarik selimutnya hingga ke atas leher dan memegangi erat selimut itu, Elena berwaspada. Berjaga-jaga jika Bryan akan melakukan hal yang iya-iya lagi padanya.


Mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. Bryan menatap Elena di depannya. Yang seperti orang ketakutan.


"Biasakan saja mukamu." Bryan menatap malas Elena. "Aku tidak akan melakukan itu lagi padamu."


Tatapan Elena berubah. "Beneran?" balasnya tak yakin.


"Hm."


"Karena aku tau 'itu' mu masih sakit bukan? ya aku tidak akan melakukan itu sampai kau sudah tidak merasa sakit lagi." lanjut Bryan, membuat mata Elena kembali melebar.


"Mesum!"


Bryan terkekeh.


Melihat kekehan dari bibir Bryan membuat jantung Elena lagi-lagi berdetak kencang. Hey! walau bukan pertama kali dirinya melihat Bryan terkekeh tetap saja jantungnya selalu berdegup kencang karena wajah pria itu yang terlihat tampan jika tertawa seperti itu. Membuat Elena menjadi salting.


"Yasudah kau istirahat saja. Aku tau kau kelelahan." Wajah Bryan kembali berubah menjadi datar. "Aku ada urusan sebentar di luar. Kau tetap disini, jangan kemana-mana." lanjutnya.


Bryan pun berdiri dari ranjang dan mulai berjalan menuju pintu kamar ini namun sebelum sampai pada pintu, tiba-tiba Elena bersuara. Membuat pergerakannya terhenti.


"Dok."


Dengan berbalik, Bryan menatap Elena disana, penuh tanya. "Kenapa? aku tidak akan lama-lama. Aku tau kau masih rindu bukan padaku? ckckck padahal kita baru saja melakukan itu tadi, tapi kau sudah rindu saja."


Lagi-lagi Elena melebarkan matanya. Pede sekali pria ini.

__ADS_1


"Bukan Dok." balas Elena kesal.


"Lalu apa?"


"Itu-" Elena menunduk lalu menatap Bryan kembali. Ia jadi binggung sendiri bagaimana mengucapkannya. "Em saya mau mandi."


Menaikkan sebelah aslinya. Bingung. "Kau ingin ku mandikan?" tanya Bryan.


"Bukan!" Elena dengan cepat menggeleng. "Itu ba-baju saya."


Bryan terdiam sebentar, tak lama ia pun paham dan mengangguk singkat. "Hm, aku akan menyuruh orang rumah untuk membawakan pakaian untukmu kesini. Kau mandi saja, handuk ada di lemari."


Mendengar itu Elena pun mengangguk.


"Kau yakin tidak ingin ku bantu mandi?" lanjut Bryan. Dengan pandangan penuh maksud.


Secepatnya Elena menggelengkan kepala nya. "Gausah Dok. Saya bisa sendiri."


"Yakin?"


Elena mengangguk. Yakin.


"Yasudah kalo begitu." Bryan berbalik kembali lalu melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar ini.


Sampai pada pintu, ia membuka pintu itu namun sebelum keluar, Bryan menatap Elena lagi yang masih terdiam di atas ranjang.


"Terimakasih untuk tadi." ucap Bryan tersenyum tulus. Setelahnya ia melangkah kembali dan menutup pintu itu dari luar.


Lain dengan ekspresi Elena yang nampak mematung, mendengar kalimat yang di ucapkan Bryan barusan. Wajahnya memanas kembali, pipinya memerah.


"Aaa!" Elena menarik selimutnya hingga ke atas kepala. menutup seluruh tubuhnya dengan selimut itu. Ia jadi malu sendiri sekarang!


...---...


Bryan berjalan, berniat keluar dari ruangannya ini karena ia memiliki urusan sebentar di luar. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Elena namun ada sesuatu yang harus ia urus.


Berjalan keluar, tak lupa ia menutup kembali pintu ruangannya dengan rapat. Setelah itu, Bryan berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


Dengan berjalan santai, Bryan menunduk, mengambil sebuah ponsel yang ada di saku celananya lalu menggenggam nya. Ia menatap layar ponsel itu dan nampak mengetik sesuatu disana. Ya, Bryan berencana mengirimkan sebuah pesan pada maid di rumah. Seperti ucapannya tadi, ia akan menyuruh Maid membawakan pakaian untuk Elena.


Setelah selesai terkirim, Bryan memasukkan ponsel itu kembali ke dalam sakunya lalu menegakkan wajahnya kembali, melihat jalan di depannya.

__ADS_1


Sepanjang jalan, Bryan merasakan jika banyak yang menatapnya dengan pandangan bingung. Tapi Bryan hanya acuh, tak peduli dengan pandangan mereka semua. Ia tetap berjalan santai, dengan guratan senyum di bibirnya. Entah kenapa pikirannya jadi di penuhi oleh Elena sekarang. Hah! dirinya jadi merindukan gadis itu lagi. Kira-kira gadisnya sedang apa ya?


__ADS_2