
Suara ambulance mulai berbunyi nyaring keluar dari Rumah sakit Atmaja hospital's menuju padatnya jalan raya di pusat kota. Dibelakang Mobil Ambulance tersebut pun berjejer beberapa mobil dan motor sebagai pengawalan dan pengantar.
Beberapa lama perjalanan akhirnya mobil ambulance masuk kedalam perkarangan TPU. Keadaan pemakaman disini cukup sepi, tak terlalu ramai dengan pelayat ataupun lainnya.
Dibawah langit yang mendung, awan yang hitam, jenazah Dimas mulai di keluarkan dari ambulance dan di bawa menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
___
Putri terdiam didalam mobil. Air matanya tak kunjung berhenti dari kelopak matanya. Ia tidak berani turun dari mobilnya, ia hanya bisa menyaksikan pemakaman Bapaknya dari kejauhan.
Sedih, itu yang ia rasakan. Walau dirinya membenci Dimas, ia tetap menyayangi orang tua satu-satunya itu.
"Kok gue nangis sih?" Putri menghapus jejak air matanya kasar. "Seharusnya gue seneng dong? dengan Bapak udah ga ada berarti perempuan itu bakal terpuruk dan sedih?" gumam Putri walau air matanya masih turun deras membasahi pipinya.
Putri menatap proses pemakaman Dimas dari dalam mobil, mungkin setelah keadaan sepi ia akan turun dari mobilnya.
___
Elena menatap proses penguburan Dimas, kakinya sudah tak mampu lagi untuk berdiri namun untungnya dari arah sebelahnya ia dipeluk dari samping oleh mertuanya-Meldi.
"Kamu yang sabar sayang," Meldi terus mengusap-ngusap lengan Elena. Ia memberi kekuatan agar menantunya itu bisa mengikhlaskan Bapaknya.
Elena hanya diam. Hati dan pikirannya kacau. Ia tak mampu berbicara apapun selain mengeluarkan air mata dan juga suara tangisan yang keluar begitu saja dari bibirnya.
Beberapa menit kemudian semuanya sudah selesai. Setelah pemakaman dan mendoakan, para pelayat pun mulai berhamburan pergi dari TPU sehabis mengucapkan bela sungkawa pada Elena.
Elena menatap gundukan tanah di depannya. Ia terduduk lemah. Kakinya sekarang sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.
...Dimas Reynaldra....
...Bin...
...Evan Alfiansyah....
Ia menatap dan meraba pelan tulisan batu nisan didepannya. Dengan mata sembab Elena segera memeluk nisan tersebut.
"Hiks Bapak!" sebenarnya Elena belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergian Bapaknya. Hanya Bapaknya lah satu-satunya orang yang membuat dirinya mau bertahan hidup di dunia ini. Jika Bapaknya sudah tiada, untuk apa dirinya bertahan hidup?
Meldi mengode Bryan agar mendekat kearah Elena. Ia segera mundur dari samping menantunya untuk memberikan jalan pada Bryan.
Bryan yang melihatnya langsung melangkah pelan mendekat ke tubuh Elena. Ia melipatkan lututnya berjongkok di samping gadisnya.
"Aku tau kau bersedih, tapi kau harus bisa mengikhlaskan Bapakmu," Bryan memeluk Elena dari samping dan mengelus tangan gadis itu pelan. "Ada aku disini, aku akan selalu ada disamping mu mulai sekarang. Jangan bersedih lagi ya?" Bryan mendekatkan tangannya pada wajah Elena lalu menghapus air mata yang turun di wajah istrinya itu.
__ADS_1
Elena menatap Bryan dengan diam. Ia memejamkan matanya ketika merasakan tangan dingin Bryan menyentuh pipinya dan menghapus air matanya perlahan. Nyaman, itu yang ia rasakan.
Meldi menatap langit-langit diatasnya. Ia merasakan jika ada tetesan demi tetesan air yang mengenai tubuhnya.
"Sebentar lagi hujan." lanjut Bryan. "Sebaiknya kita pulang."
Elena membuka matanya lalu mengalihkan tatapannya pada gundukan tanah didepannya.
"Tapi Ba-bapak? pasti Bapak kedinginan di dalam sana." gumam pelan Elena yang masih bisa didengar Bryan.
"Bapakmu sudah tiada, Bapakmu sudah tenang di sisi Tuhan. Ayo kita pulang." Bryan sebenarnya tak tega pada gadisnya, tapi mau bagaimana lagi? sebentar lagi akan turun hujan dan mereka harus cepat-cepat berteduh."
Elena menggeleng pelan. Bryan yang melihatnya dengan segera membantu Elena untuk bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Kau harus bisa mengikhlaskan Bapakmu. Jika kau seperti ini, Bapakmu tidak akan tenang diatas sana." lanjut Bryan.
Elena menatap Bryan dalam lalu kembali menatap batu nisan Bapaknya.
Meldi dan Abraham berjalan terlebih dahulu menuju Mobil yang terparkir di perkarangan depan TPU. Sedangkan Elena dan Bryan masih berdiri di tempatnya.
"Kita pulang." Bryan menatap Elena dengan mengangguk singkat, Elena yang melihatnya pun ikut mengangguk.
Sebelum benar-benar pergi, Elena kembali menatap batu nisan Bapaknya untuk yang terakhir kalinya.
Bryan pun melangkahkan kakinya pergi dari sini. Elena yang merasakan tangannya ditarik pelan, mau tak mau mengikuti Bryan dari arah belakang. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Ia harus kuat.
Sampai di perkarangan depan TPU. Elena mulai menaiki mobil Bryan dan duduk disamping suaminya itu. Berbeda dengan Meldi dan Abraham yang duduk di mobil depan. Mereka memang tidak satu mobil karena Abraham membawa mobilnya sendiri.
"Kau sudah siap?" Bryan melirik sekilas Elena. Ia memastikan gadisnya sudah siap untuk pulang ke rumah.
Elena mengangguk singkat menatap Bryan sendu.
Bryan pun menyalakan mesin mobilnya. Ia mulai melaju menjauh dari TPU. Elena hanya diam dengan mengalihkan tatapannya keluar jendela.
Elena pamit ya pak, tunggu kedatangan Elena lagi kesini
____
Sesosok wanita cantik keluar dari mobilnya dan berjalan perlahan menuju gundukan tanah yang masih terlihat basah.
Tatapannya kosong, matanya sembab walau tak terlalu terlihat.
"Bapak." lirihnya pelan saat sampai di tempat tujuannya. Ia lantas mensejajarkan tubuhnya dengan nisan didepannya.
__ADS_1
Putri mengelus batu nisan tersebut perlahan. Tetesan demi tetesan hujan mulai membahasi tubuhnya, namun ia tidak peduli. Tatapannya hanya terfokus pada tempat peristirahatan terakhir Bapaknya.
"Putri minta maaf." gumamnya pelan. Ia menutup matanya erat membiarkan air matanya kembali turun.
"Kenapa Ibu sama Bapak cepet banget ninggalin Putri? seharusnya yang hilang dari bumi itu bukan Ibu sama Bapak! Mereka yang seharusnya mati!"
Putri menatap kesal batu nisan disana. Ia membenci kejadian beberapa tahun lalu, kejadian dimana yang membuat Ibu serta dirinya terpuruk. Kejadian beberapa tahun silam yang membuat Putri membenci akan sosok Dimas.
"Putri sayang Bapak, Putri tau pasti Bapak bisa denger Putri dari sana-kan? Titip salam buat Ibu ya Pak." ia menghela nafasnya gusar. "Setelah Putri selesaikan urusan disini, Putri akan nyusul kalian dan kita akan hidup bersama disana." lanjutnya dengan mengulas senyum tipis.
Putri mengalihkan tatapannya ketika merasa ada seseorang yang mendekat kearahnya. Matanya seketika berubah. Ia menatap benci sosok orang itu.
"Mau apa Lo kesini?"
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Mas Dimas. Ini berat untuk mengikhlaskan tapi saya yakin kamu bisa mengikhlaskan Bapak Kamu, Putri." ucap seorang wanita cantik dengan memakai tudung hitam serta kacamata hitam dimatanya. Menatap Putri didepannya dengan raut sedih.
"Jangan sok'soan sedih, gue tau Lo pasti seneng kan dengan kematian Bapak gue? karena dengan kematian Bapak, gak akan ada yang ngasih tau soal kebenaran ini pada Elena," sinis Putri dengan bangkit dari duduknya dan menatap tajam wanita di depannya.
Helaan nafas terlihat di wajah wanita itu. "Saya harap kamu bisa menerima Elena sebagai adik kamu. Bagaimana pun dia adik kamu, walau bukan kandung tapi saya harap kamu bisa menjaga Elena dengan baik."
Putri berdecih. "Gue gak akan pernah nganggap dia sebagai adik gue. Gak akan pernah." ucapnya sembari menggeleng kepalanya.
"Semua sudah takdir, Putri. Apa kamu tidak bisa berdamai dengan masa lalu?"
"Apa dengan berdamai bisa ngembaliin semuanya hah?!" Putri menghapus air matanya kasar.
Wanita itu menunduk. "Saya minta maaf atas kesalahan saya terdahulu. Saya khilaf, saya tau saya salah. Tapi Mas Dimas dan Mbak Ratna sudah memaafkan saya juga dan saya sudah menerima konsekuensi-nya. Jadi saya harap kamu jangan apa-apakan Elena. Dia tidak tau apa-apa, dia hanyalah gadis polos. Biar saya yang nanggung semuanya. Saya yang nanggung dosa-dosa saya yang lalu. Saya mohon jaga Elena dengan baik karena sa-saya tidak akan lama lagi hidup disini."
Putri terdiam. Ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan wanita didepannya. "Maksud Lo?"
Wanita itu nampak mengeluarkan amplop dari tasnya, lalu memberikannya pada Putri. Putri yang melihatnya menaikkan salah satu alisnya binggung, tapi mau tak mau ia pun mengambil amplop tersebut dan membukanya.
Putri membaca isi di dalam amplop itu, sebuah kertas dengan keterangan rumah sakit yang berisikan tentang kondisi kesehatan. Ia membaca setiap detail tulisan yang ada disana dengan teliti.
Wanita itu membuka kacamatanya. "Sa-saya di diagnosa terkena kanker ginjal da-dan saya yakin hidup saya gak akan lama lagi. Saya menerima ikhlas semuanya. Mungkin ini ganjaran yang Tuhan berikan untuk dosa-dosa saya." lirihnya pelan. Ia memang tidak menjalani rawat inap, dirinya menahan segala rasa sakit yang ia alami. Dirinya pasrah dengan apa yang terjadi, ia hanya berdoa sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhir, ia masih bisa bertemu dengan anaknya dan memastikan hidupnya bahagia.
Putri terkekeh. Ia menatap wanita didepannya dengan tersenyum miring.
"Bagus deh, cewek jahat kayak Lo itu emang pantesnya mati."
"Saya hanya memohon agar kamu bisa menjaga Elena dengan baik. Ini permintaan pertama dan terakhir saya, saya mohon pastikan Elena bahagia karna saya-" wanita itu menghela nafasnya pelan. "Karna saya belum bisa membahagiakannya. Biarkan semua ini berjalan semestinya. Saya gak mau Elena tau siapa Ibu kandungnya."
"Dia harus tau! Dia harus tau kalo Ibu kandungnya itu cuma pelakor matre yang hobinya ngerebut suami orang, termasuk Bapak!"
__ADS_1
TBC